Leo, singa yang mengaum

Leo, Leonardus Raditya.
Aku mengenalnya sejak delapan tahun silam saat ia masih gemar mengaum.

Kalian boleh menganggap kata ‘mengaum’ ini betulan karena sebagai Leo yang artinya ’singa’ ia memang dulunya dikenal cukup beringas meski siapa nyana, dibalik segala keberingasannya itu, Leo yang kukenal adalah seorang yang cerdas, brillian dan memiliki tingkat kepekaan lingkungan yang tinggi.

Ia adalah satu dari sedikit orang yang kukenal di lingkungan ‘rohani’ yang masih mau berpikir dan beropini lebih dari sekedar mengungkap “Ya, pasrah deh ke Tuhan apapun yang terjadi!” atau “Menurut kitab suci…ini yang benar!“.

Ia selalu mau berusaha untuk apapun yang harus diusahakannya dan menilik ke sisi moralitas yang berpihak pada manusia ketimbang belum apa-apa sudah membuka buku tebal nan suci untuk jadi tempat referensi yang tertinggi.
Tidak, setahuku tidak sama sekali seperti itu.

Sejak awal perkenalan, akupun jadi tak butuh waktu lama untuk dapat akrab dengannya.  Maklum, sedikit banyak, aku juga berpandangan yang kurang lebih sama dengannya.

Ketika dulu aku masih sering ke Solo, pada saat aku harus pulang kemalaman ke Jogja dan aku belum punya kendaraan, Leo yang asli Solo itu, dengan bebek kawasaki hitamnya adalah sahabat setia yang selalu menawarkan diri dengan bilang “Ayo! Kuanterin ke terminal sekalian aku juga mau jalan pulang!” Meski kutahu rumahnya sebanarnya tak searah dengan terminal.

Semenjak tahun 2003, boleh dibilang frekuensiku bertemu dengan Leo lantas berkurang bukan karena apa-apa, tapi karena aku perlu melakukan banyak hal ‘real’ di tempat kerja meskipun di hari Minggu sekalipun. Namun hal ini tak lantas membuat hubunganku dengannya putus begitu saja meski merenggang, iya.

Setiap ada kesempatan pergi ke jogja, ia selalu mengabarkan bilamana aku ada kesempatan untuk bertemu sapa dengannya meski sebaliknya ketika aku ada tugas ke Solo, aku selalu tak lupa untuk berpikir apalah gunanya menghubunginya karena aku begitu repot!

Tahun demi tahun beranjak, aku semakin jarang berhubungan dengannya.
Tapi media internet adalah lorong serta corong terbaik yang selalu mempertemukanku dengannya dan menyuarakan kabar baik tentang Leo, sobat lamaku itu. Hingga dua bulan lalu, aku masih berkomunikasi cukup intens lewat facebook dan dari sana kutahu ia sedang sakit meski aku tak tahu dan tak mau tahu apa macam sakitnya.

Bukannya tak peduli, tapi lebih pada pemikiran bahwa ia adalah Leo, singa mengaum yang sepertinya tak ada dan tak kan pernah ada yang sanggyup mengalahkannya termasuk penyakit sekalipun!

Namun kali ini anggapanku salah.
Sebuah penyakit auto-immune yang sangat jarang ditemui dan belum terdefinisi jenis dan namanya pada akhirnya berhasil mengurung Leo dalam keterpurukan selama setahun terakhir. Hingga pada akhirnya, penyakit itu pula yang mengantarkannya pulang ke tempat semua kita juga akan berpulang.

28 Januari 2010.
Leo, Lenardus Raditya, sobat lamaku itu pergi tanpa pesan tapi penuh damai dan sejahtera.
Dalam bayangku, proses hidupnya yang tak lebih dari 29 tahun itu layaknya sebuah musim kemarau dimana ia seperti halnya singa yang menampakkan diri di rerumputan padang ilalang namun seketika, sesaat sebelum musim dingin tiba, ia berlalu kembali masuk ke rerimbunan hutan demi sebuah kehangatan yang tak kan dapat ditemuinya di padang ilalang dan sejak saat itu tak memunculkan diri lagi.

Selamat jalan, Leo!

Post to Twitter Post to Delicious Post to Digg Post to Facebook

This entry was posted in Permenungan and tagged . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

33 Comments

  1. Posted February 6, 2010 at 5:30 am | Permalink

    Banyak sekali teman-temanmu yang sudah berpulang…

    Tulisan yang bagus tapi, singkat, tetapi mencakup awal sampai akhir — juga indah adanya.

    Btw, besok nek aku berpulang lebih dulu dari kamu, aku bikinke artikel juga ya :)

    • Posted February 6, 2010 at 11:24 am | Permalink

      Yup! Dua bulan terakhir, dua sobatku meninggal…
      Aku memang terlalu banyak bergaul dengan orang-orang baik hehehe..:)

  2. Posted February 6, 2010 at 5:33 am | Permalink

    Oh dan juga, sampe lupa… Turut berduka cita buat keluarga dan sahabat si Leo…

    Dan buat Leo, semoga rerimbunan hutan itu adalah benar benar… disitulah tempat yang kamu gumulkan dan ingin kamu tuju selama ini :)

    • Posted February 6, 2010 at 11:26 am | Permalink

      Kupikir, rerimbunan itu bukan soal ingin atau tidak, tapi lebih kepada pemikiran bahwa ketika sudah tidak ada lagi yang bisa melindungi dari dingin di padang ilalang, satu2nya jalan ya masuk lagi :)

      Thanks ucapan dukanya

  3. Posted February 6, 2010 at 5:50 am | Permalink

    turut berduka ya

  4. Posted February 6, 2010 at 8:22 am | Permalink

    kenapa orang baik selalu duluan pulang ya?

    turut berduka cita

    EM

    • Posted February 6, 2010 at 11:27 am | Permalink

      Karena HRD nya Tuhan hebat-hebat.. bisa narik orang yang baik terlebih dulu :)
      Thanks ucapan dukanya, Imel

  5. Posted February 6, 2010 at 10:57 am | Permalink

    Menetes air mataku, Don.
    Berpulangnya bertepatan dengan hari Papi pergi.. huhuhu..

    Selamat jalan, Leo.

    • Posted February 6, 2010 at 11:28 am | Permalink

      Oh, Papi sapa La?
      Thanks ucapan dukanya

      • Posted February 11, 2010 at 5:58 am | Permalink

        Ya papinya Lala to Don. Wafat karena gula, ketika sedang berjuang menyelesaikan buku beliau …

  6. Posted February 6, 2010 at 11:36 am | Permalink

    Selamat jalan untuk temanmu, Don. Dia masih begitu muda tapi penyakit telah memaksanyanya menyerah. Singa itu telah menyerah oleh sakit. Semoga dia diberi kemudahan di alam sana.
    Ini jadi pelajaran jg untukku agar senantiasa ingat dan peduli dgn teman, siapa tahu di luar sana ada temanku yg jg sakit tp aku di sini seakan tak mau tahu krn masih terbayang dgn imajiku sndr ttg dirinya.

    • Posted February 7, 2010 at 10:04 am | Permalink

      Makasih ucapan dukanya, Zee..

      Setuju dengan langkah yang akan kau ambil untuk peduli dengan teman.
      Alur pikir sederhanaku, smakin hari kita smakin menua, sudah saatnya kita slalu lebih akrab dengan teman, yang juga sama2 menua :)

      • Posted February 8, 2010 at 5:20 pm | Permalink

        Hahahaa… bener sih, semakin tua memang harus saling mengingat ya :D

  7. Posted February 6, 2010 at 2:07 pm | Permalink

    Meskipun masa hidup yang dijalaninya cukup pendek, namun Leo sudah berhasil meninggalkan jejak yang baik dan manis untuk dikenang.

    Untuk seluruh keluarga besar Leo juga kamu sebagai sahabatnya, Don. Aku mengucapkan : Turut berduka.

  8. Posted February 6, 2010 at 8:19 pm | Permalink

    turut berduka cita, tulisan yang tidak terlalu panjang namun cukup menggambarkan seperti apa Leo..

  9. Posted February 6, 2010 at 9:37 pm | Permalink

    semua akan ada akhirnya, cepat atau lambat. Leo telah pergi, meski baru sesaat ia hidup di muka bumi ini. namun, dari deskripsimu tentangnya, aku tahu, ia telah banyak menorehkan tinta emas dalam hidupnya. dia patut dijadikan panutan hidup kita; berpulang namun tetap dikenang…

    Don, aku turut berbelasungkawa atas sahabat baikmu itu…

  10. Posted February 6, 2010 at 11:29 pm | Permalink

    turut berduka cita, donny. memang rasanya berat saat seorang sahabat pergi meninggalkan kita di waktu yang ga disangka-sangka. saya jg pernah kehilangan bbrp sahabat. namun itulah hidup. kita hanya berserah pada Tuhan :)

    • Posted February 7, 2010 at 12:14 pm | Permalink

      Betul, Elia…
      Berserah dan menlanjutkan hidup :)

      Thanks ucapannya…

  11. Posted February 7, 2010 at 1:04 am | Permalink

    Soe Hoek Gie pernah bilang: “nasib yang paling beruntung adalah tidak dilahirkan, dan yang paling beruntung kedua adalah mati muda, maka beruntunglah mereka yang mati muda…”

    semoga kematian Leo menjadi jalan terbaik baginya. Turut berduka cita ya Don

  12. Posted February 7, 2010 at 5:15 pm | Permalink

    Turut berduka untuk temanmu itu ya mas…
    Been there…aku punya temen, sahabatku sejak SMP meninggal waktu istrinya masih mengandung 8 bulan. Kita temen2nya sangat shock karena meninggalnya kecelakaan…

    semoga orang2 pilihan itu bisa tenang disana ya…

  13. Posted February 7, 2010 at 5:18 pm | Permalink

    pastinya selalu ada kenangan indah yg ditinggalkan seorang sahabat.

  14. Posted February 7, 2010 at 6:49 pm | Permalink

    Memang tak kenal dengan mas Leo, tapi turut berduka atas kehilanggannya mas :) , meskipun rasanya beda

  15. Posted February 8, 2010 at 12:38 am | Permalink

    turut berduka, mas. saya juga berasal dari Solo–tempat tinggal sahabat baikmu itu.

  16. Posted February 8, 2010 at 1:36 am | Permalink

    Persahabatan tetap melekat, membekas, meski salah satu lebih dulu dipanggil oleh Sang Penguasa Kehidupan. Selamat jalan juga untuknya.

  17. Posted February 8, 2010 at 1:48 pm | Permalink

    selamat jalan untuk sahabatmu, biasanya orang baik cepet dipanggil olehnya..

  18. Posted February 8, 2010 at 2:45 pm | Permalink

    Gusti Paring Berkah….

  19. Posted February 8, 2010 at 3:17 pm | Permalink

    Hidup dan kehidupan telah ditentukan

  20. Posted February 8, 2010 at 6:21 pm | Permalink

    Nderek bela sungkawa. Semoga Leo hidup “seribu tahun” dalam hatimu dan dalam hati kawan2nya yg lain. Sama kaya si muka bantal di atas… Don, nek aku “bali ndisik”, aku gawekno tulisan yo! Hehehe.

  21. Posted February 8, 2010 at 7:45 pm | Permalink

    Kadang kita baru mengingatnya saat dia sudah tak bisa ditemui lagi
    Kesibukan terkadang membuat kita sulit bergerak

    Semoga temanmu damai disana Donny…
    Saya ikut belasungkawa….

  22. Posted February 10, 2010 at 5:06 am | Permalink

    ikut berduka dan berbela sungkawa atas meninggalnya leo, mas don, semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

  23. Posted February 10, 2010 at 5:25 pm | Permalink

    Selamat jalan buat sahabatmu, Don. Tuhan memberikan yang terbaik buatnya,amin.

  24. Posted February 10, 2010 at 6:35 pm | Permalink

    hiks hiks..
    heheh

  25. Posted February 11, 2010 at 6:00 am | Permalink

    Perginya seseorang yang masih muda, selalu meninggalkan kesedihan yang menggores hati. Padahal mungkin Tuhan memanggilnya justru karena Ia menyayangi hambaNya itu …

  26. Posted February 11, 2010 at 2:42 pm | Permalink

    jadi terharu habis baca tulisan anda…

    teringat teman saya yang udah lama pergi tanpa kabar :(

  27. Posted February 12, 2010 at 6:51 pm | Permalink

    Beruntung juga bung Leo, namanya dan sepenggal kisah hidupnya sempat diabadikan dalam sebuah posting blog. Blognya mas DV lagi. Semoga Tuhan menerima segala amal dan perbuatannya. Amin.

  28. Posted February 12, 2010 at 7:02 pm | Permalink

    Aku sedih baca ini Don… Ikut berdukacita yah..
    Beliau pergi dengan meninggalkan banyak kenangan baik diantara teman2nya.
    Semoga tenang di samping Bapa…

  29. Posted February 13, 2010 at 5:31 pm | Permalink

    Don…aku telat baca posting ini…
    semoga sahabatmu bahagia di surga ya…

  30. Posted February 26, 2010 at 6:03 pm | Permalink

    +1 Inspiratif!

  31. Posted February 27, 2010 at 4:25 am | Permalink

    Semua pasti ada hikmahnya bro,.,.

    Aku yakin, sahabatmu Leo masih mengaum di dunia sana,.

    Turut Berduka Cita

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Versi Beta

    Situs web ini akan selalu dalam tahap pengembangan sejak dipublikasikan pertama kali pada 20 Desember 2007.

    Ikon manusia "Donny Verdian" hasil kreasi Donny Verdian (Terima kasih untuk para pendahulu pencipta ikon, Ardian Sukmaji (2007 - 2008), dan Anjung Sakti (2005)).

    Seluruh tulisan dan isi konten lainnya kecuali "tanggapan" adalah hasil pemikiran Donny Verdian.

    Untuk konten khusus yang saya sadur maupun tayangkan dari tautan luar situs web ini, akan saya cantumkan sumber/pengkreasinya. Ingatkan saya apabila saya lalai akan hal ini. Pemberlakuan copyrights di situs web ini adalah sesuai dengan salinan di sini.