Tabur tuai

Kalian sudi menolongku?

Akhir-akhir ini, ketika aku teringat orang-orang yang pernah menjatuhkanku di masa lalu aku selalu mendoakan kutuk bagi mereka. Mulai dari yang paling kasar seperti “semoga kesamber geledek” sampai yang halus dan kedengaran Illahiah semacam “Semoga Tuhan menurunkan azab atasnya!” selalu menghiasi bibir dan benakku. Payahnya lagi, aku selalu membenarkan pikiran itu dengan dasar hukum “tabur tuai”, barang siapa yang menabur kebaikan ia akan menabur kebaikan, barang siapa menabur keburukan ia pantas di-azab-i kemalanngan!

Ada begitu banyak benteng yang kupakai untuk mengutuk orang lain dan benteng terkuat salah satunya adalah Tuhan.
Ya, Tuhan yang katanya Maha Welas Asih itu mau tak mau kupredikati sebagai Tuhan yang Maha Mengutuk.

Sebenarnya semuanya salah!
Bagiku, seburuk-buruknya orang yang telah menjahati kita, tak sepantasnya ia mendapatkan kutukan dan azab dari kita dan Tuhan.

Aku sadar, harusnya aku mengikuti ajaran tentang kekuatan untuk mengampuni semua orang tanpa terkecuali dan mendoakan yang terbaik bagi semua termasuk mereka yang menjahati kita itu.
Tapi lagi-lagi, setiap kusadar hal itu, aku selalu lantas mengunggulkan egoku untuk berkata, mengutuk dan menyumpahinya.

Makanya, mumpung lagi sadar, akupun menuliskan ini saat ini.
Sekadar sebagai pengingat dan siapa tahu kalian yang semoga tak pernah mengutuk orang lain, bangsa lain dan agama lain bisa memberikanku sebuah wacana tentang bagaimana cara mengampuni orang tanpa terkecuali?

Post to Twitter Post to Delicious Post to Digg Post to Facebook

This entry was posted in Cetusan and tagged , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

22 Comments

  1. ilcharama
    Posted June 23, 2010 at 3:13 am | Permalink

    sulit,
    tapi memang “tidak mengutuk” itulah yang seharusnya dilakukan.

    mungkin inilah salah satu alasan diciptakannya “surga” dan “neraka” oleh tuhan.

    salam damai.

  2. Posted June 23, 2010 at 3:53 am | Permalink

    hehehehe sama, lagi berusaha ‘biasa aja’, gak usah berlebihan kata :p
    btw itu banner dah boleh dicabut, don :)
    thx so much yaaaa :) :) :)

  3. Posted June 23, 2010 at 4:03 am | Permalink

    Heeemmmm jadi inget postinganku yg judulnya Tentang Memilih, setelah berjuang akhirnya bisa memilih utk tdk mengutuk…
    oooh jelas gak gampang, soal gimana caranya.. heem aku rasa itu berpulang sama perjalanan pribadi masing2 dengan Tuhan :) tiap org beda2 kayaknya…

  4. Posted June 23, 2010 at 1:21 pm | Permalink

    kalau kita bisa mengampuni orang yang telah menyakiti kita, sungguh mulia

  5. Posted June 23, 2010 at 1:32 pm | Permalink

    hmm .. aku juga gitu tuh .. susah banget ngga ngutuk .. walaupun sekarang paling cuma bisa bilang “awas karma!” .. Tapi sekarang ditambahin sama pertanyaan .. “apa yang Tuhan sedang ajarkan untuk aku dari insiden ini? .. sabar?” tapi lebih dari itu .. aku jadi belajar bahwa apa yg dilakukan org itu ga baik, brarti aku ga boleh lakukan itu sama org lain… baru sampe tahap itu sih blajarnya .. blon sampe blajar memaafkan .. susah euy ..

  6. Posted June 23, 2010 at 5:55 pm | Permalink

    tarik napas panjang dan tahan sebentar..coba redam kemarahan dan agar menghambat keluarnya kata2 kasar dan kutukan2 trsebut keluar dari mulut kita..lebih baik bersabar dan berlapang dada. Biarlah Tuhan yang atur hukum tebar dan tuai itu

  7. Posted June 23, 2010 at 6:22 pm | Permalink

    Kadang berhasil, kadang gagal… Itulah reputasiku dalam meredam keinginan untuk mengutuki orang yang menjahati aku (jiah, bahasanya…)

    Tapi ya begitulah, Don… buat gue, itu menunjukkan kalau “we are just human being, not even a prophet..)

  8. Posted June 23, 2010 at 6:57 pm | Permalink

    namanya sedang emosi, kekesalan berupa kutukan pun terlontarkan. saya pun juga pernah begitu. perlu belajar berbesar hati untuk memaafkan. Tuhan saja pemaaf mengapa kita manusia tidak

  9. Posted June 23, 2010 at 7:28 pm | Permalink

    Katanya, ucapan itu bisa jadi doa. Dan semakin sering kita mengutuk sesorang, lama2 dia bisa benar2 terkena kutukan. Jadi memang harus hati2 menjaga cakap.
    Tapi Don, dalamnya hati kan tiada yang tahu. Orang kalau sudah sakit hati, biasanya tanpa sadar dan kemudian jadi sadar memang ingin membalas. Coba saja, kalo misalnya kita lagi di jalan terus ada motor gila ngebut2 salip salip sambil geber2 gas. Gitu dia motong kita, ternyata di depan ada mobil pasir, lalu diapun nyungsep. Pasti deh refleks ngucap, “Mampus kau, hahahaaa..” karena rasa jengkel itu terbalaskan. LOL. Emang susah sih Don, tapi bener2 gw hrs ingat diri semoga ga pernah mengutuk orang..

  10. Posted June 23, 2010 at 8:24 pm | Permalink

    memang benar, mas don, tak ada untungnya mengutuki orang, meski mereka telah menjatuhkan kita di masa silam. doakan saja semoga pintu ampunan Tuhan terbuka untuknya.

    • Posted June 24, 2010 at 2:35 am | Permalink

      Kalau saya memahami prinsip “tabur tuai” itu sebatas relasi kita sendiri dengan Tuhan, artinya bukan kita sendiri dengan orang lian. Itulah sebabnya, selalu berbuat baik tentu akan menuai kebaikan. Ini prinsip saya, Om. Sebab, kebaikan itu semata-mata berasal dari Tuhan, bukan manusia.

      Salam kekerabatan.

  11. Posted June 24, 2010 at 8:03 am | Permalink

    “seburuk apapun kelakuan dan kesalahan siapapun tak pantas dapat kutukan, bahkan dari tuhan”, sependapat…tapi kurukan dalam pengertian seperti apa?…mas

  12. Posted June 24, 2010 at 5:02 pm | Permalink

    Betul Don, jika masih ingat hal yang menyakitkan maka pikiran kita akan ke sana terus, dan membuat kita tak tenteram.
    Jika disakiti orang dan kita mendoakan agar orang itu dibukakan hatinya, dan berbuat kebaikan untuk orang lain, kita sudah memasrahkan diri pada Yang Maha Kuasa, dan pikiran jelek kita akan lenyap. Hati kita yang bersih akan membuat lebih semangat.

    Ingat nggak istilah “geting nyanding”……?

  13. Posted June 24, 2010 at 10:31 pm | Permalink

    kalau sedang sadar sih biasanya saya tarik nafas dalam-dalam lalu mendoakan semoga yang “bersangkutan” senantiasa dilindungi dan diberi keberlimpahan rejeki. masalahnya,
    “kesadaran” itu tidak bisa dipantek mati … kadang ada saja masanya saya seperti kebanyakan orang.

  14. Posted June 25, 2010 at 2:45 pm | Permalink

    Wah, postingan berat…. Kalau aku nggak bisa semulia itu Pak. Aku tetap ada walau hanya 1-2 gelintir orang yang aku benci selama hidupku, dimana aku berani berkata, walau mereka mati hari ini, aku tidak akan merasakan apa-apa, bahkan mungkin akan merasa “Sedikit” bahagia.

    Bejad memang, tapi nggak tau ya…

    Yang pasti, yang terbaik aku bisa lakukan, aku sudah ngomong terus terang kepada mereka, meminta maaf kalau aku nggak suka mereka, berikut penjelasanku kepadanya. Ngomong dengan baik2 sih, bukan main labrak.

    Tapi ya sudah, yang bisa kulakukan cuman itu, dan gak berurusan lagi dengannya, daripada jadi racun dalam hati huhuhu.

    Maklum…

  15. Posted June 25, 2010 at 5:33 pm | Permalink

    Gw seh yakin banget Mas dengan hukum tabur tuai. Kalo ada orang yang jahatin kita, walopun kita ga ngebalesnya, pasti ada ajah balesannya buat dia, entah Tuhan yang kasih peringatan langsung, ato lewat orang lain.

  16. Evelyn S.R Siregar
    Posted June 26, 2010 at 11:00 am | Permalink

    Saya selalu inget ayat ini mas, “Orang bijaksana dapat menahan kemarahannya. Ia terpuji karena tidak menghiraukan kesalahan orang terhadapnya””
    Jd kalau pengen bgt marah2, saya sebisa mungkin berdiam diri dulu mas..,,

  17. Febry Satria
    Posted June 26, 2010 at 5:00 pm | Permalink

    “Sehebat-hebatnya seseorang, adalah orang yang bisa mengalahkan nafsunya ketika marah”. Jadi biarkan Tuhan yang menilai sendiri… :)

  18. Fonny
    Posted June 26, 2010 at 5:27 pm | Permalink

    Aku juga kalo lagi sadar pastinya lebih bisa mengendalikan diri tapi coba kalo lagi gak sadar ahahahaha, sulit ternyata:) musti usaha dan belajar terus tanpa henti, moga2 lebih baik itu aja sih. Kalo mau 100% pastinya gak mudah hahaha…realistis mode on…

  19. Posted June 26, 2010 at 9:06 pm | Permalink

    Aku juga pernah ngalamin, mengutuk orang lain yang sudah menjahati aku. Tapi aku sadar, itu dosa (meski aku masih bisa merasa “puas” melihat orang tsb tertimpa kemalangan).

    Setelah semakin dewasa, aku berusaha untuk nggak segampang itu melemparkan kata kutukan. Aku manusia biasa, kadang godaaan untuk mengutuk itu masih ada. Pancen kudu latian mengendalikan lidah … :)

  20. Posted June 29, 2010 at 2:24 pm | Permalink

    aku selalu berusaha memaafkan orang yang menyakiti aku, tapi terkadang amarah itu bisa tiba-tiba menyerang ketika sakit yang pernah ditorehkannya begitu terasa…

    xixixixi…sangar ra bahasaku, mas? :P

  21. Posted July 3, 2010 at 2:19 am | Permalink

    namanya manusia mas terkadang lupa…kalau tuhan saja bisa memaafkan masak kita gak bisa *susah sih…aku akuin itu :D *

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.