So, kamu cina, aku jawa? So what?

Salah satu perkara klasik dalam masyarakat kita pada umumnya adalah pertentangan antara bangsa china dan jawa/pribumi. Kukatakan klasik karena selain persoalannya seperti tak berujung, masalah ini telah dimulai sejak lama, sejak republik ini belum berusia. Bahkan kalau kalian baca buku “Indonesia Dalam Api dan Bara” karya Tjamboek Berdoeri yang banyak diduga adalah nama samaran wartawan tionghoa masa pra-kemerdekaan, Kwee Thiam Tjing, pergolakan antara kaum china dengan pribumi di Nusantara sudah meruncing sejak akhir abad ke-18, saat gelombang kedatangan bangsa China untuk kesekian kalinya datang ke kawasan yang sekarang menjadi Indonesia.

Jadi kalau kita ingat betapa menyesakkannya peristiwa ‘pembantaian’ (atau setidaknya perusakan hak milik) kaum China pada Reformasi Mei 1998, semua itu tidak datang begitu saja. Semua tidak seperti api yang tiba-tiba membesar. Ia hadir bagai dalam sekam, sudah ada akar sumbu sejarahnya serta tumpukan milyaran persoalan yang menerbitkan dendam.

“Padahal nmenurutku yang perlu dilakukan untuk menyudahi sejarah buruk itu hanya satu, masing-masing anggota suku bangsa harus memiliki ‘state of mind’…”

Padahal nmenurutku yang perlu dilakukan untuk menyudahi sejarah buruk itu hanya satu, masing-masing anggota suku bangsa harus memiliki ‘state of mind’ bahwa “Ya, aku adalah orang Jawa!” untuk seorang Jawa sepertiku, atau “Ya, aku keturunan Tiong Hoa!” untuk orang China lalu kubur ia dalam-dalam ke alam bawah sadar. Kenapa harus dikubur, karena sesudah proses penyadaran itu, apapun yang kita lakukan selama hidup sebagai aksi maupun reaksi, tak ada satupun yang harus disangkutpautkan dengan asal mula suku bangsa kita itu tadi.

Eh, jangan dipikir dengan menuliskan paragraf di atas aku mengajak kalian untuk melupakan kulit karena kita adalah selamanya kacang! Aku lebih berpikir bahwa kita tak bisa selalu mereferensikan/menghubungkan segala tindakan kita dan segala hal yang terjadi di sekeliling kita ke kesukuan. Itu saja.

Dari mana aku mendapatkan cara berpikir yang demikian? Dari tenggat waktu 1993 – 1996, ketika aku duduk di bangku SMA Kolese De Britto Yogyakarta lah, buah-buah itu kupetik.

Aku mengenyam pendidikan tiga tahun di sekolah yang dibimbing oleh para imam jesuit itu sejak 1993 hingga 1996 dan dalam periode itu (dan sebenarnya sudah menjadi tradisi sejak masa sebelumnya hingga sekarang) aku melihat betapa keberadaan pelajar bersuku bangsa china dan pribumi bisa membaur tanpa harus berselisih paham hanya karena perbedaan suku bangsa.

Uniknya lagi, tidak adanya perselisihan bukan berarti karena kami seolah menyembunyikan bibit persoalan dalam hati atau pura-pura tak menganggap ada. Namun justru sebaliknya, kami mengekspresikan perbedaan itu dalam aktivitas sehari-hari dalam sharing, hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kami dan bahkan dalam rupa olok-olok penuh canda dan tawa khas anak-anak De Britto..

Berikut kutuliskan salah satu contohnya.

Suatu pagi, kawanku yang bersuku Jawa datang ke kelas. Hari itu kebetulan ada mata pelajaran yang menurutnya membutuhkan perhatian dan karena ia merasa kurang mampu, ia memilih duduk bersama teman lain yang pandai dan kebetulan bersuku China.

No, chino… aku lungguh jejer kowe yo..(Hey China, aku duduk sebelahan denganmu ya -red).
Lalu kawanku yang China pun menjawab, “Oh yo ra popo.. aku santai wae kok lungguh jejer Jowo (Oh ya nggak papa. Aku santai saja kok duduk sebelahan dengan (orang) Jawa)”
Lalu mereka tertawa bersama.

Sesaat kemudian, ketika beberapa kawan lain datang melihat keadaan itu, diolok-oloklah mereka sejadi-jadinya.
“Woh, cino lan bature akur nganti lungguh jejer ik! (Wah, Cina dan pembantunya akur benar. Sampai mau duduk sebelahan!)”

Kalau ini terjadi di tempat lain, barangkali hal tersebut bisa memantik isu yang lebih besar dan kalau mau terus ‘dikipasi’ bisa-bisa perang antar suku yang membelah adalah ujung yang tak mengenakkan.

Tapi di De Britto, hal itu adalah peristiwa harian yang justru menampakkan keakraban yang luar biasa antar warganya baik guru, siswa maupun karyawan sekolah.

Kuyakin di antara kalian akan banyak berkomentar, “Keras betul cara bercandanya!”
Tak salah, tapi kami menganggapnya bukan satu persoalan yang perlu dibawa ke tingkat serius, ia tetap harus ditempatkan dalam tingkat candaan, itu saja.

Bukan, bukan karena kami meremehkan perbedaan suku bangsa dan leluhur-leluhur suku yang pernah ada, namun kupikir, menurutku, justru karena memang bukankah sudah jadi takdir untuk kita hidup secara berbeda-beda satu dengan yang lain? “Udah dari sononya!” kata anak Betawi masa kini, jadi untuk apa dipermasalahkan? Masih banyak persoalan-persoalan yang perlu diselesaikan ketimbang harus adu tegang hanya karena mataku lebar dan matanya sipit, karena kulitku legam dan kulitnya langsat?

Dalam ‘bahasa’ yang kutulis di bagian awal tulisan ini, kami di De Britto, melalui keseharian bersama, dididik untuk menempatkan perbedaan suku bangsa sebagai ‘state of mind’, bukan sebagai sesuatu yang layak untuk selalu dipermasalahkan. Bahwa pada akhirnya kalau ada pelajar china yang tak naik kelas ya memang karena ia bodoh dan malas belajar. Demikian juga ketika ada pelajar Jawa yang giat belajar, tak mau dianggap malas, pintar, gagah serta tampan… ya keberadaannya bukan karena ke-jawa-annya, tapi memang pada diri pribadinya :)

*     *     *

Namun yang menjadi persoalan sesudahnya adalah apa yang terjadi setelah lulus dari De Britto?
Aku ingat dulu waktu awal-awal kuliah, pada suatu siang aku sempat jadi ajang pelototan nyaris satu gedung kampus yang rata-rata China gara-gara aku teriak “Chino… piye kabarmu?” memanggil kawan sesama lulusan De Britto yang sama-sama kuliah di situ.

Proses adaptasi untuk kembali terbiasa dengan peradaban rimba setelah tiga tahun berada di nirwana memang tak mudah. Tak semua orang itu lulusan De Britto, dan tak semua memiliki standar bercanda yang sama tingginya. Tapi di situ, alumni De Britto justru ditantang untuk mempraktekkan sejauh mana nilai-nilai baik yang diajarkan dalam rangka kesetaraan suku bangsa meresap dalam diri dan tak hanya tinggal sebagai ‘canda’ saja.

Untunglah proses adaptasi bagiku dulu tak memakan waktu lama. Ketika mulut sudah lebih terkontrol dalam bercanda, yang tetap terpatri justru pola pikir tentang kesamarataan itu tadi bahwa China itu ya sama saja dengan Jawa dan sebaliknya, semua tergantung adat dan budaya masing-masing individu.

Jadi, kembali ke peristiwa Reformasi Mei 1998, ketika kejadian meletus, aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat betapa mereka yang membantai kaum China atas nama dendam, dengki dan iri karena status ekonomi adalah orang bodoh yang tak mau beranjak dari pemikiran-pemikiran stereotipe lawas yang sudah berabad-abad tuanya.

Barangkali kalau hidup boleh diputar ulang, aku akan menyarankan orang tua mereka untuk menyekolahkan anaknya di De Britto. Mereka wajib di-De Britto-kan demi sebuah pola pikir yang baru tentang bagaimana cara menghadapi perbedaan suku bangsa!

Oh ya, mau tahu seperti apa gambaran jelas tentang Cina-Jawa di De Britto?
Simak video di bawah ini dan cermati betul-betul pada setiap kata yang muncul dari siswa, resapkan dan kalau berkenan, imbuhkanlah tulisan ini dengan komentar kalian.

Tulisan ini kubuat dalam rangka permenunganku atas ulang tahun almamater tercinta, SMA Kolese De Britto Yogyakarta yang ke-63 pada Jumat, 19 Agustus 2011 silam. Selamat ulang tahun, JB! Proud to be one of your soldier!

70 komentar… add one

  • Sam Ardi 22 August 2011

    Sampeyan mbahas Tjamboek Berdoeri saya jadi teringat buku itu. Diterbitkan di Malang pada awalnya dan untuk kalangan terbatas dan saya dulu punya bukunya yang masih bercover merah dan berjilid tembaga kalo gak salah. Mindset semacam ini sebenarnya juga buah…bukan buah sih….akibat dari salah satu rezim yang bisa dikatakan mengakar kuat masalah SARA…manusia modern tentu saja tidak hanya mengutak-atik masalah SARA, secara sudah 2011 gitu lho..nice artikel mas.

  • handy atmojo 22 August 2011

    mantepp… mas bos, ijin share ya

  • kaarsekar 22 August 2011

    hwee di sekolahku juga dulu gituu, kolese loyola :D
    *yailayah satu atap XD

  • Trian Ferianto 22 August 2011

    Aku jelas wong jowo, Mas Cino! hehe…
    Pelajaran menarik untuk bisa mengerti perbedaan dan menjadikan biasa saja hal yang memang seharusnya biasa :)

  • handy atmojo 22 August 2011

    tidak ada orang bisa memilih terlahir menjadi siapa, mempunyai orang tua seperti apa, dibesarkan dalam lingkungan seperti apa.. yang masih ribut2 terus urusan ras evolusinya belum sempurna, masih fase kera yang belum berkembang otaknya. Justru akhir2 ini di Indonesia mengerikan deskriminasi keturunan china terhadap pribumi, terutama di bidang ekonomi-financial. Mungkin saatnya mereka memilih untuk beradaptasi di Indo, atau pulang saja ke tanah leluhur kebanggaannya. (itupun kalo diterima dan diakui sebagai orang china) :)) sebutan-sebutan goblog seperti huanna(yang artinya adalah “pendatang dari luar wilayah”) khan goblog, lah mereka dan nenek moyang mereka yang pendatang kok malah ngata2in orang asli sebagai pendatang hahaha

    • DV 22 August 2011

      Kamu memang cino revolusioner, Han hahah se-revolusioner Choqbun :)

      • Cino Jowo 15 May 2013

        Huana itu artinya “orang asli” dalam bahasa hokkian, yen ora ngerti sing bener ojo asal ngawur.

  • chandra chan 22 August 2011

    nambahi ceritamu boz, aku ingat, sang guru pun sering menyapa aku dengan ‘babahe kalimantan’ dan kadang menyalahkan teman jawa yang matanya sipit, dicuriga anak tetangga, ha3. teman lain pun suka manggil pak himawan (alm) yang wong jowo tulen “koh him” (engko himawan maksudnya).

    boz, sesama chino gaul pantaslah kita menyapa he3, masing2 individu menjalani 3 tahun mereka di de britto berbeda-beda dan bisa dibilang uniq, memang itu toh visi de britto, agar tiap individu bebas berkembang sesuai hati nuraninya sendiri. aku ingat, kau menjalani dengan berbeda, gaul dengan siapa saja dan bagaimana saja, tidak bisa ditakar dan tidak perlu disalahkan, kalo boleh memilih, aku yakin kau pasti akan memilih jalan yang sama lagi untuk pengalaman 3 tahun di de britto, aku juga demikian dhab.

    eh, bang pittor membantu aku meralat dari 62 tahun de britto ke 63 tahun de britto, sudah cross cek, mestinya 63 tahun boz, monggo diralat.

    de britto – tidak malu, tidak takut, tidak malas

    • DV 22 August 2011

      Oh iya.. 63 bukan 53 ya? Matematikaku ndhisik pekok :)

      • handy atmojo 22 August 2011

        de britto – tidak malu, tidak takut, tidak malas, TIDAK MAU TIDAK APA-APA hahahaha.. eh candra skrg di Balikpapan ya? kemaren2 Singgih pas ke Bali cerita.

  • JC Yonatan 22 August 2011

    ijin share yo don, anakku mbesok yo arep tak sekolahne de britto

  • bukik 22 August 2011

    Suka sama videonya. Terutama ketika ada kutipan “Gak jebeni”
    hahahaha asyik…….

  • lambrtz 22 August 2011

    Saya pernah menulis tentang ini dulu: [link]

    Waktu itu, saya ngobrol-ngobrol di wall FB temen saya tentang guyonan yang ga politically correct semasa SMA ini. Tak dinyana, teman dia marah-marah sama saya. Dikiranya saya menghina etnis dia, dan tidak menempatkan diri pada posisi di ujung penerima guyonan. Lah padahal kene ki yo kerep dadi bulan-bulanan, lan dadi wong Jowo ning JB ki mesthi labele babu. :lol: Selain itu, ya kalau boleh dikata, guyonan-guyonan semacam itu malah menjadi awal mula bagi saya untuk lebih mendalami isu antar etnis :P

    • lambrtz 22 August 2011

      Tapi ya memang perlu hati-hati sih bahkan mbahas tentang itu. Ndak semua orang bisa menerima. #:-S
      BTW makasih komen saya udah dilolosin Mas DV :P

  • tharayudi 22 August 2011

    Keren om videonya. keren juga pesannya.

  • Deny 22 August 2011

    sekarang, rasanya sudah gak jaman ya olok-olokan semcam itu, kalau masih ada, biasanya ya mungkin lebih ke arah guyonan (bercandaan) :) toh sama-sama org indonesia

  • Intan Riyawan 22 August 2011

    Siiip dab….memang pendidikan karakter di De Britto memang sangat berguna…..takkan kulupakan almamaterku….
    Akulah Putra SMA De Britto, gagahlah cita citaku…….
    Ad Maioreim Dei Gloriam (AMDG)

  • WVLV 22 August 2011

    Woh.. kwe wangun banget thuk.. Muliaaaa.. :P

  • Bardhono 22 August 2011

    Lho, Don, kamu itu Jawa to? Tak kira Cino je, tiwas arep tak tantang kerengan.

  • Wassy Hallendra 22 August 2011

    Mas DV,

    Salam kenal…ak manukers lulusan 2004. Pembaca setia blogmu. Iki akhir-e dibahas juga….. Asu tenan kowe mas, tulisanmu cerdas. Videone wis nonton ping bola-bali, ditonton bolak balik ora jeleh. Aku ijin share tulisanmu neng pesbuk ya… ben ono imbangan antara video dan makna yang terkandung di video kuwi.

    Btw, jih apal Mars De Britto rak ? :D.

    Matur Suwun.

    • Wassy Hallendra 23 August 2011

      Mas DV,
      Gak nyangka setelah aku share di FB…buanyak yang re-share lagi…hi hi hi… Ada teman juga yang baru tau kalau kamu foundernya kitaindonesia.net. Sip mas… :D

  • yy 22 August 2011

    segone podho..

    • Bram 9 September 2011

      mas YY, ngombe ne yo podho to.. (mba menuk-red)

  • adhitya ceasario 23 August 2011

    Hari pertamaku di de britto (kala itu tahun 1999), jam pelajaran fisika saya di cina2 ke sama bu guru gara2 ribut melulu. Setelah itu tidak ada marah, tidak ada dendam, yang ada hanya canda tawa…

    • DV 23 August 2011

      And the lunatic period was begun:)))

    • Wassy Hallendra 24 August 2011

      Kowe rio bakul buku Kiky yo ? Sos1 kan ? Haha…
      Neng kelasku, bu guru sek mbok maksud ngonekke koncoku “Kowe ki cino medhok tenan le…” Buakakakak…

  • ded 23 August 2011

    Mas, ini kan cerita antara cina dan jawa, Saya juga punya cerita tentang cina dengan padang (minang). Waktu di SMA saya punya banyak teman keturunan cina, sampai sekarang kami selalu akrab menjalin silaturrahmi (sejak 1980, berarti kami sudah bersahabat selama 31 tahun). Sampai sekarang saya sudah S2 di Jakarta juga punya teman cina, dan saya tidak merasakan perbedaan itu. Di dunia kerjapun saya ketemu dengan cina, juga tidak masalah. Oke-oke saja…

  • Ipras 23 August 2011

    Entah kenapa belakangan ini saya juga terkadang disebut-sebut China oleh tetangga-tetangga saya, padahal saya lahir dan tumbuh sebagai Jawa tulen bersama lingkungan tersebut… :)

  • maztrie™ 23 August 2011

    emoh kakehan cangkem babagan tulisan, pokmen tulisane top markotop dabb…

    weruh videone iki ku langsung kelingan Knag Tampah n Kang Harry… para manukers
    kelingan video iku ya nate diunggah kang Tambir, NANGKENE

    weh dadi kelingan para susuh juga ik… :D

  • sibair 23 August 2011

    saya sampe baca komennya satu-satu loh… hebat tulisan ini menghiptis sampe terahir.. bikin pengen ngikutin terus.. nice share mas..

  • jarwadi 23 August 2011

    ispiring sekali mas DV

  • Riris E 23 August 2011

    Mengapa mesti bertengkar karena perbedaan? Mungkin karena banyak yang lupa bahwa kita diciptakan dari sepasang tangan yang sama.

  • giewahyudi 23 August 2011

    Tapi bathukmu kok made-in China yo, Mbah?

  • Very Wirawan 23 August 2011

    Hanya di De Britto sebutan cino jowo terasa akrab. Tidak ada unsur sara ketika kita mengucapkan kata tsb. De Britto memang top!

  • marta 23 August 2011

    salam kenal, mas, saya marta lulusan stece 98, pas buka FB, liat artikel yg baguuss..bgt ini.
    ijin share, ya, mas…

    maturnuwun sanget

  • edratna 23 August 2011

    Don…kenapa masih atas nama suku? Kenapa nggak, kita Indonesia….
    Sebetulnya kasihan ya kalau orangtua nya campuran..lha berarti dari mana asalnya? Campur-campur…?

    Saya terkesan tulisannya anakku, Landlord nya asli orang Indonesia yang udah lama tinggal di Queensland…sebelumnya dia tinggal dengan orang Jerman Jahudi…..tapi saat ditanya aslinya darimana? Mereka menjawab, saya orang Australia….. mungkin kita perlu menggerakkan kata ini…kita Indonesia, tak peduli asal usul darimana. Dan tentu form kependudukan harus diubah….tapi beberapa minggu lalu, saat mengisi kepindahan anakku kembali menjadi penduduk Jakarta, kolom tentang etnis sudah tak ada lagi.

  • oenang satya 24 August 2011

    mantab don……keep fighting till the end

  • mascayo 24 August 2011

    selama masing-masing apapun itu sukunya bisa menempatkan perbedaan itu sebatas penamaan identitas saja dan berlaku sama dalam kesehariannya sebagai warga dalam kelompok masyarakat tempat tinggalnya maka perbedaan akan menjadi pemanis / memperindah / menyenangkan dan lain sebagainya dari suatu kesatuan entitas.
    saya jadi inget si joyo cino .. dimana dia sekarang ya?
    eh ada juga teman stm saya, sebetulnya dia asli kelahiran sunda, tapi entah bagaimana awal ceritanya sampai kemudian dia dipanggil “jawa”. Saking kentalnya beberapa teman ketika reunian lupa nama aslinya.

  • isnuansa 24 August 2011

    Nek konco akrab Cino aku ra nduwe, Mas. Nek Arab, Batak, karo Bugis nduwe.

    Eh, sekarang aja, jauh setelah 98, masih banyak kok “pembantaiannya”. Juga masalah pelarangan tempat ibadah, yang ditengarai juga lebih besar sebenarnya alasan kesenjangan ekonominya daripada perbedaan agama yang sebenar-benarnya.

    Soal bathuk, no komeng ah. #uhuk

  • suryaden 24 August 2011

    hehe
    koncomu kui tekan saiki ya isih cino ya…

    raganti-ganti

  • stevie pranata 24 August 2011

    merinding saya baca tulisan anda kebetulan sy juga china dan dulu sekolah di sanata dharma dan beberapa teman sy juga ada yg di debrito……MANTAP, menggugah semangat two thumbs up for you

  • krismariana 25 August 2011

    don, kakakku punya teman dekat cina. mereka dulu sama2 dari de britto juga. kesanku dari pertemanan mereka, sama sekali tidak ada yang memandang etnis. kayaknya mereka temenan asyik2 saja tuh. dan temannya yg cina itu, dapat istri jawa hehe.

    kayaknya memang asyik ya sekolah di de britto. nek aku lanang, mesti aku disekolahke neng kono karo bapak ibuku, don. njuk kekancan ro kowe ket sma *halah…, ra penting blas hahaha*

    dan sekarang, suamiku pun cina asli lo hahaha. mungkin suatu saat kami perlu dibuatkan film pendek dengan tema jowo-cino, ya? :D

  • AA Kunto A 25 August 2011

    Donny sudah dengan apik menguraikan perihal Jawa-Cina yang sudah akrab-hati, melebihi akrab-kuping dan akrab-cangkem, di De Britto. Setara belaka, sesetara dengan Batak-Sunda-Bugis-Dayak, dan etnis-etnis lain yang berbaur di kandang manuk itu. Sedemikian alami pembauran berlangsung, yakni ketika label identitas luruh saat sama-sama menghadapi musuh bernama kebodohan dan ketergantungan. Gemblengan De Britto dalam memandirikan siswa, dalam mencerdaskan siswa, supaya setiap siswa memahami keutuhannya, melumerkan perbedaan menjadi paseduluran yang erat. Selengkapnya di http://www.aakuntoa.wordpress.com

  • Zulmasri 25 August 2011

    Judul menarik mas. Awalnya sebelum membaca isinya mau saya timpali, “… dan saya Minang. Terus….” Ternyata pengalaman saat di De Britto. Selamat kembali mengenang di hari bersejarahnya mas…

  • jocino 25 August 2011

    Aku juga bukan alumni JB..tapi karena tinggal tak jauh dari sekolahan, kehalaman pun belum pernah aku masuk karena dipageri kawat. Yang saya ingat sekitar tahun 65 an kalau pagi hari terlihat mereka suka olah raga lari pagi kebanyakan berkulit cerah dan sawo mateng, ireng tapi kebanyakan kelakuan dan dandanan nya yang sakarepe dewe..yang rambute hampir semua gondrong grembyak itu ciri khasnya sambil crawakan di jalan. Tapi begitu sudah masuk sekolah mereka bisa tenang dan tertib..dan yang paling disegani ya sama Romo. Rasanya mereka nampak sangat kompak tak berbeda dan karena mungkin didikan yang disiplin dari para pendididiknya maka alumninya yang mata sipit dan mata mloto punya rasa kebersamaan dan solidaritas yang patut dipuji.

  • Ceritaeka 25 August 2011

    Dirgahayu De-Britto…
    Hmmm banyak temen dan ada sepupuku sangat2 fanatik sama alumninya ini ya, gue perhatiin tiap milad De-britto pada heboh semua gitu

  • wiwikwae 25 August 2011

    Kalo kamu aslinya cino apa jowo sih, don?

  • ajihebat 26 August 2011

    cino ato jowo gak ada bedanya. kita semua sama hidup di dunia, butuh udara untuk bernafas dan butuh air untuk minum.
    membaca tulisan ini saya teringat 5-8 tahun lalu saat masih ada di JB. ece-ecean cino jowo udah sangat biasa, tapi ketika berada di luar kita harus menyesuaikan situasi dan kondisi kita dengan lingkungan. salah satu pelajaran penting yg saya dapatkan dari JB adalah saya bisa menghargai keberangaman. ketika ada orang lain yang berfikir “dangkal” terhadap sara, saya bisa memposisikan diri diluar itu dan lebih bisa menghargai keberagaman

    “ingat selalu di dalam hatimu, ialah De Britto contohmu”

  • Arie BS 28 August 2011

    Saya sangat…sangat…sangat…sangat…suka tulisan ini.
    Tulisan + videonya bikin merindinggggg….
    Sayang, si Oddelia ndak bisa merasakan hal yg sama seperti papanya sekolah di Debritoo…:P

    Ijin Share, Bos

  • adi ndronkz 28 August 2011

    moco seko sharing link mas Arie nang pesbuk kiye.. mantapz iki thuq. IMHO nek ono wong seko bangsa manusia sing diseset kulite metu getihe dudu warna abang, lha kuwi istimewa.. selain itu.. sama2 manusia..

    ketika perbedaan ditempatkan sebagai referensi utk saling melengkapi, how beautiful..

    soal cina dan jawa.. padahal ini salah dua dari beberapa kebudayaan tertua di Bumi lho.. sak letting-an karo yahudi sekitar 5000 tahun.

    soal kenapa bisa begini.. it goes way back about 40 years ago.. ketika ada seorang turunan cina-jawa yg ndak trima kalo dia turunan cina, akhirnya ketika dia berkuasa ya bikin kotak2 kyk sekarang..

  • bintang kecil 29 August 2011

    salam kenal pak. saya bukan alumni JB tapi dr Loyola, Semarang. mungkin itulah ciri khas pendidikan Jesuit. di Loyola pun juga seperti itu. jowo-cino biasa wae. semoga kisah di JB bisa menginspirasi Indonesia!

  • kaget 29 August 2011

    Seminggu ngga OL, belakangan tulisan Om DV ko’ bikin bergidik….

    BTW, saya baru tau soal sekolah ini. Pasalnya di tempat saya tinggal sekolah untuk etnis chinese selalu terpisah. Artinya berdiri sendiri tanpa campur baur siswa pribumi. Dan ketakutan itu mungkin akan terjadi, diskriminasi, atau apapun yang terjadi nantinya massa seperti tak menerima kehadiran mereka :(

  • fekhi 29 August 2011

    dulu ada beberapa guruku SMA-ku di Palembang lulusan dari De Britto. mereka memang beda daripada yang lain. leluconnya khas, gayanya (yang masih muda) slengekan berat dah… kalo yang udah berumur udah rapih penampilannya tapi omongannya tetep hahaha

  • niee 30 August 2011

    Sebenarnya aku merasa aneh dg orang cina yg di jawa.. kok bahasa jawanya medok banget yak. laen bener klo dipontianak pasti mereka logat cinanya kental banget dan lebih sering pake bahasa cina utk dialog sehari hari..

    Urusan bergaul seh udah biasa.. aku waktu smp dulu di sekolah negeri. tapi orang cinanya lebih banyak dari melayu. kalau udah imlek yg dulu belum libur nasional pasti sekolahan sepi banget.. seru ;)

  • BroNeo 31 August 2011

    comment OOT: wah baru kali ini lihat anak de britto baris ;)

  • budi "kelik" herprasetyo 7 September 2011

    hadeh thuk..lambemu cen turah tenan. Telat aku membaca artikelmu iki. Tak rugi kita berkelana dalam kereta ekonomi bersimbah pelu bersama orang jawa. Soale sing cino numpak eksekutif hehehe…Ternyata, utekmu semakin yahud melihat Indonesia ketika jauh diseberang lautan sana. Kapan mulih blitar? aku rindu memisuhi dirimu..

  • imadewira 7 September 2011

    Masalah cara bercanda itu menurut saya tergantung lingkungan serta situasi dan kondisi ya. Tapi pola pikir bahwa semua suku bangsa sama saja, saya setuju.

    Semua memiliki ciri khas, entah itu yang terlihat positif atau negatif. Biarlah itu menjadi ciri khas, saya rasa kalau jalani dengan sukacita dan tanpa ada rasa benci, semua akan berjalan dengan indah.

  • akhnayzz 13 September 2011

    manteb gan,,,

  • nanaharmanto 15 September 2011

    Yihhaaa… video ini sedikit mengobati kangenku mendengar logat medhok Jowo yang kental dan berat… aku punya teman karib Cina dan Jawa… keduanya asyik-asyik aja tuh,… sering becandaan, hey Jawir! halo Ciken (Cino kenthir) aku pun pernah dipanggil “belang” krn papaku cina dan mamaku jawa.. tp gak ada yg tersinggung… tapi emang ada orang lain yang kayaknya “rada terganggu” dengan sapaan-sapaan kami itu hihihi…

    • rosalina 1 November 2012

      setujuuu…
      ijin share ya mas bro…

      makasih..

  • CORRY 4 April 2012

    Saya dari Kolese le cocq d’Armandille Nabire Papua. Senang membaca tulisanmu, Don. Saya mengalami sendiri proses pendampingan para imam jesuit terhadap nara didiknya. Hidup di tengah masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai budaya yang ketat, membuat terkadang perselisihan itu muncul. Tahu sendiri budaya Papua. Tetapi, ketika masuk dalam pola pendidikan jesuit, perbedaan itu tidak ada lagi. Kami berbaur menjadi satu dalam persaudaraan dan kekeluargaan. Semua terasa aman, damai, dan indah. Memang, karena kita diasuh oleh sebuah konggregasi yang sama sehingga kita mengalami hal yang hampir sama. Salam AMDG.

    • MARDIONO 24 January 2013

      TAPI BAGAIMANA KALAU ANTARA ORANG JAWA DAN CINA INGIN MENIKAH? PASTI DARI ORANG TUA CINANYA TIDAK AKAN MERESTUI! INI KISAH NYATA YANG AKU ALAMI SENDIRI SAMPAI2 KAMI PUN HARUS BERPISAH.

  • thomas kinantyo 11 February 2013

    Aku alumni kolese Gonzaga.. Memang dalam kolese kita diajarkan kebersamaan dan kekeluargaan yg sangat erat, bahkan kami tidak pernah ada sedikitpun membedakan suku, ras, budaya, latar belakang, ekonomi, intelektual.. Tapi kami sama2 berjuang untuk maju bersama dan sukses bersama.. Andai Indonesia mampu seperti ini, maka koruptor, perkelahian antar suku, tawuran, dan penistaan agama takkan terjadi lagi..

    Ad Maiorem Dei Gloriam

  • PuZ 23 March 2013

    Temen2,,,,itulah :( mslh yg kuhadapi skrg,,,,aku jawa tulen,,,tp aku dah pacaran ma cina hampir setaon,,,orangtuanya kolot,,prnah bilang ke cowoku klo g mau punya mnantu “fanpho” yg artinya cewe pribumi n bs dblg “pembantu” jg,,, :( cowoku jg msh g brani bilang,,,smpe saad ini,,aku kudu piye??tolong masukannya,,,plizzz :( mumettt akuuu mikirnyaaa,,,#curhat dikit yak

  • Dominic Liu 13 July 2013

    mantappp…. sek2, durung rampung moco komen2 e…..mengko wae, mangan sikek..

  • viko 26 July 2013

    Mas boleh minta alamat email ga?
    Aku murid JB kelas XI A3
    Ada tugas buat KI, Aku ambil topik Cino Jowo di JB
    mau nanya-nanya aja tentang Cino Jowone JB angkatan nya mas e
    gmna

    • DV 29 July 2013

      Wes kukirim lewat email yo

  • Miz Tia 21 November 2013

    ahaha percakapan cina jawanya lucu :D .

Tulis komentarmu