<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata &#8482;</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 07:25:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
<meta xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex,follow" />
		<item>
		<title>Membuang barang &#8216;bekas pakai&#8217;</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/09/02/membuang-barang-bekas-pakai.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/09/02/membuang-barang-bekas-pakai.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 07:25:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[garage sale]]></category>
		<category><![CDATA[sunday market]]></category>
		<category><![CDATA[vincent de paul]]></category>
		<category><![CDATA[vinnies]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1027</guid>
		<description><![CDATA[Seperti halnya materi lainnya yang ditakdirkan untuk tinggal di dunia, maka benda-benda yang kita miliki sebagai fasilitas sebutlah itu gadget, pakaian, piranti dapur, piranti berkebun dan lain sebagainya pun memiliki masa edar sekaligus masa kadaluwarsa. Pakaian misalnya, ada saat dimana ia tak indah lagi kita pakai entah itu karena berat badan kita yang membengkak atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti halnya materi lainnya yang ditakdirkan untuk tinggal di dunia, maka benda-benda yang kita miliki sebagai fasilitas sebutlah itu gadget, pakaian, piranti dapur, piranti berkebun dan lain sebagainya pun memiliki masa edar sekaligus masa kadaluwarsa. Pakaian misalnya, ada saat dimana ia tak indah lagi kita pakai entah itu karena berat badan kita yang membengkak atau karena kalian sudah tak terlalu suka dengan modelnya yang sudah so-last year itu!</p>
<p>Kalau di Indonesia, salah satu teman dekatku menuliskan di <a href="http://blognyakrismariana.wordpress.com/">blognya</a>, ia memilih untuk memberikan barang-barang &#8216;bekas&#8217; nya ke pemulung. Sayang di sini tak ada orang yang mau jadi pemulung, atau entah barangkali saja kalau ada juga akan dilarang terkait isu kebersihan itu sendiri. Lalu bagaimana orang-orang Australia mengelola barang-barang bekasnya?</p>
<h3>Garage Sale / Sunday Market</h3>
<p>Solusi yang &#8216;menghasilkan&#8217; adalah dengan menjual barang bekas kita di garage sale maupun sunday market.<br />
Apa itu garage sale? Garage sale, mudahnya adalah jualan di garasi. Sebagian besar orang yang tinggal di sini memiliki garasi. Nah, pada akhir pekan biasanya mereka yang memiliki banyak barang bekas membuka lapak non-permanen di garasi tempat tinggal mereka lalu dijual lah barang-barang itu. Sunday market hampir sama dengan garage sale, tapi bedanya mereka tidak berjualan di garasi rumah masing-masing melainkan biasanya di areal parkir ataupun taman yang memang pada setiap minggunya dijadikan lahan berjualan. Konsepnya barangkali sama dengan konsep &#8216;pasar kaget&#8217; di Jawa. Kalau dulu kita kenal istilah Pasar Wage atau Pasar Pon karena mereka berjualan hanya khusus di hari-hari tersebut, maka demikian pulalah adanya Sunday Market itu.</p>
<h3>Sumbangkan ke Charity</h3>
<p>Ada banyak charity di sini yang mau menerima barang-barang bekasmu untuk kemudian dijual kembali oleh mereka dengan harga yang sangat murah.<br />
Kebanyakan dari mereka adalah charity-charity kristiani yang meski demikian tidak mengkhususkan diri untuk kaum kristiani saja. Sebut saja <a href="http://www.vinnies.org.au/"><strong>Vincent de Paul</strong></a>, salah satu charity terbesar di Australia yang jelas dari namanya saja tampak unsur &#8216;kristiani&#8217; nya. Namun meski demikian, sekali lagi kutekankan, ia tidaklah mengkhususkan menerima/menjual barang kepada kaum kristiani saja melainkan untuk umum dan bukti kebesaran namanya adalah betapa masyrakat Australia tak pandang bulu apakah dia beragama atau tidak, kristen atau yahudi atau apapun, nyumbang is nyumbang <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Yang menarik dari menyumbang ke charity, dalam hal ini adalah Vincent de Paul, kita memberikan sumbangan itu melalui pos-pos yang telah disediakan di tempat-tempat tertentu. Adapun pos-pos tersebut bentuknya cukup menarik. Ia berdiri seperti kotak pos dan kita tinggal memasukkan apapun yang ingin kita masukkan selalu cukup/muat.  Kalau tak muat, misalnya kita ingin menyumbang sofa atau tv, kita tinggal menelpon dan staff mereka akan datang menjemput barang-barang tersebut.</p>
<p>Lalu diapakan barang-barang itu?<br />
Setelah barang dikoleksi, mereka lantas menyortir barang-barang tersebut. Adakah yang benar-benar sudah tak layak pakai, jika memang demikian maka kemungkinan besar barang-barang itu akan dibuang. Barang-barang yang layak &#8216;dijual&#8217; kemudian dibersihkan dan dikondisikan untuk &#8216;layak jual&#8217; diberi label, didistribusikan ke outlet-outlet St Vincent de Paul yang tersebar di seluruh penjuru Australia dan dijual.</p>
<p>Terkadang, jalan-jalan dan sedikit berbelanja ke outlet-outlet tersebut sangat menarik karena ada begitu banyak barang unik nan murah. Kenapa kukatakan sedikit, karena ada baiknya kita tak berbelanja ke sana karena barang-barang yang disediakan di sana bukankah diperuntukkan bagi kaum duafa yang berpenghasilan jauh lebih sedikit daripada kita?</p>
<p>Lagipula kan nggak lucu kalau misalnya kita tiba-tiba nemu barang yang pernah kita miliki lalu kita serahkan ke charity dan &#8220;<em>Loh, ini barang kita&#8230; mari kita beli lagi!</em>&#8221;</p>
<p>Eh, eh.. ada yang bisik-bisik &#8220;<em>Lha kok dijual lagi dan nggak diberikan saja gratis ke orang-orang?</em>&#8221; Maka jawabku, &#8220;<em>Hmmm&#8230; ini Australia, Bung!</em>&#8221; <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3>Hari Pembuangan</h3>
<p>Ada hari-hari tertentu tergantung kesepakatan masing-masing council (semacam kecamatan) dimana kita diperbolehkan untuk membuang barang-barang bekas apapun itu di depan rumah.<br />
Lalu sebuah mobil boks besar dari council akan segera memunguti barang itu dan mengumpulkannya ke satu tempat dan entah apa yang akan mereka lakukan, tergantung kesepakatan antar-council. Hal menarik dari &#8216;Hari Pembuangan&#8217; ini adalah, ada sekalangan masyarakat yang hobinya mengumpulkan barang-barang bekas yang dibuang oleh orang lain lalu dimanfaatkannya untuk kepentingan sendiri.<br />
Mereka biasanya memiliki info tentang kapan council A akan mengadakan hari pembuangan. Jadi, misalnya hari pembuangan adalah esok pagi dan sore sehari sebelumnya orang-orang mulai membuang barang bekasnya ke depan rumah, malam hari itu adalah malam pesta bagi mereka. Legalkah itu? Oh sangat! Malah keberadaan mereka justru membahagiakan banyak pihak termasuk council yang bisa mengirit kerja karena telah &#8216;dibantu&#8217; oleh mereka sebelumnya.</p>
<p>Jadi kalau kalian sering mendengar cerita tentang &#8216;Orang memungut TV yang relatif masih baru di muka rumah orang lain&#8217; itu memang benar-benar ada dan nyata! <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3>Berikan ke Teman</h3>
<p>Ya, kalau kalian punya teman dekat dan kebetulan mereka membutuhkan barang yang telah tak kita pakai lagi, kenapa tidak kita hibahkan saja barang itu ke mereka?<br />
Aku punya banyak teman, kebetulan mereka sesama Indonesian, maka terutama untuk kebutuhan perlengkapan bayi misalnya, ada begitu banyak teman yang menawarkan barang-barang miliknya untuk kita pakai.<br />
Sebaliknya, ketika anak kita sudah kunjung membesar dan pakaian tak cukup lagi ia kenakan, maka kita pun bergantian ramai-ramai menawarkan ke teman lain yang membutuhkan.<br />
Loh, tapi apa kata orang kalau anak kita pakai barang bekas?<br />
Beuhhh.. di sini mah ngga ada yang peduli dengan apa yang kau kenakan <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3>Kirim ke Indonesia</h3>
<p>Ini agak berlebihan karena pada kenyataannya, biaya pengiriman barang ke Indonesia terkadang sangat tidak logis dibandingkan dengan berapa nilai barang itu sendiri.<br />
Kebanyakan mahasiswa yang telah lulus kuliah dan akan kembali ke Indonesia selamanya, memilih cara ini sekaligus &#8216;boyongan&#8217; meski ada juga yang memilih empat cara di atas yang jelas jauh lebih mudah dan praktis.<br />
Aku sendiri beberapa kali melakukan tapi memilih cara &#8216;menitip&#8217; teman yang hendak pulang berlibur ke Indonesia atau hendak pulang sehabis berlibur ke Australia <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Perkara bobot barang tentu menjadi hal yang patut diperhitungkan mengingat kapasitas bagasi yang terbatas dan bukankah kita menitip itu secara cuma-cuma dan hanya bermodalkan <em>&#8220;Ah, kita kan berteman?&#8221;</em></p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/09/02/membuang-barang-bekas-pakai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soto jawa, mee bandung dan &#8230; ah, malaysia</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/08/30/soto-jawa-mee-bandung-dan-ah-malaysia.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/08/30/soto-jawa-mee-bandung-dan-ah-malaysia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 07:46:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[malingsia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1021</guid>
		<description><![CDATA[Simak foto di atas! Sudah? OK&#8230;. Begini, foto di atas terdiri dari dua bagian. Bagian kiri adalah sampul menu /daftar makanan sebuah restauran penyaji makanan khas Malaysia yang ada di timur kota Sydney dan bagian kanan adalah isi menunya. Ngeh? Sudah? Eitsss jangan teriak &#8220;Ganyang!&#8221; dulu&#8230;. sabar&#8230; sabar&#8230; Kalian perlu tahu apa yang kupikirkan ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://lh5.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/THthMThc4fI/AAAAAAAAAr8/Oa0pxke3YSQ/malingsia.jpg" alt="" width="500" height="332" /></p>
<p>Simak foto di atas!</p>
<p>Sudah? OK&#8230;.<br />
Begini, foto di atas terdiri dari dua bagian. Bagian kiri adalah sampul menu /daftar makanan sebuah restauran penyaji makanan khas Malaysia yang ada di timur kota Sydney dan bagian kanan adalah isi menunya.</p>
<p>Ngeh? Sudah? Eitsss jangan teriak &#8220;Ganyang!&#8221; dulu&#8230;. sabar&#8230; sabar&#8230;<br />
Kalian perlu tahu apa yang kupikirkan ketika pertama kali aku melihat ada menu &#8216;Soto Jawa&#8217; dan &#8216;Mee Bandung&#8217; di situ&#8230;<br />
Aku jadi langsung membayangkan mungkinkah ada kota yang namanya Bandung dan pulau yang namanya Jawa di Malaysia, sama halnya di Indonesia, dan kedua tempat itu terkenal dengan Mee dan Soto nya, sama pula dengan di Indonesia, sehingga si pemilik restauran berani untuk mengangkatnya sebagai &#8216;makanan khas Malaysia?&#8217;</p>
<p>OK, silakan misuh dan mengomyang&#8230;  <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/08/30/soto-jawa-mee-bandung-dan-ah-malaysia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum masyarakat</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/08/26/hukum-masyarakat.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/08/26/hukum-masyarakat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 08:37:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1019</guid>
		<description><![CDATA[Aku sedang penasaran akan satu hal, bagaimana proses terjadinya perubahan pandangan di masyarakat bahwa melakukan sesuatu adalah salah dan berdosa sedangkan ketika kita melakukan sesuatu yang lain adalah tak berdosa jika sejatinya keduanya memiliki konsep tindakan yang sama? Taruhlah mencuri. Orang mencuri ayam tetangga, ibu-ibu penilep permen di pasar swalayan dan seorang cucu usia belasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku sedang penasaran akan satu hal, bagaimana proses terjadinya perubahan pandangan di masyarakat bahwa melakukan sesuatu adalah salah dan berdosa sedangkan ketika kita melakukan sesuatu yang lain adalah tak berdosa jika sejatinya keduanya memiliki konsep tindakan yang sama?</p>
<p>Taruhlah mencuri.<br />
Orang mencuri ayam tetangga, ibu-ibu penilep permen di pasar swalayan dan seorang cucu usia belasan yang mencuri uang di almari kakek, mereka semua kita laknat sebagai pencuri!<br />
Tapi orang yang memanfaatkan internet kantor untuk diam-diam ber-facebooking, tweeting maupun blogging&#8230; orang yang dengan serakah merusak hutan untuk berladang, orang yang membajak atau menikmati bajakan karya seni dan budaya&#8230; dengan sangat tidak mudah, kita tak bisa mengkategorikan mereka (kita? aku?) sebagai pencuri padahal pada dasarnya mereka (kita? aku?) pun juga mengambil hak milik orang/pihak lain tanpa seijin si empunya.</p>
<p>Benarkah harus ada proses yang demikian: <strong>(1) Seseorang melakukan aksi terhadap orang lain, (2) Orang lain merasa dirugikan, (3) Kerugian itu disadari (acknowledge) oleh masyarakat, (4) Masyarakat melalui pemuka-pemuka moral dan agama mengaitkan tindakan itu dengan nilai-nilai dan tata atur agama, (5) Keluarlah talak, &#8220;Yak, dosa!&#8221;</strong></p>
<p>Jika memang demikian, yang kukhawatirkan adalah pada langkah ke-3 dan selanjutnya.<br />
Kenapa? Jawaban termudahnya, masyarakat tanpa pengaturan yang kokoh adalah sebuah gelombang air yang cair, bergelombang, penuh keterombang-ambingan dan tak jarang menghasilkan satu keputusan yang justru sangat subyektif. Kalian tak percaya dengan anggapanku? Amatilah salah satu acara di televisi swasta kita yang mengijinkan masyarakat untuk mengomentari berita yang ditayangkan dan tangkaplah ada berapa pendapat yang berbeda-beda di sana?</p>
<p>Nah, lanjut.<br />
Taruhlah dalam kasus bagaimana dirugikannya sebuah kantor gara-gara pegawainya secara ilegal ber-facebooking, tweeting maupun blogging itu tadi.<br />
Anggaplah sang pemilik kantor itu lantas ter-endus oleh masyarakat, katakanlah karena pada akhirnya ia melakukan pemecatan pada karyawan yang dimaksud, belum tentu masyarakat lantas membenarkan kebijakan pemecatan tersebut sebagai &#8220;sesuatu yang melawan kejahatan pencurian&#8221;. Tanggapan-tanggapan klise yang menurutku amat aneh itu bisa jadi <em>&#8220;Oh, lha masa gitu saja dipecat? Rugi ya rugi tapi kan kantor tetap untung banyak tho?&#8221;</em> atau <em>&#8220;Kok nggak manusiawi banget tho! Nggak sebanding dengan bagaimana derita anak-istrinya yang berkekurangan karena suaminya kehilangan pekerjaan!&#8221;</em> atau yang mau lebih ekstrim lagi <em>&#8220;Woo.. kantor kafir! Menyengsarakan umat!&#8221;</em></p>
<p>Ketika semua itu terjadi, hilanglah satu momentum untuk &#8216;memasukkan&#8217; perihal pencurian waktu dan bandwidth internet kantor untuk hal-hal diluar urusan kantor (semisal facebooking, tweeting dan blogging) dalam kategori pencurian.</p>
<p>Contoh lain misalnya pada kasus perusakan hutan untuk berladang.<br />
Katakanlah si perusak itu dilaporkan ke pihak yang berwajib karena perusakan lingkungan hidup, membunuhi binatang, merusak dan menebang pohon di hutan. Belum tentu masyrakat dengan mudah menilai itu sebagai sebuah &#8216;kesalahan&#8217;. Bisa jadi, saking &#8216;cair&#8217; nya kondisi masyarakat yang menilai maka tumbuh banyak pendapat diantaranya <em>&#8220;Ya, memang kasihan binatang itu dibunuhi dan pohon ditebang.. tapi demi manusia yang juga butuh tempat tinggal dan usaha apa salahnya? Kita doakan saja para hewan itu diterima di sisi-Nya!&#8221; </em></p>
<p>Duh! Kalau demikian bisa-bisa yang terjadi justru sebaliknya, demi kelangsungan hidup manusia, tindakan-tindakan perusakan lingkungan hidup adalah amal dan jauh dari dosa?<br />
Takutku, kalaupun akhirnya keluar talak &#8216;dosa&#8217;, itu terjadi pada saat tak ada lagi binatang dan pohon yang bisa dibunuh dan ditebang. Sebuah kesia-siaan yang menyisakan penyesalan tiada akhir&#8230;</p>
<p>Kalau sudah demikian, yang patut memangkas proses ini tak lain adalah hukum serta aparat-aparat pengusungnya.<br />
Aparat hukum harus benar-benar adil dan bermartabat dalam menjadi juri yang kukuh dalam setiap kasus yang setiap waktu selalu berkembang meski asas dan hakikatnya tetaplah sama. Kemampuan yang dituntut dari mereka tak hanya soal kejujuran dan kepandaian menjatuhkan hukuman tapi lebih dari itu juga harus pandai membaca situasi sehingga mereka dapat membantuku menjawab pertanyaanku mula-mula di atas; bahwa merekalah yang layak menjaga hukum dan menentukan tindakan mana yang harus dikategorikan sebagai suatu kesalahan berikut ancaman hukumannya serta mana yang tidak.</p>
<p>Beda perkaranya bila mereka sendiri adalah juga pelaku kejahatan-kejahatan baru tersebut &#8230; kalau yang demikian sih, akan sungguh-sungguh menyesakkan dada&#8230;</p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/08/26/hukum-masyarakat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah designer digaji mahal?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/08/23/mungkinkah-designer-digaji-mahal.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/08/23/mungkinkah-designer-digaji-mahal.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 08:18:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[adobe cs5]]></category>
		<category><![CDATA[design]]></category>
		<category><![CDATA[designer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1016</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin aku menginstall versi terbaru dari software-software buatan Adobe, CS 5. Legal? Iya Di sini kalau mau illegal agak susah lagi pula perusahaan tempatku bekerja tak &#8216;membisakan&#8217; nya, jadi ya terima jadi anugerah ini Proses penginstallan yang memakan waktu 25 menit itu lantas menjadi ladang permenungan bagiku dan pikiran ini rasanya seperti terlontar ke beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin aku menginstall versi terbaru dari software-software buatan Adobe, <strong>CS 5</strong>.<br />
Legal? Iya <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Di sini kalau mau illegal agak susah lagi pula perusahaan tempatku bekerja tak &#8216;membisakan&#8217; nya, jadi ya terima jadi anugerah ini <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Proses penginstallan yang memakan waktu 25 menit itu lantas menjadi ladang permenungan bagiku dan pikiran ini rasanya seperti terlontar ke beberapa waktu ke belakang ketika aku masih tinggal di negeri nan elok, Indonesia.</p>
<p>Andai, pembajakan hak cipta karya seni budaya termasuk software adalah sebuah tindak kriminal yang dikutuk pemerintah, maka kubayangkan lapak-lapak penjual CD installer software bajakan itu akan lenyap, musnah. Akibatnya, orang jadi tak mudah untuk membeli installer bajakan lalu menginstall software ke komputer karena untuk membeli yang asli adalah mahal, mereka harus berpikir berulang-ulang sebelum akhirnya mau merogoh kocek, kan? Akibat lainnya, para penjual lapak penjual CD memang akan kehilangan pekerjaan, tapi itu pertanda bagus karena sebuah pelajaran hidup tentang pilihan kerja yang salah didapatkannya.</p>
<p>Semakin sedikit orang yang menginstall software, dalam contoh ini adalah software olah design digital, kemampuan mengoperasikan software dan memproduksi karya menggunakan software tersebut akan  dihitung semakin mahal. Kenapa, karena orang tidak akan dengan mudah lagi bilang <em>&#8220;Ah, mbikin gituan gampang, Mas! Saya punya softwarenya, anak saya kemarin beli cd-nya di pinggiran jalan sana. Dia sudah mulai bisa mbikin macem-macem juga lho!&#8221;</em></p>
<p>Karena kemampuan berproduksi dianggap mahal, maka karya yang dihasilkan otomatis juga terangkat nilainya dan akhirnya upah para designer pun akan meningkat dan meningkat pulalah taraf hidupnya. Tiada lagi keluh kesah semisal <em>&#8220;Wah, gimana bisa hidup? Desain kartu nama gw bikin mati-matian aja cuma dihargai tiga bungkus rokok Samsu?&#8221;</em> Atau mau yang lebih nylekit lagi<em> &#8220;Aku mau mandheg jadi designer, Mas! Mau mbantu Bapak mblantik motor saja di desa, hasilnya jauh dari lumayan!&#8221;</em><br />
Peningkatan nilai uang dalam karya design seharusnya juga merangsang cita rasa seni para designer untuk beproduksi secara lebih baik, efisien dan membawa hasil karya yang lebih &#8216;nendang lagi!</p>
<p>Karena nilai design yang semakin mahal diikuti hasil karya yang brilian, maka jika ada perusahaan yang membelinya untuk design logo, misalnya, otomatis karya tersebut akan turut meningkatkan citra produk di mata masyarakat. Semakin masyarakat tertarik pada produk berlogo &#8216;asik&#8217; tersebut, semakin mudah pula bagi perusahaan untuk meningkatkan harga jual per produknya karena mau tak mau impresi yang didapat produk melalui logo itu naik.</p>
<p>Muaranya, pemerintah yang harusnya jeli.<br />
Melihat betapa gelombang &#8216;gairah&#8217; kenaikan harga tersebut, mereka akan mendapatkan pajak yang lebih besar lagi dari perputaran tersebut.<br />
Pola distribusi pajak yang bersih dan &#8216;anti-bocor&#8217; dari sebuah pemerintahan yang baik memungkinkan keuntungan dari pajak itu untuk lebih membuat warga negaranya hidup sejahtera.<br />
Dalam tataran yang lebih simple, contohnya, karena pemerintah menyadari bahwa para designer lah yang menjadi mata pusaran meningkatnya kesejahteraan itu, mereka (para designer itu) lantas diberikan kemudahan investasi untuk membeli installer software yang asli baik dalam bentuk pinjaman pengadaan software atau bisa pula pada pengalihan status &#8216;barang tak dikenai pajak&#8217; untuk pembelian installer-installer tadi.</p>
<p>Ketika semua bisa teratur seperti itu, rasa bangga atas profesi bisa ditemui dalam diri setiap designer, para istri maupun suami  juga anak-anak mereka.</p>
<p>Lamunan pun usai seiring selesainya proses instalasi&#8230; dan aku kembali pada kenyataan, bumi para manusia! <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/08/23/mungkinkah-designer-digaji-mahal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapkah kita untuk mengalami kemunduran?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/08/19/siapkah-kita-untuk-mengalami-kemunduran.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/08/19/siapkah-kita-untuk-mengalami-kemunduran.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 07:46:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[NASA]]></category>
		<category><![CDATA[sun flare]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1013</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin pagi aku mengikuti sebuah conference yang diadakan oleh salah satu divisi tempatku bekerja, sebuah kapitalis raksasa global di bidang penanganan dokumen, tentang teknologi yang berhasil mereka temukan dan penerapannya sudah dalam taraf pre-flight; siap untuk dilempar ke pasar beberapa waktu mendatang. Conference itu sendiri berjalan dengan menarik, gaya presentasi yang up-to-date serta makanan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin pagi aku mengikuti sebuah <em>conference </em>yang diadakan oleh salah satu divisi tempatku bekerja, sebuah kapitalis raksasa global di bidang penanganan dokumen, tentang teknologi yang berhasil mereka temukan dan penerapannya sudah dalam taraf <em>pre-flight</em>; siap untuk dilempar ke pasar beberapa waktu mendatang. <em>Conference </em>itu sendiri berjalan dengan menarik, gaya presentasi yang up-to-date serta makanan dan minuman yang &#8216;mbanyu mili&#8217; sepanjang acara berjalan.</p>
<p>Namun, di tengah kenikmatan itu, tiba-tiba berkecamuk sebuah pertanyaan yang seperti disodorkan begitu saja ke alam pikirku.<br />
Begini, kalau manusia sudah terbiasa dengan kemajuan, mampukah kita untuk mengalami kemunduran dalam hidup?</p>
<p>Kemajuan adalah sesuatu yang menjadi jamak bagi kita karena &#8216;menjadi lebih maju&#8217; adalah naluri dan alasan untuk kita tetap semangat menyambut pagi, bukan?<br />
Demi kemajuan-kemajuan itu, kita berpikir dan bekerja keras. Memeras otak dan membanting tulang setiap harinya selama kita hidup, selama kita ingin maju. Raihan-raihan yang berarti itu lantas seperti tersaji dalam tatanan hidup membawa kita menjadi semakin maju, memudahkan kehidupan dan memberikan rasa nyaman. Kita bisa menikmati aneka ragam informasi dari telepon genggam, sesuatu yang sepuluh tahun silam tak lebih dari piranti telpon dan pengantar serta penerima pesan teks dari kerabat. Kita juga bisa menikmati siaran televisi melalui kabel, menyaksikan bagaimana isak tangis Maradona yang sekarang adalah pelatih Argentina ketika timnya berlaga di Piala Dunia di Afrika Selatan sana, padahal kita ada di belahan bumi lainnya. Dan masih banyak seabrek kemajuan teknologi lainnya yang tentu tak kan pernah cukup untuk dituangkan di sini.</p>
<p>Namun sayangnya, kelemahan dari semua kemajuan yang telah kita capai tersebut, kalau boleh menyebutkan, adalah adanya dependensi terhadap sumber daya lain baik alam maupun buatan manusia. Katakanlah telpon genggam. Pernahkah kita membayangkan jika sesuatu hal terjadi dengan tata atur satelit yang mengatur jalannya arus informasi dari dan ke telpon genggam kita? Bisa dipastikan telpon genggam kita akan kehilangan dayanya. Ia tak lebih akan menjadi sebuah piranti kosong tanpa informasi yang biasa kita sesap darinya. Atau bayangkanlah jika tiba-tiba seluruh dunia mengalami black-out karena mati listrik dan masih bisakah kita melihat tempik sorak para pemain Spanyol yang menjadi juara dunia baru lewat layar kaca? Bukankah televisi tanpa arus listrik hanya akan menjadi papan hitam yang masif nan tak bergeming?</p>
<p>Aku bicara tentang apa yang diramalkan terjadi pada sekitar bulan Mei 2013 mendatang.<br />
NASA menyebutkan (<a href="http://science.nasa.gov/science-news/science-at-nasa/2009/29may_noaaprediction/">click di sini</a> untuk info selengkapnya) bahwa pada sekitar bulan itu nanti, Matahari akan mengalami beberapa kali letusan di permukaannya. sebuah fase yang sebenarnya bersifat periodik. Meski telah terprediksi dan bersifat periodik, tetaplah tak seorang pun tahu  akan seperti besarnya peristiwa itu. Efek-efek yang akan ditimbulkan pun juga demikian masih merupakan tanda tanya besar. Bisa saja sistem telekomunikasi dunia akan mengalami gangguan dengan skala kerusakan yang entah seperti apa. Bisa juga seluruh dunia berpotensi mengalami blackout entah itu dari arus listrik maupun jaringan telekomunikasi dan informasi untuk sekian lama karena gangguan tersebut.</p>
<p>Nah, ketika itu semua memang harus terjadi dan tak satupun dari kita mampu menanggulanginya, kuulangi lagi pertanyaan yang kulontarkan di atas, mampukah kita untuk mengalami kemunduran atas apa yang telah kita raih lalu membangunnya lagi susah payah dari awal?<br />
Sebagai manusia yang mencoba untuk selalu optimis, persoalan paling mendasar menurutku bukanlah soal mampu atau tidak, tapi lebih pada mau atau tidak..</p>
<p>Jadi, mau tidak mempersiapkan segala kemungkinan?</p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/08/19/siapkah-kita-untuk-mengalami-kemunduran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berhentilah mencetak dokumen digital</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/08/12/berhentilah-mencetak-dokumen-digital.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/08/12/berhentilah-mencetak-dokumen-digital.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 07:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[go green]]></category>
		<category><![CDATA[kertas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1010</guid>
		<description><![CDATA[Berpartisipasi untuk tetap mengawetkan bumi sebagai planet yang layak ditinggali barangkali adalah demikian&#8230; Lebih dari satu dekade aku mengukuhkan diri sebagai orang yang harus mencukupi hidupnya melalui singgungan dengan dunia komputer dan internet. Selama itu, jika dirata-rata barangkali tak kurang dari setengah waktu per hari kuhabiskan dengan jalan bekerja di depan layar komputer. Ada begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berpartisipasi untuk tetap mengawetkan bumi sebagai planet yang layak ditinggali barangkali adalah demikian&#8230;</p>
<p>Lebih dari satu dekade aku mengukuhkan diri sebagai orang yang harus mencukupi hidupnya melalui singgungan dengan dunia komputer dan internet. Selama itu, jika dirata-rata barangkali tak kurang dari setengah waktu per hari kuhabiskan dengan jalan bekerja di depan layar komputer. Ada begitu banyak hal yang harus kukerjakan di situ. Mulai dari pekerjaan hingga hiburan pun terkadang cukup bisa terpenuhi hanya dengan memandang dan mengamati informasi-informasi yang bersliweran di layar komputer.</p>
<p>Namun meski demikian, satu hal yang sejak dulu tak bisa kuatasi hanya dengan menggunakan layar komputer adalah ketika aku perlu membaca detail sebuah dokumen.<br />
Bagi kalian yang pernah kuliah Teknik Informatika dan ingat tentang mata kuliah Pengantar Ilmu Komputer barangkali ingat betapa kebanyakan dari kita hanya bisa membaca scanning di layar komputer dan demikianlah halnya denganku.<br />
Misalnya ketika butuh membaca email yang panjang lagi penting, aku dengan spontan langsung memencet tombol Ctrl+P untuk mencetaknya dalam format kertas, membacanya lalu kalau perlu memberi bubuhan ini itu di atas kertas menggunakan pensil ataupun pena.<br />
Belum lagi ketika mengunduh ebook dan membacanya. Namanya saja ebook, tapi pada kenyataannya, ia menjadi buku yang sebenarnya yang lantas kucetak dan kubaca.</p>
<p>Kenapa bisa demikian?<br />
Jauh dari segala teori yang pernah kupelajari, pada dasarnya aku merasa bahwa ketika aku menggenggam kertas dan membaca tulisan yang dicetak adalah lebih &#8216;meyakinkan&#8217; ketimbang hanya memelototi screen layar dan membaca di sana.<br />
Ini memang menyangkut pola kebiasaan; menyangkut tentang apa yang kita dapat dan pelajari pada awal kita bertumbuh. Aku, dan sebagian besar dari kita, tumbuh pada masa dimana kertas telah dapat diproduksi dengan mudah dan murah dan kita terbiasa dimanja oleh keadaan tersebut. Sehingga, ketika datang sebuah era baru dengan teknologi terbaru ditambah lagi dengan <em>concern</em> yang semakin meninggi menyangkut konservasi alam yang menuntut kita untuk beralih dari ketergantungan terhadap sesuatu ke suatu yang lain, dalam hal ini kertas ke layar monitor, kita cenderung gagap menanggapinya.</p>
<p>Aku berharap kebiasaan &#8216;buruk&#8217; ini akan semakin terkikis dalam diri kita serta terlebih pada mereka, manusia-manusia yang baru akan dewasa sekitar 10-20 tahun lagi.<br />
Aku tak bisa membayangkan jika anak-anak generasi Odi, anakku, nanti masih juga harus mencetak email ataupun ebook maka harus ada berapa juta pohon yang harus ditebang untuk diproses menjadi kertas hanya demi kenyamanan dan atas nama kebiasaan yang telah uzur usianya itu? Anak-anak, bagaimanapun juga harus dibiasakan untuk melakukan interaksi dengan layar komputer sebanyak mungkin dan perlahan-lahan melupakan bahwa kertas adalah media yang baik untuk dibubuhi tulisan dan dibaca. Mereka harus mengubah pola pandang bahwa pohon adalah makhluk hidup yang bisa membantu kita lebih pada bagaimana membantu menciptakan lingkungan hidup yang layak ketimbang sebuah bahan baku untuk kepentingan-kepentingan pribadi kita seperti misalnya untuk keperluan properti, furniture dan kertas itu tadi.</p>
<p>Jadi, please, stop bagi kalian yang barangkali sudah tak sabar mencetak postingan ini untuk dibaca dan jadi teman tidur&#8230; <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  <em>*eh emang ada?</em></p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/08/12/berhentilah-mencetak-dokumen-digital.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Round About</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/08/05/round-about.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/08/05/round-about.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 09:40:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[bunderan]]></category>
		<category><![CDATA[round about]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1007</guid>
		<description><![CDATA[Round about dalam &#8216;istilah Indonesia&#8217; adalah tak tepat jika diartikan sebagai &#8216;sekitar putaran&#8217;. Ia lebih cocok diartikan sebagai bunderan. Wujudnya memang betul-betul bunderan seperti halnya kita akrab dengan Bunderan HI di Jakarta atau Bunderan UGM di Jogja, berada di tengah-tengah pertigaan, perempatan atau perlimaan bahkan perdelapanan juga bisa. Di Australia, round about jamak ditemui terutama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Round abou</em>t dalam &#8216;istilah Indonesia&#8217; adalah tak tepat jika diartikan sebagai &#8216;sekitar putaran&#8217;. Ia lebih cocok diartikan sebagai bunderan. Wujudnya memang betul-betul bunderan seperti halnya kita akrab dengan Bunderan HI di Jakarta atau Bunderan UGM di Jogja, berada di tengah-tengah pertigaan, perempatan atau perlimaan bahkan perdelapanan juga bisa. Di Australia, round about jamak ditemui terutama di area-area yang menurut <strong>RTA </strong>(<em>Road and Traffic Authority</em>, semacam DLLAJR-nya Australia) belum perlu diatur menggunakan traffic light seperti misalnya di gang-gang perumahan dan perempatan-perempatan besar yang terletak di luar kota (rural area).</p>
<p>Kenapa tiba-tiba round about bisa masuk ke dalam blog ini dan menjadi bahan tulisan yang menggelitik bagiku?<br />
Tak lain karena aku merasa bahwa melalui hal yang sepele seperti round about kita bisa belajar banyak tentang bagaimana menaati sebuah aturan dan menjaga kondisi tersebut untuk kebaikan bersama.</p>
<p>Aturan yang diterapkan pada round about sebenarnya sederhana.<br />
Begini, misalnya kita melaju dari satu jalur lalu berencana untuk belok ke kanan pada perempatan yang memiliki round about maka taatilah dua aturan di bawah ini.<br />
Pertama, kalian harus memutari round about untuk membelok ke kanan. Tak boleh langsung membelok ke kanan tanpa memutarinya atau bahkan menerjangnya.<br />
Kedua, sebelum memutari round about, pastikan tak ada kendaraan yang ada di sisi kananmu. Jadi, sebelum membelok, selalu perhatikan apakah traffic yang ada di sebelah kananmu kosong atau tidak. Jika tidak, berhenti dan menunggu hingga kosong, jika kosong, melajulah.<br />
<em> Lihat pada ilustrasi di bawah. Mobil sebelum melaju, mobil B harus memastikan bahwa jalur kosong atau menunggu si A lewat. Mobil C baru bisa lewat ketika jalur telah kosong atau menunggu si A dan B lewat.</em></p>
<p><em><img class="aligncenter" src="http://lh5.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/TFqGhIt2ecI/AAAAAAAAAq8/5b-Lo0nP9mY/roundabout.gif" alt="" width="500" height="500" /><br />
</em></p>
<p>Namun yang lantas menjadi tak sederhana adalah bahwa dalam pelaksanaan tata aturan tersebut dibutuhkan rasa saling percaya antar pengguna lalu lintas yang hendak memutari round about.<br />
Jika kalian perhatikan dari pemaparanku di atas, para pengguna lalu lintas terkesan tak perlu memperhatikan pengguna lain yang ada di sebelah kiri karena semua tergantung pada traffic yang ada di sisi kanannya dan pada praktiknya memang demikian. Sehingga mau tak mau kita harus percaya pada mereka yang ada di sebelah kiri; berharap mereka pun berlaku seperti kita yang memperhatikan apa yang terjadi di sisi kanannya dan bukannya melanggar; bergerak diam-diam padahal traffic di sebelah kanannya, yaitu kita, butuh jalan lebih dulu karena aturan membolehkannya.</p>
<p>Dua tahun tinggal di Australia dan sejauh yang kulihat dan kubaca melalui media, nyaris tak ada &#8216;cacat&#8217; dalam pelaksanaan aturan round about ini.<br />
Akan tetapi, meski sangat jarang, sesekali aku pernah melihat kecelakaan yang terjadi di round about karena ketidakpatuhan seorang pengguna yang mengakibatkan celaka tak hanya bagi ia sendiri tapi juga pengguna lain yang barangkali sudah terlanjur percaya pada pengguna lainnya. Kecelakaan itu kebanyakan terjadi karena pengguna yang seharusnya menunggu kendaraan di sebelah kanannya untuk melaju tapi lantas nekat untuk masuk ke round about dan terjadilah kecelakaan. Beberapa kesalahan fatal terjadi biasanya karena ada seorang pengendara yang nekat menerabas round about (karena beberapa round about memang tak memiliki ketinggian bidang, benar-benar rata dengan jalan raya yang landai) dan akibatnya tertabrak/menabrak kendaraan lainnya yang ada di sekitarnya.</p>
<p>Itulah sekelumit cerita tentang round about.<br />
Aku tak tahu pasti apakah beberapa bunderan yang ada di Tanah Air diadakan untuk maksud dan aturan yang sama atau sekadar untuk monumen dan penghias jalan raya.<br />
Tapi sekali lagi, bagiku, memperhatikan bagaimana pengguna jalan mematuhi aturan round about adalah menarik.</p>
<p>Bayangkan jika jalan raya adalah rumah dan pengguna lalu lintas lain adalah anggota keluarga kita serta round about adalah aturan yang melingkupi di dalamnya, maka kita perlu percaya pada anggota keluarga lain sebagaimana mereka semoga juga percaya kepada kita.</p>
<p>Bayangkan jika jalan raya adalah negara dan pengguna lalu lintas lain adalah sesama warga negara termasuk para petingginya serta round about adalah aturan yang telah ditorehkan sekian lama oleh para pendiri negara&#8230; mampukah kita saling percaya?</p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/08/05/round-about.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Buruk Berbahasa Inggris</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/08/02/hari-buruk-berbahasa-inggris.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/08/02/hari-buruk-berbahasa-inggris.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 11:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[australia]]></category>
		<category><![CDATA[english]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1004</guid>
		<description><![CDATA[Hampir dua tahun tinggal di Australia, dan hingga hari ini aku masih tetap harus berjuang keras dalam berbahasa Inggris. Perjuangan masif sebenarnya karena aku berasal dan lebih dari 30 tahun tinggal di negara yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya lalu ujug-ujug pindah ke negara dengan Bahasa Inggris adalah bahasa resmi yang digunakan sehari-hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir dua tahun tinggal di Australia, dan hingga hari ini aku masih tetap harus berjuang keras dalam berbahasa Inggris.<br />
Perjuangan masif sebenarnya karena aku berasal dan lebih dari 30 tahun tinggal di negara yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya lalu ujug-ujug pindah ke negara dengan Bahasa Inggris adalah bahasa resmi yang digunakan sehari-hari seperti Australia ini.</p>
<p>Aku tidak hendak bericerita tentang bagaimana susah payahnya dan apa yang sudah kucapai dan apa yang belum dalam berpraktik Bahasa Inggris karena aku sedang mengumpulkan semua kejadian-kejadian konyol dan serius terkait dengan hal tersebut untuk kurangkai menjadi tulisan yang semo menarik, kali ini aku akan bercerita tentang apa yang kusebut sebagai <strong>&#8220;Hari Buruk Berbahasa Inggris&#8221;.</strong></p>
<p>What?!?<br />
Bagiku, Hari Buruk Berbahasa Inggris, mudahnya adalah hari dimana aku tak mampu menggunakan bahasa Inggris dengan baik, baik itu dalam pekerjaan maupun pergaulan, lisan ataupun tulisan.<br />
Khusus dalam lisan, kriteria baik buruk yang kukemukakan termasuk tentang pilihan kata yang kugunakan, bagaimana aku berhasil/gagal menangkap pembicaraan lawan bicaraku, serta sebaliknya bagaimana mereka mampu mendengar dan mengerti apa yang kuucapkan. Pada praktiknya, menentukan Hari Buruk Berbahasa Inggris atau bukan adalah denganku menghitung berapa banyak aku berujar <em>&#8220;Sorry, what was it?&#8221;</em> atau <em>&#8220;Say  again please&#8221;</em> pada setiap percakapan atau seberapa banyak teman-temanku yang kuajak bicara dengan muka pasrah nan memelas berujar <em>&#8220;No.. i dont understand what you&#8217;re talking about&#8221;</em> setiap aku menjelaskan secara gamblang tentang satu hal dan kuakhiri dengan pertanyaan <em>&#8220;Do you know what i mean?&#8221;</em><br />
<em> *Yak, silakan tertawa!</em></p>
<p>Lalu kapan terjadinya &#8220;Hari Buruk Berbahasa Inggris&#8221; itu?<br />
Tak tentu, tapi yang paling sering terjadi adalah hari Senin.<br />
Hari senin biasanya (tak selalu) adalah hari yang cukup buruk dalam ku berbahasa Inggris karena semenjak jumat malam hingga minggu aku sangat sedikit mempraktikkan Bahasa Inggris karena praktis aku lebih banyak bersama istriku yang juga orang Indonesia dan anakku yang masih bayi. Adapun teman-teman yang sering kuajak kumpul-kumpul selama akhir pekan juga adalah orang-orang Indonesia yang jarang mempraktikkan Bahasa Inggris ketika berbicara dengan sesama orang Indonesia.<br />
Jadi, ketika Senin tiba dan aku harus kembali masuk kerja, kesalahan demi kesalahan praktik berbahasa Inggris biasanya terjadi dan itu bisa sepanjang hari bisa pula hanya awal-awal hari saja sekali lagi tergantung seberapa banyak aku berkomunikasi dalam Bahasa Inggris pada hari itu.</p>
<p>Lantas bagaimana mengatasi Hari Buruk Berbahasa Inggris tersebut?<br />
Ketika semua sudah terjadi, nggak bisa nggak selain harus berkonsentrasi terhadap apa yang diomongkan lawan bicara atau kalau masih bisa ya &#8216;ngeles&#8217; dengan berujar <em>&#8220;Ahhh.. i&#8217;m in the middle of something and need to be finished by the end of this day&#8230;&#8221;</em> setiap mereka bertanya <em>&#8220;Donny, could you please come to our meeting bla bla bla?&#8221;</em></p>
<p>Selain cara itu, setelah berkali-kali menghadapi hal yang sama setiap Senin, aku lantas memilih untuk bagaimana caranya mencegah terjadinya Hari Buruk Berbahasa Inggris di hari Senin dengan memperbanyak membaca buku berbahasa Inggris pada akhir pekan, menonton DVD film-film &#8216;barat&#8217; serta mendengarkan lagu berlirik Inggris dan mencoba menangkap serta menghayati setiap katanya.</p>
<p>Solusi lain tapi masih harus tunggu waktu adalah menanti Odilia, anakku, tumbuh besar.<br />
Bisa dipastikan, seperti halnya banyak anak-anak Indonesia yang lahir dan tumbuh di sini, ia akan menjadi seorang English native speaker yang baik namun tetap mengerti apa yang diucapkan orang tuanya dalam bahasa Indonesia. Jadi kubayangkan mulai 3 &#8211; 4 tahun mendatang ketika Odi sudah mulai bicara aktif dan &#8216;bermaksud&#8217;, ia akan menjadi &#8216;pemancingku&#8217; untuk selalu berkomunikasi menggunakan Bahasa<br />
Inggris dan di sisi lain, ia juga akan tetap menangkap Bahasa Indonesiaku jika aku tiba-tiba &#8216;mandeg di jalan&#8217; dan memilih berbahasa Indonesia kembali.</p>
<p>Solusi yang lebih dahsyat yang secara instant bisa dilakukan sebenarnya juga ada.<br />
Beberapa kali ketika aku terlalu banyak minum minuman beralkohol lalu bersosialisasi, banyak teman-temanku bilang bahwa kemampuan Bahasa Inggrisku naik begitu tajam.<br />
Tapi tentu saja hal ini tak praktis untuk dilakukan setiap hari karena tak baik untuk kesehatan selain juga aku tak yakin apakah yang dikatakan oleh teman-temanku tadi benar karena bukankah sebagian besar dari mereka juga sedang sama-sama mabuknya&#8230; <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/08/02/hari-buruk-berbahasa-inggris.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beginikah cara mereka memprioritaskan masalah?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/07/29/beginikah-cara-mereka-memprioritaskan-masalah.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/07/29/beginikah-cara-mereka-memprioritaskan-masalah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 07:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1002</guid>
		<description><![CDATA[1. Pengungkapan kasus video mesum orang mirip Ariel &#8211; Cut Tari &#8211; Luna Maya. 2. Kriminalisasi kasus ciuman Krisdayanti &#8211; Raul Lemos. 3. Pengungkapan asli-tidaknya video tabrak lari mobil polisi. 4. Blokir pornografi di internet. &#8230;. &#8230;. &#8230;. &#8230;. 99. Pengungkapan kasus illegal lodging di Sumatra dan Kalimantan. 100. Pengungkapan kasus dalang peristiwa kerusuhan Mei [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Pengungkapan kasus video mesum orang mirip Ariel &#8211; Cut Tari &#8211; Luna Maya.<br />
2. Kriminalisasi kasus ciuman Krisdayanti &#8211; Raul Lemos.<br />
3. Pengungkapan asli-tidaknya video tabrak lari mobil polisi.<br />
4. Blokir pornografi di internet.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
99. Pengungkapan kasus illegal lodging di Sumatra dan Kalimantan.<br />
100. Pengungkapan kasus dalang peristiwa kerusuhan Mei 1998.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
1001. Pengungkapan kasus peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996.<br />
1002. Pengungkapan siapa dalang pembunuh Munir<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
1291. Tindak tegas pengungkung kebebasan beribadah untuk agama apapun<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
10700. Masa depan FPI?<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
10720. Pengungkapan kasus Bank Century.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
50766. Pertanggungjawabkan secara hukum kasus &#8216;ledakan&#8217; gas elpiji!<br />
50767. Perbaiki keadaan listrik dalam tindakan nyata!<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
110660. Percepat pelunasan semua hutang luar negeri.<br />
110661. Usut secara hukum sumber &#8216;bencana&#8217; Lumpur Lapindo dan tangani serta hentikan semburan secara profesional dan terbuka.<br />
110662. Tuntaskan semua kasus korupsi dan tindak tegas para pelakunya!<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
500545. Berikan jaminan sosial dan kehidupan bagi orang miskin.<br />
500546. Berikan pendidikan gratis untuk masyarakat segala lapisan.<br />
500547. Berikan tunjangan kesehatan gratis untuk masyarakat.</p>
<p>Semoga persepsiku salah, akan tetapi dari apa yang kulihat dan amati dari berbagai media belakangan, apakah kira-kira seperti itu cara para pemimpin kita menyusun skala prioritas penanganan permasalahan?<br />
Terlalu banyak hal yang seharusnya diprioritaskan untuk dibereskan terlebih dahulu dan tak kalah sedikitnya hal-hal yang bisa disingkirkan terlebih dahulu untuk ditangani kemudian.</p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/07/29/beginikah-cara-mereka-memprioritaskan-masalah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuli Angkut? Pelacur Aja!</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/07/26/kuli-angkut-pelacur-aja.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/07/26/kuli-angkut-pelacur-aja.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 06:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Verdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[gaji]]></category>
		<category><![CDATA[kuli angkut]]></category>
		<category><![CDATA[pelacur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[Kemana larinya gajimu setiap bulannya? Berani taruhan, kemanapun itu, seberapapun besar gajimu, ia tak kan pernah terasa cukup! Barangkali benar ini memang perkara psikologis yang sederhana bahwa ada uang berapapun itu jumlah, hukumnya harus dihabiskan, termasuk ditabung! Aku sendiri memilih untuk memasrahkan 100 persen gajiku kepada istri, sesuatu yang kucontoh dari apa yang Papaku selalu lakukan terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemana larinya gajimu setiap bulannya? Berani taruhan, kemanapun itu, seberapapun besar gajimu, ia tak kan pernah terasa cukup! Barangkali benar ini memang perkara psikologis yang sederhana bahwa ada uang berapapun itu jumlah, hukumnya harus dihabiskan, termasuk ditabung!</p>
<p>Aku sendiri memilih untuk memasrahkan 100 persen gajiku kepada istri, sesuatu yang kucontoh dari apa yang Papaku selalu lakukan terhadap Mama dulu.<br />
Ini bukan semata-mata &#8216;wujud cinta&#8217; atau &#8216;penyerahan diri&#8217; semata tapi lebih dari itu, karena aku sadar aku bukanlah manajer keuangan yang baik. Aku adalah tipikal orang yang tanpa bantuan orang lain bisa menerbitkan keinginan dan mewujudkannya sehingga akan sangat berbahaya jika berapapun uang yang kudapat lalu kusimpan sendiri, bisa dipastikan, cepat atau lambat, uang itu akan habis sia-sia.</p>
<p>Sia-sia?<br />
Ya! Aku adalah penggila belanja, belanja apa saja! Mulai dari baju dan celana, alat musik, gadget elektronik hingga kebutuhan-kebutuhan kecil bisa kubeli ketika otakku berpikir &#8220;<em>Kayaknya bagus</em>!&#8221; atau &#8220;<em>Duh, sepertinya aku butuh beli untuk ini dan itu!</em>&#8220; Adakah dari kalian yang memiliki pola pikir dan lemahnya memegang uang sepertiku? Kuhargai kalau sampai kalian mengaku <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tapi bicara soal gaji dan kesia-siaan, tentu kalian masih ingat dengan tulisanku beberapa waktu silam yang berjudul <strong><a href="http://donnyverdian.net/2010/07/14/tentang-gaji-seorang-kuli-angkut-barang.html">Tentang Gaji Seorang Kuli Angkut Barang</a></strong>, bukan?<br />
Nah, salah satu komentator yang cukup loyal di blog ini sekaligus teman baikku, <strong>Femi Khirana</strong>, mengungkapkan bahwa sepertinya perlu bagiku untuk membahas kemana gaji besar para kuli angkut yang kuceritakan di tulisan itu akhirnya menguap?</p>
<p>Bukan sesuatu yang kebetulan pula kalau sebenarnya aku memang masih menyimpan serpihan &#8216;interview&#8217; ku dengan orang China yang kuceritakan dalam artikel tersebut.<br />
Berikut ini lanjutannya,</p>
<p>&#8220;Oh, besar amat ya, jadi 800 dollar dalam semalam?&#8221; aku masih tergagap-gagap.<br />
&#8220;Iya! Gila kan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu kenapa kamu milih ke jasa angkut barang pindahan dan bukannya jadi seperti mereka?&#8221;<br />
&#8220;Dulu, sebelum aku menikah aku kerja jadi kuli angkut pasar selama dua tahunan lebih&#8230;&#8221; Ia menerawang.</p>
<p>&#8220;Hmmm&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Tapi lantas orang tuaku menyarankanku untuk menikahi tetangga di kampungnku sana yang akhirnya menjadi istriku sekarang ini..&#8221;<br />
&#8220;Oh, kenapa? Kenapa menyarankan?&#8221;<br />
&#8220;O well&#8230; usiaku menua tapi aku belum pengen beristri waktu itu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Wew&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Lagipula kenapa harus beristri kalau waktu itu aku bisa &#8216;beli&#8217;?&#8221; matanya yang sipit itu melirik ke arahku penuh arti.</p>
<p>&#8220;Whaattt???&#8221;<br />
Dan, si orang Cina itupun hanya tertawa terkekeh-kekeh&#8230; terpingkal-pingkal.</p>
<p>Ya, jadi meski bergaji besar, ternyata orang Cina yang dulu dua tahun pernah bekerja sebagai kuli angkut bergaji 800 dollar per malam itu menghabiskan uangnya untuk berfoya-foya. Ia bercerita bahwa separuh lebih dari uangnya habis untuk berjudi, mabuk-mabukan dan berpesta pora dengan teman-temannya. Hal itu ia lakukan hampir setiap siang hingga sore, sebelum balik kerja pada malam harinya.</p>
<p>&#8220;Tiga bulan sekali aku juga mudik ke Cina&#8230; Berwisata!&#8221; tambahnya.<br />
Tak hanya ke Cina, ia juga bercerita beberapa kali ia bahkan menyempatkan diri berlibur ke Hawaii dan Samoa, dua kawasan wisata mahal di daerah Pasifik yang terjangkau tak terlalu jauh dari sini.</p>
<p>&#8220;Tapi kamu sempat nabung kan?&#8221; tanyaku.<br />
Ia menggeleng-geleng mantap&#8230;<br />
&#8220;Tabunganku di sini!&#8221; ujarnya seraya mengelus-elus perut yang tambun itu. &#8220;Dan di bawahnya&#8230;(menunjuk bawah perutnya yang tambun)&#8221; kali ini ia terkekeh-kekeh lagi.</p>
<p>&#8220;Oh iya?&#8221;<br />
&#8220;Iya, kan tadi aku bilang kalau aku bisa &#8216;beli&#8217;?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Damn&#8230; oh iya. Maksudmu, kamu ke prostitusi?&#8221; Aku berlagak bodoh.<br />
&#8220;Yup!&#8221; ujarnya mantap&#8230; &#8220;Makanya aku bilang beli&#8230; aku tak perlu menikah dan ngurus ini itu serta anak.. cukup pergi ke rumah bordil, ambil satu yang terbaik, bayar, pakai 1 jam, lalu pulang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan kamu tau apa keuntungan buruh kerja malam yang pergi ke prostitusi?&#8221; ujarnya menggoda.<br />
&#8220;Apa?&#8221; Kali ini aku benar-benar tak berlagak bodoh.<br />
&#8220;Dapat harga lebih murah karena itu siang hari, jam sepi mereka&#8230; orang-orang pada kerja dan aku &#8216;bermain-main&#8217; di sana! Hahahaha&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku menggeleng-geleng kepala&#8230;<br />
&#8220;Hmm boleh tanya, berapa emangnya sekali beli di sini?&#8221;<br />
&#8220;Hayoh! Kamu tertarik ya?&#8221; Matanya membelalak menyerangku.</p>
<p>&#8220;No Uncle, No! Aku hanya ingin tahu berapa uang yang kau habiskan dari sisa gaji yang kaudapat&#8230;&#8221; kurasai wajahku ter-rebus olehnya.<br />
&#8220;Hmmm&#8230; 300 dollar&#8230;&#8221;</p>
<p>Akupun terdiam cukup lama.<br />
&#8220;Kenapa kamu terdiam?&#8221; ujarnya dan kali ini aku membiarkannya yang terus meledekku.<br />
Entah kenapa bayangan tentang enak dan mewahnya hidup sebagai kuli angkut itu mendadak hilang.<br />
Kini aku berpikir tentang pelacur. Tentang berapa yang ia peroleh dalam sehari dan semalam, dalam semingu dan sebulan, dalam setahun dan tahun-tahun selanjutnya&#8230;</p>
<p>Damn!</p>
   ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/07/26/kuli-angkut-pelacur-aja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
