Seratus Hari Pertama, Terlampaui

Tepat 8 Februari 2009 kemarin, terhitung sejak 1 November 2008, aku menyadari pada akhirnya Tuhan lah yang memampukanku untuk dapat mengalami seratus hari pertama tinggal di benua baru, negara yang baru, Australia.

Bohong besar kalau aku tidak banyak berubah setelah seratus hari pertama tersebut.
Ada begitu banyak berkat dan rahmat serta proses pendewasaan diri yang kujalani. Nyaris kesemuanya adalah perubahan positif, sesuatu yang kuharapkan terjadi semenjak keputusanku untuk pergi dari Indonesia.

Sebut saja pola hidupku sekarang ini.
Memulai hari tepat pukul lima pagi, menyiapkan sarapan hingga kopi sendiri, buang air besar hingga mandi dalam waktu yang relatif lebih cepat ketimbang saat masih di Jogja dulu, bersigap dalam bekerja, memiliki pola makan yang lebih teratur (dengan gizi yang berimbang — tidak terlalu banyak menyantap lemak kecuali babi karena apa dayaku untuk menolak daging ternikmat di dunia tersebut) hingga jam tidur yang sangat hmmmm… luar biasa! yaitu jam 10 malam hingga 4.55 am keesokan harinya.

Sampainya aku di hari ke seratus dalam hitungan awal domisiliku di sini juga membuatku semakin takjub dan takjub lagi olehNya. Siapa yang menyangka aku bisa tak terlalu menanggung rindu rumah, rindu orang tua, rindu adik, rindu teman dan rindu pada kota terindah di dunia yang bernama Yogyakarta itu?

Bukan!
Bukannya aku sengaja mengabaikan mereka semua, apa pula kuasaku dan sebesar itukah kuasa yang ada padaku untuk dapat melupakannya?

Tapi yang perlu dicatat adalah aku diberi kemampuan untuk menekuni hal-hal baru, menikmati kesukaan-kesukaan baru di tempat ini sehingga waktuku untuk terus memikirkan apa yang telah kutinggalkan menjadi sedemikian sempitnya sehingga penebusannya pun cukup melalui telepon yang mesra dengan orang tua serta beberapa teman lama.

Dan, ahhh… aku lupa untuk menempatkan hal ini di paragraf paling atas.. yaitu soal pekerjaan!
Di tengah resesi dunia yang kata pakar ekonomi toh sedang memasuki taraf permulaan ini, Tuhan menjawab doaku dengan memberikanku pekerjaan.

Ini adalah sesuatu yang luar biasa!

Mungkin aku menjadi salah sedikit orang yang pada akhirnya mampu berkata bahwa tidak ada istilah krisis ataupun tidak krisis bagi Tuhan. Semua tinggal perkara kapan diberikan olehNya (dan kapan pula dicabut dari kita kembali padaNya).

Saat-saat seperti ini aku juga kembali jadi teringat akan banyak ucapan temanku.
Tak jarang yang berujar bahwa langkahku untuk bermigrasi kemari adalah langkah yang terlalu berani, ambisius dan agak silly… meninggalkan sesuatu yang stabil dan menyenangkan untuk sebuah kubangan baru yang kedalamannya pun aku belum tahu.

Tapi, look, justru dengan kehengkanganku dari masa lalu itu bukankah menunjukkan bahwa tidak ada yang stabil dalam perjalanannya selama ini ?

Bagiku hidup ini selamanya akan tetap fragile, akan tetap rentan untuk retak, tak kokoh apalagi gagah, labil dan tak terlalu dekat dengan stabil. Tapi justru disitulah…. Kita ditantang untuk melatih diri.

Kiranya demikian apa yang bisa dituliskan. Apa yang mewakili dari lubuk hati, luapan syukur atas terlampauinya seratus hari yang pertama ini. Di tengah-tengah para bule, sesama pekerja, yang sedang sibuk membaca buku dan melelapkan diri dalam lambung Hills Bus 615 jurusan kota, aku bersaksi tentang semuanya melalui tulisan ini.

Selamat pagi!

Post to Twitter Post to Delicious Post to Digg Post to Facebook

This entry was posted in Aku. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

37 Comments

  1. Posted February 8, 2009 at 4:59 pm | Permalink

    Selamat pagi mas,
    saya senang baca tulisan sampeyan,
    selalu optimis, ndak ada kata mengeluh, Cuex, blak-blakan, pe de abiss.
    Kalo saya lagi malu-malu kucing mau posting, saya kadang inget sampeyan ,”ah si dv aja cuex, kenape gue musti jaim”… hehehehe
    Sudah seratus hari ya? Wow… Wish U all the best
    kangen bebek goreng ra? bebek goreng klaten kui tak ada duanya .. mangstap!

    • DV
      Posted February 8, 2009 at 4:59 pm | Permalink

      Optimis itu harus, Mas!
      Saya sudah capek pesimis dan bosen dipesimisin orang :)
      Selama tidak mengeluh, optimis dan pede itu gratis, saya akan menjadi seperti itu ;)

      Bebek goreng? Anda optimis bisa mengirimnya kemari dalam keadaan bagus? Saya mau! :)

  2. Posted February 8, 2009 at 6:13 pm | Permalink

    semoga sukses berlanjut di seratus hari kedua ketiga dan seterusnya … jgn lupa nanti kalo dah sukses kontak saya. ngajakin makan makan … huehehehehe

    • DV
      Posted February 8, 2009 at 6:13 pm | Permalink

      Ngajak thok kan ? Ya ayo! Kapan aja kuajak :)

  3. Posted February 8, 2009 at 6:23 pm | Permalink

    Tulisan ini indah, dan aku bisa merasakan rasa syukurmu pada Tuhan.Tanpa mendayu dayu.

    Gudlak Don, kalahkan hari ini.

    • DV
      Posted February 8, 2009 at 6:23 pm | Permalink

      Terimakasih, Yessy!

  4. Posted February 8, 2009 at 8:14 pm | Permalink

    Alhamdulillah. Akhirnya terlampaui 100 hari itu dan aku juga bisa menepati janjiku dulu.

    Jujur Don, dari tulisan-tulisan serial Sidney Seratus Hari Pertama, aku banyak belajar darimu yang mencoba menjalani perubahan kehidupanmu ini dengan pasrah pada sang Pencipta tapi tetap optimis. Sungguh bukan perkara mudah. Salut!

    **

    This is only one little step “mi amigo” for another giant leap! Semangat!!!

    • DV
      Posted February 8, 2009 at 8:14 pm | Permalink

      Terimakasih Yoga.
      Kamu benar mengintisarikannya, kekuatanku datang dari kepasrahanku pada Tuhan, sementara optimisku adalah pengejawantahan dari pasrah itu sendiri :)

  5. Posted February 8, 2009 at 8:25 pm | Permalink

    don, kalo makan daging babi tuh yah, rasanya memang berat kali ya? soalnya kata suamiku, babi tuh memang diciptakan untuk dimakan hihihi. lha enak je… wis, sukses lah! hepi ending :)

    • DV
      Posted February 8, 2009 at 8:25 pm | Permalink

      Hahahaha.. kok berat piye tho? Enteng asal setelah makan babi njuk treadmill satu jam hahaha!

  6. Posted February 8, 2009 at 9:04 pm | Permalink

    “buang air besar hingga mandi dalam waktu yang …”

    Hire tah Dab, nyote jarene libil pindah mbengi? atau switching libil-time is way much harder than quit smoking? hahahahaha
    pelajaran untukmu Nak, jangan menentang panggilan Alam Raya

    melewati 100 hari dengan gemilang, Youre the Man, Dab!

    • DV
      Posted February 8, 2009 at 9:04 pm | Permalink

      Angel, Dab!
      Angel tenan ngubah jam libil seko isuk dadi wengi.. Sing ono malah libil esuk lan wengi..

      Youre right! The hardest thing is, move the libil time! :)

      Thanks doa-doanya :)

  7. Posted February 9, 2009 at 2:35 am | Permalink

    lam kenal yah..smg sukses n lancar2 aja

  8. Posted February 9, 2009 at 9:42 am | Permalink

    syukurlah kalau 100 hari telah terlewati dg baik, meninggalkan kampung halaman memang penuh risiko dan mas donny telah sanggup melewati masa2 kritis itu dg lancar dan sukses. semoga ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari dinamika perjalanan hidup ini, mas don. salam kreatif!

  9. Posted February 9, 2009 at 10:11 am | Permalink

    Memang daging babi lebih gampang ditelan dari pada daging sapi karna banyak yang siap santap, tinggal diberi daun salade+tomat+wortel dan roti jadilah sandwich.

  10. Chandra
    Posted February 9, 2009 at 6:05 pm | Permalink

    Congrats, Don!

    Ngomong-ngomong seratus hari pertama dah berhasil utak atik BBB buat update klepon lom ya….:p

    • DV
      Posted February 9, 2009 at 6:05 pm | Permalink

      Sorry Bu, belom sempat ajah hahahaha…
      Besok sabtu gw fix-kan klepon deh.
      Thanks udah ingetin…

      Btw dingin banget yak Sydney dua hari terakhir ini :)

  11. Posted February 9, 2009 at 11:10 pm | Permalink

    salam mas DV,
    sudah lama saya berniat mengunjungi blog ini, tapi baru kali ini kesampaian… :D

    selamat atas keberhasilannya memasuki seratus hari pertama di negeri orang. memang, 100 hari pertama sering dijadikan patokan keberhasilan seseorang melalui sebuah kehidupan baru… selamat sekali lagi, semoga hari2 ke depan jauh lebih baik… :)

    nice to know u… I mean it! :)

    • DV
      Posted February 9, 2009 at 11:10 pm | Permalink

      Terimakasih Sdr Vizon atas kunjungannya.. Salam kenal juga!

  12. Posted February 10, 2009 at 1:35 am | Permalink

    Saya selalu ikut menikmati kegembiraan jika seseorang mencapai keberhasilan, dan mensyukuri setiap kemajuan langkah kecilnya. Karena langkah kecil ini nanti yang akan menjadi penopang langkah2 selanjutnya.
    Sukses ya Don, dan yang penting Donnny makin krasan dan bisa menikmati kehidupan di Aussie ini.

    • DV
      Posted February 10, 2009 at 1:35 am | Permalink

      Ibu, membaca komentar Ibu saya jadi ingat postingan saya tentang sulur.

      Terus terang, komentar-komentar Ibu terlebih pada awal kepindahan dulu sangat memotivasi perjuangan saya di sini.

      Terimakasih Ibu, Tuhan sertamu …

  13. Posted February 10, 2009 at 4:42 pm | Permalink

    DV pesimis? ngga ada tuh kayaknya di kamus dia

    Optimis dan cuek.
    Coba sapa lagi yang BERANI nulis tentang BABI selain DV. hahahha

    Dan karena itu pula (Tentu saja dengan penyerahannya pada yang DIATAS sana) DV berhasil melampaui 100 hari. (Bayi usia 100 hari ada upacaranya tuh Don)
    Selamat yah

    EM

    • DV
      Posted February 10, 2009 at 4:42 pm | Permalink

      Makasih, EM.
      Kenapa aku nggak berani menulis tentang Babi? :)
      Tak ada yang salah dengan babi tho?

      Hhahahahahaahaha….
      *kalau aku salah, maka ratusan bahkan mungkin ribuan outlet McDonalds di US dan Australia (entah negara lainnya) akan salah pula*

  14. Chandra
    Posted February 10, 2009 at 5:21 pm | Permalink

    Iyaaaa…dingiiinnn…
    dasar edun, turun lebih dari 20 derajat dalam 24 jam! Emang sengene deh si Sydney nih!

    • DV
      Posted February 10, 2009 at 5:21 pm | Permalink

      Emberrr bocorrrrr!
      Tapi hari ini lumayan OK ketimbang kemarin.
      Kulihat hari ini ada secercah warna biru, kalo kemarin bener-bener foggy!

  15. Posted February 10, 2009 at 6:13 pm | Permalink

    Kenapa angkanya 4.55 am, Don? Cukupkah waktu 5 menit menuju jam 5.00 am guna mengumpulkan nyawa dan menyadari sejak 100 hari terakhir ini selalu ada seseorang di sebelah tidurmu? He-he.

    Bagaimana pun ini sebuah pencapaian.

    • DV
      Posted February 10, 2009 at 6:13 pm | Permalink

      Hahahaha, begini pola pikirku,
      kalau aku bangun jam 5.00 am, berarti ketika kubangun jam 5.05 am, aku cuma punya waktu 25 menit sebelum boker dan mandi.

      Tapi kalau jam 4.55 am lalu terbangun jam 5.00 am nya, aku punya lima menit lebih lama dan itu sangat berarti!

      Menyadari seseorang lain tidur di sebelahku? Ah, aku terbiasa tidur bertiga huahuahau :)

  16. Posted February 10, 2009 at 8:35 pm | Permalink

    gud luck… :-)

    • DV
      Posted February 10, 2009 at 8:35 pm | Permalink

      Luck is my middle name,
      and Good is my first name :)

  17. Chandra
    Posted February 11, 2009 at 12:23 am | Permalink

    Hah! Lo liat langit biru di kota kali ya..duh di kampung gue mah mendung kelabu seharian, hujan pula!

    • DV
      Posted February 11, 2009 at 12:23 am | Permalink

      Di Belrose keliatan biru dikit kemarin tapi trus ngilang barang sebentar kemudian :)

      Hari ini kayaknya warmer than yesterday ya ?

      Semoga!

  18. Posted February 11, 2009 at 7:00 am | Permalink

    Selamat melewati masa 100 hari Mas Donny. Semoga bisa menahan kerinduan sama orang-orang di kampung sampai mencapai masa 1.000 hari. :D

    • DV
      Posted February 11, 2009 at 7:00 am | Permalink

      Hahaha, tahun depan saya juga pulang liburan ke Indonesia kok Pak Rafki :)

  19. Posted February 16, 2009 at 6:29 pm | Permalink

    heee selamat 100 hari ( berantas korupsi hahaha kayak SBY ,,,,,korupsi waktu yang sangat berharga walau 5 menit )
    ehhh aku malah lebih suka boker pagi biar aku bangun pagi hahahaha piye toh kok malah ngomongin boker hahaha
    pokoknya selamat untuk 100 harinya tentu tambah semangat ya mas salam

    • DV
      Posted February 16, 2009 at 6:29 pm | Permalink

      Matursuwun Mas Totok!
      100 hari emang bermakna baik bagi SBY, Obama juga saya…

      Doakan saya OK memimpin negara *lohh*

  20. nana
    Posted August 23, 2009 at 2:48 am | Permalink

    allo mas.. salut deh ama mas selalu optimis walo terdampar di negri orang..
    aku cuma mau nanya neh.. apa motivasi nya ampe bisa pindah ke aussie (optimis banget lagi..) dan meninggalkan segala kenyamanan yang ada di yogya ??

    soalnya aku juga pengen neh ke aussie.. tapi takut ngga bisa survive disana, katanya susah ya cari kerja disana ??
    minta info nya ya mass..
    thanks a lot..

    • DV
      Posted August 23, 2009 at 2:48 am | Permalink

      Hi Nana, makasih kunjungannya :)
      Salah satu motivasi utama saya pindah ke Aussie adalah karena saya tau saya tidak akan terdampar.

      Mari kita berkutat pada salah kaprah istilah itu dulu aja, bahwa kita sejatinya tak pernah terdampar :) tapi ditugaskan Tuhan.

      Sorry kesannya absurd, tapi justru dari hal-hal seperti itu yang membuat saya kuat :)

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.