Kisah Tentang 100, 99, 58 Persen, 68 Persen dan Fifty-Fifty

99
Apa beda antara 99.999 dengan 100.000 ?
Dalam tataran harga berbasis mata uang rupiah, beda keduanya hanya serupiah saja.
Akan tetapi dalam tataran pikat-memikat, angka 99.999 memiliki daya pikat yang lebih banyak calon pembeli ketimbang kakaknya, 100.000.

“Itulah yang dinamakan batas psikologis harga, Mas!” demikian tutur temanku yang psikolog.
“Maksudnya?”
“Iya, maksudnya kebanyakan orang akan menganggap bahwa angka 99.999 itu jauh lebih terlihat murah ketimbang angka bulat 100.000.”
“Kenapa demikian?” tanyaku lebih lanjut.
“Ya karena 99.999 itu lebih sedikit ketimbang 100.000 terlebih dari digitnya yang masih berarti puluhan ribu dan bukan ratusan ribu.”
Akupun manggut-manggut, “Oh, berarti sama saja dengan iklan di tv soal harga yang 999.999 itu lebih murah ketimbang satu juta ya?”
Sekarang gantian ia yang manggut-manggut kepadaku.

Tapi memang benar, kalau melihat angka-angka yang seperti itu, ingatanku langsung meloncat ke belakang pada saat iklan TV yang menawarkan barang-barang inovasi tercanggih dari luar
negeri pertama kali berhamburan datang melalui layar kaca kita dekade lalu.
Ah tentu kalian sama denganku, masih ingat ungkapan yang berujar “Dapatkan produk kami, hanya Rp 999.999,00 saja” lalu muncul tanda
silang untuk mencoret harga lamanya yang Rp 1.999.999,00.

Maka, sepertinya semenjak saat itu kita pun sering melihat angka-angka yang tak terlalu bulat untuk menunjukkan harga banyak barang di pertokoan.
Seperti misalnya di pusat perbelanjaan, harga sekilo apel merah US yang adalah Rp 21.799 atau harga gelas kaca yang dipatok di harga Rp 6.799.
Tentu ini berbeda dengan kebiasaan kita dulu yang pergi ke warung sebelah rumah atau toko kelontong milik Bah Ahong yang menjual gelas dengan Rp 6000 ya 6000 saja,
atau apel merah di lapak Bu Herman dengan harga per kilonya adalah 21.000 saja nggak pakai embel 999 anymore.

Tapi, beberapa hari lalu, pada sebuah sore setelah makan Pempek Bu Kamto di basement Ambarrukmo Plaza,
dimana aku menghabiskan dana sebesar Rp 15.799 (kenapa tidak 16 ribu atau 15 ribu sekalian ya ?)
aku melewati sebuah lapak penjual sunglass kelas “KW1″, bukan kelas original, dan mendapatkan angka diskon yang menurutku unik dan
fantastis, 58%.

Waktu kutanya pada mbak penjaganya di sana kenapa diskonnya sebegitu uniknya, ia pun hanya berujar “Disuruh Bapak begitu jhe, Mas!”
Aku pun hanya manggut-manggut. “Ya sudah, coba Mbak hitungkan kalau saya mau beli yang ini..” ujarku iseng.
Lalu Mbak itu pun mengeluarkan kalkulatornya dan ia menghitung beberapa saat lamanya dan… ketemulah angka yang semangkin mejik saja.

Kacamata itu tak jadi kubeli, bukan karena aku tak punya cukup uang atau bukan pula karena aku tak suka barang “KW1″,
tapi sebenarnya aku hanya butuh conversation antara aku dengan mbak penjualnya sehingga terjadilah percakapan dalam tulisan ini.

Tapi anyway, aku kok jadi curiga jangan-jangan yang punya lapak kacamata itu masih ada keturunan saudara atau salah satu fans Sang Pakar yang juga gemar menaruh angka-angka mejik dalam
prediksi dan analisanya, 68% meski sekarang mulai gemar menggunakan yang lebih umum, fifty-fifty ?

Ah, saya mulai ngaco, mungkin karena kekenyangan empek-empeknya Bu Kamto.

Post to Twitter Post to Delicious Post to Digg Post to Facebook

This entry was posted in Cetusan. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

17 Comments

  1. Posted August 19, 2008 at 1:20 pm | Permalink

    Selain disebut batas psikologis harga, dalam dunia penerbitan, terkadang kami menyebutnya sebagai harga seksi. Bukankah sesuatu yang ganjil kerap mencuri perhatian, eh? Asal kemudian ditindak lanjuti dengan kualitas saja. Tidak semata tampil beda.

    Tapi sejauh yang aku tahu, Bah Ahong kini sudah tak buka toko kelontong lagi. Dan Bu Kamto yang dagang pempek itu, kini malah buka salon kecantikan: spesialis pasang alis. Tertarik?

  2. windy
    Posted August 20, 2008 at 3:26 am | Permalink

    ya ya ya… Bah Ahong sekarang udah jadi pemasok pere2 cantik di raja mas kota sana don… dan Bu Kamto…? bener kata bung dm… mau ku ambilkan daftar harganya don…? satu alis 777.777 saja …jadi mau berapa alis yg di pasang ?

  3. Posted August 20, 2008 at 5:34 am | Permalink

    iyaaa…itu harga psikologis…tapi tetep harus rasional dan bertanggung jawab dong…jangan sampe jadi harga gileee kembaliaannya kurang….
    wew

  4. Posted August 20, 2008 at 6:47 am | Permalink

    Betul sekali, dan itu juga merupakan cara jitu untuk mendapatkan pembeli…

  5. Posted August 20, 2008 at 6:49 am | Permalink

    …sehingga tiap pulang belanja musti bawa permen kembalian dari supermarket.

  6. windy
    Posted August 20, 2008 at 7:14 am | Permalink

    @marsmallow: iya iya.. masalah permen ini bikin gemes kadang pingin dikumpulin dan sekali2 coba di belajain lagi… apa permen sekarang udah jadi mata uang baru ya ?

  7. Posted August 20, 2008 at 10:04 am | Permalink

    Haa? jadi di Bu Kamto sekarang ada harga dengan akhiran 99 juga?
    Eniwei, jadi kangen Jogja… hikks..

  8. Posted August 20, 2008 at 12:48 pm | Permalink

    Menurut penelitian memang harga dengan buntut ganjil semacam itu punya efek psikologis yang lebih bagus. Katanya, barang yang dilabeli X.99 penjualannya lebih bagus daripada yang X.00.

    Tapi kalau sudah terlalu banyak orang yang menggunakan, konsumen lama-lama akan “kebal” juga. Makanya sekarang mulai banyak yang menggunakan buntut ganjil yang lebih variatif, seperti X.95, X.79, dan seterusnya.

  9. Posted August 20, 2008 at 11:11 pm | Permalink

    Ya… angka ini juga “menipu” dalam hal obralan. Sering kita menemukan obral “30% + 30%”, yang tidak hati2, orang akan menafsirkan sebagainya 60%, padahal maksudnya adalah harga didiskon dulu 30% lalu sisanya didiskon lagi 30%. Jadi sebenarnya diskon tersebut kalo dihitung2 adalah 51%.

    Rumusnya adalah: 1-(1-30%)X(1-30%) hasilnya adalah 0,51 atau 51%.

    Yah… pintarnya orang2 dagang untuk menipu menarik korban pembeli..

  10. Posted August 21, 2008 at 5:20 am | Permalink

    Semakin banyak sembilan-nya semakin hoki!Kata siapa? Kata saya. :D

  11. Posted August 21, 2008 at 8:55 am | Permalink

    O jadi gitu penjelasannya ya..
    Saya pikir orang-orang itu kurang kerjaan.. (*melongo, sambil bergumam sendiri, “bener juga ya.”)

  12. remon
    Posted August 24, 2008 at 1:30 pm | Permalink

    mmmmmm… menanggapi masalah permen buat kembalian… hihihihi… sekarang emang susah den kalo nyari uang 50an… apalagi 25an… itulah ciri2 matauang yang terseok-seok.
    uang baru dengan nominal makin besar keluar juga bisa menjadi proxy awal kalo inflasi sudah membebani suatu negara.

  13. Posted August 24, 2008 at 2:09 pm | Permalink

    angka2 seringkali membuat kita optimis, tapi juga tak jarang bikin frustrasi, mas donny. inilah repotnya sebuah negeri yang sudah kadung memuja angka2, haks…. semuanya mesti pakai angka. agar siswa bisa lulus sekolah, mesti harus melewati batas angka tertentu.

  14. Posted August 24, 2008 at 2:26 pm | Permalink

    @sawali tuhusetya :
    Negeri kita memang negeri irasional, Pak Sawali.

  15. Posted August 24, 2008 at 2:31 pm | Permalink

    @Tanti:
    He, Bu Kamto bukan hanya ada harga dengan akhiran 99-nya, tapi sudah buka salon kecantikan, dibilangin. Ngeyel!

  16. Posted August 25, 2008 at 12:30 am | Permalink

    Kalo saya sie 100% males ngurusin harga 99an. Apa lagi kalo buntut-buntute mung disusuki permen

  17. Posted August 25, 2008 at 6:50 am | Permalink

    “Disuruh Bapak begitu jhe, Mas!”
    ——–
    Saya geli membaca kalimat itu…..sambil ngebayangi si mbak penjaganya….

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

  • Versi Beta

    Situs web ini akan selalu dalam tahap pengembangan sejak dipublikasikan pertama kali pada 20 Desember 2007.

    Ikon manusia "Donny Verdian" hasil kreasi Donny Verdian (Terima kasih untuk para pendahulu pencipta ikon, Ardian Sukmaji (2007 - 2008), dan Anjung Sakti (2005)).

    Seluruh tulisan dan isi konten lainnya kecuali "tanggapan" adalah hasil pemikiran Donny Verdian.

    Untuk konten khusus yang saya sadur maupun tayangkan dari tautan luar situs web ini, akan saya cantumkan sumber/pengkreasinya. Ingatkan saya apabila saya lalai akan hal ini. Pemberlakuan copyrights di situs web ini adalah sesuai dengan salinan di sini.