Hukuman mati dan gaya gravitasi

Satu hal yang selalu menarik perhatian ketika berkunjung ke museum penjara tua di Australia adalah adanya tiang gantungan yang dulunya dipakai untuk mengeksekusi terpidana mati. (Australia menghentikan praktek hukuman mati sejak 1973 dan orang terakhir dieksekusi enam tahun sebelumnya, simak infonya di sini).

Demikian juga ketika beberapa waktu lalu aku mendatangi ‘Old Dubbo Gaol’, sebuah penjara tua di Dubbo, sekitar 450 km arah barat laut kota Sydney, aku mematung sekian lama di depan ‘gallows’ (tiang gantungan) yang masih berdiri tegak meski letaknya telah mengalami relokasi.

Ada tiga belas anak tangga terpasang dari tanah untuk sampai ke ‘panggung’ tempat para terpidana yang tingginya sekitar lima meter, dipersiapkan untuk diregangkan nyawanya oleh sang eksekutor yang tinggal memindah letak tuas ketika semua telah siap dan beberapa saat kemudian, papan yang dipijak terpidana akan terbuka, terpidana pun terjebloskan ke bawah lalu tamat.

Di sisi agak belakang dari bangunan, terdapat sebuah ruang kecil yang menjelaskan ke delapan terpidana tersebut mulai dari asal muasal, pelanggaran yang dilakukan, proses pengadilan yang berlangsung dan kisah saat mereka dieksekusi.

Di sebelahnya terdapat pula tali penggantung yang dibalut kulit sapi.

“Cinta! Ya hanya cinta yang mampu menyelesaikannya.”

Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri ketika melihat itu semua. Aku membayangkan, aku menghadapi sendiri tali yang dulu digunakan untuk menghabisi delapan manusia di penjara itu. Kebanyakan dari mereka dihukum karena kasus pembunuhan maupun pelecehan seksual hingga pemerkosaan.

Dalam salah satu penjelasan yang tertera di salah satu sudutnya, aku menemui adanya kenyataan bahwa bahkan hingga pagi hari sebelum dieksekusi, ada seorang dari delapan tadi yang masih tak yakin bahwa ia akan digantung karena ia sama sekali tak merasa pernah melakukan pembunuhan seperti yang dituduhkan.

Tapi hukum adalah hukum. Tak selamanya ia bicara soal kebenaran selain kebenaran bahwa yang harus mati adalah yang harus ‘diregangkan nyawanya’ di tiang gantungan. That’s it!

Bagiku, baik tidaknya pelaksanaan hukuman mati (simak tulisanku lainnya tentang hukuman mati di sini) adalah sebuah debat berkepanjangan karena mengacu pada dua hal yang tak pernah berhenti menemui jawaban.

Pertama, ketika kita berpendapat “Hilangkan hukuman mati!” orang yang tak setuju akan berujar, “Tempatkan dirimu sebagai keluarga korban (bila kasusnya adalah pembunuhan), adakah kau masih bisa berteriak tak setuju dengan adanya hukuman mati?”

Kedua, ketika kita berpendapat, “Teruskan adanya hukuman mati!”, maka orang yang tak setuju dengan itu akan berujar, “Tempatkan dirimu sebagai keluarga tersangka, jadilah anaknya atau istri/suaminya… atau rasakanlah kalau kamu adalah sang terpidana. Bagaimana kalau tanggal kematianpun telah ditentukan oleh sesamamu manusia?”

Cinta! Ya hanya cinta yang mampu menyelesaikannya. Cinta yang harus hinggap di hati dan meraja dalam hidup semua orang. Sehingga, jangankan berpikir tentang hukuman mati, bahkan perkara pembunuhan dan aneka ragam kejahatan lainnya pun tak kan pernah terbesit dalam pikiran jika Cinta mengemuka.

Tapi kapankah? Dimanakah hal seperti itu bisa terjadi kalau bukan kita sendiri yang mulai untuk memaklumkan keberadaanNya dalam hidup kita?

Di akhir permenungan yang nyaris tak bertepi itu aku hanya bisa berdoa, semoga dimanapun itu, ketika hukuman gantung dilaksanakan, saat sang eksekutor menarik tuas penjeblos, saat itu pula gaya gravitasi bumi dimatikan Tuhan…
Kalian tau kan maksudku?

Have a good week!

13 komentar… add one

  • imadewira 16 April 2012

    Mungkin ndak ya Tuhan jahil?

    *maaf komennya becanda :-)

  • applausr 17 April 2012

    jadi pada saat gravitasi dimatikan.. kira kira pada terbang ga ya orang orang yang sedang menyaksikan hukum gantungnya. :)

    • DV 19 April 2012

      Lah, kok malah ke situ larinya?

  • Kaget 17 April 2012

    kalau untuk negri ini sekarang perlu ngga Om?
    Kalau disono mungkin bisa diatasi dengan ‘Love’, disini????
    Shit,…. petinggi2 itu juga ngga takut ‘tembak mati’ :(

    • DV 19 April 2012

      Siapa bilang di sini bisa diatasi ‘Love’? Diusahakan iya… nah, gimana di negaramu? Mau diusahakan juga ngga? :)

  • niee 17 April 2012

    eh tapi hukuman gantung dan hukuman mati beda kan yak mas?

    soalnya aku ada pernah denger cerita dari ibuku.. ada seorang kenalan yg dikenakan hukuman gantung.. terus pas eksekusi. sudah digantung 3 jam gak mati mati.. ya dibebaskan lah dia soalnya hukumannya telah terlaksana..

    makanya setelah bbrp lama peraturannya diganti.. misal gantung sampai mati atau tembak sampe mati gt..

    • DV 18 April 2012

      Ah masa? Setahuku (dulu SMA pernah bikin karya tulis soal eksekusi hukuman mati soalnya) hukum gantung itu malah lebih efektif ktimbang tembak, listrik dan bahkan pancung krn konsepnya mematahkan tulang leher sehingga sedetik lgsg ‘lewat’.

      IMHO, gantung itu bukan mencekik. Kalo nyekik emang bisa ga mati-mati hehehe:)

      Jadi, setuju atau ga adanya hukuman mati?:)

  • pety puri 18 April 2012

    wah, membaca akhir kisah, berarti pak DV termasuk golongan yang bilang: “Hilangkan hukuman mati!” :)

    saya juga pernah “merenung” agak lama, bagaimana rasanya jika saya berada di posisi “calon digantung/ calon ditembak”, yang tahu tinggal berapa hari, berapa jam, berapa menit lagi saya akan mati -_-”

    • DV 18 April 2012

      Saya sih ga bilang begitu hehehehe

  • Riris E 21 April 2012

    Pernah diskusi di milis kami soal hukuman mati. Dari pandangan rohaniwan di milis tersebut dinyatakan bahwa : Pemerintah (manusia) diberi kuasa oleh Tuhan untuk menegakkan hukum termasuk dibenarkan adanya hukuman mati.

    Apakah aku setuju? Tidak sepenuhnya, tapi kalau toh tetap diberlakukan hukuman mati di negeri manapun, aku akan melihatnya sebagai garis nasib. Ada orang yang meninggal karena sakit, kecelakaan, atau bahkan di saat tidur.

    *kebayang gak sih apa yang dirasakan si pesakitan itu kala malam dilayani oleh rohaniwan untuk persiapan perjalanan di alam baka?*

  • didut 23 April 2012

    dalem nih postingan, tak sanggup berkomen ria

  • Imelda 23 April 2012

    kalau gaya gravitasi dimatikan Tuhan? Ya tidak mati-mati, orang akan berteriak, “Bebaskan dia, ternyata dia tak bersalah!” Atau semua saat itu sudahlah mati karena tanpa gravitasi, dunia kiamat.

    well…. aku tahu bukan gravitasinya yang kamu maksud, tapi hukum matinya.
    Skr di Jepang memberlakukan sistem juri, spt di Amerika diambil dari orang awam. Setiap orang punya kesempatan untuk menjadi “pejagal” atau “pengampun”. Masalah hukum yang tadinya “bukan masalah orang biasa” akan menjadi masalah semua orang yang harus dipikirkan :)
    Dan seandainya si Juri itu tidak setuju hukuman mati padahal keputusannya adalah hukuman mati,…… bayangkan perasaan dan efek psikologisnya.
    Aku pribadi tidak setuju, karena …. dia akan dan/atau sudah mendapat ganjarannya sendiri.

  • zee 24 April 2012

    Aku melihat hukuman gantung sepertinya seram dan kurang berperi kemanusiaan, mungkin karena kalau lihat film2 orang gantung diri kan kejang-kejang begitu. Tapi kalau itu dijadikan hukuman, mungkin tak masalah karena urusan cepat-lamanya nyawa itu tercabut tentu sudah diperhitungkan benar2 dgn semua fasilitator eksekusinya.

Leave a Comment

Postingan selanjutnya:

Postingan sebelumnya: