Tentang Sampah

1

Sesaat sebelum menginjakkan kaki pertama kali di Sydney, setidaknya ada dua kesalahkaprahan yang ada di benakku.
Yang pertama, menurutku di Australia ini tidak akan ada sampah, dan yang kedua, akan ada mesin-mesin canggih yang otomatis dapat memungut sampah sehingga negara ini tampak begitu bersih.

Pikiran pertama hancur berantakan setelah aku menulis di link ini (link). Pikiran kedua juga tak berumur panjang karena setelah lewat seminggu, aku baru tahu bahwa tidak ada mesin-mesin canggih selain truk pengangkut sampah rumah tangga yang biasa saja hanya ditambah lengan mekanik yang dapat mengangkat dan menuangkan sampah dari bak sampah ke box truk.

Tapi ada satu pikiran yang mau tak mau tak bisa kupungkiri adalah, generally, negara ini memang benar-benar bersih.
Dan, enam bulan berada di sini, setelah melihat apa dan bagaimana penanganan sampah di sini, menurutku kebersihan sebenarnya bisa terjadi dimanapun asalkan didukung oleh sikap proaktif masing-masing pribadi yang meninggali negara/kawasan tersebut.

Sampah Rumah Tangga
Di sini, nyaris semua rumah masing-masing diberi tiga jenis kotak sampah oleh council. Aku tak tahu apa tepatnya definisi council, tapi sepertinya sejenis pemerintahan kecamatan yang membawahi beberapa suburb (desa).
Kotak sampah tersebut masing-masing berwarna hijau, merah serta kuning. (Di beberapa tempat ada pula kotak warna biru tapi entah aku tak tahu untuk apa).

Kotak berwarna hijau dikhususkan untuk sampah-sampah organik semacam daun-daunan, kayu, ataupun rumput-rumput liar.
Yang kuning untuk sampah yang bisa diproses ulang seperti botol, plastik, kertas dan kain sedangkan kotak merah untuk sampah-sampah lainnya seperti sampah dapur, sampah kamar mandi dan sampah tempat tidur *halah*

Sekali dalam seminggu (kalau di councilku setiap Selasa pagi) kotak merah dan salah satu dari kotak lainnya secara bergantian harus dikeluarkan di tepian jalan. Pada waktu-waktu khusus yang dijadwalkan, truk pengangkut sampah yang secara bergiliran datang akan mengangkut sampah-sampah itu tadi dan membawanya ke tempat pembuangan sampah.

Barang-Barang Tak Terpakai (Termasuk Baju dan Aksesories Bekas)
Pada hari-hari khusus, yang pasti tak saban minggu, ada juga kesempatan untuk kita membuang barang-barang yang sudah tak terpakai seperti misal komputer, amplifier, sofa, lampu kamar dan bahkan lemari!
Caranya? Letakkan saja barang-barang itu tepat di tepian jalan, dan petugas Council akan mengangkutnya menggunakan truk lalu dibawanya ke tempat pembuangan.

Apa nggak sayang kok dibuang-buang?
Nah! Kalau Anda berpikir demikian, berarti kita sama karena akupun juga berpikir sayang ketika membuang barang-barang koleksi kita, bukan?

Lantas kemana barang-barang usang itu dibuang? Istriku bilang, mereka membawanya ke tempat pembuangan lalu dipress untuk dijadikan bangkai rongsok dan disimpan. Tapi jangan salah, terkadang sebelum petugas Council membereskan barang-barang, serombongan orang sudah membereskan barang-barang yang kita buang itu. Mereka adalah para pecinta barang bekas :)
Ini serius! Mereka benar-benar ada dan awam di sini.

Seorang Om, teman akrab saya malah bercerita minggu lalu ia mendapatkan akuarium lengkap dengan water pump serta meja dudukannya gara-gara giat mencari-cari barang buangan itu tadi.
Nah kalau sudah begini yang ada adalah simbiosis mutualisme. Si mantan pemilik akan merasa lega karena rumahnya jadi lebih lapang, pegawai council juga berhemat tenaga karena tidak mengangkut lebih banyak sampah, si penyuka barang bekas pun jadi sumringah dengan koleksi baru nya.

Bagaimana dengan sampah baju, sepatu dan tas?
Wah kalau itu lain lagi. Adalah St Vincent de Paul. Organisasi yang berlindung di bawah gereja, tapi tidak mengkotak-kotakkan orang berdasarkan agama saja, mereka bekerja mengumpulkan barang-barang bekas terutama baju, celana, sepatu, tas hingga buku. Tim akan menyortir dan melakukan pencucian serta perawatan terhadap barang-barang itu lantas mereka menjualnya dengan harga super duper murah di outlet-outlet yang tersebar dengan target kalangan menengah ke bawah.
Tapi sekali lagi, aku, terutama istriku yang gemar mengkoleksi sepatu dan tas itu pasti akan berpikir ulang untuk menyumbangkan koleksinya meski sudah usang sekalipun. Akupun begitu. Membayangkan koleksi Levis atau Nudie Jeans apalagi buku-buku Pramoedya-ku dimasukkan ke kantong plastik lalu disumbangkan?

Oh no… tak terperi rasanya, mending bantu donasi uang saja!

* * *

Nah, itu baru sampah rumah tangga dan barang-barang bekas.
Bagaimana dengan sampah yang lain?
Ok, untuk mempersempit topik tulisan, aku akan mengambil contoh penanganan sampah di rumah makan.
Bagaimanapun juga, sampah di rumah makan adalah tanggung jawab si pemilik rumah makan, dan kupikir hal ini sama dimanapun itu.

Akan tetapi yang membedakan di sini adalah mentalitet manusia-manusia yang berkunjung ke restaurant tersebut.
Terutama di fastfood restaurant dimana makanan dimasukkan ke dalam kemasan, peran mentalitas customer sangatlah berpengaruh!
Kebanyakan, tak semua, dari mereka adalah orang-orang yang bertanggung jawab dan selalu berpikir bahwa, “Ini bekas kemasan makananku, jadi aku pulalah yang harus membersihkannya.” Sehingga, seusai makan, tanpa disuruh, mereka sudah membereskan meja dari segala jenis kotoran bungkus kemasan lalu membuangnya di tempat sampah yang telah disediakan.

Pada awal-awal datang dulu, aku tetap tak bisa menerima hal itu.
Bagiku, ini memang benar bekas kemasan makananku tapi aku toh sudah membayar untuk membeli makanan itu pula?
Tapi lama-kelamaan berubah juga.

Gara-garanya sepele, ketika sedang makan fish and chips di Old Windsor beberapa bulan lalu, pada sebuah dinding di dekat wastafel tertulis “Keep Clean and Tidy, Please”.
Lalu ketika sedang menanti makanan datang, tiba-tiba seorang anak perempuan bule berusia tak lebih dari empat tahun barangkali, setelah menyudahi makannya bersama bapak dan ibu serta saudara-saudaranya berjalan dengan lucunya ke arah tempat sampah. Tangannya penuh dengan baki berisi sisa-sisa makanan dan kemasan makanan. Dengan kerepotan ia membuka tutup tempat sampah itu lalu mencemplungkan semua isi baki ke tempat sampah.

Sejak saat itu aku begitu malu.
Umurku boleh menjelang 32, tapi kedewasaan dalam menjaga kebersihan siang itu terkalahkan dengan telak oleh anak berusia 4 tahun.

37 komentar… add one

  • Ria 26 May 2009

    ketahuan kan mas kalo kamu jorok :P

    kapan Indonesia menerapkan hal yang sama tentang sampah seperti disana ya, kebayang gak tempat pembuangan sampah di indonesia…kumuh dan menyedihkan mas…makanya ada pemulung merekalah yg milah2 sampah itu ke beberapa bagian…sedih :(

    • DV 26 May 2009

      Tapi jangan salah, pemulung-pemulung di BantarGebang malah jadi obyek yang dipercaya akan menaikkan “traffic” salah satu pasangan capres-cawapres kita lho :)

  • p u a k 27 May 2009

    Setahuku di sini juga dibuat tempat sampah yang terdiri dari 2. Sampah basah dan sampah plastik.
    Tapi teteeep.. nobodys care!

    Btw..baru mau 32, Don???.. (nggak nyangka) :mrgreen:

    • DV 27 May 2009

      Knafa? Tampangku tuwa banget ya? Makaseeehh :)

  • igna 26 May 2009

    Wih.. aku jadi inget waktu beberapa tahun lalu sempat ke Jeju, Korea Selatan.. bukan Kroya lho Don…
    Saat makan siang di food court, kebetulan sepi, aku coba makanan Korea, lumayan sih rasanya, terus habis selesai makan, seperti biasa ngudut rokok kretek sangu dari Indo… nikmat banget.. saking nikmatnya aku ngga sadar dipendeliki orang yang jaga counter.. kali karena mambunya rokok kretek aneh buat mereka yah… aku cuek aja… selesai makan aku tinggalin aja nampan berisi piring kotor di meja… terus ngeloyor pergi..
    Ndak taune sebentar kemudian aku dikejar sama penjaga counter, dia ngomong apa aku nggak tau (lha wong taune cuman ngomong annyohaseo, khamsamida, sarrangheo doang..). Dia menunjuk nampanku sambil nunjuk tempat nampan kotor… oalah aku baru dong, ternyata kalau aku harus menempatkan sendiri nampan kosong itu ditempat nampan kotor… isin banget diomelin begitu .. :(
    Bener memang semua kebiasaan baik harus dimulai sejak dini..

  • Riris Ernaeni 26 May 2009

    Tulisanmu menyulut semangat untuk memulai sesuatu yg lebih baik, Don! Tapi pernah loe niat baikku untuk beberes bekas makananku sendiri di fastfood malah diketawain sama temanku. Lha terus piye coba?

  • edratna 26 May 2009

    Yang kurang di kita adalah kedisiplinan dan kebersihan.
    Jika dua hal itu sudah melekat dalam budaya, sebetulnya orang Indonesia banyak yang berhasil. Tapi itu bisa dimulai di rumah, mendisiplinkan anak-anak kita, untuk tak membuang sampah sembarangan.

  • geRrilyawan 27 May 2009

    wah..pemerintahnya aktif, warganya proaktif…kalo semua care, merasa punya tanggung jawab masing2 terhadap kebersihan memang hasilnya ya bisa dilihat di Sydney itu ya mas.

    di indonesia bisa dibudayakan begitu nggak ya?

    • DV 27 May 2009

      Budayakan saja, skarang!

  • Bagus … mulai dari lingkungan terkecil … kalau masyarakt Indon … masih perlu pembiasaan

    • DV 27 May 2009

      Pembiasaan mesti dimulai, Pak. Yuk!

  • Muzda 27 May 2009

    Boro-boro, Mas .. ada yang ngebersihin sendiri bekas makannya ..
    Pembeli adalah Raja, kan ..? hehee.. paham yang kebablasan ..

    Aku ya gitu kok, langsung tinggal aja .. Lha semuanya gitu, nanti aku dianggap aneh no kalo ujug ujug beresin sendiri
    :)

    • DV 27 May 2009

      Betul!!!
      Nanti kamu dikira nyambi jadi tukang sampah.

      Ya wes, di muzyawarahkan dulu saja :)

  • Chandra 27 May 2009

    Foto dong truk sampahnya, kan lumayan robotic walaupun cuma ada tangan mekaniknya..hehehe..nih si truk termasuk yg selalu gue dan addney tungguin tiap minggu (kalo di gue diangkut jumat pagi), soalnya seneng liat tangan mekanik ngambilin tempat sampahnya…

    Di tempat gue (tau ya di tempat elo, kita kan beda council.. :p) yellow bin diambil 2 minggu sekali, yg ijo n merah tiap minggu, harinya sama cuma beda truk…

    Yang gue sebel, itu supir kadang-kadang suka ngasal nyimpen bin-nya setelah isinya dibuang, jadinya keguling-guling, tidak kembali tegak berdiri. Dan puncak kebetean gue adalah 2 minggu lalu, gara-gara terguling2 sekrup penutup bin gue patah 1, jadinya si tutup cuma ditopang 1 sekrup, goyang-goyang ngegantung-gantung dong tutupnya…dan…akhirnya…minggu lalu tutupnya copot masuk ke truk cobaaa pas tempat sampahnya dibalikkin buat ngeluarin isinya!!!! Sekarang tempat sampah gue jadi kagak ada tutupnyaaa!!!

    Ah jadi curhat… :p

    • DV 27 May 2009

      Gw ngakak sejadi-jadinya waktu baca komen ini! Hahahahaha.. tapi skarang kalau dirunut, siapa yang paling bersalah?
      Ya elo.. salahnya elo nggak ngebenerin waktu sekrupnya patah kan ?:)

  • sawali tuhusetya 27 May 2009

    wah, benar2 mengagumkan, bagaimana masyarakat australia dalam menjaga kebersihan lingkungan, sampai2 bekas2 sampah di restoran pun menjadi tanggung jawab pelanggan. sungguh kontras dg pemandangan di negeri kita, mas don. alih2 ikut menjaga kebersihan, mereka justru sengaja memperbanyak sampah dan siswa2 makanan di atas meja. kira2 butuh berapa generasi negeri kita bisa semacam ausitralia dalam hal penanganan sampah?

    • DV 27 May 2009

      Ndak butuh lama-lama Pak… langsung mulai aja sekarang :)

  • Yoga 27 May 2009

    Aku suka tulisan ini, ringan menggelitik…

    Di sini DOn, ada satu waralaba dunia yang bisa mewajibkan pengunjung membereskan sendiri bekas tempat makannya. Dan semuanya bisa menerima dengan legawa. Aku melihatnya bukan karena pembeli itu sadar tentang kebersihan, maklum di tempat lain kelakuannya bisa beda, tapi lebih kepada gengsi dan life style modern dan mungkin juga karena gak mau meninggalkan kesan negatif. Aku yang salah duga atau apa, tapi menurutku ini kasta “keimanan” terhadap kebersihan yang lumayan rendah.

    • DV 27 May 2009

      Ya, makanya smua emang benar-benar kembali ke “iman” masing-masing…

      Bikin agama baru bertajuk KEBERSIHAN, yuk :)

  • ammadis 28 May 2009

    Baru pertama kesini nih…

    Blog nya keren…adem terlihat….

    Budaya sampah semacam itu semestinya juga di terapkan di Indonesia…tapi susah juga lho…jalan-jalan (raya ataupun gang sekitar rumah..) masih jelek, kubangan air dan becek juga banyak…jadi yaa org akhirnya menganggap biasa buang sampah itu…

    Salam kompak slalu!

  • mascayo 27 May 2009

    semakin banyak teman-teman kita disini membaca tulisan-tulisan komparatif seperti ini, mudah-mudahan semakin banyak pula yang tergugah. termasuk saya …

    • DV 27 May 2009

      Amen.. tapi maksudku nggak njelek2in lho :)

  • Chandra 27 May 2009

    SUPIR TRUK-nya doong! Kan dia yang tidak menyimpan tempat sampah gue dengan posisi berdiri tegak seperti sediakala sehingga terguling-guling dan sekrupnya patah dan copot! Dan sekarang jangankan sekrupnya, tutupnya pun dah dibawa serta! Gue kan jadinya mesti beli bin baru! Duh harusnya budget yg harusnya bisa gue beliin double whopper beratus-ratus (hiperbola ini mah.. :P) jadi harus gue beliin tempat sampah! Tempat sampaaahh ccoobaaaa! Sampe sekarang masih gue biarin itu bin menganga! Sebal!

    Hahaha yang ginian dibahas, panjang lagi! :p

    • DV 27 May 2009

      Hahahahaha….
      Kalau gitu ngga usah beli tempat sampah aja :)
      Trus ntar rumah loe jadi tempat sampah council loe :)

  • kris 27 May 2009

    kurasa di Ausie bisa bersih salah satunya adalah karena jika kita buang sampah sembarangan akan kena denda. iya kan? dan kurasa dendanya cukup lumayan besarnya. mungkin soal denda ini bisa kamu bahas di tulisan selanjutnya don.

    dan kenapa masyarakat Indonesia tdk spt di Ausie? karena hukumnya lembek! perangkat hukum jg nggak jalan. jadi biarpun di pinggir2 jalan ada tong sampah hijau dan kuning, tetap saja orang tdk memilah sampah. selama ini aku berusaha memilah sampah, tetapi ya rasanya tdk banyak gunanya, krn di TPA sampah2 itu jg tdk dipilah, ditumpuk begitu saja. duh, kalau saja Indonesia bisa mengolah sampahnya… pasti banyak manfaatnya. orang2 yg tahu ttg hal itu pun tdk melakukan apa-apa.

    • DV 27 May 2009

      Denda ada tapi sbenernya masih kalah mahal ketimbang Singapura kayaknya…
      Menurutku masyarakat di sini (terutama yang bule) sudah melewati masa takut didenda Kris, mereka ngelakuinnya dengan sukarela.

      Memang kaum imigran koyo aku ngene iki sing isih tradisional banget hahaha :)

  • Tuti Nonka 27 May 2009

    Wah, kalau tahu sampah di Ostrali ada sofa, komputer, akuarium, dll, pasti para pemulung di Indonesia ngiri berat ya :D

    Memang kesadaran soal kebersihan ini susah banget pada masyarakat kita. Di Yogya belum lama ini dipasang banyak tong sampah di pinggir jalan, dibedakan antara sampah organik dan sampah non-organik. Tahu apa yang terjadi? Di beberapa tempat, sampah berceceran di luar tong (lha wong sudah disediain tempat, kok memasukkan saja malah lho!). Di tempat lain, tong sampah lenyap, tinggal besi penopangnya. Ck .. ck .. ck … :cry:

    • DV 27 May 2009

      Hahaha benar, Bu… Saya aja suka ngiler tapi ya itu tadi, mau ngambil kok nggak ada tempat :)

      Ah saya inget ada dua kotak sampah di Jogja yang dibedakan … dan benar juga beberapa memang sudah pada hilang entah kemana :)

      Hehehe…

  • Eka Situmorang - Sir 28 May 2009

    Nah masalahnya disini.. gak disedian tempat sampaahnya..

    soal koleksi.. gue donasi duit juga.. at baju2 gak merk.. kalo yg fave bisa nangis njerit2 klo pindah 1 senti juga hahahha

  • iman Brotoseno 28 May 2009

    ada pemulung nggak disana ? apa kita ekspor pemulung ke sana don..kayak prospek bagus tuh

  • Blogger senayan 28 May 2009

    apa kabar?
    ooh gitu ya kalo disitu, thanks infonya ya

  • masnoer 29 May 2009

    kagum saya dengan mereka, kalau saya belum bisa yang seperti itu karena saya masih suka juga buang sampah sembarangan

  • polar 29 May 2009

    kira2 di tempat sampah itu, ada laptop yg d buang ndak yahhh

  • zam 31 May 2009

    penanganan sampah yg keren! kalo di sini, sampah dipake buat lokasi deklarasi.. hahaha

  • arikaka 1 June 2009

    beda jauh ya…

    tapi Indonesia kan lebih baik lagi..

  • rendi 28 June 2009

    kira kira disana ada pemulung ga yua?

    • DV 28 June 2009

      Ndak ada.. setidaknya belum pernah liat :)

Tulis komentarmu

Postingan selanjutnya:

Postingan sebelumnya: