Merpati Berkaki Satu, Sepagi Itu

1

Kepada siapa kita harus berkaca?

Kepada cermin?
Tidak bosankah kita berkaca pada diri sendiri sementara diri sebenarnya ingin berkaca dari yang lain sekali tempo?

Kepada sesama manusia?

Tidak khawatirkah kita pada justru timbulnya rasa membanding-bandingkan dan pada akhirnya malah menggulirkan kita pada lembah iri, dengki, pengidolaan yang semu apalagi minder?

Kepada Tuhan?

Hmmm are you OK?????

Pagi tadi aku bertemu seekor merpati berkaki satu yang sedang mengais-ngais remah makanan di depan Queen Victoria Building. Entah bagaimana ia bisa hanya memiliki sebelah kaki. Barangkali kecelakaan atau mungkin Tuhan memang hanya menaruh satu kaki saja semenjak ia dilahirkan…

Hatiku berpijar melihat kemuliaan merpati itu dalam menerima kenyataan hidup.
Ia tak pernah mengeluh. Kalaupun mengeluh Tuhan tak memberinya suara yang sanggup kumengerti bahasanya, sayangnya.

Aku terpikat pada caranya tetap tegar dan bersemangat menyambut hari yang masih pagi itu.
Mengatur keseimbangan tubuhnya dengan sebelah kaki untuk mematuk lalu tegap kembali, mematuk dan tegap lagi kemudian dengan sekuat tenaga melompat, berpindah ke tempat lain sambil berharap mendapatkan remah-remah yang lebih baik. Selepas kenyang dengan satu kayuhan ia pun terbang untuk kembali ke rumah.
Seperti ia tak menyempatkan diri untuk mengasihaninya sendiri dan tak pula melonggarkan waktu padaku untuk lebih lama berkaca darinya.

Ia terlalu istimewa sepagi itu…

Post to Twitter Post to Delicious Post to Digg Post to Facebook

This entry was posted in Cetusan. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

29 Comments

  1. Posted March 24, 2009 at 8:05 pm | Permalink

    hikmah bisa dipetik bahkan dari makhluk terlemah sekalipun. sekali tempo tataplah mentari, bukan pada kehangatannya, tetapi pada kerelaannya untuk dibakar demi kehidupanmu… sepandai-pandai orang adalah yang pandai bersyukur.

    selamat pagi mas. sepagi ini saya sudah meracau di blog sampean :) )

  2. Posted March 24, 2009 at 11:25 pm | Permalink

    kok aku jadi terharu ya? … :(

  3. Posted March 25, 2009 at 12:06 am | Permalink

    Aahh…aku terharu membaca renungan ini.
    Reminder.. reminder..
    thanks, mas..

  4. Posted March 25, 2009 at 12:12 am | Permalink

    manusia sering mengeluh.. kalo ngeliat kondisi temen-temen kita yang “berkebutuhan khusus” yang pantang menyerah, harusnya kita yang “sempurna” ini malu..

    • DV
      Posted March 25, 2009 at 12:12 am | Permalink

      Betul, Mas.. Betul sekali ituw

  5. Chandra
    Posted March 25, 2009 at 1:56 am | Permalink

    Dalem…

  6. Posted March 25, 2009 at 3:12 am | Permalink

    Ngenes lihatnya Don…
    Aku jadi ingin nangis.

    • DV
      Posted March 25, 2009 at 3:12 am | Permalink

      Betul… apalagi waktu aku ngeliat langsung, langsung kujepret..:)

  7. Posted March 25, 2009 at 3:54 am | Permalink

    Dan tahukah kau, Don, makanan cicak itu?
    Bukankah ia tidak memiliki sayap seperti nyamuk?

    • DV
      Posted March 25, 2009 at 3:54 am | Permalink

      Hmmm aku masih belum paham komentarmu, Dan. Kalau ada waktu tolong dijabarkan, sepertinya menarik, Sobat :)

  8. Posted March 25, 2009 at 6:05 am | Permalink

    Merpati itu pastilah makhluk yang sangat berharga sehingga ia dimampukan hidup dengan segala keterbatasannya.

    Merpati itu pastilah makhluk yang sangat berharga, dipakai sebagai sarana untuk membuat kita (dan mungkin banyak orang lain lagi) bisa berkaca dan belajar nilai kehidupan darinya.

    Hiks… jadi terharu…
    Kalau aku ada disana,
    apa merpati itu akan senang ya kalau kubelai untuk menyatakan rasa haruku? untuknya?

    • DV
      Posted March 25, 2009 at 6:05 am | Permalink

      Aku jadi ingat perkataan seseorang pada Yesus tentang kenapa mesti ada orang sakit:)

      Kalau kamu ke sini membelai dia, bisa-bisa kamu kena sue karena mengancam hidup wildlife…

      Di sini, terkadang, menolong malah bisa kacau, Mbak :)

  9. Posted March 25, 2009 at 11:00 am | Permalink

    haruskah kita belajar dari merpati berkaki satu itu mas donny, yang bisa demikian tabah menjalani takdar dan suratan nasibnya, tanpa harus mengutuk dan menyumpah2, hehehe … kok beda banget dng manusia, ya, mas, diciptakan sebagai makhluk yang “sempurna” tapi selalu saja merasa kurang, haks.

    • DV
      Posted March 25, 2009 at 11:00 am | Permalink

      Sangking kurangnya sampe korup ya, Pak :)
      Tapi Pak Sawali kok bisa tahu kalau mereka tak mengutuk diri dan menyumpah-nyumpahi Tuhan? Apa Pak Sawali tahu bahasa mereka? Heheheh, becanda Pak Guru :)

  10. Posted March 25, 2009 at 7:53 pm | Permalink

    Mas sedang merenung tapi ya sempat-sempatnya nyari angle foto yang apik buat moto merpatinya…
    pake kejar2an gak mas
    (udah banyak komen seriusnya, komen ngasal ya….hehehe)

    • DV
      Posted March 25, 2009 at 7:53 pm | Permalink

      Hehehe, bahasa kerennya “contemplacio in actio” Dik :)

      Berkontemplasi di tengah kegiatan :)

      Aku gak pake kejar-kejaran karena di sini burung nggak ada takutnya sama manusia, mereka biasa hidup dihargai :)

  11. Posted March 25, 2009 at 9:13 pm | Permalink

    kamu bis “menyadari” keadaan merpati itu karena matamu terbuka don. Jika tidak, maka tidak akan kelihatan apakah merpati itu berkaki satu atau tidak. Siapa yang membukakan matamu? Karena sebetulnya terkadang mata kita terbuka tapi tidak melihat. Pasti jiwamu… ya ada sesuatu yang menggerakkan penglihatan mu sehingga bisa menangkap “cermin” ini. Aku besyukur karena aku jg bisa merasakannya karena telah kamu tuliskan.

    semoga mata kita bisa “terbuka” terus akan peristiwa di sekitar kita, dan mengambil maknanya.

    Apa rencana untuk Paskah?
    Aku akan bikin oikumene dengan kotbah dari pendeta yang dulunya anggota Yakuza. I am looking forward to hear his preach!

    GBU friend

    EM
    EM

    • DV
      Posted March 25, 2009 at 9:13 pm | Permalink

      Komentar yang sangat memberi kesimpulan dengan bagus, Mel.

      Paskah ini, aku akan tetap mengikuti triduum sekhidmat mungkin, lalu abis upacara Good Friday, with my friends, aku akan pergi ke Port Stephen, tiga hari holiday di sana.

      Kayaknya seru :)

  12. Posted March 25, 2009 at 10:25 pm | Permalink

    walah menjadi pembelajar dlm setiap kesempatan adalah mendewasa dalam peneguhan jati diri
    merpati berkaki satu itu terus bersemangat untuk hidup dan mengisi hari harinya mengalahkan saya yang kadang kehilangan semangat untuk menjalani hari harinya

    • DV
      Posted March 25, 2009 at 10:25 pm | Permalink

      Mas Totok, Anda sekali waktu juga bisa dan boleh lho menuliskan pelajaran dari alam yang ada di sekitar Anda di blog Anda.
      Pasti banyak dan memikat tho!
      Dadi ora mung cerita kambing tertawa atau temu blogger yang bikin iri itu hihihihi:)

  13. Posted March 25, 2009 at 10:53 pm | Permalink

    Kadang kita bisa berguru pada ketegaran alam dan mahluk lain.

    Bahkan merpati berkaki satu itu.

    Jadi membuaat kita semangat jalani perjuangan.

    • DV
      Posted March 25, 2009 at 10:53 pm | Permalink

      Betul, Mas.. meski sebenarnya yang saya ingin tahu adalah bagaimana perasaan para makhluk itu ketika melihat kita. Jangan-jangan mereka juga tersemangati melihat kita yang lesu gara-gara melihat mereka ya :)

  14. Posted March 26, 2009 at 2:31 am | Permalink

    hiks
    byme kok malah nangis

  15. Posted March 26, 2009 at 3:11 am | Permalink

    terima kasih, aku merasa diingatkan :)

  16. Posted March 26, 2009 at 9:30 am | Permalink

    *ngambil tissue*
    baca renungan ini malem2 bikin jadi eling ya mas…bahwa hidup itu harus disyukuri bagaimanapun susahnya, wong dikasih hidup aja udah syukur :D

    • DV
      Posted March 26, 2009 at 9:30 am | Permalink

      Benar, hidup ini adalah anugerah tapi kadang kita minta lebih…

  17. Posted March 26, 2009 at 9:44 am | Permalink

    Aku tertarik untuk sharing pendapat lagi di sini Don. Aku jadi ingat dengan kalimat:- Hidup bukan hanya untuk diratapi! Hidup untuk dijalani, seberapa pun besarnya tantangan menghadang, seberapa pun besarnya perjuangan harus ditempuh! Hidup bukan tentang apa yang kau inginkan dan apa yang tidak kau inginkan! Dan bahwa hidup mesti dijalani dengan apa yang ada, bukan dengan apa yang seharusnya ada

    sama halnya dengan cicak yang disebut Daniel, merpati itu menegaskan, semua kalimatku tadi sekaligus mengingatkan, dengan keterbatasannya, akan ada rejeki untuknya. Ada welas asih untuknya.

    Tuhan Maha Pemurah.

    Selamat berlibur. :)

    • DV
      Posted March 26, 2009 at 9:44 am | Permalink

      Orang Bijak itu bilang “Bahkan burung udara yang tidak menanam dan memetik pun mendapatkan makanan” :)

      Salut!

  18. Posted March 26, 2009 at 9:51 pm | Permalink

    Sebetulnya kita bisa belajar dari lingkungan keseharian kita, jika kita mau membuka mata dan telinga lebar-lebar.
    Dan kemudian, kita akan mensyukuri apa yang telah kita peroleh selama ini.

    • DV
      Posted March 26, 2009 at 9:51 pm | Permalink

      Betul, Bu.. kata kunci dan tujuannya adalah Syukur..:)

  19. Posted March 26, 2009 at 10:06 pm | Permalink

    Ayo syukuri keadaan kita saat ini. Terlalu banyak karunia yang diberiNya. Takkan sanggup kita menghitungnya. Jangan merutuk, jangan mengeluh, semangat….!
    Contoh (hikmah) bagus memang bertebaran di sekitar kita bila kita mau mencermatinya..

    Oh ya, terimakasih Mas DV untuk segala yang telah dibagi, hari ini tepat setahun saya ngeblog..

    • DV
      Posted March 26, 2009 at 10:06 pm | Permalink

      Selamat Suhu Suhadi, langgeng terus blognya:)

  20. Posted March 27, 2009 at 4:40 am | Permalink

    Salut buat penglihatan yang punya Blog!

    Menuangkan apa yang dilihat, menjadi penghangat non alkohol

    • DV
      Posted March 27, 2009 at 4:40 am | Permalink

      Hehehehe, tapi saya ndak tau waktu menulis ini pake alkohol apa nggak jhe, Dab :)

      Piye kabare? Njanur gunung!

  21. Posted March 27, 2009 at 6:56 am | Permalink

    jika dengan satu kaki saja dia bisa…masa kita dengan dua kaki gak bisa…maka bersyukurlah dengan apa yang kita miliki, belajar dari merpati

    • DV
      Posted March 27, 2009 at 6:56 am | Permalink

      Betul, Mas…
      Intinya, kalau kita diberi kelebihan kenapa nggak bisa berbuat lebih dari yang kurang ya :)

  22. Posted March 27, 2009 at 6:57 am | Permalink

    Oh my God!
    Aku lupa kalau kamu adalah penulis yang sungguh hebat, Donny..

    Aku suka sekali sama postinganmu yang ini; sederhana, nggak terlalu panjang, tapi pesan moralnya dapet banget!

    (kangen euy, udah lama nggak ngobrol… nyapa napa kalau ketemu di YM… hehehehe)

    • DV
      Posted March 27, 2009 at 6:57 am | Permalink

      Hanya debulah aku di alas kakimu, Lala.
      Kamu adalah penulis besar dan hebat, sementara aku masih mengupasi hal-hal kecil untuk dijadikan tulisan.

      Doronglah aku, supaya tak tertatih dalam menulis:)

  23. Posted March 27, 2009 at 9:14 am | Permalink

    Ini dalem banget Don, bikin merenung namun juga beryukur disaat yang bersamaan.

    Betapa Tuhan amat pemurah dan amat penyayang….

    Apa kabarmu Don….Miss you…*lebayyyyyyyy*

  24. Posted March 27, 2009 at 12:06 pm | Permalink

    Padahal kita sempurna ya…
    Tapi selalu berkaca pada kesempurnaan lain..
    Huff, merpati berkaki satu…

    • DV
      Posted March 27, 2009 at 12:06 pm | Permalink

      Kita tidak sempurna, Mas…
      Tuhan yang sempurna, dan kita selalu berusaha mendekatiNya

  25. Posted March 27, 2009 at 3:51 pm | Permalink

    Belajar Hidup bisa dari siapa saja dan dari mana saja.
    Hari Ini saya belajar dari mas DV dan mas DV belajar dari manuk Dara.
    Matur sembah nuwun mas

    • DV
      Posted March 27, 2009 at 3:51 pm | Permalink

      Sami-sami, Mas

  26. Posted March 27, 2009 at 8:21 pm | Permalink

    membayangkan saya langsung melihat dan memaknai burung dara berkaki satu di sepagi itu …
    simple but still inspiring ..

  27. Posted March 28, 2009 at 2:12 am | Permalink

    Kadang mahluk selain manusia itu merasa iba ketika melihat kita berleha-leha dan berpangku tangan untuk kebaikan.

    • DV
      Posted March 28, 2009 at 2:12 am | Permalink

      Hahaha, saya suka komentar Anda. Mengambil sisi lain dari tulisan ini.

      Cerdas!

  28. Posted March 30, 2009 at 9:15 pm | Permalink

    wah ini ilustrasinya sip banget membuat kita berpikir saaat melihat burung sara berkaki satu suatu hikmah buat kita semua

    salam kenal mas dan silaturrahmi

  29. Posted April 5, 2009 at 9:19 pm | Permalink

    1. Donny mengajak kita semua utk belajar mengamati hal – hal sederhana yang melintas dalam perjalanan hari… sebab tidak jarang, Tuhan memberi pelajaran melalui hal yang tidak biasa, juga dalam sekejap…..

    2. Merpati adalah lambang ketulusan yang diajarkan Yesus… burung2 di langit adalah lambang pemeliharaan Tuhan terhadap kehidupan ini… dan pada suatu pagi.. seekor merpati berkaki satu dibidik lensa kamera sahabat saya untuk dijadikan sebuah perlambang lagi….. apa? hidup yang sempurna adalah berani menjalani ketidaksempurnaan dengan tidak menyalahkan keadaan, tetapi menerima dan melanjutkannya……..

    BRAVO Donny “Bassistnya BLITZ….. hehehheh

    • DV
      Posted April 5, 2009 at 9:19 pm | Permalink

      Bravo, Endang!
      Selamat menjalani pekan suci dan mempersiapkan diri menjelang Paskah :)

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

  • Versi Beta

    Situs web ini akan selalu dalam tahap pengembangan sejak dipublikasikan pertama kali pada 20 Desember 2007.

    Ikon manusia "Donny Verdian" hasil kreasi Donny Verdian (Terima kasih untuk para pendahulu pencipta ikon, Ardian Sukmaji (2007 - 2008), dan Anjung Sakti (2005)).

    Seluruh tulisan dan isi konten lainnya kecuali "tanggapan" adalah hasil pemikiran Donny Verdian.

    Untuk konten khusus yang saya sadur maupun tayangkan dari tautan luar situs web ini, akan saya cantumkan sumber/pengkreasinya. Ingatkan saya apabila saya lalai akan hal ini. Pemberlakuan copyrights di situs web ini adalah sesuai dengan salinan di sini.