Diek (4)

Aku menuliskan rangkaian kisah tentang ayahku dan kepergiannya. Simak kisah sebelumnya di Diek (1), Diek (2) dan Diek (3)

Aku luluh. Lantak.
Perasaanku acak-acakan. Sepanjang perjalanan dari Denpasar ke Jogja, aku merasa otak dan hatiku tak menyelaras dengan tubuhku. Berkali-kali kukatakan pada diriku sendiri bahwa sejak pagi itu aku telah berubah status menjadi anak yatim… anak yatim… anak yatim… Tapi berulang-ulang kali pula sisi hatiku yang lain menolak kenyataan dengan berkata, “Tidak! Papa masih ada… Papa masih ada.. Papa masih ada!” Namun, ketika kusematkan logika dan mengingat secara runut bagaimana tadi istriku menelpon mengabarkan duka tentang kepergian Papa, menyerahlah aku pada kenyataan bahwa Papa memang benar-benar sudah tiada.

Air mata tak terbendung, terus-menerus mengalir…
Hingga kira-kira seperempat jam sebelum aku mendarat di Jogja, tiba-tiba aku teringat ucapan istriku sesaat sebelum berangkat kemarin sore. “Apapun yang terjadi, kamu jangan nangis di Klaten! Kasihan Mama dan Citra… mereka sudah sangat sedih dan letih.. mereka butuh sandaran! Dan kamulah… (sandarannya)!”

Aku lantas berusaha tegar. Stimulasi pikiran-pikiran yang menetralisir kepedihan kuhadirkan. Mulai dari mencari puncak Merapi dari ketinggian pesawat, membayangkan Jogja yang hendak juga kusambangi segera setelah Papa dimakamkan.. dan.. ohhh.. kenapa sampai ke pikiran tentang Papa lagi… Pikiranku benar-benar runyam, bagai sebuah loyang air yang terguncang-guncang, airnya terpercik ke segala arah membasahi hari yang masih pagi itu.

Pesawat mendarat sesuai jadwal. Tanah Jogja kuinjak lagi setelah tiga bulan sebelumnya juga kuinjak.
Menuju ruang pengambilan bagasi, mataku nanar menatap ke arah pintu keluar. Tiga bulan lalu, Papa menjemputku. Ketika itu aku sibuk mencari wajah dan mereka-rekanya akan sudah setua apa mereka setelah dua tahun tak bersua… namun kini, aku tak menemukan wajah Papa di sana. Tak ada senyumnya dibalik kaca dan lambaian tangan yang berbicara “Hey, ini aku Papamu!” dan aku membalas dengan lambaian tangan hangat bernada “Oh, itu Papa! Ini aku, anakmu!” Semua benar-benar sudah tak ada lagi.

Setelah mengambil barang bawaan aku keluar dan berjumpa dengan Pak Karyuli, sopir langganan dari perusahaan persewaan mobil langganan yang kerap kupakai kalau aku pulang, dan telah beberapa lama menungguiku.

“Pripun Bapak, Mas Donny?” (Bagaimana Bapak, Mas Donny - jw) Aku bersalaman dengannya.
“…Mpun mboten wonten, Pak! (Sudah tiada, Pak! -jw)” ujarku tenang… mencoba tenang lebih tepatnya… sementara ia terkejut, terkesiap.

Mobil segera melesat ke Klaten.
Sepanjang perjalanan aku berusaha mengalihkan pembicaraan dari seputar kepergian Papa ke soal apa saja yang menarik untuk dibicarakan bersama Pak Yuli, demikian aku memanggilnya. Namun, jalannya roda tak dapat lebih diperlambat seperti detik yang terus maju mengantarkanku hingga ke gerbang gang rumah di Klaten.

Di sana, di portal yang dipasang di gerbang gang rumahku, kulihat bendera merah tanda duka dikibarkan, “Ya, itu pasti untuk Papaku!” batinku. Aku memutuskan untuk tak membawa mobil hingga ke depan rumah karena selain sempitnya jalan aku toh tak mau menganggu kesibukan keluarga dan tetangga mempersiapkan upacara perkabungan.

Namun meski demikian, toh perhatian orang tetap tertuju padaku segera sesudah aku turun dari mobil. Mereka menatapku dalam-dalam seolah ingin merengkuhku dalam kedukaan ini. Tapi aku lelaki dan kini menjadi satu-satunya lelaki di keluarga orang tuaku! Pantang untuk direngkuhi karena aku harus kokoh, harus kuat dan tegar.

Aku memilih untuk tak larut dalam kepedihan di depan mereka. Sebaliknya, satu per satu kusalami dan kepadanya kutawarkan senyuman dan ucapan terimakasih atas perhatian dan bantuannya dalam perkabungan ini. Tak satupun terlewati dari mereka hingga kaki semakin dekat menuju gerbang rumah, gerbang yang dulu selalu aku dan Mama pakai untuk mengantar Papa kembali berangkat bekerja ke Kebumen pada setiap minggu sore itu.

Lalu menyembulah Citra dari dalam rumah yang telah dipasangi tenda-tenda. Ia memelukku erat dan menangis sejadi-jadinya ke arahku sambil berkata, “Mas, Papa sudah nggak ada!”
Kuusap rambutnya dan kuelus punggungnya. “Ya.. yang sabar… sabar!” ujarku tanpa airmata dan suara yang tegar.

Hampir berbarengan dengannya, Omku, adik mamaku memelukku juga dengan haru, tapi aku tetap tak menangis. Kusunggingkan senyum dan kukatakan padanya, “Makasih, Mas. Papa sudah di surga!”

“Ayoh.. masuklah, Mamamu menunggu di kamar…” ujarnya.
Aku lalu masuk ke dalam rumah sementara di ruang tamu yang kursi-kursinya telah dikeluarkan, jasad Papa terbaring di sana tertutup selubung kain batik. Kaku. Salah satu tanteku, adik Mama, mendaraskan rosario di sampingnya seolah mendupai jasad yang selama 56 tahun belakangan dipakai oleh seorang bernama Didiek Hardiono, Papaku.

Aku masuk menuju ke dalam kamar.
Mama kudapati lunglai tapi tetap dapat duduk, tertunduk, terdiam. Duka yang menyayatnya tampak dari tirus wajah dan kantong mata yang berlipat. Kuraih punggung tangannya dan kucium dalam-dalam, ia memegang rambutku dan sekejap kemudian histeris memelukku.

Tak lama Citra pun ikut masuk ke dalam dan memelukku pula. Mereka berdua menangis tak tertahankan sementara aku tetap teguh dan tegar. Tiada air mata yang kukeluarkan dan memang sebagai lelaki aku tak memerlukan itu. Kepada langit yang kupandangi melalui jendela kamar itu, aku berujar pada keduanya, “Kita pasti kuat! Pasti kuat! Tuhan Yesus bersama kita! Kita pasti kuat!”

Semakin kueratkan, kedua tanganku memeluk dua wanita yang kini menganggapku sebagai sandaran terkokoh dan terkuat sejak ayahku membeku tadi pagi dan tak kan pernah bisa bangun lagi. (Bersambung…)

15 komentar… add one

  • zee 21 April 2011

    Hmm.. Menangislah Don, sedikit juga tidak apa..

  • vizon 21 April 2011

    Kesedihan memang tidak selalu harus diekspresikan lewat airmata bukan?
    Ketegaranmu itu memang patut diacungi jempol, Don

  • Yessi 21 April 2011

    aku nangis moco tulisanmu, mas…
    aku dadi kelingan almarhum mamaku :(

  • Tuti Nonka 22 April 2011

    Ketika bertemu di Lombok Ijo, dan kamu menceritakan kepergian papamu dengan tenang serta tegar, kupikir kamu memang benar-benar tak terlalu sedih. Alangkah pandainya kamu menahan kesedihanmu, Don …
    *aku menangis lagi membaca posting ini*

  • ello aristhosiyoga 22 April 2011

    wadu aku telat masuk/.. harusnya aku baca yang diek 1, 2, 3 dulu ya…. maaf.

  • shancai 22 April 2011

    aku tau, km pasti sgt kehilangan…., sama…. aku jg sdh mengalaminya don???

  • edratna 23 April 2011

    Donny,
    Berjuang tak menangis sangat berat
    Tatkala sudah tak ada orang lain, barulah air mata tumpah….

    Saya bisa membayangkan Don, sama seperti ayahku meninggal saat usia 56 tahun, dan saat itu saya udah berencana menikah. Akhirnya saya dipersatukan di depan jenazah ayah alm.

  • Arie Budi S. 24 April 2011

    “Hampir berbarengan dengannya, Omku, adik mamaku memelukku juga dengan haru, tapi aku tetap tak menangis. Kusunggingkan senyum dan kukatakan padanya, “Makasih, Mas. Papa sudah di surga!”

    Bos, Om mu, adik mama mu, koq ngundang e “mas”? bukannya Paklik?

  • Arie Budi S. 24 April 2011

    Hampir berbarengan dengannya, Omku, adik mamaku memelukku juga dengan haru, tapi aku tetap tak menangis. Kusunggingkan senyum dan kukatakan padanya, “Makasih, Mas. Papa sudah di surga!”

    Bos. Om mu, adik mama mu, koq ngundang e “mas”? bukannya Paklik?

    • DV 24 April 2011

      Halo Rie, good catch :)
      Jarak usia antaraku dengan adik-adik Mamaku memang nggak terlalu jauh jadi aku terbiasa memanggil mereka sebagai “Mas/Mbak” ketimbang “Om/Tante” ataupun “Paklik dan Bulik” hehehe…

      Bahkan, memanggil Eyang (Ibunya Mama) aku tidak pake “Eyang” atau “Mbah” tapi pake “Ibu” :)

  • nanaharmanto 26 April 2011

    Sebuah pilihan untuk menangis atau nggak menangis, bagiku pribadi, aku nggak mengharamkan laki-laki dewasa menangis… sah-sah saja menangis…
    Beruntunglah mama dan adikmu memiliki kamu, Don…
    Semoga papamu beristirahat dengan damai dalam pelukan Tuhan…

  • Riris E 26 April 2011

    Menangis saat sendiri tidak salah, Don. Karena menangis adalah “bahasa” yang mewakili perasaan yg tak terucapkan. Salut dengan ketabahanmu.

  • Ceritaeka 27 April 2011

    Brebes mili…

  • bebe 27 April 2011

    4 thumbs up….
    airmataku berlinang tak henti,
    Menangislah karena itu anugerah yg Tuhan sediakan untuk kita sebagai ungkapan isi hati..
    ntah disaat sedih atau terharu senang….airmata mengalir dan tersedia sebagai perwakilan atas rasa’ tsb.

  • sibair 27 April 2011

    Saya beneran takut klo melihat jasat keluarga sendiri mas don, saya belum pernah melihatnya saat ini.. mungkin nanti saya akan mempersiapkan dengan baik saat ini. Agar kuat ketika melihat sanak sawdara saya tergeletak lemas tak bernafas nantinya… :(

Leave a Comment

Postingan selanjutnya:

Postingan sebelumnya: