Vakansi ke Canberra: Pork Barrel, Restaurant Pork tanpa Pork (3)

Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Vakansi ke Canberra'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

“There is no new thing under the sun. [Ecclesiastes 1:9]“

Sesampainya di Canberra malam itu, tak ada yang tak bisa kulakukan selain mandi lalu beristirahat!
What! Winter dan tengah malam mandi? Tenang, tentu mandiku pake air hangat dan sekalipun demikian, tak kan kuberani mandi kalau saja tidak ada penghangat ruangan di kamar apartemen.

Air hangat dan heater. Sayangnya hanya dua hal itu pula yang mampu membuat kami puas atas layanan yang diberikan apartemen yang kami sewa karena selebihnya kami lebih banyak kecewanya. Kecewa dengan apartemen yang telah kami booking beberapa lama sebelum liburan karena ternyata kenyataan yang ada tak sesuai dengan foto kondisi kamar dan ruangan yang ditawarkan di website.

Kalian tahulah seperti apa kecewanya. Semacam kecewa seorang gadis yang merangkai kasih asmara dengan seorang pria lewat internet lalu berpacaran tanpa pernah bertemu sebelumnya dan setelah enam bulan kemudian bertemu ….and… OMAIGAT ternyata parasnya tak setampan bentuknya di foto yang selama ini dikirimkannya hahaha!

“Selama manusia masih ada, bukankah nafsu jahat juga berkeliaran disekelilingnya?”

OK, balik ke soal apartemen.
Kekecewaan yang utama sebenarnya adalah kasur. Seusai mandi malam, hal yang kubayangkan pertama adalah nikmatnya melemparkan diri ke atas spring bed dan kenyalnya per yang menyangga kasur akan membuat beberapa kali lenturan seperti mengibaskan semua lelahku keluar dari tubuh.. namun yang kudapat ternyata, ketika kulemparkan diri ke atasnya, per itu sudah tak membal lagi karena barangkali sudah terlalu lentur, ia membawaku meringsek, terbenam dan tak melentingkan tubuhku sama sekali ke atas.

Yang lebih kasihan adalah Odilia, anakku. Ia yang tidur denganku harus berusaha keras untuk bisa terlelap karena gadis kecil berusia 1.5 tahun itu memang sudah terbiasa untuk guling-gulingan terlebih dulu hingga benar-benar bisa terlelap. Nah, dengan kasur yang sudah tak membal itu, tentu susah baginya untuk berguling-gulingan seperti biasa ia lakukan di rumah.

Sofa bed yang dipakai Joyce setali tiga uang kondisinya. Ia yang sejak dari perjalanan sudah ingin merasakan tidur nyaman, oleh karenanya kupersilakan tidur di sofa bed sendirian dan kubiarkan Odi tidur bersamaku, harus kecewa dengan kondisi kasur yang justru terlalu keras!

Tapi… “Ya sudahlah!” kata Bondan Prakoso bernyanyi.
Disyukuri saja lah meski tak sesuai dengan foto dan kondisi kasur yang memprihatinkan, toh hal-hal seperti itu tak boleh menjadi kendala yang menghilangkan semarak liburan yang sedang kami jalani… tak lama setelah Odilia terlelap (yang membutuhkan waktu lama untuk itu) akupun terlelap.

*   *   *

Odilia di Pork Barrel Cafe/Restaurant

Sabtu pagi 11 Juni 2011, kami terbangun disambut dengan suhu dingin yang tetap saja bisa menyelinap di tengah pusaran pemanas ruangan yang kami pasang pada settingan suhu tertinggi. Setelah bermalas-malasan sejenak dan cuci muka serta gosok gigi kami segera beranjak keluar!

Sesampainya di luar, udara dingin benar-benar menampar!
Untung kami telah menyiapkan yang terbaik untuk menghadapi hawa Canberra. Coba bayangkan, ujung kepalaku telah terlindung topi fedora yang hangat. Empat lapis baju kukenakan mulai dari kaos thermal, kaos oblong, sweater tebal dan jacket. Lalu, selain celana dalam, aku telah melapisi kakiku dengan celana thermal dan jeans serta kaos kaki wool nan tebal. Praktis aku hanya harus melindungi wajah dan tangan yang sengaja tak kulapisi glove supaya mudah menggendong dan beraktivitas untuk Odilia.

Di tengah perjalanan kami masih tak bisa berhenti dari gerutu kenapa apartemen yang kami booked bisa sebeda itu dari foto yang ditawarkan di internet. Namun pada akhirnya kami mampu mengambil titik simpul dan menutup kekecewaan dengan anggapan bahwa Hey, ini Canberra, bukan Bali, Hawaii bukan pula Sydney! Canberra toh bukan kota yang merepresentasikan dirinya sebagai kota tujuan wisata! Ia adalah ibukota, pusat pemerintahan yang lebih banyak dihuni dan dikunjungi oleh para pekerja yang datang untuk urusan bisnis daripada wisatawan. Jadi, ketika kami menemui betapa ‘standard’ harapan kami berbeda dengan kenyataan, ya wajar-wajar saja!

Tujuan kami siang itu adalah ke Canberra Convention Center karena Joyce ingin melihat pameran karya seni ‘handmade‘, ada beberapa barang yang sudah diincarnya sejak dari Sydney. Menghabiskan waktu sekitar dua jam di sana, Joyce berbelanja dan aku bercengkrama dengan Odilia serta teman-teman lainnya, sudah saatnya untuk mencari makan karena lapar!

Sejatinya urusan makan di Australia bagi perut ‘Asia’ konon tak sesulit di Eropa. Posisi geografis yang cukup dekat dan terjangkau dari Asia, membuat Australia adalah surga bagi makanan asia. Kalian tak perlu susah-susah masak nasi goreng atau membawa bumbu asli dari Indonesia dengan cara mengelabui petugas custom di bandara karena semua dengan mudah bisa didapat dalam sajian siap santap! Rasanya pun tak sembarangan. Salah besar kalau kalian menganggap kami yang di Australia ini adalah penikmat masakan Asia imitasi karena jangankan bumbunya, chef pemasaknya pun banyak yang didatangkan khusus dari negara asal dengan visa kerja sebagai pemasak.

Jadi, soal makanan bukanlah sebuah kendala juga saat kami berlibur ke Canberra karena kami tahu, somewhere di dalam kota Canberra, pasti kami dapat menemukan chinna town dan di sana pasti melimpah makanan Asia yang sesuai dengan ‘karakter’ perut kami.

Tapi siang itu kami ingin mencoba sesuatu yang agak sedikit berbeda, ‘makanan bule’ kalau kata orang Indonesia.
Maka pergilah kami ke Pork Barrel, sebuah kafe-restaurant yang terletak di National Parliamentary Rose Garden, sebuah taman yang berada sangat dekat dengan Parliement House. Kafe itu terletak agak ke tepian taman namun meski demikian keasrian dan keaslian alam dijaga benar-benar. Pork Barrel tidaklah terlalu luas namun estetika bangunannya sangat dijaga sesuai dengan naluri seni yang tentu tak murahan (klik di sini untuk melihat bentuk bangunan dan info lebih lengkap tentangnya).

“penanganan korupsi kan sebenarnya hanya soal bagaimana kita mau menjauhi sifat tamak dan bagaimana aturan concern menjaganya… “

Lalu bagaimana dengan menu makanan yang disediakan?
Kalian pasti pikir bahwa ditilik dari namanya pasti kafe itu menjual daging babi?
Kalau benar maka kalian tak sendirian. Ketika pertama kali mendengar namanya disebut oleh Darell, teman kami yang beberapa kali sudah pernah datang ke sana, terbit air liurku membayangkan daging babi yang lezat apalagi ditambah dengan bersulang anggur di saat hawa dingin begini pasti menyenangkan.

Namun dugaanku ternyata salah karena tak ada satupun menu yang menyajikan pork (daging babi) melainkan menu-menu lainnya (barangkali hanya saat itu, entah saat-saat lain karena kebanyakan restaurant/bar/kafe di sini menyajikan beda menu untuk breakfast, lunch dan dinner serta weekend dan weekdays). Aku sempat hendak bertanya kepada pelayan kafe itu kemana mereka menyembunyikan menu masakan babi kegemaranku, namun niat itu kuurungkan setelah aku membaca penjelasan yang dipasang di tembok kafe itu:

The term pork barrel referes to spending that is intended to benefit constituents of a politician in return for their political support, in the form of campaign contributions or votes

Ternyata kafe itu menggunakan nama Pork Barrel lebih karena ingin ‘menjangkau’ soalan yang tak jauh-jauh dari apa yang kita perjuangkan di era Reformasi ’98 dulu, Korupsi Kolusi dan Nepotisme. Bagaimanapun juga kecewaku karena tak ada hidangan babi di sana, aku cukup terhibur dengan kenyataan ini dan tak henti berdecak kagum mencoba mengerti pola pikir pemilik Pork Barrel yang brilian dalam menamai restaurantnya itu!

Pikiranku melayang tiba-tiba…. Adakah tempat di muka bumi ini yang benar-benar telah bebas dari korupsi dan sebangsanya? Entahlah tapi bagiku dan kuyakin kalian mengamininya, selama manusia masih ada, bukankah nafsu jahat juga berkeliaran disekelilingnya? Sementara penanganan korupsi kan sebenarnya hanya soal bagaimana kita mau menjauhi sifat tamak dan bagaimana aturan concern menjaganya… sedangkan sifat itu sendiri sejatinya hingga kiamat pun akan tetap ada!

Tak ada yang baru di bawah matahari yang sama, Cyinnnn! Cemungudhhh!

Bersambung …

17 komentar… add one

  • niQue 24 June 2011

    weleh ….
    emang ga bisa dikomplein ya mas?
    kebayang deh kecewanyahiks

    btw itu resto pork nya ‘menipu’ ya hehehea
    kirain juga tadi udah pasti menunya babi semua deh :D

  • itikkecil 24 June 2011

    istilah pork barrel itu kalau di sini sepertinya : politik dagang sapi :D

  • Deny Gnasher 25 June 2011

    Beneran ngga ada porknya? Wah menipu sekali namanya, kalau mampir kesana mau cobain ah.

  • Sosial Budaya 25 June 2011

    Baru tau nih soal masakan Asia yang sudah menjadi sangkar di Australi, bagus donk mas jadi ngga perlu repot cari rempah.
    Resto itu sih bukan menipu, setidaknya dengan nama ‘Pork’ membuat sistem market tersendiri yang secara tak langsung berimbas pada rasa ‘ingin tahu’. Tapi, saya tak akan pernah mencoba resto dengan tulisan ‘Pork’ di Indonesia :P

  • Sungkowoastro 27 June 2011

    Ya, ternyata, dua kali Om Don mendapatkan kenyataan yang tak sama dengan yang diangan. Memang sih, tak selalu kenyataan itu sama persis dengan harapan. Tapi, bersyukur, itu yang tetap ada pada diri Om dan keluarga.
    Salam kekerabatan.

  • imadewira 27 June 2011

    Yang saya pikirkan selama ini, bagaimana Odilia yang baru 1,5 tahun dengan suhu sedingin itu? Hehe, mungkin karena sudah biasa ya..

  • giewahyudi 27 June 2011

    Jadi enggak cuma cewek facebook yang menipu ya?
    Kalau di Indonesia bisa diblacklist se-timeline tuh.. :)

  • titiw 28 June 2011

    Pipinya odiliiiaaa… masa oloooh.. pengen diemut! :)) Ya, kapan2 kalo mau buking tempat lagi mas, telpon pake ancaman aja. Kalo gak sesuai, tampangnya bisa kita bikin gak sesuai sama foto KTP juga. Huahahaha.. *kejam mode: on*

  • Ceritaeka 28 June 2011

    Postinganmu asyik dibaca endingnya seriuuuuus bener! :))
    Anw Odilia itu koq kayak aku ya ada ritual sebelum tidurnya hahaha

  • Patricia 29 June 2011

    Don kamu pasti tidak kecewa kalau denger apa arti Pork Barrel, pas kita cerita kamu lagi gak ada kayaknya. Singkat jelas nya arti Pork Barrel itu adalah disaat politis me-lobby untuk mendapatkan vote. Nah itu lokasi Pork Barrel kan pas di sebrang Old Parliament House dan gak jauh dari Parliament House yang baru juga, menurut ku pemiliknya memakai nama itu karena itu. Pork Barrel itu sendiri berasal dari American slang dan sekarang dipake disini juga :)

    • Patricia 29 June 2011

      ha itu nulis politisi aja salah aku, maaf

  • ren 29 June 2011

    wah blum kesini nih, padahal dah 3x ke canberra…
    jadi apa yg kau makan?

  • edratna 29 June 2011

    Ahh…lucunya Odi…..tahu-tahu udah gede aja…
    (malah nggak ngomentari tulisan).

    Kayaknya di Indonesia hotelnya lebih mewah ya Don…malah udah plus breakfast, kalau di LN, sering breakfast tak termasuk..atau mesti menambah lagi harganya.
    Nikmatilah Don..yang penting bisa bepergian sekeluarga, apalagi sama si imut itu…pengin nyubit pipinya deh. Kapan diajak nengok Indonesia…kabari ya, pengin kenalan sama Joyce juga.

  • monda 29 June 2011

    gaya boboknya Odi lucu banget, musti guling2 dulu baru bisa lelap…
    awas jatuh dek…

  • DM 1 July 2011

    Baru kali ini aku melihat wujud Odilia dalam foto yang betul-betul jelas. Rupanya sudah besar dia. Anakmu tenan tho, Su? Huihihi. Udah gede ya… :D

  • spyroz 1 July 2011

    hahaha.. bise ajeee lo.. ngatain gue urban.. tapi ternyata dia bisa ngomong beginihhh “Cyinnnn! Cemungudhhh!”
    gue aja ga pernah!!!

    • DV 1 July 2011

      Hakakakakakaka ngakak gw baca komen ini:) Hi, Urban :))

Leave a Comment

Postingan selanjutnya:

Postingan sebelumnya: