Matane dan Matamu

Apa yang menarik dari mata?

Waktu kukecil dulu, aku suka seram kalau Mama sudah membelalakkan mata ke arahku.
Ketika kami sedang bertamu ke rumah orang lantas aku tak bisa berhenti makan kudapan yang dihidangkan tuan rumah, matanya bisa jadi memerah dan seperti hendak keluar meski bibir tetap tersenyum ke arah tamu.
Matanya adalah isyarat. Isyarat supaya aku berhenti memamah biak atau jika tetap nekat, sekeluarnya dari situ, telingaku akan memerah karena dijewer lalu ditariknya ke atas tinggi-tinggi.

Waktu kuberanjak remaja dulu, setengah mati aku belajar mengedipkan sebelah mata.
Kawan dekatku dulu bilang “Kedipkanlah mata pada gadis yang kau suka!”
Maka akupun belajar melakukannya meski kadang gagal karena aku tak bisa mengedip hanya salah satu melainkan keduanya.
Sehingga, alih-alih mendapatkan balasan perhatian, yang ada justru ketika aku kedipkan mata bersama-sama, sekejap kemudian, gadis sasaranku itu telah hilang entah kemana.

Kita menangkap isyarat lewat mata.
Ini tentu hal yang sangat luar biasa kalau kita mau sadari dan resapkan.
Bayangkan, mata itu kan harusnya kita gunakan untuk menangkap “isyarat” warna, bentuk dan kelengkapan obyek lainnya yang ada di depan kita, tapi siapa nyana bahwa mata bisa juga aktif mengeluarkan isyarat.
Seperti halnya mata Mamaku yang membelalak kuceritakan di atas, ia mengisyaratkan amarah.
Atau mata-mata yang terkedip sebelah di depan gadis yang kutaksir, ia mengisyaratkan suka, mungkin birahi meski barangkali jauh dari cinta.

Lantas bagaimana hidup tanpa mata?
Masihkah isyarat bisa terkirimkan meski tidak melaluinya?
Belajarlah pada Stevie Wonder serta Ray Charles! Dua orang divo yang tetap berkibar meski tak dianugerahi mata yang berfungsi normal seperti halnya kita. Mereka bisa menangkap isyarat, menuangkannya dalam lagu, dan melemparkannya kembali pada kita isyarat itu bukan dari mata tapi dari suara yang merdu.

At First SightAtau coba tonton film At First Sight (1999). Bahwa cinta pun bisa diisyaratkan tidak melalui mata, adalah pesan yang dibawakannya. Seorang Virgil Adamson (diperankan oleh Val Kilmer) yang buta itu bisa jatuh cinta kepada Amy Benic (Mira Sorvino) dan sebaliknya, meski tak bisa menangkap isyarat dari mata si Virgil, Amy yang arsitek itupun bisa jatuh cinta dan merasai adanya gelora cinta dari si Virgil.

Si Buta dari Gua HantuBelum lagi cerita si Barda Mandrawata dari pelosok Banten sana.
Akibat dendamnya kepada Si Mata Malaekat yang telah mengobrak-abrik kampung serta membunuh ayahnya, Barda kemudian memutuskan untuk menyepi, mempelajari ilmu silat dan berkaca pada musuhnya, ia memutuskan untuk menancapkan golok pada kedua bola matanya dan jadilah ia Si Buta dari Gua Hantu yang secara hebat pernah diceritakan oleh Ganesh Th yang kesohor itu.
Bagi Barda, kebutaan yang ia alami justru bisa digunakan untuk “memandang” dunia dari balik kegelapan untuk mendapatkan “terang” dari apa yang bukan berasal dari mata, yaitu nurani.

Orang bilang mata adalah jendela dunia, penghantar sekaligus penangkap isyarat yang ada di sekitar kita.
Tapi pengecualian patut kita berikan pada sosok seperti Virgil, Barda, Stevie Wonder, Ray Charles atau bahkan Ramona Purba sekalipun. Mereka semua adalah orang-orang yang barangkali harus hadir tanpa mata, tapi pada prakteknya tetap memiliki “mata” dan justru terkadang mereka lebih “bermata” ketimbang kita yang memiliki mata.

Adapun “matamu!” itu lain lagi.
Ia adalah sejenis pisuhan, ungkapan makian, khas Jogja dan sekitarnya yang sangat patut kita ucapkan pada mereka yang meski bermata tapi terkadang tampak seperti orang yang tak menggunakan anugerah mata untuk hal-hal yang dilakukannya.
Pada kenyataannya, seperti halnya mata itu sendiri, ungkapan “matamu!” mengalami perluasan arti.
Orang yang berniat menggembosi sepeda pak guru, kita maki saja “matamu!” karena ia tak memakai “mata hatinya” dengan mencelakai orang yang berjasa memberi ilmu.
Orang yang berniat pergi ke rumah bordil padahal sedang tanggal tua, kita maki saja “matamu!” karena ia tak memakai “mata hatinya” dengan hidup berboros membeli “daging” tidak pada waktunya.

Seperti halnya seorang kurus ceking berambut hitam dan bermata kurang lebih sama sipitnya denganku yang tadi pagi harusnya mengantri di belakangku untuk masuk ke dalam bis dan tiba-tiba nyelonong mendahuluiku, kepadanya kubilang “matane!!!!” meski… ya meski ia tak tahu sama sekali apa arti ucapanku, tapi mataku, ya mataku, dengan terbelalaknya ke arahnya, mengisyaratkan bahwa ia benar-benar seperti orang yang tak punya mata dan main tabrak saja!

Oh ya, “matane!” itu sama dengan “matamu!”

Sumber foto dari sini dan
sini

Post to Twitter Post to Delicious Post to Digg Post to Facebook

This entry was posted in Cetusan. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

20 Comments

  1. Posted February 17, 2009 at 5:30 pm | Permalink

    O,iya….DAGADU itu kalau dibalik, artinya matamu….dari aksara dalam bahasa Jawa (lupa Don urutannya).

    Hmm tulisan menarik, zaman dulu orangtua menegur melalui lirikan mata, lambaian dan remasan tangan. Donny bersyukur mengalami hal itu, kalau kulakukan itu pada anakku, dia akan ganti tanya..”Maksud ibu apa sih?” Tapi ada bahasa lain, yaitu bahasa hati, yang selama ini kuterapkan dalam menghadapi anak-anakku, yang sulit untuk diucapkan. Dan ternyata bahasa hati, mengerahkan melalui pikiran ini lebih mencapai sasaran, terutama jika dilakukan pada saat sang anak sedang tidur.

    Jadi mungkin juga mirip ini (komunikasi meralui rabaan, atau melalui hati)…yang dilakukan antara orang yang matanya tidak normal.

    Udah lama ga mendengar makian “matamu”

    • DV
      Posted February 17, 2009 at 5:30 pm | Permalink

      Hahahaha, DAGADU itu MATAMU :)
      Saya juga udah jarang memaki “matamu” kecuali ya kemarin itu :)

  2. Chandra
    Posted February 17, 2009 at 6:05 pm | Permalink

    Hahahhahahahahahaha…
    Kirain lo mo posting apaan..don..don!

  3. Posted February 17, 2009 at 6:25 pm | Permalink

    Hihihihih……gue ngebayangin pas dirimu melotot dan teriak “matane” itu ke orang itu boss ..wakakakka..keknya lucu deh …

    Makanya..jagalah matamu…heheh..
    Gue suka tulisan ini…tetep gaya seorang DV ..cuma belakangnya memaki dengan gaya lucu…lo aslinya lucu apa galak si Don???

  4. Posted February 17, 2009 at 7:53 pm | Permalink

    saya koq jadi inget lagu “love is blind”

    • DV
      Posted February 17, 2009 at 7:53 pm | Permalink

      Love is Blind itu kan Cinta Buta ya?
      Lagunya Koes Plus dong!

      Cinta buta,
      buta mata dan telinga :)

  5. Posted February 18, 2009 at 12:37 am | Permalink

    salam kenal, numpang promote yah

    alow teman-teman blogger

  6. Posted February 18, 2009 at 12:44 am | Permalink

    huahaha…
    untung dia gak ngerti yah…

    :-)

    • DV
      Posted February 18, 2009 at 12:44 am | Permalink

      Dia ngerti, lewat tatapn mataku :)

  7. Posted February 18, 2009 at 2:13 am | Permalink

    emang mata mami kamu seram yah….

    • DV
      Posted February 18, 2009 at 2:13 am | Permalink

      Seram? Arung seram, pho :)

  8. Posted February 18, 2009 at 3:22 am | Permalink

    slononger ya… jitak aja pak… he..he..
    nek gak ngerti matane… omonge dnjacuk ae pak… wkakaka

    • DV
      Posted February 18, 2009 at 3:22 am | Permalink

      Oh, ngono yo Cuk :)

  9. Posted February 18, 2009 at 6:05 am | Permalink

    nang jogja ga ono JANCOK yo … xixixi

  10. Posted February 18, 2009 at 8:21 am | Permalink

    hahaa betul juga mas pisuhan sekaligus cerita asal mendasar kenapa misuh ,dengan MATAMU itu .
    di paparkan kisah si barda juga memberikan contoh kalao mata hati kadang lebih tajam dari mataku
    eh kalo di autralia ngumpat pake bahasa enggres piye mas
    nek matamu = your eye
    ndasmu = your head hahahaha keren kali yoh hahaha

    • DV
      Posted February 18, 2009 at 8:21 am | Permalink

      lha nek manukmu dadi = your bird ?!? Hahaha!

  11. Posted February 18, 2009 at 8:28 pm | Permalink

    Wah, dalem banget isi postinganmu.

    *membayangkan reaksi orang itu kalau ngerti maksudmu*

    • DV
      Posted February 18, 2009 at 8:28 pm | Permalink

      Tau! Ia tahu dari tatapan mataku bukan dari ungkapan “matane” :)

  12. Posted February 18, 2009 at 8:31 pm | Permalink

    saya sering berseloroh kalau ada teman yg kesulitan nyari barangnya dg kalimat begini: “nyari tu pake mata, jangan pake idung!”

    mata bisa melihat apa yg tampak, tapi matabatin lebih bisa melihat apa yg tak tampak… :)

    • DV
      Posted February 18, 2009 at 8:31 pm | Permalink

      Mata batin bisa kelilipan juga ngga ya :)

  13. Posted February 18, 2009 at 9:23 pm | Permalink

    Nice post, Bro. All that long story for a simple ending: MATANE…!!! Salam kenal mas Donny

    • DV
      Posted February 18, 2009 at 9:23 pm | Permalink

      Thanks! Salam kenal juga :)

  14. Posted February 18, 2009 at 11:16 pm | Permalink

    tulisanmu iki menambah keyakinanku nek kowe iso ngganteni Ringgo utk main di Jagad X Code. hehehe. pisuhan yg khas! hahaha…

    • DV
      Posted February 18, 2009 at 11:16 pm | Permalink

      Ringgo yang Agus Rahman itu? Ah lewat dah!

  15. Posted February 18, 2009 at 11:20 pm | Permalink

    makasih atas kunjungan baliknya…..
    makasih atas komennya….
    moga kamu salah satu orang yang mau memberantas para koruptor…

    • DV
      Posted February 18, 2009 at 11:20 pm | Permalink

      Benar! Mari kita berantas mirasantika!

  16. Posted February 19, 2009 at 12:04 am | Permalink

    setuju mas. kalau melihat orang tidak memanfaatkan matanya dengan baik, itu seperti tidak melakukan segala sesuatu dengan hati.
    ora wholeheartedly, kalo kata temen walondoku. karena kata dia, hati kita selalu menyuarakan kebaikan kok. cuman, suka ndak sinkron aja sama indera kita.

  17. Posted February 20, 2009 at 3:36 pm | Permalink

    lho kok ngga di translate aja mas,
    jadi eyesyou!(=asu!) hehehe

  18. Posted February 21, 2009 at 2:48 am | Permalink

    Hahaha…
    Kreatif sekali maz ini.
    Koq ya bisa lho, mata dijadikan sebuah cerita yang menari sperti ini. Ckckck

    • DV
      Posted February 21, 2009 at 2:48 am | Permalink

      sengsu! eh tengkyu!

  19. Posted February 23, 2009 at 6:42 pm | Permalink

    di tegal, kalo tdk salah, ada desa bernama matamu juga lho :D . btw salam kenal …

    • DV
      Posted February 23, 2009 at 6:42 pm | Permalink

      Oh ya, wah info menarik tuh!
      Makasih :)
      Salam kenal juga

  20. Posted February 24, 2009 at 1:29 pm | Permalink

    Asemik!

    • DV
      Posted February 24, 2009 at 1:29 pm | Permalink

      Asemik kuwi kancane Arsenik :)

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

  • Versi Beta

    Situs web ini akan selalu dalam tahap pengembangan sejak dipublikasikan pertama kali pada 20 Desember 2007.

    Ikon manusia "Donny Verdian" hasil kreasi Donny Verdian (Terima kasih untuk para pendahulu pencipta ikon, Ardian Sukmaji (2007 - 2008), dan Anjung Sakti (2005)).

    Seluruh tulisan dan isi konten lainnya kecuali "tanggapan" adalah hasil pemikiran Donny Verdian.

    Untuk konten khusus yang saya sadur maupun tayangkan dari tautan luar situs web ini, akan saya cantumkan sumber/pengkreasinya. Ingatkan saya apabila saya lalai akan hal ini. Pemberlakuan copyrights di situs web ini adalah sesuai dengan salinan di sini.