Tentang Mood Foto

Ada satu hal yang menarik terkait dengan posting berjudul Sydney, Hitam Putih, minggu lalu.

Melalui fasilitas komentar, Imoe, rekan blogger yang cukup sering berkunjung dan berkomentar di sini itu bertanya demikian:

Pertanyaan ku mas..kenapa pengambilan foto mas yang bertemakan kuburan, gereja, atau yang berbau rohani, bagus bgt…apa siy yang mas rasakan ketika memotret objek tersebut ?

Ketika memotret, yang kurasakan hanyalah bahwa aku sedang memotret. Sama halnya dengan ketika menulis, ya menulis saja.
Kalaupun ada alasan filosofis yang mendasari, bolehlah kugunakan pepatah usang Do Your Best yang memang kuanut untuk kucoba meneerapkan dalam hidup, lain tidak.

Ngomong-ngomong soal foto gereja serta hal-hal bertema rohani lainnya, dari sekian banyak foto gereja yang kupunya, ada satu foto yang amat sangat kusuka yang belum pernah kutampilkan di sini sebelumnya.

Foto ini kuambil di Gereja Katedral St Patrick di Melbourne, akhir Februari 2008 yang lalu. Seorang bapak (barangkali berdarah latin) berlutut, berdoa di depan lukisan Bunda Maria setelah sebelumnya menancapkan lilin menyala di tempat yang telah disediakan.

Secara teknis, foto ini barangkali buruk karena kekurangan cahaya serta pilihan diafagma dan kecepatan yang tak memungkinkan gambar untuk tidak goyang (shake), tapi yang kusuka darinya adalah moodyang menurutku justru muncul karena buruknya hal teknis yang tak bisa kupenuhi itu tadi. Goyangnya gambar serta suasana yang tak sengaja jadi tampak temaram karena kekurangan cahaya membuat doa yang dipanjatkan pak tua itu terasa betul bagiku.
Entah, barangkali berbeda dengan Anda, simak fotonya di bawah ini.

Best Church

Post to Twitter Post to Delicious Post to Digg Post to Facebook

This entry was posted in Tustel. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

24 Comments

  1. Posted July 31, 2009 at 1:09 pm | Permalink

    MAGIS !

    merinding mas….

    Kesyahduan dan kekhususkannya menusuk kalbu….. Jeli banget sih melihat momennya.

    4 jempol !

  2. Posted July 31, 2009 at 3:50 pm | Permalink

    foto menunjukkan identitas, minat, hasrat, dan apapun mood dan tujuan yang menyertainya.

    btw, ada hubungannya ndak sama keberadaan Image stabilizer?

  3. Posted July 31, 2009 at 9:05 pm | Permalink

    Iya Bang DV, tumben goyang.. saking terharu-nya kah? Hehe..
    Klo aku pribadi merasa seandainya gak goyang, pasti fotonya lebih oke soalnya cahaya dan suasananya juga udah bagus..(klo gini pusing euy,,)

  4. Posted July 31, 2009 at 9:57 pm | Permalink

    Kalau nggak lagi goyang pasti indah sekali..
    Terasa kesyahduannya…dan suasana yang temaram, betapa khusuknya si bapak itu berdoa

  5. Posted July 31, 2009 at 11:13 pm | Permalink

    HAHAHA< goyang ya goyang don! makanya beli monopod gih. Bukanya kalo low lightning gitu pake soft fill-in flashlight bisa ngebantu gambarnya gak burem2 amat walaupun goyang?

    Kusyuk nya kerasa sih tapi. Btw jgn lupa ya bikinin poto buat stopila >P

  6. Posted July 31, 2009 at 11:34 pm | Permalink

    nice gan
    lam kenal yaaaa

  7. handy atmojo
    Posted August 1, 2009 at 8:03 pm | Permalink

    yoi bro.. jepret mah jepret aja dah, ga semua orang bisa menikmati foto kita jg, yang penting kita menikmatinya.. gw jg sering alami hal serupa kok, cape dan buang2 waktu urusin orang yang nenteng2 camera&lensa2 mahal di kursusan2 fotografi dan bicarain “kurang 1 stop lah”, “kelebihan 2 stop lah”.. hahaha itulah fotografi, skrg bukan hobi dan art..tapi menjadi sebuah lifestyle dan trend.

  8. Posted August 1, 2009 at 9:47 pm | Permalink

    ya… ada sesuatu yang tak terucapkan ketika melihat foto itu; sebuah kesyahduan… :D

  9. Posted August 1, 2009 at 11:19 pm | Permalink

    aku tetap suka…
    kadang satu foto jika tidak bagus dilihat dari sisi keindahan, tetapi sebuah foto diambil karena faktor nilai yang bermakna buat kita kan…

    Jadi aku tetap bisa merasa makna yang kamu rasakan dari foto ini walaupun blur… sama seperti kita melihat wajah anak sendiri yang geraknya ke mana-mana waktu difoto sehingga kabur terus, tapi kita happy-happy saja karena moment-nya sangat indah dapat terekam tidak sempurna tetapi sempurna di otak kita.

  10. Posted August 2, 2009 at 5:56 pm | Permalink

    kalau tidak dijelaskan barangkali saya sudah berpikiran foto ini memang disengaja dibuat temaram seperti itu untuk menambah kesan religinya.

    • DV
      Posted August 2, 2009 at 5:56 pm | Permalink

      :) Makasih sudah mengerti :)

  11. Very Wirawan
    Posted August 2, 2009 at 6:24 pm | Permalink

    Sorry ya Don, cuma mau minta maaf, blog-mu ini kubaca dgn cara yang tidak sopan.
    Tiap kali p*p aku pegang bb n blog-mu yang jadi temanku p*p.
    Semoga mood-mu menulis gak hilang ya, hihihi …

    • DV
      Posted August 2, 2009 at 6:24 pm | Permalink

      Hahahaha ya ndak papa, lha wong kebanyakan ide dari materi blog ini juga tercipta ketika aku duduk di WC jhe :)

  12. Posted August 2, 2009 at 11:21 pm | Permalink

    sayang sekali kalo blur menurut g…
    kalo gk blur bakal indahhhhh bgt…
    karena g org katolik, n g tao kalo suasana gereja itu indah bgt,hiasannya dan berbagai mcm properti nya menurut aku sgt” indah…

  13. Posted August 3, 2009 at 1:50 am | Permalink

    Kalo aku liatnya sih, musti sambil bergetar juga don… hehehee…

  14. Posted August 3, 2009 at 7:26 am | Permalink

    keindahan foto memang kadang tak sekedar dari sebuah hasil tertampak nya namun histori saat atau momentum yang tersirat kadang menjadi keindahan tersendiri yo mas
    kapan motret gunung kelir mas
    kapan tilik jogja mas

  15. Posted August 3, 2009 at 2:01 pm | Permalink

    saya tak habis pikir, kenapa gambar yang mas donny tampilkan di setiap postingan kok bisa tampil beda, yak? babar blas ndak sebanding dg foto hasil jepretanku yang ecek2. saya yakin ini bukan lantaran kualitas kameranya semata, tapi juga naluri fotografi mas donny.

  16. Posted August 3, 2009 at 9:15 pm | Permalink

    asli bagus banged…
    kek nya dah profesional nih…
    ko bisa yah?
    berbagi tips yang lengkap dong mas…
    sapa tw aja kita bisa sekeren mas…
    salam hangat selalu :d
    Iklan Gratis

  17. Posted August 4, 2009 at 3:50 am | Permalink

    I can feel it Bro…suasananya mendukung banget untuk khusyuk beribadah.

    Btw, saya pernah masuk ke sebuah katedral di Swiss, asli ngga tau kenapa jadi merinding gitu Bro. Dinginnya beda sama diluaran… cahaya temaramnya mirip sama yang di foto kamu, cuma bangunannya lebih klasik…peninggalan zaman renaissance…

  18. Posted August 4, 2009 at 4:33 am | Permalink

    Itu nggak pake efek photoshop ya?
    Siiip….

  19. Posted August 5, 2009 at 11:26 pm | Permalink

    Semalem aku baca Nasional Geographic Indonesia, dalam salah satu artikel nya bilang begini :

    “memotret sebuah gambar memerlukan teknik, tetapi untuk membuat gambar itu bagus terkadang teknik harus dilanggar…maka langgar lah aturannya :D sesuaikan dengan mood mu”

    kira2 itu intinya :D

    aku suka gambarmu!!! kapan mo ngajarin aku motret???

    • DV
      Posted August 5, 2009 at 11:26 pm | Permalink

      Ngajarin motret? Lah lha itu baca-baca NG kan udah mulai belajar hahaha :)

  20. Posted August 14, 2009 at 11:00 am | Permalink

    Aku selalu gagal kalau motret dalam cahaya yang minim. Pencahayaan fotomu bagus sekali Don. Obyek yang blur dalam sebuah foto ada kalanya justru menambah artistik foto tersebut, tapi kalau seluruh foto kabur, berarti ya goyang saja … :)

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.