Hujan Emas Hujan Batu

Dalam konteks kasus Artalyta Suryani dengan sel mewahnya, kupikir pepatah lama yang tepat untuk menggambarkan keadaannya dibandingkan dengan keadaanku di sini adalah “hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri”

Seenak-enaknya tinggal di luar negeri, bekerja dengan gaji ‘dollar’ serta ditunjang fasilitas, sarana dan prasarana yang OK dari pemerintah secara cuma-cuma, aku masih harus tetap bekerja membanting tulang dan memeras keringat.

Sementara baginya, meski statusnya adalah terpidana kasus penyuapan yang seharusnya bisa diibaratkan sebagai ‘hujan batu’ karena terpenjara, tapi toh fasilitas yang ia dapatkan di dalam bui luar biasa enaknya! Kasur empuk dan sofa barangkali sudah ‘terlalu biasa’.. tapi perawatan dokter ahli kosmetik hingga ijin meninggalkan penjara sekadar untuk  cabut gigi… itu adalah sesuatu yang luar biasa.

Selamat berakhir pekan!

Sumber berita salah satunya di sini.  Foto diambil dari sini.

Post to Twitter Post to Delicious Post to Digg Post to Facebook

This entry was posted in Nirmana and tagged . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

23 Comments

  1. Posted January 23, 2010 at 5:13 am | Permalink

    hehhehehe jadi sampean hujan emas di negri orang tapi tetep kringeten mas hehehehe kapan mulih jogja mas hehehe gimana kabarnya kalo aku baik baik saja cuman jarang post maklum sama sama harus kemringet tidak seperti A suryani sudah tidak kerja namun fasilitasnya enak
    selamat akhir pekan juga salam buat keluarga ( istri )

    • Posted January 23, 2010 at 11:25 pm | Permalink

      Hehehehe, kabar saya baik, Mas Tok!
      Jaga kesehatan ya, jangan terlampau kesel nyambut damel-nya, Mas… :)
      Selamat berakhir pekan bersama keluarga, Mas!

  2. Posted January 23, 2010 at 5:58 am | Permalink

    sebuah bukti betapa lemahnya pengawasan lembaga pemasyarakatan selama ini, mas don. kasus artalyta di rutan ibarat gunung es. semakin dibuka, ternyata semakin banyak kasus serupa. lapas yang seharusnya menjadi media pertobatan, justru malah menjadi sarang menuntut ilmu2 kejahatan yang jauh lebih parah. doh!

    • Posted January 23, 2010 at 11:30 pm | Permalink

      Betul, Pak Sawali…
      Saya sedang menunggu gebrakan pemerintah, berani nggak mereka menghancurkan gunung es itu atau lantas menutupnya lagi yang penting toh citranya sudah terangkat dengan pengungkapan sel mewah Ayin, Pak…

  3. Posted January 23, 2010 at 12:37 pm | Permalink

    masih mending dirimu yang mendapat hujan emas meski masih harus bekerja keras Don, kalau masyarakat di indonesia, sudahlah sakit karena hujan batu, masihlagi harus banting tulang hingga remuk demi sesuap nasi…

    aku tiba-tiba jadi ingat lagunya ebiet:
    kemanakah sirnanya
    nurani embun pagi

    segelintir manusia indonesia, dengan tega menari-nari di atas penderitaan jutaan rakyatnya… argh…

    sebuah permenungan akhir pekan yang dahsyat Don

    • Posted January 23, 2010 at 11:31 pm | Permalink

      Thanks, Uda…
      Hehehe… komentar Uda ini malah memberi permenungan super dahsyat bagiku karena kenyataannya banyak pula yang merasakan hujan batu yang benar-benar seperti dirajam….

  4. Posted January 23, 2010 at 1:53 pm | Permalink

    Hujan emas tapi keringatan kan masih mendingan, daripada hujan batu, terseok-seok….dan bukan keringatan lagi…tapi mandi keringat.

    Ya, yang seperti gambar di atas hanya segelintir, yang lain masih susah untuk mendapatkan serupiah demi serupiah…

    • Posted January 23, 2010 at 11:32 pm | Permalink

      Ah benar, Bu… komentar Ibu, seperti halnya komentar Uda, membuat saya merenung juga…

  5. Posted January 23, 2010 at 4:09 pm | Permalink

    Dulu sapa itu ya yang pernah bilang begitu ke aku, lupa.

    “Jadi memang lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang ya ley?”

    Aku cuman inget “Ley” nya, berati pasti anak blogbugs hahaha…

    Tapi anjrit, itu penjara atau losmen? O_O

  6. Posted January 23, 2010 at 6:14 pm | Permalink

    Kalo kayak artalita pastinya hujan emas di negeri manapun dia berada kekeke..

    • Posted January 23, 2010 at 11:38 pm | Permalink

      Hehehehehe, tapi aku nggak yakin dia akan tetap hujan emas di Penjara Tangerang hahahaha.. We’ll see! Semoga nggak ke-gep lesbi :)

  7. Posted January 23, 2010 at 8:26 pm | Permalink

    dan dengan keadaan begitu mereka masih minta dikasihani sambil menangis, mungkin mereka belum pernah melihat tangisan rakyat yang uangnya mereka rampok.

    • Posted January 23, 2010 at 11:39 pm | Permalink

      Ketika mereka jatuh, mereka berubah menjadi seperti rakyat kebanyakan, menangis.. Mereka juga manusia, Bli :)

  8. Posted January 23, 2010 at 9:43 pm | Permalink

    kamu mau Don tukar guling ama Artalyta :p

  9. Posted January 24, 2010 at 6:32 am | Permalink

    selamat malam…..ini kunjungan perdana di blognya mas, wakh keren buanget nih informasinya. tukeran linknya mas, boleh gag? ya begitulah kalo yang banyak uang…kemana mana kudu selalu ada aja fasilitasnya

  10. Posted January 25, 2010 at 9:55 am | Permalink

    Salam kenal juga, Babi Ngepet…
    Maaf saya belum kepikiran untuk membuat feature tukaran link di sini. Tapi kupikir dengan Anda berkomentar, otomatis link sudah terjalin, dan sesegera mungkin saya akan segera mengunjungi blog Anda, berkomentar sehingga link juga akan ada juga…

    Salam hangat!

  11. Posted January 25, 2010 at 12:12 pm | Permalink

    Mbok aku dikirimi EMAS-e…hehehehe….Jakarta Hujan Air, Don, kelamaan dikit jadi Banjir.

    *gaknyambung.com*

  12. Posted January 25, 2010 at 8:54 pm | Permalink

    ketika “keadilan” dapat dibeli dengan uang

    pengadilan yg sdh dijalani, spt sandiwara saja… miris mengetahuinya

    • Posted January 27, 2010 at 12:56 pm | Permalink

      Hehehehe, ini perkara mamon, Dab… Orang mengabdi pada Mamon harus mengalahkan segalanya :) Pilihan, Dab.. Pilihan…

  13. Posted January 26, 2010 at 2:04 am | Permalink

    Masih banyak rakyat yang nasibnya Senen-Kemis, kalo ayin itu penjara aslinya ya di akhirat nanti..kita lihat saja siapa yang tertawa paling akhir…Salam jepret!

    • Posted January 27, 2010 at 12:57 pm | Permalink

      Hahahaha… saya malas bicara soal penjara asli di akhirat, Bung.. Saya lebih berpikir apa yang bisa dikerjakan sekarang ya sekarang ini saja :)

  14. Posted January 26, 2010 at 1:47 pm | Permalink

    kata om bill gates..”live is not fair, get used to it”

    • Posted January 27, 2010 at 12:57 pm | Permalink

      Wah, barangkali itu adalah quote yang bagus banget dari seorang Gates yang… ya gitu deh :)

  15. Posted January 26, 2010 at 2:28 pm | Permalink

    Yang paling gong buat saya itu masalah AC yang disembunyikan alias disamarkan jadi lemari itu loh…kayaknya bela-belain banget pengen ruangan ber AC

    • Posted January 27, 2010 at 12:58 pm | Permalink

      Hahahahahaha…. soalnya mungkin kalau tanpa AC, kulitnya bisa mencair kepanasan, Sob :)

  16. Posted January 26, 2010 at 6:59 pm | Permalink

    Mas Donny,
    Pepatah ini dalam kondisi tertentu terus terang tidak saya sepakati (heh ?), untuk Cici Artalyta berbanding dengan Mas Donny mungkin pepatah ini ada benarnya.
    Tapi kalau Kondisi mas Donny dibandingkan dengan kondisi saya, pepatah ini tidak berlaku.
    Lho ? saya sudah kerja banting tulang, sakit pinggang sampai sakit gigi tetap aja dapetnya nggak emas, dapatnya batu kali yang harganya jauh lebih murah dari emas yang mas Donny dapatkan dinegeri orang. (*ngeles mode on*)….he..he…he..

    • Posted January 27, 2010 at 12:59 pm | Permalink

      Mas Aldy, tapi ini perkara wang sinawang, Mas..:)
      Saya boleh bergaji dollar, tapi saya ndak bisa mendapatkan makanan dan semua kehangatan khas Indonesia lho..:)

  17. Posted January 26, 2010 at 9:53 pm | Permalink

    mm, memang cuman beda duit saja perlakuan pun akan beda :)

  18. Posted January 27, 2010 at 2:33 am | Permalink

    Yah dunia kadang berisi ironi. Ladang? Teman saya tak setuju. “Selalu,” katanya.

  19. Posted January 27, 2010 at 12:25 pm | Permalink

    sik… sik.. kok aku jadi kelingan karo kancaku sing ngomong: “ngono kuwi kan sawang-sinawang.” :D

    tapi satu hal yang aku nggak rela soal mbak artalita itu, aku tak rela uang pajak yg kubayarkan itu dipakai untuk menyokong penjara yang dipakainya. oke, segala fasilitas mewah itu mungkin pakai duit dia sendiri, setidaknya dia masih memakai pasokan listrik dari PLN di penjara itu kan? dan itu tidak lepas dari pajak yg dibayarkan rakyat. menyedihkan…

    • Posted January 27, 2010 at 1:05 pm | Permalink

      Hahahahaha, sebenarnya ndak usah mikir listrik penjara yang mbayari pajaknya siapa, pikirkan saja kejahatan yang ia lakukan.. kuwi wes merugikan negara jhe.. merugikan kita pula sebagai warganya ;)

  20. Posted January 31, 2010 at 1:59 am | Permalink

    negeri ini memang kacau. ikut pusing juga gw kalo nonton berita di tv. pemimpin kok kayaknya tdk pro rakyat, malah mikirin kesejahteraannya sendiri2

  21. Posted February 2, 2010 at 2:07 am | Permalink

    kapan aku ngerasain hujan emas ya mas?
    kamar kost ku aja kalah dengan ruang tahanan yang ada di gambar itu.

    kalau di indonesia lagi banyak hujan tanah mas., maksudnya gempa dan tanahnya menghujam rumah orang2nya :(

  22. Posted February 11, 2010 at 12:32 pm | Permalink

    Ini yang namanya ironi ya.
    Tapi barangkali ayin itu udah “banting tulang” juga, jadi apa yang diterimanya adalah hasil “jerih payahnya”. :D

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

  • Versi Beta

    Situs web ini akan selalu dalam tahap pengembangan sejak dipublikasikan pertama kali pada 20 Desember 2007.

    Ikon manusia "Donny Verdian" hasil kreasi Donny Verdian (Terima kasih untuk para pendahulu pencipta ikon, Ardian Sukmaji (2007 - 2008), dan Anjung Sakti (2005)).

    Seluruh tulisan dan isi konten lainnya kecuali "tanggapan" adalah hasil pemikiran Donny Verdian.

    Untuk konten khusus yang saya sadur maupun tayangkan dari tautan luar situs web ini, akan saya cantumkan sumber/pengkreasinya. Ingatkan saya apabila saya lalai akan hal ini. Pemberlakuan copyrights di situs web ini adalah sesuai dengan salinan di sini.