Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan ‘Hikayat Tattoo’. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini. Semula, aku ingin mewujudkan tattoo El Shaddai yang telah sedemikian lama kurencanakan tepat pada hari pertama di tahun 2005. Tapi apa daya, karena kesibukan baik aku maupun Munir, semua baru terealisasi sehari sesudahnya. Perlu persiapan fisik yang khusus mengingat area ... more →
April 2010
Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan ‘Hikayat Tattoo’. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini. El Shaddai dalam bahasa Israel adalah salah satu gelar untuk Tuhan, Allah Maha Besar. Aku jatuh cinta pada ungkapan “El Shaddai” sejak aku mengenal lagu dengan judul yang sama yang pertama kali kudengar pada awal dekade 2000 an silam. Demikian ... more →
Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan ‘Hikayat Tattoo’. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini. Kerumitan dan betapa menyiksanya proses pembuatan dan penyembuhan tattoo yang keempat yang kuceritakan di Hikayat Tatto (3) ternyata membuatku harus berhenti sejenak untuk melanjutkan tattooku setahun lamanya. Bukannya jera atau tak bisa ditattoo dengan pertimbangan kesehatan, tapi lebih karena kupikir ... more →
Bahasa, seperti halnya produk budaya lainnya, selalu berdinamika dipengaruhi berbagai macam unsur. Hal yang paling menarik dari kenyataan itu adalah timbulnya istilah-istilah ‘slang’ yang in my humble opinion, lahir karena dipengaruhi posisi geografi pengguna dan penggunaan bahasa itu sendiri, cmiiw ya! Seperti halnya orang-orang Jakarta (dan orang-orang daerah yang sok nJakarta) lebih memilih menggunakan “Gue” ... more →
Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan ‘Hikayat Tattoo’. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini. Juni 2003. Pembuatan tattoo yang ketiga adalah pengalaman yang sangat berharga. Letaknya di bawah betis, mata kaki hingga sedikit menutupi punggung telapak kaki kanan. Kukatakan berharga karena pada fase ini aku menemui kenyataan bahwa sakitnya ditattoo di daerah itu adalah ... more →
Hidup ini memerlukan jeda seperti halnya surat cinta membutuhkan spasi. Bayangkanlah Bidun, seorang jejaka tanggung yang sedang gandrung dengan Pembayun, gadis anak tetangga yang usianya tiga tahun lebih muda darinya. Karena merasa dirinya pujangga, surat cinta dengan setumpuk kata mesra adalah andalan Bidun untuk menumpahkan perasaannya kepada sang inceran hati sekaligus meluluhlantakkannya. Setidaknya, seminggu dua ... more →
Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan ‘Hikayat Tattoo’. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini. Suatu malam, setelah tattooku yang pertama mulai mengering, sembuh dari luka pembuatannya, Martho, teman baikku berujar padaku, demikian. “Don, smalam aku mimpi kakimu dua-duanya bertattoo dari bawah sampai atas!” “Hah? Atas gimana maksudmu?” “Ya, atas, sampai segini!” ujarnya sambil mengangkat ... more →