Semua Manusia Sama?

Three babies (6-9 months) sitting on white background, one crying

Salah satu hal yang menarik dari manusia, menurutku, adalah pada inkonsistensi serta begitu banyaknya kontradiksi yang terjadi pada dirinya dalam menilai suatu hal.

Contohnya adalah tentang pandangan sama/tidaknya manusia.
Seseorang ketika sedang sok bijak bisa berkata “Semua manusia adalah sama!” namun pada waktu lain ia bisa pula memahami bahwa “Semua manusia itu berbeda!” meski tak melulu terucap namun tersirat lewat kata-kata maupun bahasa tubuh dan perangainya.

Kalau semua manusia itu sama maka tak peduli apapun agamanya, haruslah mereka dianggap sama. Namun pada kenyataannya, ambillah contoh diriku sendiri. Aku sering terbawa perasaan terlampau senang ketika ada seorang artis yang menikah dengan seorang pengusaha beragama Katholik (karena aku juga pemeluk Katholik) lantas si artis tersebut pindah agama dan aku berteriak “Hore! Yesus dimenangkan!” Sebaliknya, ketika ada seorang teman yang harus ‘undur diri’ dari gereja karena ikut ‘agama suami’ dan akupun mengutuknya, “Pengkhianat!”

Kalau semua manusia itu sama maka tak peduli apapun status sosialnya, haruslah dianggap tidak berbeda. Tapi bagaimana dengan perilaku banyak tante-tante serta om-om yang tak rela jika anak ceweknya dinikahi oleh pemuda yang datang dari kalangan tak selevel dengannya?

“Wah, kalau itu ya beda… ini kan perkara masa depan anak kami! Kami toh nggak mau kalau anak kami lebih sengsara dari kami!” tegasnya.
“Lalu?” tanyaku…
“Ya, jangan sama si itu deh.. dia kan anak orang biasa, ndak punya toko, kuliah juga baru selesai.. masih butuh waktu untuk jadi sukses!”
Oooo….

Kalau semua manusia itu sama maka tak peduli apapun suku dan rasnya, haruslah tidak dipandang sebelah mata.
Temanku bertanya padaku, “Eh, temanmu kemarin sapa tho namane? Aku mbok dikenalke..”
“Oh, namanya Anggrek (sebut saja demikian).. tertarik?”
“Hehehe boljug, famnya apa Don?” tanyanya.
“Fam? Dia jawa jhe! Pribumi!” jawabku.
“Oh iya tho? Wah ya uwis ngga sidho kalau begitu!”
“Lha kamu kok begitu? Kenapa.. nggak mau berteman dengan beda suku dan pribumi?”
Ya, bukannya gitu.. tapi rasane gimanaaa gitu… Beda aja!”
“Lha kamu pikir aku ini bukan pribumi?”
“Hah?!? Moso tho?”

Itu baru tiga contoh, masih ada ribuan contoh lainnya yang bisa mengungkapkan kontradiksi dalam diri manusia untuk sekadar mengartikan apakah sama atau berbeda ia dibanding dengan manusia lainnya.

Lalu harus bagaimana? Entahlah, jangan tanya aku! Aku menulis ini justru ingin menanyakan bagaimana menurut pendapat kalian?

Selamat berakhir pekan!

Post to Twitter Post to Delicious Post to Digg Post to Facebook

This entry was posted in Permenungan. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

33 Comments

  1. Posted November 28, 2009 at 4:33 am | Permalink

    Perasaan rasis itu sebetule belum bisa hilang seluruhnya dari diri orang. Kayak kalo disini, ada orang item, spanish, indo, laos, amrik, england, dll. Kalo orang tanya,

    “Eh, kamu tau si A gak?”
    “Yang mana?”
    “Yang gede, berkumis…”
    “Yang mana ya?”
    “Orang item..”
    “Ohhh… iya”

    Dan aku sendiripun rada sungkan buat ngomong “Orang item” kecuali udah ga ada other clue lagi :)

    Kalo menurutku si ucapan “Semua orang itu sama” itu dari mata Tuhan. Kalo dimata manusia, “Semua orang itu berbeda”.

    Tapi itupun gak terlalu jelas lagi, soalnya di mata Tuhan pun, ada beberapa manusia yang dapet perlakuan lebih khusus — ada saatnya Tuhan sedikit lebih sayang kepada seorang manusia tertentu.

    Semua orang itu sama, tapi mereka unik dan berbeda. Selama gak rasis dan diskriminasi, gak ada salahnya mencari pasangan hidup yang dari golongan, kasta, ras, agama yang sama, justru itu yang seringkali dibilang lebih baik, soal nya most likely bakal cocok.

    Tapi kalau berteman sih seharusnya gak ada masalah dengan semua jenis manusia. Sayangnya banyak ABG yang berkenalan karena tujuanya menjadikannya langsung sebagai calon pacar, makanya mereka gak bisa terbuka sama banyak orang yang bersedia menjadi teman.

    Tapi huaha, aku jadi inget berapa banyak orang seng mikir kowe cino don. Tipu muslihat tenan kowe.

    • Posted November 29, 2009 at 9:45 am | Permalink

      Hehehehehe banyak orang berpikir aku cino adalah tanda bahwa aku diterima di dua komunitas, Jawa dan Cina hahaha

  2. ezri
    Posted November 28, 2009 at 9:28 am | Permalink

    aku pernah dengar bahwa hidup itu seperti mata uang, punya dua sisi. ‘ta pikir-pikir emang gitu kali ya. semua manusia sama atau berbeda tergantung kita melihatnya dari sisi mana. sering juga aku dengar,”semua manusia sama dimata Tuhan”, tapi coba kita lihat manusia-manusia itu….pasti beda-beda kan? bahkan banyak sekali hal yang membedakan manusia satu dgn yang lainnya. mungkin cara pandang terhadap sesuatu yang membuat penilaian menjadi berbeda.
    btw, aku punya temen (si A) yang menurut beberapa orang dia baik, menyenangkan, lucu, tapi ‘gak sedikit orang yang blm terlalu mengenalnya mengganggapnya orang yang ‘nyebelin banget’. kebaikannya dianggap sebagai kesombongan, kelucuannya dianggap cari muka….tapi biasanya semua itu akan berubah setelah orang itu mengenal si A lebih dekat. jadi menurut aku apakah sesuatu itu sama atau berbeda…..tergantung cara kita melihatnya.

    • Posted November 29, 2009 at 9:47 am | Permalink

      Betul sekali..
      Sebenarnya aku nggak melarang orang untuk bilang bahwa semua insan itu berbeda.. Yang ngga kusuka adalah ada beberapa orang yang selalu menggembar-gemborkan persamaan padahal dalam hati dan tindakannya dia tetap diskriminatif…

  3. Posted November 28, 2009 at 11:06 am | Permalink

    klo bahasa bobo-nya sih (itu lho, majalah anak2 jaman aku masih kecil..)
    “serupa tapi tak sama”
    :D

    sepintas berbeda, tapi sebenarnya seringkali bisa digeneralisasi..
    atau sepintas sama, tapi sebenarnya memiliki keunikannya masing2..

    ahahaha, itu seperti aku sering bilang “pada dasarnya cowo sama cewe itu sama aja kali.. cuma fisiknya aja yang beda..”
    (wah kalimat ini menunjukkan inkonsistensi tersendiri,, jadi yang bener.. sama atau beda pen? :p)

    • Posted November 29, 2009 at 9:49 am | Permalink

      Hahaha aku suka komentarmu kali ini.. Lugas!
      Aku dulu slalu dibilang “Semua cowok sama, mata keranjang!”
      Trus aku jawab “Aku mending nggak jadi cowok aja buat mbuktiin bahwa aku setia ke kamu..”

      Lalu malah dibilang “Nah, bener kan! Kamu memang buaya!”
      *Loh*

  4. Posted November 28, 2009 at 1:27 pm | Permalink

    kata “sama” menurut saya sangat luas maknanya.. tentu bukan sama secara fisik mau pun keadaan ekonomi atau sosial, tapi dalam hal-hal dasar, sebagian besar manusia sama, khususnya “sama” di hadapan Tuhan.. just my opinion

  5. Chandra
    Posted November 28, 2009 at 6:17 pm | Permalink

    Errrr..bingung dah!

  6. Chandra
    Posted November 28, 2009 at 6:19 pm | Permalink

    Tapi gue mo ngakak pas baca ini “ndak punya toko”..haha..kalo punya toko tp tokonya di kaki lima gitu gimana? :p

  7. Posted November 28, 2009 at 8:44 pm | Permalink

    walaupun sama tapi tetaplah berbeda beda

  8. Posted November 29, 2009 at 10:56 am | Permalink

    Bukankah manusia itu memang berbeda-beda Don? Kepala sama hitam tapi masing-masing punya pemikiran sendiri.
    Orangtua membolehkan anaknya bebas bergaul, tapi urusan pacaran dan jodoh pasti ada kriterianya, ortu zaman dulu mengatakan ..bibit, bobot, bebet dsb nya.

    Saat saya pacaran ortu membebaskan hal ini…kenyataan tak mudah, karena dipihak sana, ternyata masih menekankan hal tsb…itulah dunia Don. Yang penting, kita harus bisa makin mendorong ke arah persamaan, perbedaan Visi jangan membuat kita terpecah dan ter kotak-kotak

    • Posted November 29, 2009 at 9:45 pm | Permalink

      Betul, Bu,…
      saya juga ngga bilang kalau manusia itu sama kok….

  9. Posted November 29, 2009 at 2:26 pm | Permalink

    Kalau semua manusia sama, Tuhan juga mungkin susah mengenali kita-kita kali ya :p
    Berkelompok atas dasar kesamaan sudah bawaan manusia, dari scope kecil sampai akhirnya scope besar kesamaan dalam suatu negara. Tapi kalau mengelompok terus mungkin dunia juga tidak akan penuh, itu juga keunggulan manusia. Jadi kalau manusia itu beda adalah benar. Manusia sama itupun betul. Tergantung lihat dari mana hihihi…

    Yang jelas kita tidak pernah hidup bersama dengan orang yang notabene ’sama’ dengan kita. Menikah jelas dng orang yang beda 100% bukan sekadar beda kelamin, punya orang tua pun ndak bisa milih yang sama dengan pikiran kita. Jadi buatku perbedaan itu membuat kita jadi kaya, tidak seperti katak dalam tempurung.

  10. Posted November 29, 2009 at 6:15 pm | Permalink

    sampean ki yo koyo cino koyo londo ning kok jowo wakakakaa keren memang bener semua yang tersirat kui mas nek aku jelas ketok wong Ndesone wakakakaka

    • Posted November 29, 2009 at 9:43 pm | Permalink

      Halah… Mas Tok mengada-ada.. moso aku koyo Londo.. Londo edian hahaha…
      Ndeso ra ndeso sing penting rejeki kuto Mas :)

  11. Posted November 29, 2009 at 6:39 pm | Permalink

    Mungkin yang dimaksud penulis (red: Donny) sejatinya manusia adalah sama. Bukan secara fisik…

    • Posted November 29, 2009 at 9:42 pm | Permalink

      Hehehe saya nggak pernah bilang semua manusia sama kok.. :) Coba dibaca ulang :)

  12. Posted November 30, 2009 at 2:14 am | Permalink

    Menurutku, kalimat “semua manusia itu sama” adalah benar, dalam arti bahwa semua manusia itu adalah sama-sama makhluk Tuhan. Yang membedakan manusia di mata Tuhan adalah keimanannya. Nah, tapi ini pun tidak sederhana. Keimanan kepada Tuhan yang mana? (kembali ke pertanyaan rumit yang pernah terbetik dari pikiran kita to Don?)

    Bisakah kita memandang orang yang seiman dengan kita SAMA dengan orang yang berbeda iman? Menurutku, tergantung konteksnya. Sebagai sesama penghuni bumi yang memiliki tanggung jawab menyelamatkan bumi, misalnya, tentu kita bisa memandang siapa pun SAMA. Tapi kalau sudah menyangkut kehidupan spiritual, atau yang berkaitan dengan nilai spiritual (misalnya keluarga, pernikahan), tentu TIDAK SAMA, karena aturan dan tata caranya beda, landasan keyakinannya beda.

    Kalimat “setiap manusia itu berbeda”, itu juga benar, karena manusia adalah makhluk unik yang masing-masing memiliki karakter sendiri, baik secara fisik, psikis, ras, dll.

    Gitu, Don. Miturutmu piye?

    • Posted November 30, 2009 at 9:47 am | Permalink

      Aku tetap nggak bisa menerima anggapan “manusia itu sama”. Sama itu identik, Bu :) (aku sedang mempersiapkan pikiran untuk menulis tentang “semua agama itu sama”)…
      Jadi kalau prinsip sama itu bukan berarti sama semuanya…

      Aku lebih seneng berpikir bahwa semua manusia itu unik dan berbeda meski ada banyak kesamaan di antaranya..:)

  13. Posted November 30, 2009 at 2:20 am | Permalink

    aku pikir ememang kita semua sama sebagai konsep. dan salahnya adalah kita menganggap sama tuk semuanya. Secara substansial kita berbeda perspective

  14. Posted November 30, 2009 at 4:24 am | Permalink

    dilihat dari satu sisi semua manusia itu sama, tapi di sisi lain manusia itu tak ada yang sama, tergantung dari cara kita memandangnya bukan?
    Nice posting gan :D

  15. Posted November 30, 2009 at 12:15 pm | Permalink

    walah don, angel men pertanyaanmu.

    aku kadang tidak suka disamakan dengan orang lain. setiap orang kan beda, dan aku sebagai manusia juga berbeda dong dengan manusia yg lain. tapi kadang punya persamaan juga ding dg orang lain. sama2 perempuan, misalnya. tapi apakah aku sama dengan ibuku yg juga perempuan? tegas kubilang: beda! setiap orang itu unik. gitu saja lah.

    tapi aku suka dg istilahnya Narpen: serupa tapi tak sama. hehehe. cocok itu buatku.

  16. Posted November 30, 2009 at 1:31 pm | Permalink

    mungkin yang dimaksud dengan kata SAMA itu adalah hak dan kewajiban di hadapan TUHAN.

    Menyoal ilustrasimu, rasanya kok sah-sah aja orang tua berharap yang terbaik untuk anaknya (selama masih masuk akal loh). Karena toh hidup berumahtangga tidak cukup dengan makan CINTA aja kan?

    Tapi kalau berteman mesti dengan suku tertentu…aku kurang sreg juga..berasa aneh malah.

    Cukuplah kita memperlakukan orang lain siapapun mereka, dari suku mana, berkulit apa…sama dengan kita ingin diperlakukan.

  17. Posted November 30, 2009 at 2:20 pm | Permalink

    sampai kapanpun selama kita tidak menggunakan bahasa yang sama berarti kita berbeda…kulit juga beda..nah yang ini saya pernah dengar dari guru agama di SMA yang bilang bahwa “rasa tidak dapat dipertentangkan”

    • Posted November 30, 2009 at 9:37 pm | Permalink

      Setuju… aku sangat suka dengan keterbukaan bahwa tak ada yang sama :)

  18. david
    Posted November 30, 2009 at 9:23 pm | Permalink

    don…sama sekali ga dong :P
    send warm rgds to dd… :)

    • Posted November 30, 2009 at 9:38 pm | Permalink

      Wah, nggak dong kok dipelihara :) Salam tersampaikan.. doamu, Kangmas :)

  19. Posted November 30, 2009 at 9:24 pm | Permalink

    Yah..saya setuju sama sebagian besar komen diatas, Don… Semua Manusia itu Sama DIMATA TUHAN. Sedangkan DIMATA MANUSIA, semua manusia itu berbeda-beda, dengan parameter-parameter tertentu. Begitulah adanya, manusia memang tidak sempurna, sehingga akan selalu ada inkonsistensi, akan selalu ada ketidak adilan. Kita sebagai manusia, ya berharap saja dari beberapa hal yang SAMA itu dapat timbul harmoni yang cukup untuk menegakkan perdamaian dimuka bumi ini*halah…saya jadi bingung sendiri dengan kalimat ini :-P *

  20. Posted November 30, 2009 at 9:43 pm | Permalink

    Wah Bro, saya tetap kurang sepakat… di mata siapapun setiap manusia pasti berbeda :)

  21. Posted December 1, 2009 at 6:18 am | Permalink

    “Sama” jika melihat hakikatnya sebagai makhluk Tuhan, namun bisa saya setuju hal tersebut bisa menganduk makna sebaliknya jika dilihat sisi2 kehidupan tertentu :-D

  22. ArD
    Posted December 1, 2009 at 7:49 am | Permalink

    Semua manusia sama??? Menurut ku pada hakikatnya manusia tuh diciptakan ma Tuhan berbeda – beda… Berbeda – beda disini maksudnya adalah fisik, karakter, dan personality lainnya… So wajar banget namanya perbedaan… perbedaan itu indah selama setiap insan memandang perbedaan itu dari kacamata yang positif….

    Ya pasti Tuhan memandang semua manusia itu sama karena Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan gambaran-Nya jadi ga mungkin donk Tuhan membeda – bedakan ciptaan yang sesuai dengan gambaran-Nya.

    Semua manusia dapat dikatakan sama dari derajat dan harga diri… tetapi hal ini dihancurkan semuanya oleh manusia… contoh : seperti orang kaya lebih tinggi derajat dan harga dirinya daripada orang miskin… menurut gw ini hal yang sangat salah, tetapi dunia ini sudah membuat hal ini menjadi benar. Andaikan semua manusia dapat memakai kacamata Tuhan (cara pandang Tuhan) mungkin dunia ini akan menjadi damai diantara perbedaan – perbedaan yang ada….

    Kadang mikir buat apa yah pelajaran PPKN di SD, SMP dan SMU tetapi setiap orang yang belajar pelajaran tersebut tidak pernah melakukannya di kehidupan sehari – hari??? jadi percuma aja donk pelajaran tersebut?? padahal kan pelajaran tentang saling menghargai ada di pelajaran itu hehehe ^^v

    That’s my opinion… ^^

    • Posted December 1, 2009 at 4:58 pm | Permalink

      Aha,… PPKN.. jadi kangen sekolah euy..
      Welcome home, Bro! Semoga krasan di blogku ya

  23. Posted December 1, 2009 at 11:37 am | Permalink

    Dari sudut mana dulu nih melihatnya?

    Manusia yang baru dilahirkan seluruhnya SAMA dalam hal kesucian. Teori tabularasa mengatakan begitu. Tapi, pembentukan setelah itu oleh manusia lainnya, membuat manusia yang baru lahir itu menjadi berbeda dengan manusia lainnya.

    Mencintai kebaikan dan membenci keburukan, semua manusia SAMA dalam hal ini, siapapun dia.

    Tampilan fisik, sifat, karakter, ilmu, agama, negara, bahasa…. tentulah beda :D

    Tapi yang jelas, kita SAMA Don, yakni sama-sama punya blog… setuju? ;)

    • Posted December 1, 2009 at 4:54 pm | Permalink

      Hahahah setuju, Uda!
      Tapi beda lagi karena blogmu ada dua dan nyala semua hahahah salut!

  24. Posted December 1, 2009 at 1:33 pm | Permalink

    Arep Podo opo arep Bedo
    sing penting ojo Rasis…..
    nek Rasis guwak laut wae
    hehehehhe
    piss ah

  25. Posted December 1, 2009 at 2:16 pm | Permalink

    Kalo menurut aku, Don.

    Manusia pada dasarnya punya sifat mendekati seseorang krn adanya kesamaan. Misalnya, klo gue ke suatu pesta, lalu gue lihat di sebelah kanan adalah barisan co, lalu di sebelah kiri adalah barisan ce. gue pasti refleks bergabung ke sebelah kiri. Ada perasaan aman ketika kita berkumpul dgn org yg memiliki kesamaan dgn kita. Jd klo misalnya di depan aku ada org china 4 org ce-ce dan sebelahnya lg ada 4 0rg co-2 org pribumi? Kemana kira2 aku akan bergabung? Aku jg tak tahu pasti, krn aq pasti akan cari tahu lg dimana kira2 yg ada kesamaan dgn diriku. Itu sebabnya, sering kita lihat ada geng yg wajah dan gayanya mirip2 semua. Tampan semua, putih semua, dandy semua. Ato sebaliknya, pendek-2, item-2.

    But, ketika sudah jadi sodara, memang ga bisa milih lagi. Aku punya sodara org dayak, batak, sunda, padang, dan china. Aku sndri yg paling hitam dr semua sepupuku. Dulu org suka heran liat kami. Krn tak menyangka klo kami bersaudara.

    Lalu wkt aku SD, aku kan item banged, dibawa tanteku main ke tetangga. Krn tanteku tinggal di perumahan org china, ya org2 pd senyum2 liat aku. Krn aneh, hahahaa…

    Tp ya gpp toh, kalo manusia semua sama, gak seru juga. Bosan. ;)

    • Posted December 1, 2009 at 4:53 pm | Permalink

      Hahahaha aku suka eksplanasi kamu di paragraf pertama, Zee.. menurutku ini adalah sesuatu yang sangat jujur…
      Aku setuju, kesamaan bikin enek karena ngga seru hehehe

  26. Posted December 1, 2009 at 4:31 pm | Permalink

    Mengutip dari kata2 teman ‘Everybody is unique’ ..
    jadi berdasarkan kata2 itu harusnya maka tidak ada manusia yang sama ..
    namun bukan berarti perbedaan2 yang ada menjadi gap atau kotak2 pembatasan diri dalam bermasyarakat dan bersosialisasi..

    Cara Membuat Web

  27. Posted December 1, 2009 at 10:10 pm | Permalink

    Semua x pada dasarnya sama* kok.

    * = syarat dan kondisi berlaku. :D

  28. Posted December 2, 2009 at 7:29 pm | Permalink

    Kalau menurutku ya mas…semua manusia itu dilahirkan sama persis, kalaupun nanti mereka berbeda itu ya karena “bajunya”
    “baju” disini bisa di artikan sebagai agama, harta, keturnan dll…

    ini menurutku loh mas :)

  29. Posted December 2, 2009 at 8:16 pm | Permalink

    manusia diciptakan modular meliputi kepala, tangan, kaki, dan bagian tubuh lainnya. hal ini berarti manusia sama.
    setelahnya tuhan menciptakan variabel2 dan parameter2 misalnya: tinggi badan, berat badan, warna kulit, warna mata. juga ditambahkan perangkat lunak seperti: sifat, selera, orientasi seksual dsb. hal ini berarti manusia berbeda.

    tuhan memang maha cerdas. menciptakan makhluk secara sama sekaligus berbeda. itulah kenapa aku memilih bertuhan. :D

  30. Posted December 2, 2009 at 9:40 pm | Permalink

    Wah, pertanyaanmu gampang banget…tapi angel dijawab…. :)

    menurutku, manusia itu beda-beda, setiap pribadi adalah unik dan nggak ada duplikatnya yang sama persis plek ketiplek… orang kembar pun sidik jari dan kornea matanya berbeda, punya ciri sendiri-sendiri….

  31. Posted December 3, 2009 at 8:16 pm | Permalink

    sama itu mungkin dalam soal fitrah dan kedudukannya sbg hamba Tuhan, mas don, hehe … tapi dalam soal aplikasi nilai dengan segala asesorisnya pasti akan sangat beda.

  32. Posted December 5, 2009 at 12:55 pm | Permalink

    Haiyaaah akhir pekan koq dipekso mikir sing berat2x! :D
    mung aku yo pernah ngalamin hal koyo ngono. Suamiku Jowo, arek Malang lha aku iki MBATAK tulen je! (xixixixi ngikik dikit) bapakku nesu2 pas aku pacaran koro wong jowo… mesti wong mbatak titahe. Mung ono proses, lama2 iso ngerti. kesimpulanku… soal pembedaan itu, ato persamaan itu ya tergantung seberapa besar mampu menerima diri sendiri dan menghargai perbedaan itu sendiri (soal level, suku dsb). Jelas menungso ki bedo2, lha aku karo sampean yo bedo tho Don… Mung opo iyo perbedaan iki ra iso dikelola selaras, harmonis? Nah, gen mikiro saiki. Tak kei pertanyaan :D hehehe

  33. Posted December 6, 2009 at 10:44 pm | Permalink

    Menurutku manusia itu tidak sama, mas. Namun jangan dibeda-bedakan seharusnya.

  34. Posted December 8, 2009 at 1:18 am | Permalink

    menurutku, tiap-tiap manusia mempunyai “properties” dan masing-masing property itu mempunyai gradasi yang sangat luas, contoh properties yg aku maksud adalah kaya, dan tinggkatannya: ada orang yang sangat kaya, kurang kaya, agak kaya, tidak kaya, super kaya, dst
    contoh properties yg lain bisa: sifat, warna kulit, suku, dll

    nah sama atau beda tergantung kita melihatnya… properties itu mo dianggap membedakan atau menyamakan..

    yg jelas setiap orang diciptakan unik….. dan yang paling penting saling menghargai :-)

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Versi Beta

    Situs web ini akan selalu dalam tahap pengembangan sejak dipublikasikan pertama kali pada 20 Desember 2007.

    Ikon manusia "Donny Verdian" hasil kreasi Donny Verdian (Terima kasih untuk para pendahulu pencipta ikon, Ardian Sukmaji (2007 - 2008), dan Anjung Sakti (2005)).

    Seluruh tulisan dan isi konten lainnya kecuali "tanggapan" adalah hasil pemikiran Donny Verdian.

    Untuk konten khusus yang saya sadur maupun tayangkan dari tautan luar situs web ini, akan saya cantumkan sumber/pengkreasinya. Ingatkan saya apabila saya lalai akan hal ini. Pemberlakuan copyrights di situs web ini adalah sesuai dengan salinan di sini.