[Interview - Risky Summerbee] Musik yang terhegemoni industri selalu latah dan tak otentik

Jangan berpikir yang macam-macam kalau kubilang bahwa semakin hari, aku semakin sulit untuk mengapresiasi musik yang beredar di industri musik tanah air. Bukan seleraku yang meninggi meski aku nggak berani gegabah untuk berujar “Jangan-jangan mereka mencoba berkesenian instan dengan harapan imbalan popularitas dan kekayaan yang instan pula?”.

Namun demikian, bukan berarti aku tak mencintai musik karya anak negeri sama sekali, karena di luar arus mainstream (untuk tak menyebut mereka itu komersial), aku punya beberapa jago seperti KOIL dari Bandung, Melancholic Bitch, Frau dan Risky Summerbee & The Honeythief, ketiga yang kusebut belakangan berasal dari Yogyakarta.

Kalian kenal mereka?
“Hmmm… kayaknya enggg… ya pernah dengar, Don! Eh.. tapi yang mana ya?”
OK, nggak masalah :)  Sama lah kalau kalian menyebut lengkap nama anggota SM*SH aku akan tergagap-gagap (meski Odilia, anakku, akhir-akhir ini makin tanggap dan sering tepuk tangan sendiri ketika melihat Morgan dan Rangga nongol di acara “SM*SH Ngabuburit!” di salah satu siaran televisi swasta Indonesia).

Nah, 17 Agustus 2011 silam, salah satu dari mereka, Risky Summerbee & The Honeythief baru saja merilis ep (extended play -red) berisi tujuh lagu bertajuk ‘Preamble’.  Uniknya, alih-alih menjual, mereka memilih membagikan ketujuh lagu berikut artwork (yang mendapat dukungan penuh dari Jompet, kakak kelasku di Debritto yang sekarang rupanya jadi perupa handal di Indonesia) secara cuma-cuma lewat medium internet.

Secara ekslusif, terkait dengan rilis ‘Preamble’, aku meng-interview Risky Summerbee yang kukenal lama sejak ia pernah membantuku membuat jingle untuk GudegNet (situs portal kota Jogja yang dulu pernah kupimpin) sekitar empat tahun silam. Berikut petikannya.

 

*     *     *

 

Dengar-dengar Preamble ini kan ‘album antara’ sebelum rilis album kedua? Kenapa harus ada Preamble?

Sejak lama kami mempersiapkan sebuah album yang rencana kami rilis tgl 17 Agustus 2011. Alasannya, ya karena album itu mengusung tema-tema tentang realitas ketiga Indonesia, baik lagu lagu dan komposisinya maupun esai-esai yang ada di dalamnya. Kumpulan esai dari penulis, seniman, essaist, yang beririsan dengan lagu lagu di album itu. Ternyata album itu ‘takes longer than expected’ – tidak bisa terwujud sebelum Oktober 2011. Karena 17 Agustus begitu signifikan buat kami – juga lainnya aku pikir – maka untuk memaknai itu pada awalnya kami akan rilis single “Unfollow”. Setelah ngobrol lebih lanjut bersama the rest of the band dan seorang teman yang dikenal dengan nama Wok the Rock, maka kita sepakat (single itu -red) dikembangkan menjadi sebuah extended play (EP), pada kenyataannya Preamble lebih dari sekadar EP, dengan 4 lagu unreleased, 1 lagu yang sudah bocor duluan, dan 2 live track maka jadilah sebuah album. Kami pikir harus ada sesuatu untuk menjembatani pada album berikutnya, makanya kami beri judul “Preamble”. Jadi transisi disini bukan dari album pertama ke album ke-dua tapi album pertama ke album ke-tiga. Transisi bukan pada materi tapi pada konteks apa yang mau disampaikan. Kalau “The Place I Wanna Go” sifatnya sporadis, album ketiga ini tematik. Bisa dikatakan Preamble adalah pendahuluan untuk lebih bisa mencerna album ketiga.

 

Preamble ini disebarkan secara gratis di internet, apa motivasi di balik hal itu?

“…yang terpenting adalah bagaimana karya itu menjadi dialektik…”

Dari sisi pelaku, siapapun aku pikir kurang lebih sama, yang terpenting adalah bagaimana karya itu menjadi dialektik, bagaimana karya didengar, direspon dan ada guliran-guliran feedback, kritik, apresiasi sehinga wacana berkembang. Idealnya seperti itu, sekarang problemnya adalah bagaimana caranya?

Produksi fisik adalah salah satu cara yang sementara kami belum bisa mewujudkan. Yesnowave netlabel adalah salah satu alternatif untuk mewujudkan itu dengan menggunakan lisensi creative common, artinya siapapun bisa mengakses karya karya itu dan memodifikasinya jika mau, tetapi tetap memunculkan kredit senimannya. Sebuah tawaran yang menarik di era cyber. Seperti halnya album fisik tapi Anda dapat mengunduh seluruh lagu di dalam album itu beserta artwork-nya, dan dapat anda print sendiri menjadi sebuah kepingan album.

Gratis? Iya..tanpa ada alasan yang lebih bisa kami pegang kecuali untuk membuat guliran ‘percakapan’ itu.

 

Setahuku salah satu lagu di Preamble, “BBM”, adalah lagu pertama berbahasa Indonesia . Kenapa akhirnya kalian mematahkan tradisi lagu berlirik Bahasa Inggris?

Kalau itu mematahkan tradisi, ya bisa dikatakan demikian. Seluruh lagu di album “The Place I Wanna Go” (album pertama -red), dan lagu-lagu kami lainnya menggunakan Bahasa Inggris kecuali BBM, so far…

Penjelasannya adalah bahwa kami memang mencoba melakukan proses penciptaan dari apa yang kami miliki dan apa yang kami kuat lakukan, dalam hal lirik dengan kaitannya pada isu, tema, gagasan yang ingin kami presentasikan. Memang selama ini berbahasa Inggris, tapi dalam BBM prosesnya adalah tahun 2008 kami terlibat proses Teater Tari “Teater Garasi” berjudul “Je.ja.l.an”, yang tahun 2010 dipentaskan di Shizuoka dan Osaka (Jepang -red).

“Je.ja.l.an” sutradara Yudi Ahmad Tajudin menggali isu isu realitas di Indonesia yang terpinggirkan, kaum pinggiran kota, identitas bangsa, dan jalan sendiri sebagai tempat bertabrakannya banyak kepentingan, yang elites and commoners, the poor and the rich, tradition and modernity etc. Proses itu diawali dengan riset di jalanan di Jakarta dan pinggiran Indramayu.

Risky Summerbee & the Honeythief yang pada waktu itu terlibat dalam proses pembuatan musiknya menggarisbawahi satu adegan tentang Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang meninggalkan suaminya untuk kerja di luar negeri. Pada adegan real-surreal itu kami dan sutradara sepakat untuk membuat lagu genre dangdut lama (balada), dan tidak mungkin dalam bahasa Inggris, tidak mungkin juga Risky yang menyanyikan itu, maka keyboardist kami pada waktu itu – Nadya Hatta – dialah yang menyanyikannya.

Pada adegan itu, lagu dinyanyikan secara live di panggung arena aktor bermain dengan menggunakan gerobak dangdut dorongan. Semula diberi nama ‘Balada TKW’ tapi kemudian sebelum rilis kami menemukan kata ‘BBM’ (Balada Buruh Migran) lebih kontekstual. Kami juga tidak tahu apakah akan ada lagu berbahasa Indonesia di karya karya selanjutnya? Tergantung proses dan bagaimana kami melihatnya sih..

 

Ada lagu yang cukup menarik perhatianku, All Survive in The End. Apa latar belakang yang menjadi trigger munculnya ide untuk lagu ini?

Bukan Iman yang dipaksakan dengan cara kekerasan yang selama ini dibiarkan oleh pemerintah.

Dalam kredit, lagu ini ditulis oleh Jompet – seorang teman yang kebetulan dia seniman rupa yang karyanya dipakai menjadi artwork album Preamble – Beberapa tahun terakhir karya karya Jompet berpijak pada bagaimana dia melihat Jawa yang sinkretis, Jawa yang kontemporer dan Sejarah Jawa.

Salah satu karya dia yang berjudul ‘The Third Realm’ yang turunannya adalah instalasi video pada sosok hantu prajurit kraton. Dalam instalasi video itu saya diminta membuat marching band kraton (agak fales, out of beat, setengah berwibawa tapi lucu), dan menerjemahkan temuan dia tentang Islam Jawa. Saya hanya menerjemahkan dan ngobrolin kemungkinan kemungkinan alih bahasa, maklum karya itu akan dipamerkan di Venice (Italia -red).

Terjemahan itulah yang kami olah menjadi satu lagu spoken word (dalam lagu ini Risky membaca, bukan bernyanyi -red). Aku pikir kalimat-kalimat ini tetap menjadi bagian dari ‘Realitas di Indonesia’ realitas yang ada di sekitar kita, atau kami paling tidak. Pada konteks lagu, ya begitulah. Bukannya kalo kita beriman maka kita akan selamat? Apapun bentuk keimanan kita. Walaupun konsep keimanan itu eklektik (menjalani sejarahnya). Bukan Iman yang dipaksakan dengan cara kekerasan yang selama ini dibiarkan oleh pemerintah.

 

Anda tampak menyajikan protes keras di ‘Where are We Heading to”, apa inti protesnya dan kepada siapa hal itu ditujukan?

Protes keras?  Hahaha.. aku malah bingung jawabnya. Sebetulnya ini bukan protes, ini cuma pemikiran, yang lirik aslinya dibuat oleh Yudi Ahmad Tajudin. Bukankah akhir-akhir ini kita bergerak begitu cepat, tanpa sepenuhnya mengetahui mau kemana?

Cepat karena memang dunia sekarang ini terhubungkan dengan cepat, informasi kita dapatkan dengan cepat, tapi terus apa? apakah kemudian ini bisa diimbangi dengan kualitas hidup yang lebih baik misalnya? atau ini juga dapat mempercepat tingkat kemanusiaan kita, atau mempercepat melupakan konsep awal yang sebenarnya?

Aku pikir di wilayah personal maupun di tingkat yang lebih tinggi seperti negara, pertanyaan ini masih relevan untuk ditanyakan. Bahwa disitu seolah ada pihak lawan bicara, iya.. “You may think..” (Risky menulis ulang apa yang jadi bagian lirik di lagu itu -red).  You adalah semacam pihak kedua yang anonymous, bisa siapapun. Bahwa disitu ada sebutan Mr.Stone.. ada empat nama dari kata Stone yang aku hormati. Tidak berurut tapi yang pertama Steve Stone dulu pemain belakang Inggris dulu pernah merumput di Nottingham Forest dan Aston Villa, Sharon Stone cukup karena dia sexy dan keren, supergroup bernama Rolling Stones (Mick, Keith, Bill, Ron, Charlie, ya yang itu), dan Majalah Rolling Stones ‘Amerika’ (yang dengan berbagai kontroversinya, tetap menghasilkan tuliasan berkualitas) . Bagi orang atau entitas lain yang bernama ‘Stone’ atau ‘Stones’ ada dua kemungkinan, aku tidak tahu mereka, atau, aku tahu tapi tidak begitu suka. Hehehehe…

 

Apa tanggapanmu terhadap perkembangan musik tanah air, dengan menggejalanya musik-musik melayu, boy band, girl band dan religi?

Musik-musik yang terhegemoni industri selalu manjadi latah dan tidak otentik, apapun bentuknya. Juga di mana pun. Tapi ada juga yang bagus walau tetap berpijak pada logika industri musik. Di tahun 60′an The Temptations, The Platters atau Diana Ross and the Supremes, sampai di tahun 90′an Spice Girls atau Take That tetap mempunyai kualitas yang dalam.

Itu yang tidak terjadi di boy band, girl band di Indonesia. Industrinya potensial tapi tidak diikuti dengan proses kesenimanan, di sisi lain penikmat juga banyak karena refernsinya satu – televisi, ini siklus kapitalisme yang menurutku membodohkan. Ini juga berlaku untuk musik musik pop dengan nada dan cengkok Melayu dan lagu religi. Apakah ada hal baru dalam lagu lagu itu?

Apakah dapat menjamin keselamatan kita dunia dan akhirat jika membuat atau mendengarkan lagu religi?

Lagu religi itu lucu lagi. Apakah dapat menjamin keselamatan kita dunia dan akhirat jika membuat atau mendengarkan lagu religi? Itu lagu yang sok menawarkan ajaran ajaran agama. Menurutku religi bukan lagi semata-mata ‘belief in and worship of a Superhuman controlling the Power’ tapi praktiknya apa itu kebaikan dan mengkaji ulang terus makna kebaikan, kebenaran dll.. Tanpa ada Ramadhan, Christmas atau periode keagamaan lainnya, seharusnya dalam bentuk dan tingkat yang berbeda-beda, karya tetap harus mengaitkan kita dengan Virtue.

Sebagai produk industri musik, melayu, boys band – girls band, maupun musik religi tetap nggak salah..itu menghasilkan kok. Tapi ya itu…juga pembodohan.

 

Sanggupkah kamu berpikir bahwa dalam lima tahun ke depan kamu tetap akan jadi musisi seperti sekarang, yakinkah bahwa pilihan musik yang bukan ‘mainstream’ mampu membuatmu hidup?

Aku lebih suka kata industri dan independen ketimbang mainstream atau bukan mainstream, lebih pada penyikapan bukan bentuk. Sebagai seniman selama ini aku selalu menggunakan media musik, tapi jika pada penerjemahannya dimungkinkan untuk menggunakan media lain – kenapa tidak? Aku tidak membatasi kemungkinan, walau memang selama ini aku bermusik.

Kata ‘Hidup’ juga perlu didefinisikan secara detail. Hidup yang seperti apa? Hidup bagaimana? Di dalam kehidupan itu ada tawar-menawar, sesuatu yang dekat dengan realitas kita yang selalu tawar menawar. Dengan prinsip itulah sebenarnya kesenimanan tetap hidup dan kita bisa hidup.

 

*     *     *

Begitulah interview antaraku dengan Risky lewat email. Aku tak menyangka bahwa pertanyaanku yang ‘ringan’ mendapat jawaban yang begitu berbobot (untuk tidak kukatakan berat) darinya.

So, guys!  Silakan klik link di sini untuk menikmati karya brilian Risky dan kawan-kawan dalam Preamble. Mari belajar mengapresiasi musik cerdas!

 

Fakta tentang Rizky Summerbee and the Honeythief

  • Risky Summerbee (Vokal / electric and acoustic guitar / keyboards)
  • Erwin Zubiyan (Electric guitar / keyboards / pianica)
  • Doni Kurniawan (Bass / backing vocal)
 
Additional:
  • Nadya Hatta (Piano / keyboards)
  • Sevri Hadi (Drums)
  • Warman Sanjaya (Drums)
 
Lahir: April 2007
 
Diskografi:
  • 2007 Lagu “With You” dalam Music Beyond Borders Vol.II Kompilasi. (Yes No Wave Music)
  • 2009 The Place I Wanna Go (11 track album – Dialectic Recordings)
  • 2010 Lagu “Mind Game” dalam Kompilasi Jogja Istimewa.
  • 2011 Preamble (7 track album – Yes No Wave Music)
 
Selected Gig-ography and performances
 
2007
  • July 2007 “She Flies Tomorrow” hybrid performance. KKF Jogjakarta
  • November 2007 “The Rise and Fall of a Scoundrel Queen” contemporary music concert. Jogja National Museum
 
2008
  • Januari 2008 “Memoirs of Gandari” Risky Summerbee & the Honeythief with Slamet Gundono dan Komunitas Wayang Suket. TBS Solo dan TBY Yogyakarta Maret 2008 with Teater Garasi “Je.ja.l.an” dance theatre sutradara Yudi Ahmad Tajudin. Jakarta, Jogjakarta (2008)
  • December 2008 Konser Tunggal”Inside Your Shoes” di Lembaga Indonesia Perancis Jogjakarta. December 2008 Film dokumener “Inside Your Shoes” di launch
 
2009
  • May 2009 at Prost Kemang (launching The Place I Wanna Go) supported by Bangkutaman dan Zeke & the Popo
  • July 2009 “I Walk the Urban Street” kolaborasi dengan Ruang Rupa – Music/Visual Exposition. Ruang Rupa Jakarta July 2009 Superbad vol.13 “Tales from Three Cities” Jaya Pub Jakarta. (Dialog Dini Hari, Risky Summerbee & the Honeythief, Tika & the Dissidents)
  • August 2009 Java Rockin Land. Ancol Jakarta
  • December 2009 Live at Teater Garasi : Risky Summerbee & the Honeythief feat. Tika, Frau, Naomi Srikandi, Andrea A. Adhi
 
2010
  • Maret 2010 Konser Tunggal “Flight to Dystopia” di Teater Salihara Jakarta.
  • Juni 2010 with Teater Garasi “Je.ja.l.an” Shizuoka performing arts Festival.
  • Juni 2010 Ngerembol RSTH main di klub2 kecil di snow Doll Shizuoka dan Garth Osaka, Alegria Osaka July 2010 Rocking the Region – Esplanade Singapore
 
2011
  • April 2011 Film dokumenter “Inside Your shoes” diputar di Jakartabeat.net bioskop online
  • July 2011 Konser tunggal “In The Woods” lereng Merapi Jogjakarta
  • August 2011 Film dokumenter “In The Woods” diputar di Jakartabeat.net bioskop online. 

*Credit foto Risky Summerbee & The Honeythief, diambil dari sini

13 komentar… add one

  • rina 25 August 2011

    karyanya rsth di preamble experimental banget. gak mungkin deh d’bagindas atau wali bikin seperti ini. beda liga..

  • agung 25 August 2011

    lagu ‘Where do we go from here’.. itu ngritik Rolling Stones Indonesia ya?

  • eko 25 August 2011

    artwork-nya Jompet keren!! gak terdefinisikan sbg satu hal.. antara ada dan tiada. Musiknya risky summerbee & the honeythief juga pecah, sulit mendefinisikan ragamnya. Pecah! Hybrid!

  • hari 26 August 2011

    Flight to amsterdam live at Salihara…. I was there!!! :)

  • Vito Adriono 26 August 2011

    dulu kalo ga ada band ini. saya ga tabah mas. sip buat sharingnya. hahaha.

  • edratna 26 August 2011

    Kali ini saya numpang baca aja..mau komen bukan bidangku, nanti malah aneh.

  • maztrie™ 26 August 2011

    wowwww….
    Frau masuk kategori sampean juga ta Dabbb.. sip sip sip…

    eh iya, gimana dengan rencana konser si Lenka (Ausy) yang bakal kesaing oleh Westlive Mass..? Sapa tahu sampean ada catatan buat dishare..? Thanks

  • dewi 26 August 2011

    masih menikmati album preamble-nya risky.. denger2 di album berikutnya ada 1 track yang risky duet dgn lani Frau :) masih lama ya mas?

  • sibair 26 August 2011

    saya suka sama kata-kata ini “yang terpenting adalah bagaimana karya itu menjadi dialektik…” selebihnya saya mau berkenalan dengan band ini dulu *googling*

  • mascayo 27 August 2011

    tujuh tanya-jawab diatas, bisa jadi tujuh posting yang tak biasa di blog saya.
    Dan dari 7 lagu didalam Preamble ada 3 yang “click” dengan saya dan spontan saja mengingatkan saya pada beberapa orang:
    The Place I Wanna Go … jadi inget John Lennon
    Unfollow … jadi inget kakak saya kalau sedang main gitar
    BBM … dangdut di suatu tempat entah dimana… gile… musyiknya asyik banget

  • zulhaq 29 August 2011

    Baru tau dan baru denger (baru baca tepatnya) ada Band keren ini.
    Thannks link-nya *nunggu donolotan* :D

  • m-amin 29 August 2011

    Wah salut nih mas akan karya-karyanya yang banyak sekali ni…

  • la_denker 30 August 2011

    waahh, beruntung saya sudah pernah nonton secara live di jogja..
    ternyata lebih mantab dari yg saya kira setelah membaca hasil reportase anda, hehe, bener2, berbobot! :D

    *nunggu donlotan juga*

Tulis komentarmu