Family Name, Perlukah?

Kalian tahu apa itu nama keluarga (family name)?
Dalam pengertian yang singkat, nama keluarga adalah nama yang dipakai secara turun temurun sejak generasi sebelum kita, diri kita sendiri, istri hingga anak dan cucu kita. Nama keluarga biasanya diimbuhkan pada posisi nama belakang (sure name) setelah nama pemberian (given name) meski tak otomatis sure name adalah family name.

Contoh termudah untuk memahami penggunaan family name adalah pada keluarga besar Bush.
Dua mantan presiden Amerika Serikat berasal dari keluarga ini, George Herbert Walker Bush dan anaknya George Walker Bush.

Bagi George HW Bush atau yang kemudian akrab disebut sebagai George Bush Sr., given namenya adalah George Herbert Walker sementara untuk George Walker Bush, given namenya adalah George Walker, keduanya memiliki family name yang sama, Bush. (Sebenarnya Walker adalah surename/family name dari Dorothy Wear Walker, Ibu si George Bush Sr yang menikah dengan Presscott Sheldon Bush Jr.)

Berikut ini adalah diagram silsilah keluarga Bush yang kuambil dari Wikipedia:

click pada gambar untuk memperbesar ukuran

Oh ya, biasanya nama keluarga akan diimbuhkan dari pihak pria ketimbang wanita.

Sehingga sangat mungkin suatu waktu anak perempuan menanggalkan nama keluarga dan berganti dengan nama keluarga suaminya meski ada pula yang memilih untuk menggabungkan keduanya, nama keluarga si istri dengan nama keluarga suami. Hal ini tampak pada istri George Bush Sr, yang dilahirkan dengan nama Barbara Pierce (family namenya Pierce) namun sesudah menikah dengan Bush, ia tetap membubuhkan nama “Pierce” sehingga menjadi Barbara Pierce Bush. Demikian juga halnya dengan saudara perempuan George W. Bush, Dorothy Bush Koch, yang semula bernama Dorothy Bush lantas setelah dinikahi Robert P. Koch maka namanya berubah menjadi Dorothy Bush Koch.
Namun hal ini tak terjadi pada Laura Bush (istri George W. Bush yang dilahirkan dengan nama Laura Lane Welch) dan Jenna Welch Hager (anak George W Bush yang dinikahi Henry Chase Hager), keduanya memilih untuk menanggalkan nama family dari keluarga orang tuanya lalu memakai nama keluarga suaminya masing-masing.

Oh ya, masih tentang keluarga Bush, Dorothy Bush Koch adalah contoh yang unik dan menarik karena sebelum ia menikah dengan Robert P. Koch pada 1992, ia telah pernah dinikahi oleh William LeBlond (1982 – 1990) sehingga kemungkinan besar selama masa itu ia juga menggunakan nama Dorothy Bush LeBlond atau bahkan mungkin Dorothy LeBlond. Berganti-ganti nama keluarga pada mereka yang menikah lalu bercerai dan menikah lagi memang biasa terjadi. Contoh terunik yang terjadi adalah pada salah satu teman bule yang kukenal di sini. Ia, wanita, memilih untuk tetap menggunakan nama keluarga dari mantan suaminya meski ia telah lama bercerai. Ketika kutanya apakah itu karena tanda ia masih cinta, ia menggeleng, baginya lebih susah untuk mengurus pergantian nama ke sana-sini ketimbang menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti yang kutanyakan :)

Lalu, kenapa aku tiba-tiba bicara soal family name dan surename? Seberapa penting keberadaannya?

Barangkali, di negara kita penggunaan family name dan surename tidaklah terlalu penting kecuali di beberapa daerah yang memang memiliki tradisi penggunaan nama marga secara turun-temurun. Akan tetapi bagi migran dan hampir semua orang yang tinggal di negara dengan sistem tata administrasi dan pengarsipan yang memperhatikan penggunaan family name/sure name, maka hal tersebut menjadi penting.

Aku sendiri baru tahu pentingnya family name ketika mengurus kepindahanku dari Indonesia ke Australia, setahun silam.

Nama lengkap sesuai yg tertera di akte kelahiran, KTP serta semua dokumen-dokumen resmiku adalah Donny Prima Verdian, otomatis ketika aku apply visa ke Australia, pada kolom given nameku adalah Donny Prima dan sure nameku adalah Verdian. Akan tetapi, yang jadi masalah adalah, kedua orang tuaku tidak ber surename sama denganku. “Verdian”, bagi orang tuaku tidak diartikan sebagai nama keluarga oleh mereka melainkan hanya nama yang kedudukannya sejajar dengan nama depan dan tengahku.

Aku sempat bingung dan berpikir jangan-jangan hal ini akan membawa pengaruh ke persetujuan visaku, dan berpikir bahwa jalan termudah untuk mempermulus urusan memang mengganti atau menambahi nama belakangku dengan surename yg dipakai ayahku. Akan tetapi hal inipun tak mudah karena kalau demikian aku harus mengurus pergantian nama semua dokumen resmiku sejak lahir hingga kini termasuk ijazah-ijazah serta sertifikat baik resmi maupun non-formal.

Setelah melihat dan menimbang berbagai macam hal, akhirnya aku lebih memilih untuk tetap menggunakan “Donny Prima Verdian” sebagai nama lengkap dengan menaruh “Verdian” pada surenameku sekaligus family name tak peduli apapun pertanyaan orang nantinya.
Puji Tuhan permohonan visa diterima, aku masuk Australia dan jadilah aku Mr #1 Verdian dan istriku adalah Mrs #1 Verdian, Nabi Adam dan Hawa segenap keturunanku yg nantinya memakai imbuhan Verdian.

Secara administratif, seperti yang kubilang di atas, family name dan surename sangat dibutuhkan di sini.
Tak dimutlakkan, tapi dengan adanya nama keluarga, kamu akan sangat terbantu dari sisi waktu dan perkara. Orang akan mudah mencari nama seseorang dari satu gugus yg lebih besar (surename) lalu ke satuan yg lebih kecil (given name).

Sebagai contoh, beberapa bulan lalu ketika aku kehilangan SIM Australia, aku pergi ke RTA untuk mengurus penggantian kartu. Pada saat ditanya di depan loket oleh petugas, pertanyaan pertama yang terlontar adalah “What’s your sure name?” ketimbang “What’s your name?” Dan tak sampai beberapa lama waktu kemudian, ia berhasil menemukan nama lengkapku.

Meski masih bersifat opsional terlebih karena di negara kita belum terlalu diperlukan, melalui tulisan ini aku mengajak kalian semua untuk berpikir bahwa ada baiknya kita pun mulai memikirkan untuk menambah nama belakang anak kita dengan surename/family name. Hal ini tentu demi memudahkan pengarsipan (barangkali 5 – 10 tahun lagi di Indonesia diterapkan sistem seperti ini.. atau barangkali sudah?) atau siapa tahu nasib membawa kalian pindah ke luar negeri dan mengalami hal yang kurang lebih sama denganku.

Tapi ganti nama anak kan susah?
Well, kalau anak kalian sudah besar barangkali memang susah karena harus mengurus surat ini dan itu, tapi seandainya masih kecil dan belum terlanjur masuk sekolah, mungkin penggantian nama hanya akan bikin ribet di soal pembenahan nama di Kartu Keluarga serta Akte Lahir dan pengadaan bubur merah untuk selametan, kata orang lama :)

Post to Twitter Post to Delicious Post to Digg Post to Facebook

This entry was posted in Lainnya and tagged , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

64 Comments

  1. Posted November 11, 2009 at 6:23 am | Permalink

    Berbahagialah orang batak diseluruh dunia ya.. ngga perlu mikirin apa yang mas pikirkan wakakaka..

    • Posted November 11, 2009 at 10:10 am | Permalink

      Betul, Charlie :) Orang Batak, Orang Manado, Maluku, Irian dan banyak suku lainnya di Indonesia yang mengenal penggunaan family name :)

    • Posted November 11, 2009 at 11:34 pm | Permalink

      Setujuuuu banget!
      Hidup bataaaaks!! ;)

  2. Posted November 11, 2009 at 8:07 am | Permalink

    well… aku tidak pernah mengalami masalah dengan nama keluarga.
    Tapi memang ini akan menjadi masalah bagi orang Jawa apalagi jika dia mengepakkan sayapnya ke luar negeri.
    Aku juga pernah menulis tentang nama keluarga di Jepang.

    EM

    • Posted November 11, 2009 at 10:11 am | Permalink

      Hehehe, iya….
      Tapi meski aku Jawa, kuyakin sejak aku sampai nanti anak cucuku mereka tak kan kesulitan lagi dengan masalah nama keluarga ini :)

  3. Posted November 11, 2009 at 9:55 am | Permalink

    ide yang bagus

  4. Posted November 11, 2009 at 10:49 am | Permalink

    sampai sekarang aku masih suka memakai namaku sendiri. tidak langsung pakai nama suamiku. tapi kadang aku sempat berpikir juga, bagaimana ya kalau kami punya anak. apakah kami akan memberikan nama keluarga? ini pertanyaan buat kami. enaknya pakai nggak ya?

    • Posted November 11, 2009 at 11:08 am | Permalink

      Penambahan nama istri dengan nama keluarga suami menurutku tak harus langsung dan sifatnya opsional kok. Atau bisa saja diimbuhkan saat keperluan2 non formal misalnya nama yang tampak pada undangan atau pada saat diperkenalkan secara oral (diucapkan)…

      Tapi kalau bisa sih memang diganti meski ya tetep butuh proses….

      Soal anak, saranku sih nanti pake nama keluarga saja supaya gampang tracingnya ke depan-depan nanti…

  5. Posted November 11, 2009 at 10:50 am | Permalink

    Di China juga sama. Yang dipakek surename.
    Anakku sekarang juga dikasih surename berbahasa latin sesuai dengan nama bapaknya aka suamiku. Soalnya dari pihak bokapnya suamiku gak ada surename latin (adanya surename tionghoa doang). Tapi suamiku gak mau kasih surename Tionghoa, maunya latin biar lebih internasional. Biar gak pusing memang dari segi administrasi kelak kalau di luar negeri (padahal mikir mo pindah aja masih gak tau hihihi…).

    • Posted November 11, 2009 at 11:10 am | Permalink

      Yupe! Nama latin memang lebih meng-internasional meski kalau aku tak lupa, di kolom permohonan visa ke Australia ada kolom untuk menuliskan surename atau nama lengkap dalam tulisan yang bukan latin kok…

      Eh, aku numpang tanya, kalau di China itu surename yang ditulis di depan ya? Yang dikenal nama fam seperti Lim, Khu, Lie, Go?

      • Posted November 13, 2009 at 12:54 pm | Permalink

        Kalau di China surename tulis di depan.
        Tapi kalau sudah ke luar China tetap dicantumkan di belakang.
        Misalnya nama orang Liu De Hua aslinya, di luar china jadi Andy Liu atau De Hua, Liu :D

        • Posted November 13, 2009 at 12:56 pm | Permalink

          Ya itu betul.. temanku juga skarang mulai banyak yang berani lagi menampilkan nama fam mereka di belakang…. :)

          • Posted November 13, 2009 at 1:15 pm | Permalink

            Iya hehehe
            Suamiku dulu waktu kuliah di Jerman pakek surename ‘Tjoa’ yang otomatis dapet karena bokapnya keturunan Tionghoa walaupun di Indo sebenarnya dia gak pernah pakek surename. Dia kadang menyayangkan gak dapat surename dari pihak Opa dari Mamanya, ‘Van der Horst’ hahaha…

            Nah sekarang dia gak mau terusin surename ‘Tjoa’ buat anaknya hehehe… Dia mungkin ngerasa susah dibaca kali wkwkwkwk… Enaknya sebelum surename jadi ribet ya gini, bisa milih2 dulu mau yang mana :D

            • Posted November 13, 2009 at 2:08 pm | Permalink

              Hehehehe kalau sih berbeda.
              Kalau aku jadi suamimu, barangkali aku tak perlu berpikir apakah nama itu susah dibaca atau nggak yang penting dicantumkan.
              Toh itu pertanda identitas dan toh orang cukup jarang memanggil nama belakang ketimbang nama di depan kalau di Indonesia.. :) 0

              Have a nice weekend, Fem!

  6. Posted November 11, 2009 at 11:04 am | Permalink

    ada pepatah bilang “apakah arti sebuah nama”
    ternyata kadang nama bisa bikin ribet juga ya

    • Posted November 11, 2009 at 11:11 am | Permalink

      Hehehehe benar, Mas Oglek…
      Arti sebuah nama memang nggak terlalu penting tapi struktur itu yang kayaknya perlu kita perhatiken :)

  7. aRIE
    Posted November 11, 2009 at 11:14 am | Permalink

    Tergantung, Bos.
    tergantung di negara mana kita tinggal, kalo di Indonesia kayaknya belum perlu adanya family name maupun sure name.
    lha wong masih ada juga di Indonesia yang namanya cuma satu suku kata, contoh : Paijo , Suparman, Tunggonono.
    Hayooo mana yg Sure Name, mana yang Family Name? pye Jal??

    Heheheheehehe….:P

    • Posted November 11, 2009 at 12:13 pm | Permalink

      Hehehehe, kowe ki moco tulisanku opo moco judule njuk mlayu komen tho? :)

  8. Posted November 11, 2009 at 11:30 am | Permalink

    Haduh, semoga di Indonesia tidak akan diterapkan hal seperti itu. Kesannya merepotkan sekali, mas.

    • Posted November 11, 2009 at 2:55 pm | Permalink

      Lah kenapa merepotkan? Justru kalau ini diterapkan akan jadi sesuatu yang managable di masa depannya kok…

  9. Posted November 11, 2009 at 11:32 am | Permalink

    untung saya orang batak, sudah defaultnya pakai family name… :D

  10. Posted November 11, 2009 at 12:35 pm | Permalink

    Mas Donny, orang Jawa agak susah memang kalo urusan Nama Keluarga, karena banyak yang ngga pake (termasuk saya) hehehe.
    Betul sih ya kalo di luar negeri hal itu berlaku.
    Tapi Mas, di Makassar penggunaan nama keluarga itu sudah biasa lho. Misalnya, Suriyani Mustafa, berarti ayahnya bernama Mustafa. Saya pernah berobat di salah satu puskesmas di sana, di loket pendaftaran saya menyebut nama saya, eh sama mbak yang bertugas saya ditanya lagi, ‘nama ayahnya siapa, Kak?’
    Sebenarnya di agama saya, hal itu sudah diatur, nama ayah memang harus dibawa untuk menghindari kaburnya ‘garis keturunan’.
    Demikian…
    Salam saya

    • Posted November 11, 2009 at 1:12 pm | Permalink

      Heheh saya juga orang Jawa, Mbak makanya saya menceritakan kesusahan yang sama. Ya nggak heran sebenarnya, lha wong bahkan anak mantan presiden Soeharto saja tak menggunakan family name karena nama beliau juga cuma SOEHARTO ;) )

      Iya tho? :)

  11. Posted November 11, 2009 at 12:51 pm | Permalink

    Aku pake nama Papa di belakang namaku…
    sebenrnya kalo di makassar pemakaian nama keluarga itu adalah nama papa di belakang nama anaknya… hihihihihi…

    nanti klo aku merried…berarti aku ganti pake nama suamiku mas :D

    • Posted November 11, 2009 at 1:13 pm | Permalink

      Betul! Kalau merit kamu pake nama suamimu meski bisa juga kamu tetap menampilkan nama “Rahman” digabung dengan nama suami di akhir seperti yang kucontohkan di atas itu, Dik Ria

  12. Posted November 11, 2009 at 1:48 pm | Permalink

    menarik ini, mas. saya juga berencana untuk mulai pake nama keluarga buat keturunan nanti. hehehe.. :mrgreen:

  13. Posted November 11, 2009 at 2:09 pm | Permalink

    Aku tidak memiliki Family Name. Begitu menikah dengan orang Manado, otomatis ketika di pertemuan, baik itu di Gereja atau acara keluarga otomatis aku dipanggil dengan Fam suamiku. Anak-anak otomatis mewarisi nama keluarga tersebut.

    Percaya atau tidak, aku dulu memimpikan suatu saat ada nama keluarga yang diwariskan. Eh, ndilalahnya Kok ya diparingi bojo dari Manado.

    • Posted November 11, 2009 at 2:54 pm | Permalink

      He eh.. Bersyukurlah :)
      Karena sesudah itu anak2mu akan lumayan rapi dalam hal penamaannya :)

  14. Posted November 11, 2009 at 2:10 pm | Permalink

    Punten panjang. A very nice topic.

    Aku jawa,, aku jawa.. Ahahaha..
    Selama ini aku bingung dengan Surname dan Family Name.. apa bedanya.. :D ternyata begitu ya.. (maturnuwun mas..)
    Padahal untuk mempermudah urusan, udah telanjur selalu bilang “Indonesian people do not have surname..”, dengan pede dan mantab. Kekekeke. Ternyata salah ya. Yang ga punya itu, family name?
    Tapi di sini (di suatu tempat, alah :D ) rata2 pegawai administrasinya udah ngerti ko :)

    Memberi family name baru ke anak rasanya mungkin di beberapa tempat bukan hal yang mudah dilakukan mas. Teman aku pernah mencobanya (waktu anaknya baru lahir). Dan entah atas dasar emang peraturannya begitu, atau atas dasar cari2 alesan buat “pelicin”, ga dibolehin aja dong sama pegawai.. err.. pegawai apa ya? (yang buat nyatet nama anak baru lahir itu catatan sipil ya?)
    Ya katanya.. klo bukan nama keluarga, nama belakangnya ga boleh sama ama bokapnya..
    (aku pernah nanya ini ke nyokap, tapi nyokap bilang rasanya ga ada aturan gtu ah.. mungkin pegawainya aja yang “rese”. wah itu aku ga tau ya..)

    • Posted November 11, 2009 at 2:54 pm | Permalink

      Idih kok nambahin nama nggak dibolehin?
      Itu laporin ke KPK aja biar dijadikan cicak :) )

  15. joyce
    Posted November 11, 2009 at 2:36 pm | Permalink

    di Indonesia memang kebanyakan ga punya surname. Terlbeih buat anak perempuan, karena orangtuanya berpikiran, ‘toh nanti setelah menikah akan mengambil nama suami’.
    Saya sendiri merasakan njelimetnya gara gara ga punya surname itu. Waktu saya pertama pindah Australi, tiba tiba saja saya jadi punya 6 nama sah. Yang menurut saya sama aja, tapi menurut pemerintah Australi tidak sama. Jadi waktu itu, saya punya inisial nama sbb: J C, J C T, J T, J T S, J C T S, J C S. Akibatnya, saya harus mengurus ke pengadilan, baik di indonesia, maupun di australi, untuk pada akhirnya pake satu nama aja. setelah mengalami proses yang njelimet, 5 dari nama nama itu dinyatakan ‘mati’ ehhehehheeh ngeri ya… buat yang cuma punya satu nama aja, contohnya ‘Soeharto’, di sini namanya akan didaftarkan ulang, jadi ‘Soeharto Soeharto’. Juga banyak yang muslim, dan sudah naik Haji, mendaftarkan ‘Haji atau Hajah’ sbg nama depan. Sehingga menjadi ‘Haji Soeharto’… semakin menunjukkan ke-kreativitas-an dan kepandaian orang Indonesia :) sorii honnnnnn… panjang bgt ya komentarku…. Tau sendiri… Lagi stresssssssss heheheheehe ;p

    • Posted November 11, 2009 at 2:53 pm | Permalink

      Hehehe kamu kalo stress malah asik komentarnya ;)
      Kamu skarang kan Joyce Taufan-Verdian :) )

  16. Posted November 11, 2009 at 2:44 pm | Permalink

    Lebih susah mana sama aku, Bro? Ortu gue hanya ngasih nama dengan 1 kata: Anderson.. that’s it. Waktu aku ikut acara mahasiswa di Swiss dulu jadi bingung pas ngisi form-form dari panitia dan dokumen imigrasinya. First Name: Anderson. Last Name: Anderson (itulah yg kutulis waktu itu, karna kupikir itulah nama pertama dan terakhirku ;-P ) Akhirnya, di Name Tag pesertanya tertulis ANDERSON, ANDERSON… Delegate from Indonesia. Peserta yang lain bingung dan bertanya: “Namamu dan nama keluargamu kok sama?” Bingung…

    Btw, kalo kasus kayak aku, namanya hanya sepotong gitu, seharusnya nulisnya di first name apa last name, Bro? Parahnya lagi, di pasporku yang tertulis adalah Anderson Zubir (make nama bokap), padahal di KTP cuma Anderson… Halaah…makin bingung… Mungkin emang sebaiknya aku di Indonesia aja ya, Bro? :-D

    • Posted November 11, 2009 at 2:52 pm | Permalink

      Jiakakakakakak! Aku geli dengar ceritamu waktu mau ke Swiss..:)
      Soal penamaan di paspor aku ada teman yang namanya juga cuma sepotong maka ditulislah pula sepotong.

      Tapi lain waktu, ada juga teman lain yang namanya cuma sepotong lantas ditambahkan nama ortu as surename kayak kamu.

      Satu yang aku penasaran, pengen ngeliat paspornya Pak Harto hehehe beliau kan cuma bernama Soeharto :) Kira2 Mbak Tutut masih simpan nggak ya?

      • Posted November 11, 2009 at 3:58 pm | Permalink

        hush, saru ‘ngerasani’ yang sudah tak ada..tapi rasanya boleh juga tuh tanya ke Mbak Tutut. :D

        • Posted November 11, 2009 at 5:08 pm | Permalink

          Iki ora ngrasani, iki ngomong apa anane kok :)

          • Posted November 12, 2009 at 11:33 pm | Permalink

            Aku ada cerita lucu tapi nyata nih temennya mamahku namanya Marsiah. Pas sampe di Jerman ditanya sama petugas imigrasi, last namenya siapa (pake bahasa Jerman nih) berhubung si tante bahasa jermannya masih gagap…dia jawab singkat: Ohne (artinya tanpa). Sama petugas ditulis Ohne. Jadi sampe sekarang namanya jadi Masriah Ohne, bahkan di pasport RI nya juga namanya Masriah Ohne. Kalo ke inggris mungkin namanya jadi Masriah Without kali yah? ;)
            Kembali ke nama yg hanya sepotong, beberapa org indo di jerman biasanya di double kayak temenmu yg di swiss tuh jadi stephanus stephanus, caroline caroline :)

  17. Posted November 11, 2009 at 2:49 pm | Permalink

    setuju, kita musti ngikut aturan internasional aja kalo mau jadi orang internasional. Jadi bagi yang belum punya surname, kenapa nggak memulainya dari anak pertama..hee..lagian benernya kita juga bangga sebagai laki laki kalo anak kita ngambil nama belakang kita untuk digunakan sebagai family name.

    • Posted November 11, 2009 at 2:50 pm | Permalink

      Betul! Kita hidup di dunia yang semakin mengglobal dan kupikir menambahkan nama as family name bukan lantas kita jadi kehilangan muka sbagai anak bangsa.

  18. Posted November 11, 2009 at 4:15 pm | Permalink

    Sebagai pemerintah, tentunya dari sisi administrasi lebih mudah mengarsipkan nama orang yang mempunya sure name daripada yang tidak. Kalau bagi saya yang punya nama ya biasa saja, tak ada bedanya ^_^

    • Posted November 11, 2009 at 5:08 pm | Permalink

      Hehehehe lha sekarang masalahnya kamu mau bantu pemerintah apa nggak? :)

  19. Posted November 11, 2009 at 4:56 pm | Permalink

    bikin klan Zamroni kok ya ternyata banyak juga. kepikir bikin klan jengjeng, jadi namanya: Muhammad Zamroni Jengjeng hahahah!!

    • Posted November 11, 2009 at 5:09 pm | Permalink

      Jengjeng? Aku nggawe Bangbang wae.. dadi mengko bangbangtut karo jengjengtut :)

      Piye jal ? :)

  20. Posted November 11, 2009 at 7:11 pm | Permalink

    hehhe lengkap kap banget
    salam hangat selalu
    blue antara,sunda,aceh medan dan jawa nich

  21. Posted November 11, 2009 at 8:35 pm | Permalink

    karena gw batak maka gw punya family name yaitu : Purba.. hehehehhe..

    yap..lo bener banget bro..karena sepertinya gw akan menikah ma non batak..ntar gw juga harus prepare family name buat anak-anak gw kelak ;)

    • Posted November 12, 2009 at 9:18 am | Permalink

      Bener, eh tapi kalau loe punya suami non batak trus Purba nya mau ditaroh dimana?

  22. Posted November 11, 2009 at 9:46 pm | Permalink

    Di Indonesia, para WNA (baca: Tionghoa) masih punya family name meskipun di dipaksa-indonesiakan- dan keturunannya pun akan memakai nama itu. misalnya, Tan Kok Swie. Tan adalah nama fam, dipaksaindonesiakan menjadi Tanamal, Tantra, Tandeas, dsb…ketika dia mengambil nama Indonesia, namanya menjadi Donny Tandeas, istri dan anak-anaknya akan mewarisi nama Tandeas.
    Sama halnya dengan fam Lim> Halim, Salim. fam Ong > Ongkowidjojo, Onggara. Wie/Oei> Wibawa, Wijaya dsb…
    Kadang-kadang, cewek memakai nama tambahan suaminya misal: Vina Salim Onggara. artinya, bapaknya Vina bernama Salim, suami vina namanya Onggara…
    aku ntar kalau punya anak rencananya juga akan memberi nama suami ke mereka..

    • Posted November 12, 2009 at 9:18 am | Permalink

      Tapi ada juga warga tionghoa yang namanya singkat yang terdiri dari suku kata dan ini yang mbikin aku sempat bingung juga :)

      • Posted November 12, 2009 at 1:39 pm | Permalink

        nama Tionghoa memang pakai suku kata. Biasanya 3 suku kata, meski ada juga yang 4 suku kata, tapi ini pun jarang bgt..
        Untuk panggilan pribadinya, yang dipakai adalah dua suku kata terakhir. misal Kok Swie..
        Setauku nggak boleh deh panggil dgn nama fam, (Tan) karena itu artinya memanggil seluruh leluhur yang bahkan sudah almarhum..

        Ada juga yang tetap memakai nama fam tanpa dipaksaindonesiakan, misal mantan pemain badminton kita, Iv**a Lie.
        eh, ini memjawab pertanyaanmu nggak sih, Don?

  23. Posted November 11, 2009 at 11:40 pm | Permalink

    Hmmm, awal menikah dulu suami minta gue untuk pakai nama keluarganya. tapi gue gak sanggup.. kalo gue tanggalin marga gue kow ya gue merasa menghilangkan identitas diri. so jalan tengahnya ya nama keluarga gue bersanding manis sejajar dengan surname dia…
    jadilah
    Eka Situmorang-Sir yang cakepz!
    (dilarang misuh2 wong aku mung berkata jujur koq :P ) hahahaa

    • Posted November 12, 2009 at 9:20 am | Permalink

      Bwahahahahahahah…
      Kamu persis kayak Joyce…. sekarang namanya jadi Joyce Taufan-Verdian :) )
      Dan nggak perlu pake “yang cakepz” udah cakep..:))

  24. Posted November 12, 2009 at 5:44 am | Permalink

    Family name menurutku penting karena kalo hanya nama depan…biasanya banyak yg sama..jadi susah bedainnya terutama kalo udah bagian urusan administrasi. Di Hungary bahkan selain ditanya nama keluarga juga ditanya nama keluarga ibu sblm menikah. Aku rasa dibuat begitu krn nama depan orang sini rata2 itu2 aja, family name juga banyak yg sama. Jadi harus dibedain lagi dng nama ibu. Kemungkinan 2 orang yg mempunya nama depan dan keluarga yg sama plus nama ibu yg sama rasanya gak banyak :)
    Kalo aku untung orang Bali sudah punya family name, pas nikah si V pengen aku pake nama dia tp aku berat melepas namaku. Jadinya digabung pake tanda – .

    • Posted November 12, 2009 at 9:23 am | Permalink

      Kamu sama kayak Joyce, dia memilih menggunakan tanda – dan menggabungkan family name dia dan “family name” ku :)

      Ah iya aku lupa, di sini juga ditanyain maiden name ibu kita kok.. jadi kurang lebih sama.
      Thanks sudah menambahkan :)

      • Posted November 12, 2009 at 11:45 pm | Permalink

        oh iya aku pengen nambahin (reply mode on nih….harusnya aku masak tp males nih mendingan online hehehe)

        beberapa komentar di sini ada yg nulis family name merepotkan. sebetulnya sih gak, secara administratif justru lebih mudah.

        plus sebenernya di jawapun aku rasa gak salah pake family name krn kenyataannya kan sekarang misalnya seorang siska menikah dengan budi, otomatis/sering siska menjadi ibu/nyonya budi. kalo orang gak kenal taunya kan hanya bu budi, gak tau kalo nama dia siska. mnrtku ini justru malah hilang identitas diri sendiri, karena orang jadi kenal siska hanya sebagai istrinya si budi :P
        terus misalnya anak jawa namanya sugeng, kan banyak yg namanya sugeng akhirnya kan dibedakan dengan sugeng anake pak joko sing duwe bengkel kae loh :P (panjang kan malahan)
        nah seandainya budi dan pak joko punya family name kan lebih praktis toh?

  25. Posted November 12, 2009 at 9:32 am | Permalink

    Menurutku, penggunaan family name itu perlu atau tidak tergantung budaya dan kebiasaan tempat individu itu berada. Selain di Jawa yang tidak menganut family name, coba lihat nama-nama di Bali, begitu banyaknya Made, Luh, Nyoman, kok ya nggak masalah ini Made yang mana, Komang yang mana.. hehe..

    Penggunaan nama -dengan atau tidak dengan surname- tidak ada masalah selama masih berada dalam lingkup yang sama, masalah mungkin timbul kalau individu tersebut harus keluar dan masuk ke kultur yang berbeda, nah kalau ini terjadi ya tinggal menyesuaikan diri saja, gitu deh…..

    • Posted November 12, 2009 at 9:46 am | Permalink

      Heheheh persoalannya adalah, kalau kita cuek dengan ketidakpunyaan kita terhadap family name, ketika pindah ke luar, dan kita harus mengisi kolom family name sebagai bagian dari nama resmi kita, maka ada berapa banyak dokumen resmi pula yang telah terlanjur tercetak tanpa family name? :) )

  26. ezri
    Posted November 12, 2009 at 11:46 am | Permalink

    Aku kok justru menemukan kesulitan ya..untuk mencantumkan nama keluarga dibelakang nama anakku. 7 tahun lalu ketika anak ke2 ku lahir, laki-laki, saat hendak membuatkan surat akte kelahiran, si bapak yg ngurusin surat bertanya pada suamiku , ” apakah nama yg paling belakang pada nama anakku itu adalah nama keluarga?” setelah mendapatkan jawaban ‘YA’ dari suamiku, dengan alasan untuk menghilangkan kesan kedaerahan, maka pencantuman nama keluarga tidak diperkenankan (katanya peraturan itu berlaku unt kotamadya)? Akhirnya bataaal, dari pada hilang nama keluarga…mendingan ‘nodong’ tetangga yang sanggup mengurusinya, walaupun diprosesnya di kabupaten …. akhirnya nama keluarga itu bercokol juga di akte kelahiran anakku (aneh kan??..)

    • Posted November 12, 2009 at 12:06 pm | Permalink

      Wah ini lucu abis! Makasih atas masukannya… semoga yang berkompetensi menjawab bisa nimbrung di forum kecil ini.
      Kalau saya, apa yang dilakukan bapak itu (jika benar demikian) adalah salah besar!
      Kalau memang tampak kedaerahan trus kenapa?

    • Posted November 12, 2009 at 11:27 pm | Permalink

      Hmmm di mana tuh? aneh banget baru kali ini aku denger/baca. Itu sih kemungkinan besar yg rasist petugasnya bukan aturannya.

    • Posted November 13, 2009 at 6:48 am | Permalink

      ohhh,, begitu aturannya..
      *baru tau*
      pantesan temen saya ga bisa..

  27. Posted November 12, 2009 at 2:10 pm | Permalink

    Kakak perempuanku akhirnya menamai anak-anaknya dengan ‘nama keluarga’ bikinannya sendiri, karena dia dan suaminya sama-sama nggak punya surname.
    Nanti, aku juga akan ikut nama suamiku, ah…
    Aulia Fita Retnani Prabandari Moeller. Itu kalo berjodoh sama dia, sih… wekekekekeke :D

    Nice topic, Don!
    Kamu emang pintar menulis, as always!

    • Posted November 12, 2009 at 3:13 pm | Permalink

      Weh, bojomu anyar tho? Londo? Kok pake Moeller?
      Congrat, ayo buruan :) )

  28. Posted November 12, 2009 at 2:16 pm | Permalink

    susah juga kalo ada kejutan budaya seperti itu. di indonesia, nama keluarga emang gak terlalu populer kecuali di beberapa daerah dan juga di kalangan kaya/terkenal. biar anaknya bs ikut terkenal :D

    • Posted November 12, 2009 at 3:13 pm | Permalink

      Hehehehe, ada baiknya kita memulai supaya tak sampai terkejut, Mas :)

  29. Posted November 12, 2009 at 2:55 pm | Permalink

    kebetulan saya terlahir dari suku yang mengharuskan family name di belakang :)

  30. Posted November 12, 2009 at 7:00 pm | Permalink

    Hmmm… saya benar2 memperhatikan tulisan ini, kebetulan saya belum lama menikah dan istri sudah hamil, kami juga sedang memikirkan nama untuk anak kelak. Ya siapa tahu nanti dia bisa melanglang buana ke luar negeri seperti anda, hehe.

    Tapi di bali, ada sistem tersendiri tentang nama yang berkaitan dengan nama depan (made, ketut, putu) ditambah kasta (gusti, anak agung, ida bagus). Dan jangan heran melihat nama orang Bali menjadi panjang-panjang, hehe.

    http://wirautama.net/ciri-khas-nama-orang-bali/

    Tapi sayang penambahan family name seperti itu belum ada, tapi saya mulai berpikir untuk memulainya, terima kasih atas tulisannya.

    • Posted November 13, 2009 at 8:54 am | Permalink

      Ya, saya pikir sejauh tidak melanggar tradisi yang diyakini dan dianut, menambah family name adalah satu hal yang sifatnya universal.

      Thanks sudah memperhatikan tulisan ini. Saya senang kalau tulisan ini menjadi nilai positif bagi orang lain…

  31. Posted November 12, 2009 at 10:22 pm | Permalink

    berkunjung bro dalam rangka silaturahim,mungkin klw admin bloger dah tau kasus saya sama ibu tutinonka, pst mereka akan membenci saya,krn ke usilan ibu tuti.
    thx bro dah ikut komen di kasus saya n ibu tuti.

  32. Posted November 13, 2009 at 6:13 am | Permalink

    singkatnya sih sebaiknya jangan ngasih nama hanya SATU kata aja :)

    • Posted November 13, 2009 at 8:52 am | Permalink

      Betul! Kalau dua kata kan yang terakhir bisa dijadikan family name :)

  33. Posted November 13, 2009 at 3:04 pm | Permalink

    Di paspor, aku tulis namaku sendiri yang terdri dari dua potong (tapi potong yang kedua bukan Nonka … hehehe …). Entahlah, apa dianggap family nameku adalah potong yang kedua itu.

    Nama suami kadang-kadang aku tulis juga dibelakang namaku, tapi kalau di lingkungan pekerjaan dan di semua dokumen resmi (KTP, SIM, rekening bank, dll) pakai namaku sendiri. Kalau di lingkungan suami, panggilanku ya Bu Mahyudin. Nah, sebaliknya, kalau di lingkungan kerjaku, suamiku disebut Pak Tuti … wakakaka!

    Di antara saudaraku bertujuh, hanya kakak sulungku yang menambahkan nama ayah, soalnya nama dia cuma sepotong, sedangkan adik-adiknya semua punya dua potong.

    Sing repot Don, nek bojo presiden terus dipanggil Bu Presiden … :D

    • Posted November 13, 2009 at 3:33 pm | Permalink

      Heheheh nama kok pake potong kayak roti aja tho, Bu :)
      Potongan terakhir dari namaku juga bukan family name kok tapi kubuat seakan-akan jadi my family name aja :) )

      Bu, dapet salam .. dari Ricky hahahaha!

  34. Posted November 13, 2009 at 3:20 pm | Permalink

    Nice info ;) Mungkin karena saya keturunan Batak makanya saya gak begitu kepikiran soal ini.

    p.s: kalo yg pake ‘bin’ dan ‘binti’ itu gmn? curious :D

    • Posted November 13, 2009 at 3:30 pm | Permalink

      Wah anda beruntung sebagai orang Batak yang strictly menggunakan family name.
      Aku nggak gitu tau tepatnya, tapi seperti penggunaan ‘bin’ dan ‘binti’ itu adalah penggunaan nama ayah kandung di belakang ‘bin’ dan ‘binti’

  35. Posted November 13, 2009 at 5:50 pm | Permalink

    nama belakang aku juga tidak ada nama keluarga dari bapakku, bahkan seluruh saudaraku juga tidak ada imbuhan nama dari bapak/ ibu.
    makasih infonya, tapi di keluarga saya bahkan di daerah saya jarang yang begitu, tapi ya tetep ada satu dua keluarga saja.
    Cara Membuat Blog

  36. Posted November 14, 2009 at 1:11 am | Permalink

    teetap semangat
    salam hangat selalu

  37. Posted November 14, 2009 at 5:49 am | Permalink

    hehehe .. ini yang bikin saya dan istri geli sendiri.
    alih-alih membubuhkan nama keluarga “mulyono” pada anak dan bakal anak kedua, saya malah membubuhkan nama keluarga orang lain.
    apa mesti saya tambahkan saja yaa .. mumpung belum tercatat di Ijazah mereka? :)

  38. Posted November 14, 2009 at 1:51 pm | Permalink

    wkakaka bener mas mereka lebih mencari surename lebih dahulu baru ke nama sampean wakaka keren juga yah dan sebenarnya untuk mengenali kalo masih saling ada pertalian saudara mas
    semua pake verdian nantinya
    termasuk aku memulainya dengan anak anaku memiliki nama belakang Arsy semua nama anak adik adik saya juga mas baru memulai sejarah untuk tidak memalukan yang melahirkan
    dilitneh Pak sampean wakakaka

    • Posted November 16, 2009 at 9:50 am | Permalink

      Wah sip…. berarti nanti ke bawah-bawah jangan lupa diwariskan supaya mereka kasi nama pake akhiran “arsy”, Mas Tok..

  39. Posted November 15, 2009 at 12:09 am | Permalink

    hehehe …
    Entah dengan alasan apa dulu Bapakku tidak mencantumkan Family Name sbg surename-ku, padahal 3 saudara laki2ku dibubuhi family name semua.
    Sehingga terpaksalah namaku yang terdiri dari 2 kata itu, kata terakhirnya dijadikan sebagai surename waktu bikin paspor. Menyebalkan memang, tapi salah sendiri wong punya surename kok ra dinggo hehehe

    Nice post bro :)

    • Posted November 16, 2009 at 9:47 am | Permalink

      Hehehehe, ndak papa… at least kan kamu cewek, kalau nanti merit malah bisa berganti dengan family name milik suami.
      Mak-dar-it (maka dari itu) carilah suami yang ber-family name hehehe

  40. Posted November 15, 2009 at 2:51 pm | Permalink

    Aku dari dulu juga pengin kasih nama keluarga untuk anak-anakku kelak, kayaknya keren aja gitu.
    Tapi setelah baca artikel Mas ini, aku jadi tahu ternyata ini bukan soal keren atau ga keren ya. thanx for infonya Mas.

    • Posted November 16, 2009 at 9:06 am | Permalink

      Sama2, Mas.. saya juga senang kalau artikel ini bisa dimanfaatkan orang lain

  41. Chandra
    Posted November 16, 2009 at 8:50 pm | Permalink

    widiiihhh dah banyak aja yg komen.. :p

  42. Posted November 17, 2009 at 5:34 am | Permalink

    pemberian nama keluarga agaknya juga sangat erat kaitannya dengan kultur keluarga dan masyarakat setempat, mas don. jujur saja, anak2 saya tak pernah menggunakan nama keluarga karena nenek dan kakek moyang saya tak pernah menggunakannya, hehe …

  43. Posted November 17, 2009 at 9:48 am | Permalink

    kalo di sini cuma nulis bw ajah malu deh..soalnya tulisannya berkualitas…

    menurutku family name hanya membuat orang2 tua kita terkenal..huh..ngka enak eksis gara2 orang tua..eksis dengna diri sendiri ajah..

    huh..tapi ada yg lucu paris hilton…apa hilton itu family namae ya???he.he..berarti dia keluarga hotel..ya..anaknya hotel whats

    • Posted November 17, 2009 at 10:06 am | Permalink

      Hehehehe, makasih atas mampirnya dan tidak menorehkan “bw” meski saya ya baru belajar untuk menulis sesuatu yang berkualitas.
      Hmmm, sedikit berbeda, kalau aku sih tak berpikiran bahwa family name akan membuat orang tua kita terkenal karena terkenal tidaknya orang tua tak kan berpengaruh lama terhadap anak apalagi kalau hanya soal nama..:))

  44. Posted November 17, 2009 at 11:11 am | Permalink

    perlulah,,hehehe

    arti sebuah nama

  45. Posted November 17, 2009 at 10:22 pm | Permalink

    beberapa waktu yang lalu sempet kepikiran juga sih, mau kasih nama belakang suami di nama anak ku. sebenernya sih nama belakangnya bukan nama keluarga. tapi nama anakku sudah 3 kata, kalo nambah family name jadi 4 dunk… panjang banget. kalau salah satu dibuang koq sayang hehehehe. belum ngurus nya lagi dari awal akte, kk… tapi masih di pikirkan sih (masih dipikiran sendiri, belum ngobrol ma yg punya nama belakang hehehehe). btw, info nya keren :)

  46. Posted November 18, 2009 at 1:07 am | Permalink

    Di Jawa sebetulnya ada family name…..namun semakin kesini jarang dipergunakan, apalagi nama anaknya panjang-panjang.
    Tahu namaku jika dalam paspor….family name nya adalah Ratnawati, yang nama belakangku…hahaha.
    Lha nama suami aja, hanya digunakan saat ke dokter kandungan… urusan kantor dan yang lain nama sendiri

  47. Posted November 18, 2009 at 1:10 am | Permalink

    Don, komentarku ilang….

  48. Posted November 18, 2009 at 3:09 am | Permalink

    selamat malam bang
    semangat y
    salam hangat selalu

  49. Posted November 18, 2009 at 1:50 pm | Permalink

    OOT:
    Dulu beberapa koresponden asing secara bergurau sering menambahkan Joe untuk nama-nama pejabat Jawa yang satu kata itu. Maka ada Joe Suharto/Soeharto dan Joe Harmoko. Beberapa kawan saya mendadak punya family name baru setelah sekolah di luar negeri. Dulunya nama mereka hanya satu kata, misalnya Sudarno, Sutarmin, Haryanto. :)

    • Posted November 18, 2009 at 2:05 pm | Permalink

      Ini nggak OOT, kalau saya yang tanya ini barangkali OOT: Apa Rentjoko itu family name-mu, Paman?

  50. Posted November 19, 2009 at 12:39 pm | Permalink

    bagi masyarakat minang, pemberian family name mengikuti garis keturunan ibu, bukan ayah. sebetulnya, orang minang ada nama marga juga yang dilekatkan di belakang nama, seperti orang batak. tapi, entah kenapa, tradisi itu menjadi hilang. meski diberikan, tapi sangat jarang yang memasang di belakang namanya.

    karena mendapat dari garis ibu, maka namaku sebetulnya adalah Hardi Vizon Koto. nah, repotnya adalah, anakku harus diberi nama Chaniago di belakang namanya, karena istriku bersuku Chaniago. Berarti, hal ini akan jauh lebih merepotkan bila dibawa ke luar negeri ya Don… :)

    biar tidak pusing, maka nama-nama suku itu kami tidak pakai sama sekali. dan aku beri di belakang nama anak-anakku, awal namaku… ya, anggaplah itu sebagai family name yang akan mereka pakai selamanya.

    • Posted November 19, 2009 at 2:55 pm | Permalink

      Sebenernya kalau memang begitu nggak papa, Uda. Maksudku, kalau memang harus pake nama dari Ibu kenapa tidak, yang penting kan family name :)
      Kita tak perlu ikut-ikut negara lain yang selalu ‘memenangkan’ family name ayah…

      Eh btw, dari dulu aku sangat suka dengan nama Chaniago.. aku slalu terngiangnya itu Chicago jhe :)

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Versi Beta

    Situs web ini akan selalu dalam tahap pengembangan sejak dipublikasikan pertama kali pada 20 Desember 2007.

    Ikon manusia "Donny Verdian" hasil kreasi Donny Verdian (Terima kasih untuk para pendahulu pencipta ikon, Ardian Sukmaji (2007 - 2008), dan Anjung Sakti (2005)).

    Seluruh tulisan dan isi konten lainnya kecuali "tanggapan" adalah hasil pemikiran Donny Verdian.

    Untuk konten khusus yang saya sadur maupun tayangkan dari tautan luar situs web ini, akan saya cantumkan sumber/pengkreasinya. Ingatkan saya apabila saya lalai akan hal ini. Pemberlakuan copyrights di situs web ini adalah sesuai dengan salinan di sini.