Cetusan | December 18, 2007

Takaran Cinta

Cinta itu memang rumit, tidak mudah apalagi gampang.
Tak terhitung berapa ungkapan untuk menyatakannya, tak kurang dari beberapa ribu lagu yang telah ada untuk mengagungkannya,
akan tetapi semuanya tak akan pernah mampu merengkuh makna cinta hingga seutuhnya…sampai nanti… sampai manusia tak ada lagi, sampai cinta tak dimiliki lagi…

Kira-kira sebulan yang lalu, ketika aku mengalami prahara itu, begitu banyak orang yang mengatakan banyak hal penghiburan. Dan semuanya itu sungguh benar-benar menghiburku, membebat lukaku serta mempercepat proses pengeringannya. Tapi ada pula beberapa suara sinis dan sumbang yang sebenarnya tak terlalu enak untuk diperdengarkan. Beberapa dari mereka itu lebih banyak membandingkan cintaku yang terprahara dengan cinta mereka atau bekas cinta mereka yang menurut mereka tak sebanding dengan apa yang kualami. Mereka menganggap bahwa apa yang kualami ini belum ada apa-apanya dibanding mereka sendiri.

Sehingga terujarlah kata-kata demikian:

“Wah, kamu masih enak… tinggal 11 bulan mau menikah baru putus.. lha aku dulu tinggal 1 bulan sebelum menikah langsung bubar!”

“Hhhhh, Don… Don… kamu itu gak ada apa-apanya dibandingkan aku dulu. 12 tahun pacaran lantas putus begitu saja.. Pokoknya gak sebanding deh!”

“Lha kamu kan jarak jauh Don, paling gak lama lagi lukamu itu sembuh lha wong selama pacaran kan kalian jarang bertemu!”

Dan masih seabrek pernyataan yang senada-senada dengan hal itu.

Sampai disitu, aku kemudian lantas berpikir tentang takaran cinta.
Apa iya cinta itu bisa dibandingkan dalam dangkalnya? Lama singkatnya? Jarak jauh atau sekotanya?
Apa iya cinta itu bukan sesuatu yang sebenarnya tak bisa diukur dengan menggunakan takaran-takaran logis seperti itu tadi?
Dan lama aku berpikir, dan hanya bisa berpikir karena sehari-hariku sejak akhir bulan januari lalu, aku sibuk untuk membangunkan kembali diriku, menegakkan kakiku untuk berdiri benar-benar di atas kakiku sendiri. Untuk berjalan dan menatap kehidupan di depan penuh semangat dengan benar-benar menyadari bahwa aku telah sendiri…

Hingga siang tadi, seorang teman yang ada di jauh yang kebetulan wanita menceritakan tentang akhir hubungan yang memang kuketahui semakin meruncing belakangan ini. Ia berpacaran belum terlalu lama… tiga atau empat bulan mungkin. Dan selama itu pula bukan cuma aku, bahkan dia sendiri, menyadari bahwa semuanya belum terlalu dalam, meski aku yakin dia dan pasangannya berusaha untuk terus menggali kedalaman cinta supaya tidak dangkal. Sebulan belakangan ini ia sering bercerita kepadaku tentang rintangan-rintangan yang semula dinilai kecil dalam hubungan pacarannya hingga akhirnya seperti yang telah aku dan dia duga sebelumnya, semuanya harus berakhir kemarin.

Well, semula kupikir “ya sudah, toh sudah tahu bahwa tidak terlalu cocok antara kamu dan dia, tinggalkan saja, lepaskan saja mumpung belum lama”
Tetapi ada satu pernyataan dia yang membuat aku kembali memikirkan tentang takaran cinta yang kusebutkan di atas.
Dia berujar bahwa meski baru sebentar, meski tak terlalu sering bertemu, ternyata rasa sakit yang dia alami di hati, lebih kurang sama dengan rasa sakitku, kamu, kamu, dan kalian yang pernah merasakan sakitnya pemutusan hubungan cinta. Padahal, menurut cerita dia, dia sendirilah yang memulai untuk berdiskusi tentang pemutusan hubungan sehingga dia pasti dan seharusnya telah mempersiapkan segala rasa untuk melawan rasa sakit yang dia ketahui akan terjadi.

Pengalaman yang dialami oleh temanku itu, membuatku merefleksikan tak hanya pada kejadian yang terjadi di akhir januari yang lalu tapi juga ke kejadian yang terjadi pada nun beberapa tahun yang lalu ketika secara radikal (mungkin bisa dikatakan demikian) aku memutuskan secara sepihak hubungan kasihku dengan seseorang. Ketika itu, memang benar aku telah mempersiapkannya, aku telah memikirkan baik-burkunya sebelum aku mengatakan kata putus. Namun hal ini bukan berarti bahwa rasa atas luka yang kualami setelah kata putus itu kuucapkan tak lebih menyakitkan ketimbang apa yang ia rasakan. Teramat sangat salah kalau dibilang bahwa aku TIDAK sakit dan TIDAK merasakan runtuhnya dinding yang selama ini kubangun dengannya.
Aku merasakan betul di permukaan hatiku tergores puing-puingnya, aku merasakan betul. Dan kembali ke hampir sepuluh tahun yang lampau ketika aku juga harus memutuskan seseorang oleh karena sesuatu hal, tak terperi rasa sakitnya meski aku ingat betul waktu itu hubunganku dengannya baru seumur jagung dan ada ratusan kilometer yang membedakan jarak tempat tinggal kami.
Jadi, bijaksanakah apabila kita menakar cinta hanya dengan takaran-takaran di atas saja…?
Apa tidak terlalu naif untuk tidak melibatkan faktor yang tak bisa dihitung dan ditakar..?
Dan bukankah semuanya itu tak kan habis hanya dengan ditakar saja…?

Jadi… Vic, bersabarlah….
Seperti yang pernah kualami, dan aku tidak membandingkan apa yang kualami dulu dengan apa yang kau alami sekarang, berpasrahlah pada kehendak Tuhan. Dan biarkan luka itu mengering lalu pergi. Pelan cepatnya, serahkanlah kembali pada Dia yang menguasai waktu.

Atau bayangkanlah bahwa kamu dan aku adalah dua orang terluka yang duduk bersama di ruang tunggu menunggu dokter datang.
Namun lama dirasa dokter tak kunjung tiba untuk mengobati kita sehingga kita saling berbincang dan bercakap dan secara tak disadari kita telah saling membasuh luka kita sendiri-sendiri, mengeringkannya dan memulihkannya.
Dan tanpa disadari pula kita pun saling mencinta? Sebuah cerita indah yang dibangun secara bersama-sama justru dari persamaan rasa bahwa kita pernah saling disakiti oleh cinta?
Lalu tanpa berpikir waktu lama untuk menunggu sang dokter tiba kita telah beranjak pergi dari kursi pesakitan itu dan kembali mengagungkan dan merasakan cinta? Ya cinta milik kita…
*halahhh huhuahuahuahuahua…. yang terakhir ini sebut saja angin lalu*


Tulisan ini adalah salinan dari blog saya yang ada di friendster. Pernah dimuat di sana pada tanggal 11 Maret 2007

{ 2 comments… read them below or add one }

DM July 13, 2008 at 2:52 pm

“Atau bayangkanlah bahwa kamu dan aku adalah dua orang terluka yang duduk bersama di ruang tunggu menunggu dokter datang.”

Nggak mau! Enak aja! Kamu aja!

Reply

windy July 14, 2008 at 1:49 am

sakit kok ngajak2…. ogah amat…!!

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: