Why should i get married?

Selain soal ciuman, ‘pasangan hidup’ juga dipandang dalam persepsi yang berbeda oleh banyak kalangan. Tak jarang perbedaannya membuat sesuatu kurang ‘mengenakkan’ ketika seseorang/sekelompok orang mulai ‘kepo’ dan bertanya, “Kok mereka gitu sih? Salah tau!”

Kalau kita tinggal di Indonesia dan berkenalan dengan pria yang baru kita kenal di acara kawinan misalnya, dengan paparan usia sekitar 30-an, sebagai basa-basi kita biasa bertanya, “Istri dan anaknya nggak diajak? Sudah menikah?”

Sembilan puluh persen jawaban akan baik-baik saja semisal, “Oh, saya belum menikah, Pak!” atau “Oh, istri saya repot ngurus anak di rumah…” Tapi membayangkan pertanyaan seperti itu ditujukan pada orang-orang di sini, bisa-bisa jawaban yang diberikan akan tak terlalu menyenangkan atau bisa jadi di luar perkiraan kita.

“Married? Are you kidding me? I’m still 30!”

Pada dasarnya rata-rata orang di sini tak mematok bahwa pada usia tertentu kita harus menikah. Ada yang menikah umur 35-an, ada pula yang malah menikah ketika usia sudah 60-an.

Suatu waktu aku datang ke pesta dan banyak orang kaget ketika aku bercerita bahwa aku sudah punya seorang anak perempuan berusia satu tahun. “Hah? Kamu 33 tahun sudah punya istri dan anak? You’re too young, Donny!” Dalam hati aku berpikir, ini orang belum pernah datang ke Indonesia. Barangkali kalau ia datang ke pesta di sana dan ketika tahu bahwa ia belum lagi menikah apalagi punya anak padahal keriput di sudut matanya telah lebih dari 3 lekukan, apa kata dunia?!

 

“Istri? Aku tinggal bersama my girl friend and why should i get married?”

Banyak orang di sini memilih untuk tak menikah (bahkan seumur hidupnya) dan lebih senang tinggal kumpul kebo bersama pacarnya.

Alasannya banyak, tapi beberapa yang kutahu, mereka memilih untuk tidak/belum menikah karena pertimbangan komitmen. Bukan komitmen untuk saling mencintai lho, karena kalau itu mereka sudah tahu dan rata-rata terbuka bahwa ketika mereka sudah tak cinta ya mereka akan langsung mengemukakan satu sama lain. Komitmen yang dimaksud adalah komitmen yang sifatnya administratif di hadapan hukum (dan sebagian orang masih respek terhadap agama tentu saja).

Ketika sebuah pasangan bercerai, di sini, detail urusan administrasi yang menyertai proses itu harus dilakukan secara seksama. Nah, inilah yang membuat mereka rata-rata memilih untuk berpacaran saja.

 

“Istri? Saya tinggal bersama my boyfriend!”

Nah loh! Kenyataan bahwa ada sebagian orang yang memilih untuk berorientasi seksual sesama jenis sebenarnya bersifat mendunia. Tak hanya di Australia, bahkan di Vatikan pun barangkali ada, maka di Indonesia juga banyak seharusnya! Yang membedakan cuma soal keterbukaan dan bagaimana kita mampu menghargai keberadaan mereka sehingga mereka pun tak malu-malu untuk mengakui identitasnya dan balik menghormati kita.

Sejauh yang kutahu, di sini ada pasangan yang masih belum mengumumkan ke khalayak namun semakin hari semakin banyak yang ketika ditanya, tak segan bilang “I’m a gay!” atau “I’m a lesbian!” Jadi jangan heran kalau misalnya di kereta, tiba-tiba di depanmu ada dua orang pria yang saling berpelukan, membelai rambut satu sama lain lalu tiba-tiba… berciuman bibir…

OK! Jangan panik! Ambil handphonemu, sibukkan diri misalnya dengan membuka facebook or twitter atau baca buku atau palingkan wajah ke arah jendela mengamati alam sekitar misalnya… Tapi kalau kamu malah menikmati pemandangan itu? Ya,beda urusan sih :)

 

“Eh, kamu pikir kamu siapa? Kenapa tanya-tanya?”

Kalau ini yang paling pahit! :)

Paribahasanya sih memang “Air susu dibalas dengan air tuba” tapi nyatanya masa kini tak semua orang doyan susu, dan kamu memancing orang untuk diberi setetes tuba.

Sama dengan kenyataan bahwa homoseksualitas adalah fakta, maka pernikahan, pilihan orientasi seksual dan pacar adalah juga hal-hal yang faktanya bersifat personal. Namanya juga personal, ia berada dalam pagar diri kita masing-masing. Kita berhak untuk tak membagikan hal itu pada orang lain dan orang lain wajib menghormati keputusan tersebut.

Hal hormat-menghormati ini tentu dalam rangka menciptakan civil society yang lebih baik; kalau dalam bahasa guruku SD dulu, “Kalau kamu tak mau dicubit ya jangan mencubit!”

Maka pertanyaan-pertanyaan semacam yang kusebut di kalimat pertama tulisan ini bukannya tak awam di sini tapi setidaknya tak jarang orang menghindari kalau mereka memang belum kenal secara personal.

Jadi misal kamu berlibur atau pindah kemari, trus di dalam bis atau kereta bertemu seseorang lalu ingin berkenalan, meski tak kusarankan tapi silakan dicoba. Sekalinya dicoba berhasil dan dia OK saja, hal itu bukan berarti pertanyaan kamu selanjutnya padanya adalah “Eh kamu kok sendirian? Suami kamu mana?”

Wah, kalau dia berkepribadian OK, barangkali ia menjawab, bisa pula ia menghindar dengan bilang “Sorry…” lalu pergi karena merasa tidak nyaman. Tapi kalau ketemu yang senewen lalu pertanyaan kamu yang sebenarnya tak bermaksud apa-apa selain basa-basi itu dibalas dengan sesuatu yang kurang menyenangkan, ya lantas jangan ngambek dan bilang “Yah, ditanya baik-baik kok jawabnya ketus…!”

Paribahasanya sih memang “Air susu dibalas dengan air tuba” tapi nyatanya masa kini tak semua orang doyan susu, dan kamu memancing orang untuk diberi setetes tuba.

Ya, gitu deh!

Bagikan artikel ini!

41 komentar… add one

  • honeylizious 12 December 2011

    tanya saya aja, saya akan langsung jawab, saya belum menikah dan sedang mencari kok *eh*

  • airyz 12 December 2011

    hihi, kalo di Indonesia umur 30 udah ketuaan malah ya om >.<

  • krismariana 12 December 2011

    aku sekarang kok makin nggak peduli ya, orang itu udah kawin apa belum, punya anak atau tidak. mau kawin, kek; mau kumpul kebo, kek…. ya itu sih urusan dia aja. asal dia nggak mengganggu hidupku, ya ngapain terlalu kepo dengan urusan orang lain?

  • Kaget 12 December 2011

    Usia 27 tujuh pun dulu saya sudah di sodori pasangan, mikir 35 Om???? Di negri sendiri bakal jadi buah bibir yang katanya ‘dagangan ngga laku2′ :P
    And soal sejenis itu….. *no comment ah!*

  • giewahyudi 12 December 2011

    Nikah itu sebuah tantangan dan saat umurku baru masuk 26 tahun aku berani berkata “Nikah yuk..” *mlengos*

    • DV 15 December 2011

      yang perlu ditelusuri sebelum kamu bilang “Nikah yuk!” itu apa ada pesan sejenis “Kamu kapan nikahin anakku?” *mlengos tanpa njedhir :)

  • kw 12 December 2011

    hi mas salam kenal
    agak susah menjelaskan ke mereka
    tapi memang harus dimulai…
    ketika ke resepsi, ada pertanyaan kapan nyusul. aku jawab langsung, aku tidak menikah. nah biasanya mereka langsung salah tingkah, mati gaya. entah merasa bersalah atau shock
    :)

    • DV 15 December 2011

      ya memang harus terus dibegitukan supaya terbiasa, Mas :) Salam kenal, blog Anda bagus sekali!

  • Ceritaeka 13 December 2011

    Hahaha pernah ada temenku bule bilang, “I heard in Indonesia u guys like to get married very young. Why?”
    Serius gue kelimpungan jawab itu :)) hahaha

  • Maztrie Utroq 13 December 2011

    Manthuk-manthuk gak mau setetes tuba pun segelas susu. Tapi mau susu yang tanpa kemasan saja, aku belum nikah kanggg… #numpangpromo

  • Edi Psw 13 December 2011

    Kalo ada orang yg bertanya kpdku, ya langsung aku jawab aja apa adanya.

  • wiwikwae 13 December 2011

    Jadi intinya piye iki, don? Harus nikah apa nggak nih?

    • DV 15 December 2011

      Lha mbuh… tanya gitarisnya KOIL aja hahaha

  • edratna 14 December 2011

    Kayaknya, di kota besar orang sudah jarang tanya hal pribadi, karena semakin banyak orang yang memilih tidak menikah (banyak manager di bawahku yang memilih tak menikah)…baik laki-laki maupun perempuan.

    Dan…bukankah kita bergaul dengan pribadi orang tsb? Bukan karena siapa-siapa?

    • DV 15 December 2011

      Sayangnya sedikit yang berpikiran terbuka seperti Bu Eni…

  • pampie 14 December 2011

    * ALERT! Ini pendapat pribadi, hanya berbagi perspektif *

    Kenapa harus menikah sekitar/sebelum 30an?

    Karena kalau terlalu tua kasihan anaknya, ketika mereka belum siap berdiri sendiri orang tuanya sudah harus pensiun.

    As simple as that.

    • DV 15 December 2011

      Good one! Pemerintah harusnya memberi jaminan bahwa kalaupun tanpa orang tua, anak harus mampu hidup.
      Definitely ini tanggung jawab pemerintah, menurutku.

  • imroee 14 December 2011

    Wow…!!!

  • Baju bali 14 December 2011

    Wah baru tahu kalau di australia cowok umur 35 masih dibilang muda. Gak heran kalau lihat film amrik gitu banyak yang usia diatas 40 tahun belum nikah ( di cerita film ) . Beda kalau di jawa, habis lulus sma dah pusing ditanyain kapan nikah. Setelah nikah ditanya lagi , kapan nih mau punya anak.heheh berbeda sekali.

  • Hanif Mahaldi 14 December 2011

    wah, berasa tinggal disana seperti di eropa,dimana ras bangsanya semakin sedikit karena tidak ada yg semangat untuk menikah.Jadi ya penduduknya makin kesini makin sedikit jumlahnya.Berbanding terbalik dengan indonesia.

  • zee 15 December 2011

    Kalau di Indonesia, sekarang ini umur 33 belum menikah sudah bisa digolongkan terlambat, padahal temanku (which is sudah 36thn) memang belum menemukan jodohnya. Dan aku pun ikutan berkaca untuk mengetahui ada berapa banyak kerutan di mata hehehee….
    Beda negara, beda ras, beda budaya pula… Kalau aku pribadi cenderung tidak keberatan dengan paham yang dianut oleh the western, karena kalau dipikir dengan logika, ya memang tidak ada yang salah.. Tapi karena aku stay di Indonesia, di situlah aku menjunjung adat itu.

    • DV 15 December 2011

      termasuk adat untuk menghargai hak orang lain untuk menikah/tidak menikah yaw :)

  • nonadita 15 December 2011

    Hal yg tidak mengenakkan dari kebiasaan yg dijunjung di Indonesia adalah judgement yang mengikuti setelah percakapan tersebut. Bila orang sudah tau saya belum menikah (dan karena emang belum mau!), banyak yg kemudian ngejudge, “Kamu kebanyakan kerja!”, “Inget umur, jangan seneng2 mulu”, “Pikirin keinginan orangtua dong!”. Menyebalkan sekali. Padahal kalau aku nikah, apa urusannya dengan mereka2 yg dengan “care”-nya nanya2 soal ini?

    • DV 15 December 2011

      apapula yang mereka bisa berikan pada kita kalau kita sudah menikah ya? :)

  • herman saksono 15 December 2011

    Kalimat penutupnya nendang :))

  • liza 15 December 2011

    hore! pertanyaan itu sekarang hampir tidak berlaku lagi untukku :D

  • ajengkol 15 December 2011

    menikah dini dengan segala konsekuen yang juga nggak mudah eh 30 itu muda yah #melipir

    • DV 15 December 2011

      Hehehehe… muda itu selamanya :)

  • satch 15 December 2011

    Saya nunggu budaya temen2 saya ngasih kado hasil urunan ilang dulu. Kalo mereka sudah mampu ngasih kado nikahan sendiri2, atau ngamplopin duit minimal 200 ribu per orang, barulah saya nikah

  • imadewira 15 December 2011

    Sangat jauh berbeda dengan disini ya. Tulisan ini membuka wawasan saya. Terima kasih.

  • zulhaq 15 December 2011

    umur bukan patokan sih ya soal nikah, walaupun kita tinggal di Negeri dengan sejuta pertanyaan “kapan nikah” ini.
    Buktinya, saya belum kepikiran untuk menikah Mas hahahahaha…..

  • budi 15 December 2011

    salah satu basa basi yang paling basi :D

    ganti tanya gini: kenapa dari dulu sampai sekarang negara indonesia masih jadi negara berkembang? kapan majunya?
    *ga nyambung*

  • niee 16 December 2011

    Mungkin karena di indonesia masih memegang adat istiadat serta agama yak.. jadinya harus menikah..

    Tapi klo keputusan tidak menikah atau blm menikah di usia yg sudah lanjut aku seh respek aja.. dan sampai skrg aku menghindari bertanya.. sudah menikah atau yg lagi hits: kok belum hamil?? *jewer* hehehe

  • hesty 18 December 2011

    iya ya, saya juga pernah baca, mnurut penelitian katanya orang luar banyak yang lebih memilih kumpul kebo, soalnya kalo nikah ribet, butuh dana dan segala macam, iya juga sih.. nikah kan gak bole maen2 :D
    aduuhhhh sedih bener klo liat orang gay,,, masih ada saya dimari.. halohhhh #garukaspal :D

  • fazza 20 December 2011

    salam kenal pak donny
    kalau baca cerita jadi gimana gitu….
    lesbian di depan umum..
    hiii….
    mungkin tradisi dan adat yang membedakan…

  • Anderson 23 December 2011

    Hi Bro,
    Kalau gue perhatiin beberapa tahun terakhir di Jakarta, basa-basi dengan pertanyaan udah menikah apa belum atau udah punya anak apa belum kayaknya mulai jadi pertanyaan sensitif. Faktanya, kayak yang bu edratna bilang diatas, mulai banyak orang yang memilih untuk tidak menikah atau belum dikarunia anak…jadi kalau ditanya begitu agak sensitif jadinya.

    Lha Opie aja bikin lagu, “I’m Single and Very Happy…”

    Salam

  • Dony Alfan 7 October 2012

    Ahh, jingan kowe, Don. Omongan ngene ki marai sirahku cumleng :-/

Leave a Comment