Natal

Bagiku, Natal adalah saat yang paling mengesankan tiap tahunnya.
Orang boleh menduga aku beranggapan demikian karena aku seorang kristiani, padahal tak melulu hanya karena itu.
Aku menikmati Natal lebih karena memang begitu banyak hal spesial yang terjadi di masa menjelang dan sesudah Natal itu sendiri.

Yang pertama adalah ulangtahun yang jatuh lima hari sebelum Natal, lalu yang kedua adalah Natal itu sendiri dan yang ketiga tentu perayaan tahun baru.
Kesemuanya itu belum lengkap untuk menjadi kesatuan kalau belum dibebat cuaca yang dingin ditingkahi rinai hujan yang berkepanjangan serta matahari yang malu-malu menyembul di antara awan.

Wah, indah nian!

Apalagi dulu, sewaktu om dan tanteku yang kebanyakan tinggal di Jakarta masih bisa pulang untuk merayakan Natal di rumah asalnya yang sekarang menjadi rumahku. Wah semuanya benar-benar sempurna untuk dirayakan
dan dinanti-nantikan. Kedatangan mereka membuat warna baru dalam beberapa hari tersebut karena setelah hampir setahun bertemu dengan orang-orang yang itu saja, kali ini mereka datang, wajah-wajah yang
hanya dapat dinikmati sekali dalam setahun setidaknya. Jadi, jangan ditanya deh bagaimana meriahnya suasana rumah. Gelak tawa serta reriuengan kami itu lho, benar-benar susah untuk digantikan apalagi dilupakan…

Aku menikmati Natal lebih karena memang begitu banyak hal spesial yang terjadi di masa menjelang dan sesudah Natal itu sendiri.

Tapi itu dulu, sekarang ketika sepupu-sepupuku semangkin besar dan om serta tante semangkin mengakar hidupnya di Ibukota, mereka tak lagi datang.
Mereka memilih bernatalan dengan kolega, para tetangga di sekitar kompleks perumahan serta calon-calon menantu om dan tante di Jakarta.
Terkadang mereka hanya datang lewat surat, sms, telepon serta uang.
Kehadiran, meski hanya dihadirkan dalam wujud yang seperti itu tetaplah diusahakan sebagai ungkapan syukur dan ndherek bingah* sebagai satu kesatuan keluarga menghadapi masa-masa yang indah di hari Natal.

Aku justru sebaliknya.
Semenjak beberapa tahun yang lalu ketika aku semakin merasa bisa menikmati Natal dan rangkaiannya itu bersama teman-teman di Jogja, aku tak pernah lagi merayakan Natal bersama orang rumah.
Aku memilih untuk sekadar pulang hanya tepat di hari Natal ber haha-hihi dengan om, tante serta para sepupu yang dulu begitu aku damba-dambakan kedatangannya,
kemudian sore harinya bergegas pulang ke Jogja dengan alasan banyak pekerjaan.
Padahal kalau boleh jujur dan berterus terang, alasan itu hanyalah tinggal alasan. Alasan yang sebenarnya adalah karena aku merasa lebih nyaman untuk berada di lingkungan temanku ketimbang
keluargaku serta sanak saudaraku yang lainnya.

Tapi sore nanti aku hendak pulang untuk merayakan Natal.
Aku merasakan kehausan bukan semata-mata karena satu per satu sahabatku telah memilih ber-natalan dengan istri dan anak-anaknya sehingga tak memiliki waktu lagi untuk sekadar be-leha-leha ala bujang denganku.
Tapi lebih karena aku butuh mereguk air kasih kehidupan dari Tuhan yang terpancar tak henti-hentinya dari orang-orang terdekat asalku, keluargaku.
Aku butuh merasakan kesederhanaan yang mereka tawarkan dalam merayakan Natal.
Berbondong-bondong jalan kaki ke gereja, berbagi naungan payung tatkala hujan bersama mereka, merasakan lembab dan panas yang meruap di dalam gereja non AC,
serta pulang dalam damai Natal dengan celana dan sepatu baru yang menjadi kotor terpercik air hujan bercampur debu sepanjang jalan ….

Ah, tak dapat kutahan… Skarang aku harus pulang!

*: ikut berbahagia

Post to Twitter Post to Delicious Post to Digg Post to Facebook

This entry was posted in Aku. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

3 Comments

  1. Posted December 25, 2007 at 7:07 pm | Permalink

    wahh aku yg pertama coment dapat hadiah natal darimu dunk :D

    paling2 kalo dah kumpul semua keluarga dan sodara2 yg ditanyain ” kapan nikahhh ? ” hehehe

  2. Posted December 25, 2007 at 11:25 pm | Permalink

    @leah: heheh kalau ditanyain gitu ya kujawab “lha kan aku udah pernah nikah” lohhhh gubrakkk!!!!
    Hadiah natal? ya kuucapkan Selamat Natal padamu.. itu hadiah Natalku untukmu dan keluargamu hohoho

  3. Pitus
    Posted December 27, 2007 at 4:11 am | Permalink

    Wah…tulisannya singkat banget, tapi cukup menjelaskan siapa engkau hehehe

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

  • Versi Beta

    Situs web ini akan selalu dalam tahap pengembangan sejak dipublikasikan pertama kali pada 20 Desember 2007.

    Ikon manusia "Donny Verdian" hasil kreasi Donny Verdian (Terima kasih untuk para pendahulu pencipta ikon, Ardian Sukmaji (2007 - 2008), dan Anjung Sakti (2005)).

    Seluruh tulisan dan isi konten lainnya kecuali "tanggapan" adalah hasil pemikiran Donny Verdian.

    Untuk konten khusus yang saya sadur maupun tayangkan dari tautan luar situs web ini, akan saya cantumkan sumber/pengkreasinya. Ingatkan saya apabila saya lalai akan hal ini. Pemberlakuan copyrights di situs web ini adalah sesuai dengan salinan di sini.