Family Name, Perlukah?

Kalian tahu apa itu nama keluarga (family name)?
Dalam pengertian yang singkat, nama keluarga adalah nama yang dipakai secara turun temurun sejak generasi sebelum kita, diri kita sendiri, istri hingga anak dan cucu kita. Nama keluarga biasanya diimbuhkan pada posisi nama belakang (sure name) setelah nama pemberian (given name) meski tak otomatis sure name adalah family name.

Contoh termudah untuk memahami penggunaan family name adalah pada keluarga besar Bush.
Dua mantan presiden Amerika Serikat berasal dari keluarga ini, George Herbert Walker Bush dan anaknya George Walker Bush.

Bagi George HW Bush atau yang kemudian akrab disebut sebagai George Bush Sr., given namenya adalah George Herbert Walker sementara untuk George Walker Bush, given namenya adalah George Walker, keduanya memiliki family name yang sama, Bush. (Sebenarnya Walker adalah surename/family name dari Dorothy Wear Walker, Ibu si George Bush Sr yang menikah dengan Presscott Sheldon Bush Jr.)

Berikut ini adalah diagram silsilah keluarga Bush yang kuambil dari Wikipedia:

click pada gambar untuk memperbesar ukuran

Oh ya, biasanya nama keluarga akan diimbuhkan dari pihak pria ketimbang wanita.

Sehingga sangat mungkin suatu waktu anak perempuan menanggalkan nama keluarga dan berganti dengan nama keluarga suaminya meski ada pula yang memilih untuk menggabungkan keduanya, nama keluarga si istri dengan nama keluarga suami. Hal ini tampak pada istri George Bush Sr, yang dilahirkan dengan nama Barbara Pierce (family namenya Pierce) namun sesudah menikah dengan Bush, ia tetap membubuhkan nama “Pierce” sehingga menjadi Barbara Pierce Bush. Demikian juga halnya dengan saudara perempuan George W. Bush, Dorothy Bush Koch, yang semula bernama Dorothy Bush lantas setelah dinikahi Robert P. Koch maka namanya berubah menjadi Dorothy Bush Koch.
Namun hal ini tak terjadi pada Laura Bush (istri George W. Bush yang dilahirkan dengan nama Laura Lane Welch) dan Jenna Welch Hager (anak George W Bush yang dinikahi Henry Chase Hager), keduanya memilih untuk menanggalkan nama family dari keluarga orang tuanya lalu memakai nama keluarga suaminya masing-masing.

Oh ya, masih tentang keluarga Bush, Dorothy Bush Koch adalah contoh yang unik dan menarik karena sebelum ia menikah dengan Robert P. Koch pada 1992, ia telah pernah dinikahi oleh William LeBlond (1982 – 1990) sehingga kemungkinan besar selama masa itu ia juga menggunakan nama Dorothy Bush LeBlond atau bahkan mungkin Dorothy LeBlond. Berganti-ganti nama keluarga pada mereka yang menikah lalu bercerai dan menikah lagi memang biasa terjadi. Contoh terunik yang terjadi adalah pada salah satu teman bule yang kukenal di sini. Ia, wanita, memilih untuk tetap menggunakan nama keluarga dari mantan suaminya meski ia telah lama bercerai. Ketika kutanya apakah itu karena tanda ia masih cinta, ia menggeleng, baginya lebih susah untuk mengurus pergantian nama ke sana-sini ketimbang menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti yang kutanyakan :)

Lalu, kenapa aku tiba-tiba bicara soal family name dan surename? Seberapa penting keberadaannya?

Barangkali, di negara kita penggunaan family name dan surename tidaklah terlalu penting kecuali di beberapa daerah yang memang memiliki tradisi penggunaan nama marga secara turun-temurun. Akan tetapi bagi migran dan hampir semua orang yang tinggal di negara dengan sistem tata administrasi dan pengarsipan yang memperhatikan penggunaan family name/sure name, maka hal tersebut menjadi penting.

Aku sendiri baru tahu pentingnya family name ketika mengurus kepindahanku dari Indonesia ke Australia, setahun silam.

Nama lengkap sesuai yg tertera di akte kelahiran, KTP serta semua dokumen-dokumen resmiku adalah Donny Prima Verdian, otomatis ketika aku apply visa ke Australia, pada kolom given nameku adalah Donny Prima dan sure nameku adalah Verdian. Akan tetapi, yang jadi masalah adalah, kedua orang tuaku tidak ber surename sama denganku. “Verdian”, bagi orang tuaku tidak diartikan sebagai nama keluarga oleh mereka melainkan hanya nama yang kedudukannya sejajar dengan nama depan dan tengahku.

Aku sempat bingung dan berpikir jangan-jangan hal ini akan membawa pengaruh ke persetujuan visaku, dan berpikir bahwa jalan termudah untuk mempermulus urusan memang mengganti atau menambahi nama belakangku dengan surename yg dipakai ayahku. Akan tetapi hal inipun tak mudah karena kalau demikian aku harus mengurus pergantian nama semua dokumen resmiku sejak lahir hingga kini termasuk ijazah-ijazah serta sertifikat baik resmi maupun non-formal.

Setelah melihat dan menimbang berbagai macam hal, akhirnya aku lebih memilih untuk tetap menggunakan “Donny Prima Verdian” sebagai nama lengkap dengan menaruh “Verdian” pada surenameku sekaligus family name tak peduli apapun pertanyaan orang nantinya.
Puji Tuhan permohonan visa diterima, aku masuk Australia dan jadilah aku Mr #1 Verdian dan istriku adalah Mrs #1 Verdian, Nabi Adam dan Hawa segenap keturunanku yg nantinya memakai imbuhan Verdian.

Secara administratif, seperti yang kubilang di atas, family name dan surename sangat dibutuhkan di sini.
Tak dimutlakkan, tapi dengan adanya nama keluarga, kamu akan sangat terbantu dari sisi waktu dan perkara. Orang akan mudah mencari nama seseorang dari satu gugus yg lebih besar (surename) lalu ke satuan yg lebih kecil (given name).

Sebagai contoh, beberapa bulan lalu ketika aku kehilangan SIM Australia, aku pergi ke RTA untuk mengurus penggantian kartu. Pada saat ditanya di depan loket oleh petugas, pertanyaan pertama yang terlontar adalah “What’s your sure name?” ketimbang “What’s your name?” Dan tak sampai beberapa lama waktu kemudian, ia berhasil menemukan nama lengkapku.

Meski masih bersifat opsional terlebih karena di negara kita belum terlalu diperlukan, melalui tulisan ini aku mengajak kalian semua untuk berpikir bahwa ada baiknya kita pun mulai memikirkan untuk menambah nama belakang anak kita dengan surename/family name. Hal ini tentu demi memudahkan pengarsipan (barangkali 5 – 10 tahun lagi di Indonesia diterapkan sistem seperti ini.. atau barangkali sudah?) atau siapa tahu nasib membawa kalian pindah ke luar negeri dan mengalami hal yang kurang lebih sama denganku.

Tapi ganti nama anak kan susah?
Well, kalau anak kalian sudah besar barangkali memang susah karena harus mengurus surat ini dan itu, tapi seandainya masih kecil dan belum terlanjur masuk sekolah, mungkin penggantian nama hanya akan bikin ribet di soal pembenahan nama di Kartu Keluarga serta Akte Lahir dan pengadaan bubur merah untuk selametan, kata orang lama :)

Post to Twitter Post to Delicious Post to Digg Post to Facebook

This entry was posted in Lainnya and tagged , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

64 Comments

  1. Posted November 21, 2009 at 11:26 am | Permalink

    hmmm….ruwet juga ya….
    mbak tuti komennya pas..bener….orang jawa…nggak biasa pakai nama keluarga di belakangnya,hanya kalau sudah menikah…malah nama suami di tempelkan..
    jadi ketika mengisi form..dan diminta family name…lha…bingunglah kita..
    btw…bunda jadi ngerti nih….ternyata family name demikian silsilahnya…

    • Posted December 10, 2009 at 9:12 am | Permalink

      Bener, Bun…:)
      Tapi sebenernya penggunaan family name di tradisi kita (Jawa) nggak papa juga tho?

  2. Posted December 2, 2009 at 5:03 am | Permalink

    1. omong2 soal family name.. hihi.. jadi keingetan aku yg waktu pacaran selalu menimbang2 nama pacarku. Ne isa cari nama yg belakange apik. Wong nama keluargaku “wibisana” udah cukup bagus n berbau filsafat bgt. Diambil jadi tokoh dikisah mahabrata yg bijaksana bgt. Meh dituker ato diganti, mikir2 bgt.
    Nama papa surya wibisana (surya yg bijaksana), aku, irene (damai) wibisana, adikku teguh wibisana. Akhire ga ta ganti don, cm ta tambah kadang dengan santosa (umum bgt ya nama belakang dia).

    2. jd keingetan juga ada temen dari suku tertentu yg wajib pake nama belakang suami kalo dah merit.. nolak cowonya gara2 nama keluarga yg dia ga suka… waahahahaha… aku sampe kepingkel2 waktu dengernya.

    3. o iya.. nopang nama keluarga itu gampang2 susah ya.. kalo image udah jelek turun2annya (misale udah beberapa generasi bad record gitu).. kasian juga ya anak2nya..

    • Posted December 10, 2009 at 9:13 am | Permalink

      1. Hahahaha, nggak jadi Ar***n ya? :) )
      2. Kebangetan itu namanya :)
      3. Lom tentu juga, karena kan ada banyak family name yang sama :)

  3. Posted December 9, 2009 at 11:22 pm | Permalink

    Weeww..saya juga nggak punya surename. Lah nama bapak cuma terdiri dari 1 kata saja.

    Mungkin nanti nama anakku ditambahin surename dari nama bapaknya *kalo udah nikah & beranak* :D

  4. H
    Posted December 10, 2009 at 4:47 pm | Permalink

    aku make nama family, Huang dari almarhum papaku. tadinya mau make family mama-ku tapi katanya gak boleh. ya udah lah.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Versi Beta

    Situs web ini akan selalu dalam tahap pengembangan sejak dipublikasikan pertama kali pada 20 Desember 2007.

    Ikon manusia "Donny Verdian" hasil kreasi Donny Verdian (Terima kasih untuk para pendahulu pencipta ikon, Ardian Sukmaji (2007 - 2008), dan Anjung Sakti (2005)).

    Seluruh tulisan dan isi konten lainnya kecuali "tanggapan" adalah hasil pemikiran Donny Verdian.

    Untuk konten khusus yang saya sadur maupun tayangkan dari tautan luar situs web ini, akan saya cantumkan sumber/pengkreasinya. Ingatkan saya apabila saya lalai akan hal ini. Pemberlakuan copyrights di situs web ini adalah sesuai dengan salinan di sini.