<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata &#8482;</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Feb 2010 17:00:47 +0000</lastBuildDate>
	
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Leo, singa yang mengaum</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/02/06/leo-singa-yang-mengaum.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/02/06/leo-singa-yang-mengaum.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 17:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Permenungan]]></category>
		<category><![CDATA[obituari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[Leo, Leonardus Raditya.
Aku mengenalnya sejak delapan tahun silam saat ia masih gemar mengaum.
Kalian boleh menganggap kata &#8216;mengaum&#8217; ini betulan karena sebagai Leo yang artinya &#8217;singa&#8217; ia memang dulunya dikenal cukup beringas meski siapa nyana, dibalik segala keberingasannya itu, Leo yang kukenal adalah seorang yang cerdas, brillian dan memiliki tingkat kepekaan lingkungan yang tinggi.
Ia adalah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Leo, Leonardus Raditya.<br />
Aku mengenalnya sejak delapan tahun silam saat ia masih gemar mengaum.</p>
<p>Kalian boleh menganggap kata &#8216;mengaum&#8217; ini betulan karena sebagai Leo yang artinya &#8217;singa&#8217; ia memang dulunya dikenal cukup beringas meski siapa nyana, dibalik segala keberingasannya itu, Leo yang kukenal adalah seorang yang cerdas, brillian dan memiliki tingkat kepekaan lingkungan yang tinggi.</p>
<p>Ia adalah satu dari sedikit orang yang kukenal di lingkungan &#8216;rohani&#8217; yang masih mau berpikir dan beropini lebih dari sekedar mengungkap &#8220;<em>Ya, pasrah deh ke Tuhan apapun yang terjadi!</em>&#8221; atau &#8220;<em>Menurut kitab suci&#8230;ini yang benar!</em>&#8220;.</p>
<p>Ia selalu mau berusaha untuk apapun yang harus diusahakannya dan menilik ke sisi moralitas yang berpihak pada manusia ketimbang belum apa-apa sudah membuka buku tebal nan suci untuk jadi tempat referensi yang tertinggi.<br />
Tidak, setahuku tidak sama sekali seperti itu.</p>
<p>Sejak awal perkenalan, akupun jadi tak butuh waktu lama untuk dapat akrab dengannya.  Maklum, sedikit banyak, aku juga berpandangan yang kurang lebih sama dengannya.</p>
<p>Ketika dulu aku masih sering ke Solo, pada saat aku harus pulang kemalaman ke Jogja dan aku belum punya kendaraan, Leo yang asli Solo itu, dengan bebek kawasaki hitamnya adalah sahabat setia yang selalu menawarkan diri dengan bilang &#8220;<em>Ayo! Kuanterin ke terminal sekalian aku juga mau jalan pulang</em>!&#8221; Meski kutahu rumahnya sebanarnya tak searah dengan terminal.</p>
<p>Semenjak tahun 2003, boleh dibilang frekuensiku bertemu dengan Leo lantas berkurang bukan karena apa-apa, tapi karena aku perlu melakukan banyak hal &#8216;real&#8217; di tempat kerja meskipun di hari Minggu sekalipun. Namun hal ini tak lantas membuat hubunganku dengannya putus begitu saja meski merenggang, iya.</p>
<p>Setiap ada kesempatan pergi ke jogja, ia selalu mengabarkan bilamana aku ada kesempatan untuk bertemu sapa dengannya meski sebaliknya ketika aku ada tugas ke Solo, aku selalu tak lupa untuk berpikir apalah gunanya menghubunginya karena aku begitu repot!</p>
<p>Tahun demi tahun beranjak, aku semakin jarang berhubungan dengannya.<br />
Tapi media internet adalah lorong serta corong terbaik yang selalu mempertemukanku dengannya dan menyuarakan kabar baik tentang Leo, sobat lamaku itu. Hingga dua bulan lalu, aku masih berkomunikasi cukup intens lewat facebook dan dari sana kutahu ia sedang sakit meski aku tak tahu dan tak mau tahu apa macam sakitnya.</p>
<p>Bukannya tak peduli, tapi lebih pada pemikiran bahwa ia adalah Leo, singa mengaum yang sepertinya tak ada dan tak kan pernah ada yang sanggyup mengalahkannya termasuk penyakit sekalipun!</p>
<p>Namun kali ini anggapanku salah.<br />
Sebuah penyakit <em>auto-immune</em> yang sangat jarang ditemui dan belum terdefinisi jenis dan namanya pada akhirnya berhasil mengurung Leo dalam keterpurukan selama setahun terakhir. Hingga pada akhirnya, penyakit itu pula yang mengantarkannya pulang ke tempat semua kita juga akan berpulang.</p>
<p>28 Januari 2010.<br />
Leo, Lenardus Raditya, sobat lamaku itu pergi tanpa pesan tapi penuh damai dan sejahtera.<br />
Dalam bayangku, proses hidupnya yang tak lebih dari 29 tahun itu layaknya sebuah musim kemarau dimana ia seperti halnya singa yang menampakkan diri di rerumputan padang ilalang namun seketika, sesaat sebelum musim dingin tiba, ia berlalu kembali masuk ke rerimbunan hutan demi sebuah kehangatan yang tak kan dapat ditemuinya di padang ilalang dan sejak saat itu tak memunculkan diri lagi.</p>
<p>Selamat jalan, Leo!</p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/02/06/leo-singa-yang-mengaum.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Produk easy to use, produk ramah lingkungan</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/02/03/produk-easy-to-use-produk-ramah-lingkungan.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/02/03/produk-easy-to-use-produk-ramah-lingkungan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 17:00:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=513</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu silam, aku membeli iPhone tipe terbaru (lebih tepatnya berlangganan koneksi telepon dalam ikatan kontrak ber-periode lalu diberi iPhone secara cuma-cuma untuk operasionalnya).
Bagus? Jelas! Apple gitu loh! 
Tapi selain itu, yang cukup mengagetkan adalah kecilnya bungkus (package) yang kuterima serta nyaris tak ada user guide yang menyertainya kecuali dua bundle kecil bertajuk Finger Tips [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu silam, aku membeli <em>iPhone </em>tipe terbaru (lebih tepatnya berlangganan koneksi telepon dalam ikatan kontrak ber-periode lalu diberi iPhone secara cuma-cuma untuk operasionalnya).</p>
<p>Bagus? Jelas! <em>Apple </em>gitu loh! <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Tapi selain itu, yang cukup mengagetkan adalah kecilnya bungkus (package) yang kuterima serta nyaris tak ada user guide yang menyertainya kecuali dua bundle kecil bertajuk Finger Tips dan Important Product Information Guide.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S2fatIW_MyI/AAAAAAAAAXU/Eqw3a3DVbVU/iphone_001.jpg" alt="Bungkus (package) iPhone yang begitu mungil" width="500" height="360" /></p>
<p>Terkait dengan hal ini, akupun bertanya kepada penjaga gerai, &#8220;<em>Lho, lha ini cara pakainya gimana? User guide-nya kok cuma ini?</em>&#8221;</p>
<p>Dengan cekatan, ia pun menjawab &#8220;<em>Oh, trust me deh, kamu bahkan nggak perlu pake User Guide. Gadget ini canggih, nice dan.. easy to use, Mate!</em>&#8221;<br />
Akupun mlongo dan berharap bisa percaya omongannya.</p>
<p>Tapi benar saja!<br />
Sesaat setelah menggunakannya sesampainya di rumah, kesanku, iPhone ini memang sangat mudah dioperasikan.</p>
<p>Yang dibutuhkan mutlak hanya kemauan dan waktu untuk &#8216;terbiasa&#8217; menggunakannya. Aku praktis tak perlu membaca &#8216;Petunjuk Singkat&#8217; karena memang aku tak melihat ada hal lain yang tersembunyi ataupun disembunyikan selama pengoperasiannya.</p>
<p>Kalaupun sedikit merasa bingung, aku tinggal coba-coba pencet sana dan pencet sini, kalaupun tak ketemu apa yang kumaksud aku bisa melanjutkannya dengan browsing informasi via Google dan tak sampai sekejap, ratusan bahkan ribuan tips dan trik serta tutorial pengoperasian iPhone yang diunggah oleh para pengguna kutemukan di sana. (Riset kecil-kecilan, melalui Google, dengan menggunakan keyword Iphone tutorial, kutemukan 24.100.000 hasil pencarian sementara dengan keyword iPhone tips and tricks kutemukan 21.700.000 hasil pencarian.)</p>
<p>Oh ya, aku juga tak perlu takut pula bahwa &#8216;barangku bisa rusak&#8217; hanya karena pencet sana dan pencet sini karena kutahu bahwa secara arsitektural, apapun yang kulakukan terkait dengan &#8217;software&#8217; tak&#8217;kan menghancurkan &#8216;hardware&#8217; yang menjadi framenya&#8230; Kalaupun kebangetan dan hilang peta ya tinggal di -factory reset, maka semuanya kembali seperti sedia kala.</p>
<p>Hal ini lantas membawaku dalam permenungan yang menurutku menarik bahwasanya keterbatasan kadang justru membuat kita berpikir semakin cemerlang dan kreatif.</p>
<p>Pandanglah pada isu pemanasan global dan realita berkurangnya luas hutan alami di muka bumi.<br />
Kedua hal tersebut mau tak mau membawa dampak yang tak terlalu menarik bagi industri yaitu ketatnya tata aturan penebangan pohon yang berdampak pada mahalnya harga kertas yang bahan bakunya adalah kayu dari pohon yang ditebang.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S2fatWb6UWI/AAAAAAAAAXY/Uo0Mzkhu6R0/iphone_002.jpg" alt="" width="500" height="374" /><p class="wp-caption-text">Dua bundle &quot;User Guide&quot; yang tipis dan nyaris tak terpakai <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p></div>
<p>Otomatis, produsen (dalam hal ini gadget) yang meletakkan arah pemikirannya dalam kerangka tradisional nan primitif akan berteriak bak kebakaran jenggot semata-mata karena ia harus membayar ongkos lebih untuk sekadar mencetak &#8216;User Guide Manual. Menutup perusahaan dan mulai teriak-teriak (syukur-syukur tak lantas jadi politikus) seakan mampu mengenyangkan perut anak istrinya yang kelaparan.</p>
<p>Akan tetapi, bagi mereka yang &#8217;siap berubah&#8217; menyesuaikan keadaan, hal-hal yang mencekik seperti ini tentu justru akan memompa adrenalin sekaligus mengasah serta menguji seberapa runcing otak dan naluri bisnis mereka.</p>
<p>Karena aku selalu tak mau diposisikan pada mereka yang berpikir primitif nan udik itu, melalui tulisan ini aku mencoba mereka-reka tentang aras (level) eksekusi perancangan produksi menyikapi keterbatasan itu tadi.</p>
<p>Level pertama atau sebutlah solusi yang pertama adalah dengan tak mengubah apapun terhadap produk yang dihasilkan serta ketebalan user guide yang disertakan namun mengubah media penyampaian yang semula kertas menjadi paperless semacam CD (offline) maupun website (online). Penggunaan helpdesk juga akan dioptimalkan kalau-kalau CD dan website yang dihadirkan tetap membuat orang kebingungan dan mentrigger mereka untuk bernafsu menelpon support center-nya.</p>
<p>Level kedua adalah dengan cara melakukan inovasi besar-besaran terkait produk itu sendiri dan meminimalisasikan serta kalau perlu meniadakan userguide baik itu lewat offline maupun online media. Inovasi yang kumaksud adalah dengan mengoptimalkan aspek kemudahan penggunaan karena bukankah awal mula adanya user guide adalah mengatasi kesulitan dan mendatangkan kemudahan?</p>
<p>Skala kemudahan pun lantas direntangkan pada berbagai macam aspek perhitungan mulai dari tua/muda usia pengguna, strata pendidikan dan ekonomi dan lain sebagainya hingga pokoknya, istilah kata, anak TK pun bisa memakainya.</p>
<p>Solusi pertama tidaklah buruk karena setidaknya antisipasi keadaan tercermin dari sana.<br />
Namaun jika ingin optimal, solusi/level kedua di atas barangkali adalah yang paling bagus karena ibarat kata, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Sekali inovasi, maka secara tak langsung kita telah turut berperan meredam laju kerusakan alam dan secara langsung kita telah memberi value yang lebih besar dari produk yang kita ciptakan; tak hanya canggih saja namun juga, sekali lagi, easy to use.</p>
<p>Pola pikir seperti solusi kedua yang terimplementasi ke dalam produk yang dihadirkan untuk memudahkan hidup manusia itulah yang kuanggap adalah sebuah sikap hidup yang begitu penting yang perlu ada di setiap benak yang masih ingin hidup lebih lama lagi di dunia ini.<br />
Sikap yang tetap berpikir global dan maju ke depan namun tetap ramah lingkungan&#8230;</p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/02/03/produk-easy-to-use-produk-ramah-lingkungan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ATM, Anjungan Tunai Mandiri</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/01/30/atm-anjungan-tunai-mandiri.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/01/30/atm-anjungan-tunai-mandiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 17:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[atm]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[tabungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[Persoalannya adalah, aku tak terlalu pintar untuk menulis sesuatu yang brilian terkait dengan kasus bobolnya rekening tabungan ratusan orang di Bali beberapa waktu silam. Jadi, kupikir ada baiknya kucuekin saja permintaan seorang teman tentang tulisan &#8216;tips and trik menggunakan kartu ATM yang aman&#8217; lalu kurangkai cerita-cerita ringan yang semoga menarik yang masih terkait dengan pengalamanku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Persoalannya adalah, aku tak terlalu pintar untuk menulis sesuatu yang brilian terkait dengan kasus bobolnya rekening tabungan ratusan orang di Bali beberapa waktu silam. Jadi, kupikir ada baiknya kucuekin saja permintaan seorang teman tentang tulisan &#8216;tips and trik menggunakan kartu ATM yang aman&#8217; lalu kurangkai cerita-cerita ringan yang semoga menarik yang masih terkait dengan pengalamanku menggunakan jasa bank khususnya kartu ATM.</p>
<p><strong>Kena Hipnotis! Cukup 20 ribu saja <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;"><strong><span style="font-weight: normal;"><strong><span style="font-weight: normal;"><strong><span style="font-weight: normal;">Aku pernah terhipnotis ketika sedang menarik uang di sebuah bank di Yogyakarta. <strong><span style="font-weight: normal;">Kejadiannya terjadi pada sebuah akhir bulan di sekitar awal 2000-an, pada suatu siang yang ramai, aku berniat mengambil uang sebesar 20 ribu saja melalui anjungan ATM karena memang hanya jumlah itulah yang kuingat tersisa di dalam tabunganku.</span></strong></span></strong></span></strong></span></strong></span></strong></p>
<p>Ketika sampai di hilir antrian, aku segera memasukkan kartu ATM, menekan tombol kombinasi password lalu menunggu sang mesin mengeluarkan uang. Lantas tiba-tiba hidupku seperti berhenti seketika, aku tak ingat apa-apa selama at least 10 menit lamanya.</p>
<p>Hingga akhirnya aku tersadarkan kembali ketika Pak Satpam yang semula berjaga di pintu menyapaku, <em>&#8220;Mas, sampeyan itu ngapain kok nongkrong lama benar di depan ATM? Kan kasian yang belakangnya sudah pada nunggu. Lho, lho.. Kartu ATM-nya Masnya mana?&#8221;</em></p>
<p>Akupun gelagapan tak keruan seperti orang yang baru sadar dari lamunan super dalam.</p>
<p><em>&#8220;Aduh! Tadi kayaknya saya barusan tadi sudah memasukkan kartu lalu bersiap mengambil uang lho Pak!&#8221;</em></p>
<p>Aku raba-raba saku celana dan memeriksa bibir anjungan yang biasa dijadikan tempat memasukkan kartu.. dan tak kutemukan kartu di sana juga di dalam mesin itu sendiri, baik kartu ATM maupun uang 20 ribu yang seharusnya kuterima lenyap tanpa bekas.</p>
<p>Aku segera beringsut pergi dengan perasaan tetap bingung, apa yang terjadi!?!</p>
<p>Dengar punya dengar, dari orang-orang berbisik di sekitarku, &#8220;<em>Mas-e bar keno hipnotis!</em>&#8221; (Si Mas abis dihipnotis)<br />
Akupun lantas mendefinisikan keadaan yang aku sendiri tak bisa mendefinisikannya sebenarnya, bahwa aku terkena hipnotis.</p>
<p>Tapi tak lama kemudian aku tak terlalu memedulikannya.<br />
Aku lebih berkonsentrasi untuk mencari hutangan 20 ribu untuk menyambung hidup selama beberapa hari ke depan tanpa harus menghipnotis orang yang akan meminjamiku nantinya!</p>
<p><strong>Dua Minggu, Dua Kartu ATM!</strong><br />
Sekitar awal tahun 2003, ketika trauma soal hipnotisku mereda, kali ini justru karena keteledoranku, aku kehilangan kartu ATM dengan cara yang sangat <em>silly</em>, meninggalkan kartu sesaat setelah uang kutarik dari anjungan. Untung tabunganku yang tak seberapa itu tak lenyap dan tak sampai seminggu kemudian, pada tanggal yang telah ditentukan, aku bergegas menuju ke kantor cabang bank tersebut untuk mengambil kartu ATM yang baru.</p>
<p>Dari petugas customer service, kuperoleh informasi bahwa untuk menggunakan kartu tersebut, aku harus segera melakukan proses inisalisasi dengan cara mengakses kartu di anjungan ATM menggunakan password yang telah ditentukan dan tertera di amplop. Namun sayangnya, anjuran dari petugas itu tadi tak kuindahkan. Aku memilih untuk bergegas makan siang terlebih dahulu baru kemudian kembali ke anjungan untuk melakukan inisiasi. Dan satu keteledoran lain telah kulakukan nyaris tanpa sadar; aku membuang amplop yang berisi PIN standard yang harusnya kumasukkan untuk proses insialisasi kartu ATM tadi ke tempat sampah ketika aku keluar dari kantor bank.</p>
<p>Di depan anjungan, aku berjuang keras untuk mengingat PIN yang tadi sempat kubaca.</p>
<p>Sekali&#8230; gagal!</p>
<p>Dua kali&#8230; gagal pula!</p>
<p>Dan untuk yang ketiga kalinya, aku nekat.. aku gagal!</p>
<p>Anjungan tak memberiku kesempatan yang keempat, kartu ATM yang umurnya belum sehari itu telah kembali ke alam asalnya, bersatu kembali dengan kartu-kartu yang bernasib sama dengannya. Dengan sangat menyesal, aku kembali ke customer service untuk me-request kartu yang baru.</p>
<p>Dan sialnya, si Bapak petugas itu masih pula ingat</p>
<p><em>&#8220;Lho, Mas kayaknya tadi kan barusan ambil tho?&#8221;</em> Aku menjelaskan dan dia berkomentar <em>&#8220;Walah.. ketelan lagi?&#8221;</em></p>
<p><strong>Kartu tertelan lagi, kali ini di Australia</strong></p>
<p>Sebuah pagi di depan Wynyard Station, aku butuh mengambil 20 dollar untuk membeli kopi dan memenuhi kebutuhan makan siang hari ini. Aku segera mampir ke sebuah ATM dan seperti biasa memasukkan kartu ATM.</p>
<p>Setelah memasukkan jumlah uang yang kumaksud, kutekan Enter, dan kertas note keluar.</p>
<p><em>&#8220;Wah, kok ra metu tho duite?&#8221;</em> (wah kok nggak keluar uangnya) gumamku.</p>
<p>Kukeluarkan kartuku, kumasukkan ulang dan kulakukan hal yang sama, mengetikkan jumlah uang yang kumaksud, tekan Enter&#8230; dan kertas note keluar lagi.</p>
<p><em>&#8220;Asu! Kok ra metu tho duite?!??!&#8221;</em> (Asu! Kok nggak keluar uangnya) gumamku lagi.</p>
<p>Sekali lagi, kukeluarkan kartu, kumasukkan ulang dan kulakukan hal yang persis sama&#8230; dan kertas note yang keluar.</p>
<p><em>&#8220;Munyuk!&#8221;</em> (Munyuk) Aku baru tertarik untuk membaca kertas notenya dan ASTAGANAGAAA!!!!! Di kertas note itu tertulis<em> </em><em>&#8220;Password yang Anda masukkan salah!&#8221;</em> Dan di layar tertulis <em>&#8220;Anda telah mencoba tiga kali tanpa memasukkan password&#8221;</em></p>
<p>Mukaku memerah, dadaku berdegup, dan mendadak kebelet pipis tapi kesemuanya itu tak bisa mengibakan hati anjungan untuk mengeluarkan kartuku daripadanya.</p>
<p><strong>Sebulan, Lupa Password</strong></p>
<p>Sebulan sesudah aku mendapatkan kartu ATM yang baru, pada sebuah malam, istriku menawariku untuk membawa uang lebih untuk esoknya masuk kerja karena aku perlu membeli sesuatu.</p>
<p><em>&#8220;Ambil di dompetku aja Hon, semaumu&#8221;</em> ujar istriku padaku.</p>
<p><em> &#8220;Ah males harus naik ke atas, aku ambil pake ATM aja deh besok&#8221;</em> tukasku dan oppsss mendadak aku ingat bahwa aku mendadak lupa password yang baru diberi oleh Bank, belum pernah kugunakan dan belum kuganti dengan password yang biasa kupakai.</p>
<p>Esok sorenya, setelah mengajak makan &#8216;enak&#8217;, aku ngomong ke istriku</p>
<p><em> &#8220;Nah, suasana hati kita kan udah enak.. kamu juga udah kenyang makan.. aku mau omong sesuatu!&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Apaan tuh?&#8221; <span style="font-style: normal;">tanya istriku.</span></em></p>
<p><em>&#8220;Kamu jangan marah tapinya&#8230;.&#8221;</em> ujarku.</p>
<p><em> &#8220;Apaan tuh?&#8221;</em> kadang istriku memang tak terlalu kreatif dan lebih banyak mengulang-ulang kata seperti itu.</p>
<p><em> &#8220;Nganu&#8230; aku lupa password kartu ATM ku lagi&#8230;&#8221;</em></p>
<p>&#8220;Whatttt???! Lagi?&#8221; Nah, kali ini ia agak sedikit kreatif dibandingkan yang tadi&#8230;</p>
<p>Sekian!<br />
Selamat berakhir pekan!</p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/01/30/atm-anjungan-tunai-mandiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>iPod, Mobile Phone dan Terciptanya Sebuah Aturan</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/01/27/ipod-mobile-phone-dan-terciptanya-sebuah-aturan.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/01/27/ipod-mobile-phone-dan-terciptanya-sebuah-aturan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 17:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Permenungan]]></category>
		<category><![CDATA[ipod]]></category>
		<category><![CDATA[mobile phone]]></category>
		<category><![CDATA[rule]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[
Ketergelitikanku setelah memandang dengan takjub pada aturan yang kupotret di atas, semata-mata pada kelihaian si pembuat aturan, seorang  pemilik coffeshop, merangkai sebab (kausalitas), menerangkan akibatnya lantas menjadikan relasi keduanya itu menjadi aturan yang persuasif, jauh dari kesan represif.
Aku membayangkan, awal mula hingga terbit aturan itu barangkali demikian.
Sebuah pagi di tahun 2004 sekitar dua bulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S10IcGcJeWI/AAAAAAAAAWQ/4TwY_g3VpKA/rule_ipod.gif" alt="" width="350" height="377" /></p>
<p>Ketergelitikanku setelah memandang dengan takjub pada aturan yang kupotret di atas, semata-mata pada kelihaian si pembuat aturan, seorang  pemilik <em>coffeshop</em>, merangkai sebab (kausalitas), menerangkan akibatnya lantas menjadikan relasi keduanya itu menjadi aturan yang persuasif, jauh dari kesan represif.</p>
<p>Aku membayangkan, awal mula hingga terbit aturan itu barangkali demikian.</p>
<p>Sebuah pagi di tahun 2004 sekitar dua bulan sesudah coffeeshop buka untuk pertama kalinya, orang mulai ramai menyukai adonan kue dan pasnya <em>brewing</em> kopi yang dihidangkan. Saking ramainya, antrian panjang mengular adalah pemandangan yang umum di coffeeshop tersebut. Pada saat-saat seperti itu (biasanya di pagi hari) kecepatan layanan para <em>barista </em>(ahli peracik kopi) dan pelayan lainnya termasuk kasir adalah kunci berpengaruh terhadap berapa banyak orang yang bisa dilayani, berapa produk yang bisa terjual dan pada akhirnya berapa keuntungan yang bisa dicapai.</p>
<p>Sekonyong-konyong seorang pria parlente bertubuh tinggi besar yang masuk dalam antrian dan kebetulan sudah sampai di hilir tampak &#8216;mbudheg&#8217; karena berkonsentrasi mendengarkan musik dari piranti yang lantas dikenal dengan nama iPod.</p>
<p><em>&#8220;Next, please!&#8221;</em> Si barista mempersilakan antrian berikutnya untuk maju ke depan, dilayani. Tapi si parlente itu tak bereaksi, ia malah manggut-manggut berirama.</p>
<p><em>&#8220;Neeexttt, pleaseee!&#8221;</em> Si barista kembali bersuara, kali ini dengan tekanan yang lebih keras dan suara yang terdengar jauh lebih lantang.</p>
<p>Tapi skali lagi, si parlente diam saja sambil melamun ke arah lain hingga akhirnya ia &#8216;ngeh&#8217; setelah bahunya yang masif ditepuk oleh pengantri di belakangnya.</p>
<p><em>&#8220;Oh, ssoooryyy&#8221;</em> Ia pun maju ke depan tergopoh-gopoh kehadapan barista yang mencoba tetap bersikap cool meski hatinya kecut masam!</p>
<p>* * *</p>
<p>Hari berikutnya, seorang wanita setengah baya melakukan hal yang kurang lebih sama.<br />
Ketika sedang mengantri membeli kopi, rupanya ia lupa menitipkan kunci rumah kepada suami yang telah lebih dulu berangkat kerja, maka ia segera menelpon suaminya.<br />
<em> &#8220;Haloo.. Pa&#8230; Aduh, sorry aku tadi lupa titip kunci ke kamu! Trus gimana nanti kamu masuk rumah kalau aku belum pulang ya?&#8221;</em> ujarnya di telepon. Lalu percakapan pun memanjang, sementara antrian terus maju ke depan hingga si wanita sibuk itu sampai pula di bagian hilir antrian.</p>
<p><em>&#8220;Next please!&#8221;</em> seru si barista yang kebetulan juga sama dengan barista yang bertugas kemarin.<br />
Si wanita tersenyum melambaikan tangannya ke arah barista seperti hendak berbicara <em>&#8220;Tunggu bentar ya&#8230;&#8221;</em><br />
Si Barista membalas senyuman dan lambaian tangan itu dengan cibiran yang kecut &#8230;<br />
Ia, yang kemarin berhadapan dengan pria parlente ber-iPod, tak mau kehilangan akal dan tak mau mengecewakan antrian berikutnya. Si barista itu lantas meminta orang yang berada di antrian kedua untuk maju ke depan mendahului si wanita yang.. masih tetap on the phone itu.</p>
<p>Hingga lima kali &#8216;dilangkahi&#8217;, pada akhirnya si wanita itupun selesai menggunakan telpon.<br />
Alih-alih kembali masuk ke dalam antrian, ia langsung maju ke depan dan menggebrak meja barista. <em>&#8220;Hey! Bukannya aku tadi sudah bilang TUNGGU SEBENTAR! Aku kan sedang telepon dengan suamiku, kenapa tak kamu pedulikan?&#8221;</em></p>
<p>Tatap matanya tajam seperti macan kehausan dan setiap kata yang terlontar adalah sembilu yang menancap sementara si Barista yang tampak masih muda itu &#8216;ngeper&#8217; menghadapi si wanita lalu beringsut ke belakang melapor kepada bosnya. Nggak pake lama, perkara itupun diselesaikan dengan baik oleh Sang Bos. Secangkir kopi gratis dan setumpuk kata <em>&#8220;Sorry&#8221;</em> diberikan kepada si wanita macan secara cuma-cuma  sebagai obat penawar kecewanya. Keuntungan pagi itupun ternodai dengan menipisnya mental si Barista akibat dibentak, serta keuntungan secangkir longblack yang melayang percuma&#8230;</p>
<p>* * *</p>
<p>Sore harinya, ketika meeting evaluasi antar barista dan manajemen, diputuskanlah untuk membuat tata aturan yang menyangkut kejadian dua hari berturut-turut terkait dengan penggunaan iPod dan telepon genggam. Revisi sana, revisi sini, tambah sini dan hapus yang sebelah sana, palu pun diketok, aturan dicetak lalu dengan sedikit laminasi dan bantuan plester, dipasanglah ia seperti terpampang di atas itu tadi.</p>
<p>Dari sebuah foto tentang aturan serta peristiwa kecil yang kureka-reka di atas, aku belajar satu hal&#8230;<br />
Manusia adalah makhluk yang bisa memperkaya dirinya dengan sesuatu yang telah lewat.<br />
Ketika ia menghadapi satu hal dengan jalan yang mulus, ia lantas mempelajarinya sebagai pola dan menerapkannya ke masa depan sebagai resep&#8230; jurus untuk mendapatkan kemulusan yang sama bahkan lebih. Namun ketika ia menghadapi satu hal yang menghambat kemulusan, ia akan mengingatnya dan tidak menginginkan hal itu terjadi di masa depan. Lantas, terbesitlah tata aturan, yang membuat langkah-langkah pengecualian dan penanggulangan ketika penghambat itu menghadang di depan.</p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/01/27/ipod-mobile-phone-dan-terciptanya-sebuah-aturan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hujan Emas Hujan Batu</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/01/23/hujan-emas-hujan-batu.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/01/23/hujan-emas-hujan-batu.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 17:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[artalyta suryani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[
Dalam konteks kasus Artalyta Suryani dengan sel mewahnya, kupikir pepatah lama yang tepat untuk menggambarkan keadaannya dibandingkan dengan keadaanku di sini adalah &#8220;hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri&#8221;
Seenak-enaknya tinggal di luar negeri, bekerja dengan gaji &#8216;dollar&#8217; serta ditunjang fasilitas, sarana dan prasarana yang OK dari pemerintah secara cuma-cuma, aku masih harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://farm3.static.flickr.com/2783/4264374315_c2d235e55d.jpg" alt="" width="500" height="337" /></p>
<p>Dalam konteks kasus <strong>Artalyta Suryani</strong> dengan sel mewahnya, kupikir pepatah lama yang tepat untuk menggambarkan keadaannya dibandingkan dengan keadaanku di sini adalah &#8220;hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri&#8221;</p>
<p>Seenak-enaknya tinggal di luar negeri, bekerja dengan gaji &#8216;dollar&#8217; serta ditunjang fasilitas, sarana dan prasarana yang OK dari pemerintah secara cuma-cuma, aku masih harus tetap bekerja membanting tulang dan memeras keringat.</p>
<p>Sementara baginya, meski statusnya adalah terpidana kasus penyuapan yang seharusnya bisa diibaratkan sebagai &#8216;hujan batu&#8217; karena terpenjara, tapi toh fasilitas yang ia dapatkan di dalam bui luar biasa enaknya!  Kasur empuk dan sofa barangkali sudah &#8216;terlalu biasa&#8217;.. tapi perawatan dokter ahli kosmetik hingga ijin meninggalkan penjara sekadar untuk  cabut gigi&#8230; itu adalah sesuatu yang luar biasa.</p>
<p>Selamat berakhir pekan!</p>
<p>Sumber berita salah satunya <strong><a href="http://news.id.msn.com/okezone/regional/article.aspx?cp-documentid=3790736">di sini</a></strong>.  Foto diambil <strong><a href="http://www.flickr.com/photos/tampanabadi/4264374315/">dari sini</a></strong>.</p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/01/23/hujan-emas-hujan-batu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Little Nyonya</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/01/20/little-nyonya.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/01/20/little-nyonya.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 17:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[DVD]]></category>
		<category><![CDATA[little nyonya]]></category>
		<category><![CDATA[sinetron]]></category>
		<category><![CDATA[singapore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=484</guid>
		<description><![CDATA[ Tak ubahnya seperti sinetron kebanyakan, Little Nyonya sebenarnya menawarkan deretan konflik yang standar; drama percintaan yang mbulet namun mudah ditebak ditemani riak-riak cerita yang sedikit &#8216;nggak penting&#8217;.  Tapi toh agak sedikit di luar nalar, karena pada akhirnya aku menyukainya. Peristiwa &#8216;aku menyukai sinetron&#8217; barangkali sama halnya dengan peristiwa gerhana matahari yang boleh terjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs097.snc1/4976_95052033302_22268538302_2121990_6554648_n.jpg"><img class="alignleft" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs097.snc1/4976_95052033302_22268538302_2121990_6554648_n.jpg" alt="" width="154" height="217" /></a> Tak ubahnya seperti sinetron kebanyakan, <strong>Little Nyonya</strong> sebenarnya menawarkan deretan konflik yang standar; drama percintaan yang mbulet namun mudah ditebak ditemani riak-riak cerita yang sedikit &#8216;nggak penting&#8217;.  Tapi toh agak sedikit di luar nalar, karena pada akhirnya aku menyukainya. Peristiwa &#8216;aku menyukai sinetron&#8217; barangkali sama halnya dengan peristiwa gerhana matahari yang boleh terjadi 100 tahun sekali, sesuatu yang&#8230; sangat langka terjadi!</p>
<p>Kisah Little Nyonya adalah kisah percintaan antara <strong>Yueniang </strong>(diperankan oleh Jeanete Aw)<strong> </strong>dengan <strong>Chen Xi </strong>(Qi Yuwu), dua insan produk peranakan, hasil kawin campur suku China dengan suku lainnya (dalam hal ini melayu dan biasa disebut baba-nyonya) yang terpisah strata sosial dan ekonomi bagai bumi dan langit, klise huh?! Konflik cerita yang terjadi pun tak jauh-jauh dari soalan suratan takdir, percintaan dan perselingkuhan dan tak lupa tentu kriminalitas, pembunuhan serta pertobatan dan penyesalan seperti kebanyakan cerita sinetron lainnya.</p>
<p>Lantas yang membuatku tertarik terutama adalah frame cerita yang kuat!</p>
<p>Little Nyonya &#8216;didirikan&#8217; di atas sebuah gagasan besar tentang pertumbuhan kaum china peranakan di semenanjung Malaka mulai awal abad 20-an hingga masa kini. Bagaimanapun, cerita sejarah tentang pertumbuhan kaum ini bagiku sangat dan selalu menarik karena dari sisi daya juang untuk hidup, mereka yang hijrah dari tanah leluhur di RRC dan lantas berasimilasi dengan penduduk sekitar itu memiliki satu daya dobrak luar biasa yang patut dicontoh.</p>
<p>Sementara hal lain yang juga tak kalah menarik adalah masalah bagaimana si penulis skenario mengakhiri rangkaian ceritanya.<br />
Little Nyonya yang terdiri dari 34 episode ini dikemas bukan sebagai drama yang happy ending dalam artian bahwa si tokoh perempuan tak harus menikah dengan tokoh pria. Yueniang dan Chen Xi pada akhirnya terpisah oleh nasib, terbelenggu takdir.</p>
<p>Kukatakan menarik karena ini di luar kebiasaan pattern sinetron yang hilir mudik di televisi yang selalu memberikan jaminan kepada penonton bahwa se-absurd apapun alur cerita yang sedang ditayangkan, yakinlah bahwa akhirnya si upik abu itu akhirnya dipersunting oleh sang pangeran!</p>
<p>Bagi yang ingin tahu tentang Little Nyonya ini, <strong><a href="http://littlenyonya.mediacorptv.sg/">silakan klik di sini</a></strong> namun sayangnya sinetron ini tak memiliki jadwal tayang di Indonesia karena ia disiarkan di Singapura, Malaysia, Hongkong hingga USA. Akan tetapi jika kalian ingin mencari DVD-nya, barangkali di Jakarta atau barangkali sekalian liburan ke Negeri Singa, sempatkanlah mencari keping DVD ini.</p>
<p>Selanjutnya, aku tak ingin bicara tentang Little Nyonya lebih lanjut di sini. Otakkku justru ter-pop-up dengan suatu pemikiran yaitu, kenapa kita tak bisa membuat sinetron se-greget Little Nyonya ini?</p>
<p><strong>Alur cerita yang &#8216;Maju ke Depan&#8217; </strong></p>
<hr />
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 550px"><img src="http://lh5.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S1U9FhClN9I/AAAAAAAAAVk/uMB1fXS8YUc/sinetron.jpg" alt="" width="540" height="174" /><p class="wp-caption-text">Si Doel - Kiamat - Bajaj Bajuri</p></div>
<p><strong><span style="font-weight: normal;">Aku tak bisa bilang bahwa semua alur cerita sinetron itu jelek. </span><span style="font-weight: normal;">Si Doel Anak Sekolahan</span><span style="font-weight: normal;">, </span><span style="font-weight: normal;">Bajaj Bajuri</span><span style="font-weight: normal;"> dan </span><span style="font-weight: normal;">Kiamat Sudah Dekat</span><span style="font-weight: normal;">-nya</span><span style="font-weight: normal;"> Deddy Mizwar</span><span style="font-weight: normal;"> adalah beberapa yang bisa kubilang sebagai sinetron jempolan karena kita disuguhi alur cerita yang lugas <em>(meski aku agak sedikit kecewa ketika Si Doel Anak Sekolahan mulai diulur-ulur hingga beberapa seri sesudahnya).</em></span></strong></p>
<p>Kuncinya kupikir adalah bagaimana mengemas alur cerita yang &#8216;maju ke depan&#8217;.</p>
<p>Kebanyakan sinetron, dari episode pertama hingga ke sepuluh, alur ceritanya akan berjalan dengan mulus dan memiliki rel yang jelas, akan tetapi selanjutnya, alur cerita menjadi limbung tak tentu arah hendak ditujukan kemana, akan berakhir berapa lama&#8230; bertele-tele dan membosankan!</p>
<p><strong>Cinta? Tak mengapa, asal&#8230;</strong></p>
<hr />Sinetron tak bisa lepas dari cinta? Tak mengapa asal dikemas dalam bingkai frame yang menarik!</p>
<p>Si Doel mengangkat cinta tapi ia bisa menarik karena dikemas dalam pola pandang aspek hidup orang Betawi yang &#8216;ternyata&#8217; termarjinalkan di tanahnya sendiri.<br />
Kiamat Sudah Dekat menarik karena meski itu adalah sinetron dakwah tapi ia disajikan jauh dari tafsir-tafsir ketat ajaran agama meski aroma spiritualnya masih pekat terasa.<br />
Bajaj Bajuri juga terbilang OK karena ia mengangkat sinisme dari keadaan hidup kaum pra-sejahtera lalu menjungkirbalikannya menjadi sebuah humor situasi.</p>
<p>Ironis tapi menghibur!</p>
<p>Sinetron berbasis cerita hantu pun sebenarnya bisa jadi menarik.</p>
<p>Tapi kalau lantas ada seribu sinetron pengikut yang juga bercerita soal hantu&#8230; aduhhhh, thanks, but no thanks!</p>
<p><strong>Be real</strong></p>
<hr />Hal yang paling kuingat tentang &#8216;kejanggalan&#8217; sinetron adalah demikian, adegan seorang perempuan tidur pulas tapi tetap dengan make up super tebal yang masih terpelihara bahkan hingga pagi harinya!</p>
<p>Come on! Siapa sih yang mau dan mampu mempertahankan make-up hingga menjelang tidur?!</p>
<p>Bahkan seorang ratu-pun kupikir juga akan lebih memilih cuci muka sebelum tidur untuk mengangkat sisa-sisa kosmetiknya lalu bangun dalam kondisi paras yang sama halnya seperti kita, kucel adanya!</p>
<p>Belum lagi adegan-adegan yang tak masuk akal seperti misalnya seorang ibu yang bicara dengan si anak:</p>
<p>Anak: <em>Bu, kenapa aku dilahirkan?</em></p>
<p>Ibu: <em>Jadi begini, Nak&#8230; *ia berdiri lantas memandang ke jendela&#8230; menerawang&#8230; dan musik soundtrack diputar agak sedikit lebih keras*</em></p>
<p>Aduh! Ngomong ya ngomong aja.. sesedih apapun dan sebesar-besarnya nafsu untuk menerawang, tak mungkinlah kalau sampai harus berdiri dulu, mendekat ke jendela, menerawang baru lantas ngomong. <em>That&#8217;s toooo much!</em></p>
<p><strong>Berpikir tentang kemasan</strong></p>
<hr />Dari apa yang kupelajari di Little Nyonya, sinetron Singapore ini tak henti melakukan inovasi kemasan.</p>
<p>Maksudku, ia tak hanya disajikan di televisi, tapi lebih daripada itu,MediaCorp, produsennya mengemas Little Nyonya dalam format DVD. Little Nyonya juga disiarkan hingga ke luar negeri bahkan luar kontinen hingga ke Amerika Serikat.</p>
<p>Internet tak lupa juga dijadikan sebagai media alternatif untuk menawarkan konsep ekstensi kemasan Little Nyonya.<br />
Membuat <strong><a href="http://www.facebook.com/pages/The-Little-Nyonya/22268538302">laman di Facebook</a></strong> hingga menayangkan beberapa petikan hasil rekaman baik yang berasal dari tayangan &#8216;resmi&#8217; maupun behind the scene di Youtube membuat orang jadi merasa selalu intim dengan Little Nyonya.</p>
<p>Original soundtracknya juga digarap serius dan diperjualbelikan dengan label &#8216;Little Nyonya&#8217; yang menempel. Aku tak tahu mana yang lebih dulu diciptakan, lagu-lagu tema atau sinetron Little Nyonya, akan tetapi yang jelas keduanya saling menguatkan.</p>
<p>Tak berhenti di situ, setahun setelah masa penayangan berlalu, <strong>MediaCorp </strong>menghentak lagi dengan mengadakan acara makan malam reuni Little Nyonya menghadirkan hampir semua mantan pemain utama lantas memutar ulang di televisi tepat pada perayaan Tahun Baru Imlek 2009.</p>
<p>Dari situ lantas <strong>MediaCorp </strong>ancang-ancang untuk membuat sekuel Little Nyonya yang katanya akan diputar tahun ini.<br />
Meski percayalah, sampai titik itu, ketertarikanku pada Little Nyonya dipastikan akan berakhir karena aku sudah menengarai bakalan ada suatu alur cerita yang sepertinya akan diputar-putarkan seperti kebanyakan sinetron lainnya juga <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Sumber foto:</strong></p>
<p>Poster Little Nyonya (<strong><a href="http://www.facebook.com/pages/The-Little-Nyonya/22268538302">laman Facebook</a></strong>),  Bajaj Bajuri ( <strong><a href="http://img.youtube.com/vi/df-8EKBLEdk/0.jpg">dari sini</a></strong>), Kiamat Sudah Dekat (<strong><a href="http://elabidisme.blogspot.com">dari sini</a></strong>), Si Doel (<strong><a href="http://alformer259.files.wordpress.com/2009/06/si-doel.jpg">dari sini</a></strong>)</p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/01/20/little-nyonya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Watsons Bay</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/01/16/watsons-bay.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/01/16/watsons-bay.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 17:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tustel]]></category>
		<category><![CDATA[photo]]></category>
		<category><![CDATA[sydney]]></category>
		<category><![CDATA[watsons bay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=481</guid>
		<description><![CDATA[
Watsons Bay adalah sebuah pantai yang menghampar indah.
Dibandingkan Bondi dan Manly, barangkali ia tak ada apa-apanya; akan tetapi justru terkadang dari hening dan senyapnya itu, sesuatu yang lebih dalam tentang makna perpaduan antara alam yang menawan dengan manusia yang mensyukurinya dapat teraih lebih mudah.

Tempatnya sendiri tak terlalu luas. Pantai yang letaknya sekitar 20 menit perjalanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S1BEJ0wvZFI/AAAAAAAAAT0/FCTnBAoyeSg/watsonsbay_1.jpg" alt="" width="550" height="342" /></p>
<p>Watsons Bay adalah sebuah pantai yang menghampar indah.<br />
Dibandingkan <strong>Bondi</strong> dan <strong>Manly</strong>, barangkali ia tak ada apa-apanya; akan tetapi justru terkadang dari hening dan senyapnya itu, sesuatu yang lebih dalam tentang makna perpaduan antara alam yang menawan dengan manusia yang mensyukurinya dapat teraih lebih mudah.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://lh4.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S1BEKEc_h0I/AAAAAAAAAT4/UFRXh5QcaKQ/watsonsbay_2.jpg" alt="" width="400" height="612" /></p>
<p>Tempatnya sendiri tak terlalu luas. Pantai yang letaknya sekitar 20 menit perjalanan dari Sydney ini berpasir putih serta berkarang pada beberapa bagian sisinya dengan ombak yang nyaris tak ada, tergantikan oleh alun serta riak karena watsons Bay hanyalah ceruk dan tidak menghadap ke lautan lepas.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://lh6.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S1BEKGc5mrI/AAAAAAAAAT8/jxFIclW-f5M/watsonsbay_3.jpg" alt="" width="400" height="600" /></p>
<p>Sementara nun jauh di belakangnya, gugusan <em>skycrapers </em>Sydney CBD menjadi latar pemandangan yang menyatu dengan matahari, yang ketika kudatangi sore itu tampak men-emas dan nyaris larut tenggelam ke peraduannya.</p>
<p>Beberapa buah kursi , meja serta alat pemanggang makanan yang terpatri permanen di hamparan rumput yang terletak di bibir pantai lantas menjadi tempat paling menarik karena dengan cuma-cuma kita bisa menikmati Watsons Bay sembari mengaso dan menyantap daging panggang bersama orang-orang yang kita cintai di sana.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://lh4.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S1BEKFz7tKI/AAAAAAAAAUA/C5yy7i6FT5A/watsonsbay_4.jpg" alt="" width="550" height="550" /></p>
<p>Tapi kalau mau yang lebih nyaman, namun tak cuma-cuma, deretan kafe serta rumah makan pun tersedia.<br />
Alunan musik berirama swing, gelas-gelas anggur dan keratan daging dibakar yang lantas dinamai steak, pria-pria berjas dan wanita-wanita bergaun indah&#8230; mereka semua bersatu pula untuk mengagumi keindahan Watsons Bay di senja itu&#8230;</p>
<p>Selamat berakhir pekan, selamat beriang ria!</p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/01/16/watsons-bay.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Doa</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/01/13/hakikat-doa.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/01/13/hakikat-doa.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 17:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Permenungan]]></category>
		<category><![CDATA[setengah fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[
Adalah Budi, teman lama yang tua-mudanya kira-kira sama denganku.
Teman-teman sering bilang kami ini,aku dan Budi, seperti halnya saudara kembar karena secara fisik dan beberapa kebiasaan serta hobi kami nyaris sama. Tapi dari semua kesamaan yang ada, pembedanya adalah ketika dulu aku sudah harus mulai sibuk bekerja membanting tulang, ia malah sibuk berdoa dan terlibat aktif [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/StetFVTCtwI/AAAAAAAAADA/Kv6F5A6FDB8/donnyverdian0381.jpg" alt="" width="500" height="188" /></p>
<p>Adalah <strong>Budi</strong>, teman lama yang tua-mudanya kira-kira sama denganku.</p>
<p>Teman-teman sering bilang kami ini,aku dan Budi, seperti halnya saudara kembar karena secara fisik dan beberapa kebiasaan serta hobi kami nyaris sama. Tapi dari semua kesamaan yang ada, pembedanya adalah ketika dulu aku sudah harus mulai sibuk bekerja membanting tulang, ia malah sibuk berdoa dan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan agama. Aku sendiri sebenarnya penasaran apa sih motivasinya untuk berkubang dalam hal-hal berbau agamis dan &#8216;tak kasat mata&#8217; seperti itu.</p>
<p>Kian hari, rasa penasaran itu kian meluap hingga akhirnya aku tak sanggup lagi untuk menahan tanya tentang perilaku doanya.</p>
<p>&#8220;Bud, kenapa kamu begitu lama berdoa? Apa saja yang kau katakan dalam doamu itu?&#8221; begitu tanyaku.</p>
<p>Bukannya sungkan atau risih, ia malah sumringah memberikan jawaban terkait dengan &#8216;hobinya&#8217; itu.</p>
<p>&#8220;Wah, Don! Kamu bertanya pada orang yang tepat tapi tidak dengan pertanyaan yang tepat!&#8221; jawabnya mantap.</p>
<p>&#8220;Weleh, kenapa demikian, Bud?&#8221;</p>
<p>&#8220;Banyak, Don! Banyakkk betul yang biasa kukatakan dalam doaku. Saking banyaknya aku bingung mau kasih jawaban yang mana ke kamu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh begitu&#8230; Ya sudah, ndak usah semua lah, Bud. Satu-dua biji saja sebagai contoh!&#8221; desakku.</p>
<p>&#8220;Hmmm, begini&#8230; aku selalu berdoa apaaaa saja!</p>
<p>Mulai dari keinginanku untuk meminta grand piano baru, keinginanku supaya dicarikan jodoh dari kalangan yang baik-baik dan seiman&#8230; sampai keinginanku supaya Tuhan nggak memberikan hujan hari ini.. dan lihatlah! Nggak hujan tho hari ini? Makanya aku bisa main ke rumahmu dengan kondisi langit yang terang-benderang!&#8221;</p>
<p>Aku pun terdiam dibuatnya. Meski tak sepaham dan jauh dari faham atas penjelasannya, aku memilih manggut-manggut saja.</p>
<p>Bagiku, tingkah doanya terlalu memusingkan.</p>
<p>* * *</p>
<p>Masa pun berganti. Beberapa lama setelah pertemuan terakhir itu, Budi menghilang.</p>
<p>Tapi sebenarnya, entahlah.. Aku tak tahu apakah dia yang menghilang atau justru aku yang menghilang daripadanya.</p>
<p>Hingga di suatu siang yang kerontang, Budi mendatangi kantorku untuk menemuiku.</p>
<p>&#8220;Halo Don, apakabarmu?&#8221; wujudnya masih sama meski kulitnya agak sedikit melegam.</p>
<p>&#8220;Wah baik Mbut eh&#8230; Bud hehehe!&#8221; tukasku bercanda.</p>
<p>Kusodorkan tanganku kepadanya dan kamipun erat berjabat tangan.</p>
<p>Setelah berbasa-basi sejenak, untuk melanjutkan obrolan, kuajak dia ke warung angkringan tak jauh dari kantor  yang buka sejak siang.<br />
Obrolan pun membuncah ditingkahi dengan saling tukar informasi tentang apapun terutama tentang kawan-kawan lama yang juga telah lama menghilang.</p>
<p>Kupikir awalnya pertemuan siang itu bakalan jadi sekadar temu kangen saja karena kami toh sudah sekian lama tak bertemu, akan tetapi tak kusangka, hari itu Budi mengajakku berdiskusi, sedikit banyak bertanya kepadaku tentang hal yang seharusnya justru aku tanyakan kepadanya.</p>
<p>&#8220;Don, kamu pernah merasa dikecewakan Tuhan?&#8221; tanyanya membuka obrolan yang lebih serius di tengah suara deru kendaraan yang wira-wiri di jalanan.</p>
<p>&#8220;Heh!? Maksudmu, Bud?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Iya! Tuhan pernah nggak, nggak menjawab doamu? Atau setidaknya cuek kepadamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh&#8230;&#8221; aku bingung seperti mencari hilangnya utas tali jawaban di benakku.</p>
<p>&#8220;Hmmm, dikecewakan sih nggak, justru aku yang sepertinya selalu mengecewakan Tuhan, Bud!&#8221; jawabku serius.</p>
<p>Kutatap matanya, dan mata itu mendarat ke bawah, Budi seperti kehilangan sesuatu, tak seperti dulu dimana sorot matanya adalah pisau tajamnya untuk meyakinkan lawan bicaranya.</p>
<p>&#8220;Hmmm, gitu ya..? Kok bisa? Kok bisa nggak pernah dikecewakan?&#8221; tanyanya lagi mendesak.</p>
<p>&#8220;Sik..sik! Sebentar, Bud&#8230; Ini menarik! Kenapa kamu tiba-tiba datang dan bertanya seperti itu?&#8221; tanyaku balik sambil membenarkan posisi dudukku, kali ini aku benar-benar berhadapan dengannya.</p>
<p>&#8220;Begini, Don&#8230; beberapa waktu yang lalu tiba suatu saat dimana aku merasa sangat dikecewakan Tuhan.</p>
<p>Aku sudah minta ini dan itu, terkadang dikabulkan tapi kadang juga diabaikan. Terakhir kali ketika aku sudah tinggal selangkah lagi menikah, pacarku memutuskanku karena alasannya aku belum dapat pekerjaan tetap&#8230;&#8221; ujarnya.</p>
<p>&#8220;Lha, kamu sudah pernah meminta Tuhan supaya Ia memberikan pekerjaan tetap apa belum?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Hmmmm&#8230; belum!&#8221; jawabnya.</p>
<p>&#8220;Kenapa nggak minta?&#8221; tanyaku mendesak balik.</p>
<p>Tiada jawaban darinya. Hening.</p>
<p>&#8220;Bud&#8230; Budi. Aku nggak pernah merasa dikecewakan Tuhan barangkali karena aku nggak pernah meminta terlalu banyak dariNya.&#8221; Jawabku singkat.</p>
<p>&#8220;Maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini soal pola doa. Aku nggak pernah meminta tapi selalu bersyukur untuk apa yang telah diberikanNya! Aku tak pernah minta diberi gitar Gibson atau kamera digital dSLR terbaru sehingga ketika aku belum mendapatkannya ya aku tenang-tenang saja!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kan Tuhan tempat segala permohonan ditujukan, Don?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya memang, tapi apa bedanya dengan tempat sampah kalau kamu mengirimkan semua keinginan ketimbang kebutuhanmu padaNya?&#8221; jawabku lagi.</p>
<p>Sesaat ia terdiam lagi. Matanya masih malas menyapu pada permukaan kayu tempat duduk sementara makanan yang tak disentuhnya sedari tadi sudah semakin mendingin.</p>
<p>&#8220;Hmmmm, benar juga katamu, Don! Lantas bagaimana doamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Doaku? Aku berdoa tak terlalu bertele-tele. Terkadang hanya dalam diam, dalam tangis pernah juga aku doa sambil ketawa-tawa, Bud! Aku percaya Tuhan adalah translator yang baik; penerjemah ulung yang mampu membaca semua perasaanku&#8221;</p>
<p>Ia manggut-manggut.</p>
<p>&#8220;Aku tak pernah ragu untuk segala apa yang kuperlukan, Bud. Makanya aku tak pernah minta yang neko-neko seperti hmmm sorry, seperti kamu dulu!&#8221; tegasku lagi.</p>
<p>&#8220;Apa salahku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku nggak menyalahkanmu! Tapi aku berpikir ketimbang kamu berdoa minta ini-itu, mendingan kamu berdoa supaya kamu diberi rejeki secukupnya dan semangat untuk melakukan yang terbaik, itu cukup! Jadi ndak peduli kamu kehujanan, kepanasan, kelaparan dan kehausan ataupun kekurangan, Tuhan akan tetap kamu rasakan membimbing setiap langkah dan nafasmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmmm&#8230;..&#8221; Budi terdiam.</p>
<p>&#8220;Trus masih ada lagi, Bud.&#8221; tegasku.</p>
<p>&#8220;Hmmm?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan terlalu banyak berdoa kalau kamu bahkan untuk bekerja pun tak sempat!</p>
<p>Aku yakin Tuhan senang kamu berdoa tapi Ia juga akan senang kalau tahu bahwa kamu adalah manusia yang giat yang mau menggunakan segala daya dan upaya yang ada padamu untuk berusaha!&#8221; jawabku.</p>
<p>Budi tak lagi sanggup berkata-kata.</p>
<p>Sosok yang dulu kukenal berapi-api itu bagaikan arang kehilangan bara, ayam jantan kehilangan tajinya.</p>
<p>Sejenak keheningan kubiarkan menguasai ruang sempit di antara kami berdua supaya kata-kataku yang meluncur kepadanya itu tak menggilasnya lebih tandas.</p>
<p>Lima belas menit terlewati, aku melihat ke arah arloji yang kukenakan,</p>
<p>&#8220;Bud, sorry aku harus kembali&#8230; berdoa!&#8221;</p>
<p>Budi terkaget-kaget seketika. &#8220;Eh, kamu mulai rajin berdoa sekarang?&#8221;</p>
<p>Dalam pertanyaannya kulihat ia sumringah seperti mendapatkan &#8216;teman&#8217; baru atas kekhawatirannya.</p>
<p>&#8220;Sejak dulu, sejak kamu sering ngumpet di kamar hanya untuk berdoa, aku telah lebih dulu rajin berdoa!&#8221; ujarku.</p>
<p>&#8220;Oh ya?&#8221; tukasnya.</p>
<p>&#8220;Yupe! Tapi bedanya, doaku tidak lewat kata-kata! Doaku ada dalam setiap hasil karyaku, rasa pusing di otakku, degup serta detak jantungku, letih-letih di ototku, rasa kecut-masam di keringatku serta &#8230; serta justru di setiap kata-kata pisuhan dan kecewaku. Di sana&#8230;. kuyakin Tuhanmu, Tuhan yang sama denganku mendengarkanku, Bud!&#8221;</p>
<p>* * *</p>
<p>Pertemuan itupun mendekati paripurnanya. Waktu terus bergulir dan aku benar-benar harus kembali bekerja.</p>
<p>Kami berdiri dan kupeluk dia sebagai seorang sahabat. Tak sepatah katapun kulontarkan lagi kepadanya selain senyum dan sorot mataku yang menancap di benaknya.</p>
<p>Lalu kutinggalkan ia sendirian di warung angkringan itu.<br />
Satu hal yang cukup menggetarkan telah kulewati hari itu&#8230;</p>
<p>Untuk kalian yang merasa kenyang hanya dengan berdoa&#8230;.<br />
<em><strong>Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga&#8230;. &#8220;(Matius 7:21-23)</strong></em></p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/01/13/hakikat-doa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Firasat Digital</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/01/09/firasat-digital.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/01/09/firasat-digital.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 17:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Permenungan]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[firasat]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Percayakah kalian pada firasat?
Kalau percaya, percayakah pula bahwa firasat itu juga tersirat dan tersuarakan melalui hobi kita seperti tulisan via blog misalnya?
Hari Natal, 25 Desember 2009, yang lalu setelah melewati masa kritis dua minggu lamanya, salah satu sahabatku, Anton, meninggal dunia, pulang ke Rumah Bapa.
Ia pergi &#8216;nyaris&#8217; tanpa pesan meski meninggalkan sejuta kesan.
Kukatakan &#8216;nyaris&#8217; karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Percayakah kalian pada firasat?</p>
<p>Kalau percaya, percayakah pula bahwa firasat itu juga tersirat dan tersuarakan melalui hobi kita seperti tulisan via blog misalnya?</p>
<p>Hari Natal, 25 Desember 2009, yang lalu setelah melewati masa kritis dua minggu lamanya, salah satu sahabatku, Anton, meninggal dunia, pulang ke Rumah Bapa.</p>
<p>Ia pergi &#8216;nyaris&#8217; tanpa pesan meski meninggalkan sejuta kesan.</p>
<p>Kukatakan &#8216;nyaris&#8217; karena semula aku merasa tak mendapatkan barang satu firasat pun terkait dengan kepergiannya, hingga akhirnya dua hari sesudahnya, aku baru sadar bahwa apa yang kutulis di blog ini pada 23 Desember 2009 adalah sesuatu yang kuyakini bisa kuanggap sebagai sebuah pertanda.</p>
<p>* * * * *</p>
<p>Adalah kebiasaanku bahwa setiap tulisan yang hendak ku-published di media ini, selalu melalui masa &#8216;pengendapan&#8217; selama minimal satu minggu sebelum tayang.<br />
Masa itu kumanfaatkan untuk memantapkan calon tulisan hingga mencapai satu bentuk yang &#8216;pas&#8217; dan layak dihidangkan setiap rabu dan sabtu. Tulisan berjudul &#8220;Natal&#8221; itupun demikian pula adanya, kupersiapkan bahkan sejak awal bulan Desember 2009 silam.</p>
<p>Semula aku merancang untuk menulis sebuah percakapan imajiner antara Yesus dengan Maria yang rencananya akan kulengkapi pula dengan beberapa buah foto hasil jepretanku bertema seputar makna Natal.</p>
<p>Akan tetapi, rupanya semesta berkehendak lain.</p>
<p>Hingga sekitar seminggu sebelum Natal, aku tak jua sanggup meluangkan waktu untuk memotret, maka dengan amat disayangkan tulisan yang kupikir sudah cukup kuat itupun kusisihkan dan aku memulai dari awal lagi, berjuang keras memaknai Natal melalui tulisan yang harus kususun dalam tempo yang sangat singkat, kurang dari tujuh hari.</p>
<p>Maka, nyaris seharian di hari Senin, 21 Desember 2009, disela-sela waktu kerjaku, aku memikirkan tentang apa yang sanggup kukupas dari Natal tahun ini.<br />
Agak tergesa-gesa memang, tapi apa mau dikata ini soal komitmen kepada diriku sendiri bahwa aku memang harus update blog pada rabu, 23 Desember 2009 dengan tema Natal, tidak bisa tidak!</p>
<p>Lalu Sang Ide tiba, ia menghampiri dan terkuaklah topik yang tak pernah kunyana-nyana sebelumnya yaitu tentang himpitan antara kelahiran dan kematian (Yesus) dalam satu tulisan Natal. Untuk menguatkan ide tersebut aku mengambil contoh konkrit pada pemandangan perayaan Misa Natal yang kontras. (<strong><a href="http://donnyverdian.net/2009/12/23/natal-2.html">silakan baca selengkapnya di sini</a></strong>).<br />
Kukatakan &#8216;tak kunyana-nyana&#8217; karena sebelumnya, tema Natal selalu menghasilkan tulisan-tulisan indah yang penuh sanjungan atas perasaan sukacita dan bukannya sebaliknya.</p>
<p>Hari pun berlalu.</p>
<p>Blog ter-update seperti biasa dan menuai banyak komentar (seperti biasa pula).</p>
<p>Hingga akhirnya pada 25 Desember 2009, sekitar pukul 19.00 waktu Sydney, ketika sedang menyetir pulang ke rumah, Blackberryku berdering.<br />
Aku segera meminta istriku untuk melihat pesan yang baru saja masuk dan&#8230;Tanaska, salah satu teman terbaik lainnya yang juga sobat kental Anton mengabariku bahwa Anton telah tiada.</p>
<p>27 Desember 2009.</p>
<p>Dua hari sesudahnya, ketika semua keriaan Natal telah mulai redup dan kesedihan atas kehilangan sahabat sedikit mereda, aku membuka blogku lagi untuk sekadar men-check komentar teman-teman di postingan terakhirku. Sekonyong-konyong, aku tersadar bahwa apa yang kutulis itu kurasai sebagai sebuah firasat akan kepergian Anton.<br />
Firasat bahwa hari Natal kemarin adalah salah satu hari Natal ter-unik dalam hidupku. Tuhan membolehkanku merasakan kegembiraan Natal sekaligus kedukacitaan atas perginya seorang sahabat.</p>
<p>Itulah pertanda, itulah firasat.</p>
<p>Aku menyebutnya firasat digital karena meski ia berada di dalam tulisan namun tak pernah kusangka bahwa justru melalui media baru, digital, &#8220;Sang Waktu&#8221; telah menyuarakan pertandanya, firasatnya.</p>
<p><em>Sing tentrem neng suwargo, Ton! Doaku bersamamu&#8230;</em></p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/01/09/firasat-digital.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Livetweeting? Pentingkah? Mudahkah?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/01/06/livetweeting-pentingkah-mudahkah.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/01/06/livetweeting-pentingkah-mudahkah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 17:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[green day]]></category>
		<category><![CDATA[livetweeting]]></category>
		<category><![CDATA[tweet]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Semula aku ingin menceritakan tentang bagaimana serunya konser Green Day yang kutonton pada 11 Desember 2009 yang lalu, akan tetapi kupikir percuma karena kalian tak kan bisa menemukan sesuatu yang baru dari ceritaku selain dahsyat, dahsyat dan dahsyat    Oleh karenanya, aku berpikir untuk menampilkan &#8217;sisi lain&#8217; dari konser yang kutonton dengan melego tiket [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semula aku ingin menceritakan tentang bagaimana serunya konser <strong><a href="http://www.greenday.com/">Green Day</a></strong> yang kutonton pada 11 Desember 2009 yang lalu, akan tetapi kupikir percuma karena kalian tak kan bisa menemukan sesuatu yang baru dari ceritaku selain dahsyat, dahsyat dan dahsyat <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />   Oleh karenanya, aku berpikir untuk menampilkan &#8217;sisi lain&#8217; dari konser yang kutonton dengan melego tiket seharga 102 AUD tersebut.</p>
<p>Adalah <em>livetweeting</em>.<br />
Hah? Livetweeting? Makanan apa pula itu?<br />
Livetweeting menurutku adalah istilah terkait dengan peliputan sebuah acara/kejadian/keadaan dengan cara mengirimkan <em>tweet </em>(terjemahan Indonesianya sih kicauan, tapi kok kurang pas ya :p) ke akun website <strong><a href="http://www.twitter.com">twitter.com</a></strong> secara periodik dan real time.</p>
<p>Lalu kaitannya dengan konser Green Day kemarin?<br />
Ada! Sebelum, selama dan sesudah konser Green Day, aku melakukan pelaporan dengan menggunakan metode livetweeting.</p>
<p><strong>MENGAPA TWITTER?</strong><br />
Ya, mengapa Twitter dan bukannya <strong><a href="http://www.facebook.com">Facebook </a></strong>atau langsung di blog ini?<br />
Jawaban sederhananya adalah karena Twitter lebih tersegmen untuk penyampaian pesan (tweets) ketimbang mencari teman atau bermain game seperti di Facebook sehingga karakter follower (pengikut akun) di twitter lebih terkonsentrasi pada tweet yang terkirim, bukan pada update foto, berapa jumlah kawan, game apa yang sedang nge-trend dan sebagainya.</p>
<p>Sementara blog tidaklah terlalu tepat untuk mengirimkan pesan secara langsung lebih karena kebanyakan blog memiliki sifat lebih &#8216;<em>soliloquy</em>&#8216; alias penyendiri (meminjam istilahnya <strong><a href="http://www.blogombal.org">Paman Tyo</a></strong> di salah satu tulisannya di <strong><a href="http://epaper.korantempo.com/">Koran Tempo</a></strong>) meski mungkin ia memiliki komentator tetap, komunitas serta RSS yang siap terupdate secara real time pula dan diikuti banyak orang.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 505px"><img class=" " src="http://lh5.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S0Kw13THWwI/AAAAAAAAASo/oa5dGp3xHWU/livetweeting01.jpg" alt="" width="495" height="432" /><p class="wp-caption-text">Kaitan livetweeting, Twitter dan kanal-kanal social media lainnya</p></div>
<p>Selain komparasi antara Twitter, Facebook serta blog di atas, satu keunggulan Twitter lainnya adalah konektivitasnya yang tinggi dengan kanal-kanal social media seperti Facebook, <strong><a href="http://myspace.com">Myspace</a></strong>, <strong><a href="http://linkedin.com">LinkedIn </a></strong>dan blog itu sendiri. Maksudku, dengan menginstall plugin atau memenuhi setting tertentu, kita bisa me-relay tweet kita ke kanal-kanal tersebut di atas secara real time.</p>
<p><strong>APA YANG DIBUTUHKAN?</strong><br />
Jelas kamu butuh akun twitter sehingga kamu diperbolehkan untuk berkicau di sana.<br />
Belum punya? Tinggal bikin <strong><a href="https://twitter.com/signup">di sini</a></strong>, gratis, mudah lagi cepat.</p>
<p>Selain akun, kamu juga butuh gadget/piranti yang terinstalasi aplikasi twitter client serta terkoneksi internet.<br />
Gadget yang kumaksud di sini bisa handphone, blackberry, netbook, notebook.. atau kalau kamu memang mungkin membawa desktop computer, itupun juga bisa <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Aplikasi twitter client yang kumaksud adalah aplikasi yang terinstall di gadget dan memiliki kemampuan untuk setidaknya mengirimkan tweets ke akun twitter kita (kebanyakan aplikasi ini memiliki kemampuan ganda, mengirim serta menerima tweets yang ada di timeline kita). Tak memiliki aplikasi twitter client tak mengapa, kamu juga bisa mengirim tweets via <strong><a href="http://www.twitter.com">website langsung</a></strong>.</p>
<p>Jika kamu mobile; gadgetmu tidak tercolok ke sumber listrik AC dan satu-satunya sumber energi adalah batere, sebelum melakukan livetweeting pastikan untuk memiliki sisa daya batere yang lebih dari cukup untuk melakukan livetweeting.</p>
<p><strong>ADAKAH KENDALANYA?</strong><br />
Ada! Banyak malah!<br />
Berdasarkan pengalaman melakukan livetweeting kemarin, kendala terberat adalah panjang teks yang terbatas.<br />
Seperti yang kita tahu, Twitter hingga saat ini hanya memperbolehkan penggunaan 140 karakter untuk sekali pengiriman tweets. Dengan kata lain, panjangnya bahkan 20 karakter lebih pendek ketimbang ukuran standar sebuah SMS.</p>
<p>Koneksi internet juga menjadi sesuatu yang bisa jadi menjengkelkan.<br />
Konser Green Day kemarin diadakan di ruang tertutup, berdinding beton dan &#8216;miskin&#8217; koneksi internet yang bagus. Padahal, untuk melakukan live tweeting, koneksi internet yang stabil (tak perlu cepat) adalah mutlak diperlukan.</p>
<p>Batere juga merupakan satu hal yang perlu diperhatikan.<br />
Pada saat liputan, aku menggunakan piranti <strong>Blackberry Bold 9000</strong> dengan batere standard dan.. adalah menjadi rahasia umum bahwa batere standard BB Bold 9000 itu tak terlalu tahan lama. Hal itu ditambah lagi dengan koneksi internet yang tak terlalu bagus sehingga gadget berusaha semaksimal mungkin untuk selalu mencari (searching) sinyal yang bagus dan hal ini membutuhkan daya batere yang lebih banyak ketimbang biasanya. Aplikasi twitter client yang dipergunakan (aku menggunakan <strong>UberTwitter</strong>) juga turut mempengaruhi daya tahan batere. Terlebih karena kebanyakan twitter client menuntut aplikasi untuk me-refresh latest updates di timeline kita; hal ini berarti ada koneksi antara gadget dengan server yang berarti pula penggunaan daya batere yang lebih pula.</p>
<p><strong>LALU, BAGAIMANA BAIKNYA?</strong><br />
Dalam ber-livetweeting, berdasarkan pengalamanku kemarin, hal yang terpenting adalah memaksimalkan berita (reportase) dalam minimnya karakter serta keterbatasan-keterbatasan yang ada di atas.</p>
<p>Dalam prakteknya, bisa jadi demikian:</p>
<p>Ketimbang menuliskan <em>&#8220;GreenDay memang luar biasa! Tata panggungnya memesona. Ada lebih dari 20 gitar ada di samping panggung kanan-kiri&#8221;</em> lebih baik ditulis sebagai <em>&#8220;G&#8217;day top! Panggung top! 20 gitar di ki-ka panggung!&#8221;</em></p>
<p>Ketimbang menuliskan <em>&#8220;Lagu pertama ini judulnya apa ya, kayaknya sih Do You Know the Enemy&#8221;</em> lebih baik ditulis sebagai <em>&#8220;1st song, D&#8217; u knw the enemy?!?&#8221;</em></p>
<p>Ketimbang menuliskan <em>&#8220;American Idiot! Billy Amstrong menarik seorang wanita ke panggung untuk nyanyi bersama&#8221;</em> lebih baik ditulis sebagai <em>&#8220;American Idiot! Ada ce naik stage nyanyi w/ Billy&#8221;</em></p>
<p>Loh, kalau begitu, tata bahasanya jadi awut-awutan dong?<br />
<em> *Speechless!.. help!!!*</em> Tapi sejujurnya, kalau memang bisa untuk tetap menjaga tidak awut-awutan itu lebih baik kok!</p>
<p>Selain itu penggunaan <em>hash tag</em> (contoh <strong>#gdayconcert</strong>) juga dianjurkan.<br />
Kenapa? Karena menulis tweet menggunakan hashtag secara otomatis akan membentuk kanal (channel) tersendiri yang mudah di-track oleh follower dengan cara meng-klik hashtag tersebut. Selain itu, follower ataupun pihak luar sesama pemilik akun twitter (biasa disebut tweeps) dengan mudah bisa ikut bergabung menuliskan tweet dalam hashtag yang sama. Semakin banyak penulis tweet menggunakan hashtag yang sama, semakin besar peluang hashtag tersebut menjadi trending topic. Oh ya, atas nama minimnya karakter yang diperbolehkan untuk digunakan dalam sekali tweeting, pemilihan hashtag janganlah pula terlalu panjang.</p>
<p>Livetweeting memang menyenangkan namun ingat bahwa setiap tweet yang kita kirimkan bisa berarti informasi yang berguna, bisa pula berarti sampah bagi orang lain. Memahami prinsip ini kupikir akan membuat kita berpikir berulang-ulang sebelum meluncurkan tweet ke timeline kita.</p>
<p>Mengenai penyertaan gambar, sejauh kita bisa mengatur besar kompresi filenya, menganalisa seberapa kuat koneksi internet serta berapa lama sisa baterei sebelum habis, akan menjadi satu nilai tambah yang luar biasa. Tapi kalau tak yakin dengan semua syarat yang kusebutkan, mending tak perlu mengirimkan bahkan tak perlu pula menjepret karena ini mempengaruhi borosnya batere atau alternatif lain, jepretlah dengan gadget lainnya.</p>
<p>Oh ya, last but no the least, jangan lupa set auto-update pada periode waktu yang terbesar yang termungkin software twitter client, karena seperti yang kutulis di bagian KENDALA di atas, semakin sering kamu meminta aplikasi twitter client untuk melakukan refresh, semakin boros pula daya batere yang dibutuhkan.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong><br />
Mungkin ini terlalu pagi karena hanya berdasarkan satu kali pengalaman, tapi jika harus membuat sebuah pernyataan yang bisa dijadikan &#8216;muara&#8217;,  penggunaan livetweeting dalam peliputan seperti kemarin sangatlah bermanfaat jika kita memang ingin memberikan laporan langsung dan memberikan update demi update secara periodik.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 505px"><img src="http://lh4.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S0Kw1ywOlNI/AAAAAAAAASs/L8LkSmnc7p0/livetweeting02.jpg" alt="" width="495" height="432" /><p class="wp-caption-text">LiveTweeting PLUS Blogging! Superr! <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p></div>
<p>Akan tetapi, untuk lebih membantu follower serta orang lain diluar lingkup Twitter itu sendiri, ada baiknya jika kita tak hanya melakukan livetweeting namun mengkombinasikannya dengan media penulisan yang lebih &#8216;lebar lagi leluasa&#8217; seperti blog contohnya. Sinergi antar keduanya bisa dilukiskan sebagai demikian; menyampaikan inti acara dengan listing hal-hal penting via twitter (livetweeting) lalu di akhir livetweeting diimbuhkan kata-kata &#8220;Untuk lebih lanjut, silakan check blog dua hari sesudah sekarang&#8221;.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 505px"><img src="http://lh5.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S0Kw161_VQI/AAAAAAAAASw/ly7b4wjauQk/livetweeting03.jpg" alt="" width="495" height="432" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi &#39;kerjasama&#39; tweets dan blog post. Jelas?</p></div>
<p>Sambil menyelam minum air&#8230; sambil ber-livetweeting skaligus iklan blog gratis <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Apa salahnya?</p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/01/06/livetweeting-pentingkah-mudahkah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 1.019 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2010-02-09 17:55:21 -->
<!-- Compression = gzip -->